Publikasi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Perbincangan mengenai keragaman gender dan seksualitas semakin sering muncul di ruang publik. Namun, meningkatnya perhatian masyarakat tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang memadai. Fenomena ini menjadi salah satu sorotan dalam diskusi yang diselenggarakan kanal YouTube LettsTalk Sexualities, Sabtu, (6/6), bersama Farid Muttaqin,Ph.D. sebagai moderator dan menghadirkan doktor filsafat agama, Masthuriyah Sa’dan, sebagai narasumber.

Add a comment


Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Perjuangan pekerja rumah tangga (PRT) tidak dapat dilepaskan dari persoalan gender, kelas sosial, dan berbagai lapisan identitas yang melekat pada perempuan. Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) pada Jumat (29/5), aktivis perempuan Linda Tagie menyoroti bahwa mayoritas pekerja rumah tangga adalah perempuan yang hidup di persimpangan berbagai bentuk kerentanan, mulai dari status ekonomi, budaya, agama, hingga relasi kuasa dalam keluarga dan masyarakat.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

"Kalau hutan kami sudah diambil, kami mau tinggal di mana?"

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun ketika muncul dalam film dokumenter Pesta Babi, ia menjelma menjadi jeritan yang sulit diabaikan. Bukan sekadar pertanyaan tentang tempat tinggal, melainkan pertanyaan tentang masa depan, identitas, dan hak hidup masyarakat adat Papua yang kini berhadapan dengan ekspansi proyek-proyek berskala besar di tanah leluhur mereka.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kedukaan merupakan pengalaman emosional yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Namun, cara setiap orang menghadapi kehilangan sangat berbeda dan tidak selalu berjalan dalam pola yang sama. Dalam sebuah diskusi yang dimoderasi oleh Dwi Aryani dari Perempuan Bumi, Sabtu (23/5) mengenai kesehatan mental dan proses berduka, psikolog Dinastuti menjelaskan bahwa teori lima tahap kedukaan yang diperkenalkan Elisabeth Kübler-Ross kini lebih dipahami sebagai gelombang emosi yang dapat datang dan pergi secara berulang. 

Add a comment