Kedukaan merupakan pengalaman emosional yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Namun, cara setiap orang menghadapi kehilangan sangat berbeda dan tidak selalu berjalan dalam pola yang sama. Dalam sebuah diskusi mengenai kesehatan mental dan proses berduka, psikolog Dinastuti menjelaskan bahwa teori lima tahap kedukaan yang diperkenalkan Elisabeth Kübler-Ross kini lebih dipahami sebagai gelombang emosi yang dapat datang dan pergi secara berulang. Demikian kalimat pembuka dari Dwi Ariyani, moderator dari Perempuan Bumi pada diskusi daring dan bisa disaksikan pada kanal YouTube Perempuan Bumi, Sabtu, 23/5.
Dinastuti, dosen dan psikolog Unika Atmajaya yang menjadi narasumber menjelaskan, tahap pertama adalah penyangkalan atau denial, ketika seseorang merasa sulit mempercayai kenyataan kehilangan. Kondisi ini muncul sebagai mekanisme otak untuk melindungi diri dari guncangan emosional yang berat. Setelah itu, seseorang dapat memasuki fase kemarahan, yakni perasaan tidak adil yang bisa diarahkan kepada diri sendiri, orang lain, keadaan, bahkan Tuhan.
Tahap berikutnya adalah tawar-menawar, ketika seseorang dipenuhi pikiran “seandainya” sebagai bentuk upaya mencari kendali atas peristiwa yang telah terjadi. Kemudian muncul kesedihan mendalam yang ditandai rasa hampa, kehilangan energi, hingga hilangnya motivasi menjalani aktivitas sehari-hari. Sementara tahap penerimaan bukan berarti melupakan sosok yang pergi, melainkan belajar hidup berdampingan dengan kenangan tersebut.
Menurut Dinastuti, menghadapi duka membutuhkan penerimaan terhadap emosi yang muncul serta menjaga kebutuhan dasar seperti makan, tidur, dan istirahat yang cukup. Dukungan sosial dari keluarga, komunitas, hingga kelompok pendukung juga dinilai penting dalam membantu proses pemulihan.
Ia menegaskan bahwa duka merupakan proses alami dan tidak memiliki batas waktu tertentu. Namun, bantuan profesional perlu segera dicari apabila kesedihan telah menghambat aktivitas harian, menurunkan kemampuan bekerja, membuat seseorang gagal menjalankan peran sosial, atau memunculkan keinginan menyakiti diri sendiri. Dalam kondisi tersebut, pendampingan psikolog, konselor, maupun psikiater menjadi langkah penting untuk membantu pemulihan emosional secara sehat.
Dalam proses pemulihan kedukaan, dukungan sosial menjadi salah satu faktor penting yang menentukan kemampuan seseorang untuk bertahan menghadapi kehilangan. Namun, tidak semua bentuk dukungan memiliki mekanisme yang sama. Psikolog Dinastuti menjelaskan bahwa dalam masyarakat Indonesia terdapat dua bentuk support group atau kelompok pendukung, yakni formal dan informal, yang sama-sama memiliki peran penting dalam membantu proses berduka.
Kelompok pendukung informal merupakan bentuk dukungan yang paling dekat dengan budaya kolektif masyarakat Indonesia. Dukungan ini biasanya hadir secara alami melalui pengajian, arisan, komunitas hobi, hingga organisasi masyarakat. Bentuk bantuannya tidak selalu berupa percakapan mendalam mengenai kesedihan, tetapi dapat berupa kehadiran fisik, bantuan mengurus kebutuhan rumah tangga, hingga ritual keagamaan seperti doa bersama dan tahlilan. Kehadiran orang-orang terdekat membuat seseorang merasa tidak sendirian saat menghadapi masa sulit.
Sementara itu, support group formal memiliki struktur yang lebih terorganisir dan dirancang khusus untuk pemulihan emosional. Kelompok ini biasanya memiliki aturan kerahasiaan, jadwal rutin, dan fokus yang spesifik, misalnya kelompok keluarga penyintas kanker atau komunitas kehilangan anggota keluarga. Menurut Dinastuti, kelompok formal dibutuhkan karena duka sering kali merupakan pengalaman yang sangat personal dan sulit dipahami oleh orang yang tidak mengalami hal serupa.
