Publikasi

Mengingat 1998 : Luka yang Tidak Dialami, Tapi Tetap Bisa Dirasakan

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Peristiwa Mei 1998 bagi banyak anak muda hari ini mungkin hanya sekumpulan tanggal, nama tokoh, dan arsip sejarah yang semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Tidak semua orang mencium asap kebakaran, mendengar suara tembakan, atau hidup dalam ketakutan seperti yang dialami generasi saat itu. Namun anehnya, luka itu tetap bisa terasa, bahkan bagi mereka yang lahir setelah reformasi atau masih terlalu kecil untuk mengingat apa pun.

Dalam diskusi yang dihelat oleh Komnas HAM tentang Mei 1998 bertema "Re-Play 1998, Melalui Representasi dalam Budaya Populer" moderator Ayu mengaku tidak mengalami langsung tragedi tersebut. Ia tidak berada di Jakarta ketika kerusuhan terjadi, tidak melihat kobaran api, dan tidak hidup dalam kepanikan politik waktu itu. Tetapi ketika mendengar cerita, membaca novel, menonton film, atau menyerap budaya populer tentang reformasi, ia menyadari sesuatu: trauma kolektif ternyata bisa diwariskan lewat cerita.

Kesadaran itulah yang membuat diskusi menjadi menarik. Peristiwa 1998 bukan lagi hanya milik korban langsung, melainkan menjadi bagian dari ingatan bangsa yang terus bergerak melalui seni, sastra, musik, dan film.

Aktivis HAM  yang juga komisioner Komnas HAM, Amiruddin, yang menjadi narasumber,  mengatakan bahwa persoalan hak asasi manusia sering kali terlalu rumit untuk dijelaskan lewat data dan laporan formal saja. Banyak orang sulit memahami rasa kehilangan, ketakutan, atau kekerasan negara hanya dari angka dan dokumen. Karena itu, menurutnya, manusia membutuhkan medium lain untuk memahami sejarah yakni cerita.

Amiruddin sendiri adalah salah satu orang yang hidup di pusaran reformasi. Ia mengenal langsung para aktivis yang hilang pada 1998. Dari 13 aktivis yang diculik dan belum kembali, sebagian besar adalah temannya sendiri. Tetapi ia menyadari, pengalaman personal saja tidak cukup untuk membangun empati publik. Ketika seseorang hanya bercerita tentang penderitaannya sendiri, orang lain mungkin mendengar dengan serius sesaat, lalu lupa. Namun ketika pengalaman itu diolah menjadi novel, film, atau karya seni, cerita tersebut hidup lebih lama dan menyentuh lebih banyak orang.

Ia mencontohkan bagaimana karya sastra mampu membuat orang menangis meski tidak mengalami langsung tragedi itu. Imajinasi membantu manusia masuk ke dalam pengalaman orang lain. Di situlah seni bekerja, bukan sekadar memberi informasi, tetapi menciptakan rasa.

Hal serupa dirasakan oleh narasumber lainnya, novelis Leila Chudori. Sebagai wartawan yang mengalami masa pembredelan media pada era Orde Baru, ia merasa ada begitu banyak cerita sejarah yang tidak cukup ditampung dalam laporan jurnalistik. Media hanya menyediakan ruang terbatas, sementara luka dan trauma yang dialami oleh manusia jauh lebih kompleks daripada beberapa halaman berita.

Karena itu, ia memilih menulis novel seperti Pulang dan Laut Bercerita. Dalam novel-novelnya, sejarah tidak diceritakan lewat kronologi politik yang kaku, melainkan melalui kehidupan tokoh-tokoh biasa yang memikul beban sejarah di tubuh mereka.

Leila percaya bahwa cara paling efektif untuk mengingat sejarah adalah mengikuti cerita  manusia di dalamnya. Pembaca tidak sedang diajak menghafal tanggal atau nama peristiwa, tetapi diajak hidup bersama tokoh yang kehilangan keluarga, mengalami pengasingan, atau menunggu seseorang yang tak pernah kembali.

Pendekatan itu pula yang kemudian diterjemahkan ke layar film oleh sutradara Yosep Anggi Noen, narasumber berikutnya, ia mengaku tidak memiliki kedekatan personal dengan tragedi 1998 karena saat itu masih SMP di daerah kecil. Namun justru karena tidak mengalami langsung, ia merasa generasinya perlu mencari cara lain untuk memahami sejarah yang nyaris tenggelam.

Lewat film "Istirahatlah Kata-Kata" yang bercerita tentang Wiji Thukul, Anggi tidak ingin membuat dokumenter sejarah yang penuh pidato dan data. Ia memilih menunjukkan sisi manusiawi seorang aktivis yang hidup dalam pelarian, jauh dari keluarga, dan terus diburu ketakutan.

Baginya, film adalah jalan masuk emosional bagi generasi muda untuk tertarik mencari tahu lebih jauh. Seni menjadi jembatan antara sejarah dan generasi yang lahir setelahnya.

Hal yang sama juga terjadi dalam musik. Musisi Eka Annash yang juga menjadi narasumber mengatakan bahwa lagu sering kali lebih mudah tinggal di kepala dibanding laporan sejarah atau buku pelajaran. Ia sendiri belajar banyak soal politik dan ketidakadilan bukan dari sekolah, melainkan dari lagu-lagu Iwan Fals.

Musik bekerja lewat emosi, suara, dan ingatan. Kadang hanya dalam tiga menit, sebuah lagu mampu membuat generasi muda mengenal tokoh seperti Munir Said Thalib melalui lagu "Di Udara" dari Efek Rumah Kaca.

Di tengah derasnya media sosial dan perhatian manusia yang semakin pendek, seni menjadi cara baru untuk menjaga memori kolektif tetap hidup. Orang mungkin malas membaca laporan investigasi setebal ratusan halaman, tetapi mereka bisa menangis setelah menonton film atau mendengar lagu.

Diskusi ini memperlihatkan satu hal penting bahwa sejarah bukan hanya urusan masa lalu. Ia hidup pada  orang-orang yang masih mengingat, di karya para seniman, dan di generasi muda yang berusaha memahami sesuatu yang tidak mereka alami secara langsung.

Mungkin benar bahwa tidak semua orang mengalami Mei 1998. Tetapi melalui cerita, manusia belajar bahwa luka sebuah bangsa tidak pernah benar-benar selesai selama masih ada yang mengingat dan menceritakannya kembali.

 

Ketika Sejarah Belum Selesai, Seni Menjadi Ruang Ingatan

Bagi banyak orang, mengingat masa lalu sering dianggap sebagai upaya membuka luka lama. Namun bagi mereka yang berbicara dalam diskusi itu, ingatan justru dipahami sebagai cara agar kekerasan tidak terulang kembali. Sejarah, kata mereka, bukan sesuatu yang selesai ketika rezim berganti. Ia tetap hidup selama pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan belum menemukan jawaban.

Host diskusi menegaskan bahwa memori kolektif tentang masa lalu perlu terus dirawat agar tragedi serupa tidak kembali terjadi. Karena itu, karya sastra, film, dan musik menjadi medium penting untuk menjaga resonansi sejarah tetap hidup di tengah generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa 1998.

Novelis Leila Chudori menjelaskan bahwa karya fiksi dan jurnalistik memiliki metode yang sangat berbeda. Sebagai wartawan, ia bekerja dengan fakta, data, dan laporan. Namun ketika memutuskan menulis novel tentang penghilangan paksa aktivis 1998, ia merasa perlu melakukan riset ulang secara mendalam, terutama kepada keluarga korban.

“Sebagai penulis kita banyak tertarik dengan insight psikologis,” ujarnya. Ia ingin mengetahui bukan hanya apa yang terjadi, tetapi bagaimana perasaan orang-orang yang ditinggalkan. Bagaimana rasanya hidup ketika seseorang hilang bertahun-tahun tanpa kabar. Bagaimana seorang ibu menunggu anaknya pulang. Bagaimana penyintas mencoba menjalani hidup setelah keluar dari tahanan.

Dari situlah lahir tokoh-tokoh dalam novel Laut Bercerita. Tokoh Laut, misalnya, bukan representasi satu orang tertentu, melainkan gabungan dari banyak pengalaman nyata yang dirangkai dalam jagat imajinasi. Leila memasukkan potongan-potongan karakter dari berbagai aktivis, keluarga korban, bahkan dirinya sendiri ke dalam tokoh tersebut.