Ia juga menjelaskan bahwa rasa hampa akibat kehilangan justru kerap terasa paling berat beberapa bulan setelah peristiwa terjadi. Pada masa awal, seseorang biasanya masih berada dalam fase penyangkalan dan sibuk mengurus berbagai keperluan administratif sehingga emosi belum sepenuhnya diproses. Ketika dukungan sosial mulai berkurang dan kehidupan sekitar kembali berjalan normal, kesepian baru terasa nyata.
Untuk menggambarkan proses tersebut, Dinastuti menggunakan metafora “bola hitam dalam toples” dari dr. Lois Tonkin. Menurutnya, duka tidak benar-benar mengecil. Yang bertumbuh adalah kehidupan seseorang. Seiring hadirnya pengalaman, relasi, dan tujuan baru, ruang kehidupan menjadi lebih luas sehingga duka tidak lagi mendominasi seluruh hidup seseorang.
Dalam diskusi tersebut, Dinastuti juga menyoroti bahwa dukungan bagi orang berduka tidak selalu datang dari keluarga terdekat. Dalam banyak kasus, justru komunitas atau orang-orang yang tidak disangka menjadi tempat paling aman untuk berbagi kesedihan. Ia mencontohkan pengalaman pendampingan keluarga pasien kanker di rumah sakit, di mana hubungan emosional antarpenunggu pasien terbentuk secara spontan melalui obrolan dan saling berbagi pengalaman.
Ia juga menekankan bahwa fokus utama dalam masa kedukaan bukan hanya pada orang yang meninggal, tetapi pada mereka yang ditinggalkan. Karena itu, kehadiran sosial, perhatian sederhana, dan ruang aman untuk bercerita menjadi sangat berarti, terutama ketika dukungan mulai berkurang beberapa bulan setelah kehilangan terjadi. Dalam situasi tersebut, komunitas yang mampu mendengar tanpa menghakimi dapat menjadi penopang penting dalam proses pemulihan emosional seseorang.
Para peserta juga diberi ruang untuk berbagi pengalaman tentang pentingnya dukungan sederhana bagi orang yang kehilangan orang tercinta. Dinastuti mencontohkan kisah seorang tetangga yang membantu perempuan yang baru kehilangan suaminya dengan cara membersihkan dan menyiapkan sepatu-sepatu di rumah agar siap dipakai. Tindakan kecil itu dianggap sangat berarti karena membantu orang yang sedang berduka untuk tidak terbebani oleh hal-hal praktis di tengah kondisi emosional yang kacau.
Diskusi juga menyoroti bahwa rasa kehilangan sering kali belum terasa penuh pada hari-hari pertama setelah kematian. Pada masa awal, keluarga biasanya masih sibuk mengurus pemakaman, menerima pelayat, dan bergerak secara otomatis dalam fase penyangkalan. Namun, beberapa minggu atau bulan kemudian, ketika orang-orang mulai kembali pada rutinitas masing-masing, rasa hampa justru muncul semakin kuat. Pada titik itulah support system menjadi sangat penting.
Sejumlah peserta mengakui bahwa mereka kerap hanya membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa dihakimi atau diberi terlalu banyak nasihat. Kehadiran teman, komunitas, atau kelompok pendukung yang memahami pengalaman serupa dinilai jauh lebih membantu dalam menghadapi proses berduka.
Dalam penutup diskusi, muncul gagasan pentingnya membentuk grief support group yang lebih spesifik dan aman, terutama bagi para aktivis dan komunitas perempuan. Menurut Dinastuti, kedukaan merupakan proses yang sangat khusus sehingga tidak semua komunitas umum mampu menjadi ruang pemulihan yang tepat. Kelompok pendukung yang fokus pada pengalaman kehilangan dinilai dapat membantu orang merasa lebih dipahami, sekaligus menyediakan ruang aman untuk berbagi tanpa tekanan sosial maupun tuntutan untuk selalu terlihat kuat. (Ast)