“Ketika kita menciptakan tokoh itu, kita mencampur banyak orang di dalamnya,” kata Leila. Tokoh Laut dibuat memiliki keluarga, kegemaran memasak, latar pendidikan, dan lingkungan sosial yang detail agar pembaca merasa sedang mengikuti manusia utuh, bukan sekadar simbol politik.

Di tangan sastra, sejarah menjadi lebih intim. Pembaca tidak hanya mengetahui ada mahasiswa yang hilang, tetapi ikut merasakan kecemasan keluarga, ketakutan dalam pelarian, dan harapan yang terus menggantung.

Pandangan serupa datang dari sutradara Yosep Anggi Noen. Ia menolak anggapan bahwa mengangkat kembali tragedi 1998 berarti meromantisasi masa lalu. Baginya, mengingat kekerasan justru bagian dari upaya mencegah keberulangan.

“Bercerita tentang masa lalu bukan upaya meromantisasi, tapi upaya agar yang buruk tidak terulang lagi,” ujarnya.

Menurut Anggi, reformasi bukan jalan lurus menuju keberhasilan. Di balik perayaan tumbangnya rezim otoriter, ada sisi-sisi kemanusiaan yang belum selesai yaitu keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, aktivis yang hidup dalam pelarian, hingga ketakutan yang masih diwariskan sampai hari ini.

Film, baginya, adalah ruang bercermin. Penonton datang bukan hanya untuk melihat cerita orang lain, tetapi untuk bertanya: “Siapa saya dalam situasi itu?”

Melalui film "Istirahatlah Kata-Kata" tentang Wiji Thukul maupun adaptasi dari novel Laut Bercerita yang sedang ia garap, Anggi ingin membawa penonton masuk ke pengalaman manusia biasa di tengah situasi represif.

Namun ada satu hal yang menurutnya menyedihkan, ketika karya tentang represi masih terasa relevan hingga hari ini.

“Kalau film itu masih relevan hari ini, berarti ada yang gagal sebagai bangsa,” katanya.

Ia berharap suatu hari nanti film-film tentang kekerasan negara menjadi tidak relevan lagi, karena artinya masyarakat telah berhasil keluar dari siklus represi dan pembungkaman.

Musisi Eka Annash juga melihat hal yang sama. Baginya, musik adalah medium yang paling cepat menyentuh generasi muda. Lagu mampu menyampaikan kemarahan, trauma, dan ingatan kolektif hanya dalam beberapa menit.

Ia teringat ketika kembali menyanyikan lagu perjuangan di depan gedung DPR bersama mahasiswa. Di tengah kerumunan aksi, ia merasa ada sesuatu yang belum berubah sejak reformasi.

“Kenapa masih sama saja?” katanya.

Eka menilai hari ini justru muncul upaya manipulasi sejarah dan pengaburan ingatan publik. Karena itu, karya seni menjadi penting sebagai narasi tandingan. Lagu, film, mural, dan karya visual lain berfungsi menjaga memori kolektif agar tidak hilang ditelan propaganda.

Ia menyebut lagu "Di Udara" dari Efek Rumah Kaca yang membuat banyak anak muda mengenal sosok Munir Said Thalib. Musik bekerja bukan hanya lewat lirik, tetapi lewat emosi yang menempel di kepala dan tubuh manusia.

“Semakin ditindas, semakin melawan dan semakin berisik,” ujarnya.

Leila kemudian menambahkan bahwa relevansi karya-karya tentang pelanggaran HAM akan terus bertahan selama kasus-kasus itu belum benar-benar diselesaikan negara. Ia menyinggung bagaimana sejumlah negara lain telah melalui tahapan investigasi, permintaan maaf negara, hingga rekonsiliasi nasional. Sementara di Indonesia, banyak kasus berhenti di tengah jalan.

“Selama pelanggaran HAM itu belum diselesaikan, cerita-cerita seperti ini akan terus relevan,” katanya.

Diskusi itu akhirnya memperlihatkan satu kenyataan penting: seni mungkin tidak bisa menggantikan keadilan hukum, tetapi ia mampu menjaga ingatan tetap hidup ketika negara memilih diam. Melalui novel, lagu, dan film, sejarah menemukan jalannya sendiri untuk terus berbicara kepada generasi yang datang setelahnya. (Ast)