Publikasi

Seleksi Mandiri Jalur Difabilitas Universitas Sebelas Maret

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Seleksi Mandiri Jalur Difabilitas Universitas Sebelas Maret  2026 kembali dibuka pada 11 Mei-2 Juni 2026 untuk pendaftaran online dan pembayaran formulir. Sosialisasi digelar secara daring melalui Zoom pada Senin (18/5) diikuti guru SLB, orang tua, dan calon mahasiswa difabel dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan ini bukan sekadar penyampaian informasi teknis penerimaan mahasiswa baru, melainkan juga menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana pendidikan tinggi inklusif mulai dibangun secara lebih serius di Indonesia.

Acara dibuka oleh pembawa acara, Husnul, yang menyambut peserta dari berbagai wilayah. Ia menyebut kegiatan itu diharapkan menjadi langkah awal bagi calon mahasiswa difabel menuju kampus impian mereka. “Semoga kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang mencari informasi tetapi juga menjadi awal langkah besar menuju kampus impian yaitu Universitas Sebelas Maret inklusi,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Ketua Pusat Studi Difabilitas UNS, Prof. Dra. Y. Anni Aryani, menegaskan bahwa pendidikan tinggi merupakan hak asasi setiap warga negara, termasuk difabel.  Menurutnya, jalur afirmasi difabilitas menjadi bentuk komitmen UNS untuk membuka akses pendidikan yang lebih setara.

“Jalur afirmasi difabilitas di UNS adalah salah satu jalur seleksi mandiri yang diperuntukkan khusus bagi calon mahasiswa penyandang difabilitas,” kata Anni.

Ia menjelaskan, hingga saat ini terdapat lebih dari 100 mahasiswa difabel aktif yang menempuh pendidikan di berbagai program studi di UNS. Mereka tersebar di sejumlah fakultas dan mendapatkan pendampingan melalui Unit Layanan Disabilitas (ULD) maupun Pusat Studi Difabilitas (PSD).

UNS, lanjut Anni, berupaya mengembangkan kampus inklusif tidak hanya melalui penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga lewat pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan kesetaraan dan inklusivitas. Menurutnya, mahasiswa difabel tidak boleh hanya diterima di kampus, tetapi juga harus dipastikan dapat menjalani perkuliahan dengan akses yang memadai.

“UNS mempunyai unit layanan disabilitas yang melayani dan mendampingi mahasiswa difabel dari proses penerimaan mahasiswa baru sampai ujian akhir,” ujarnya.

Selain dukungan akademik, UNS juga bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menyediakan beasiswa bagi mahasiswa difabel. Dalam kesempatan itu, Anni menyampaikan apresiasi kepada PT Bayan Resources yang sejak 2024 mendukung mahasiswa difabel melalui program beasiswa pendidikan.

Kepala Kantor Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru UNS, Prof. Dr. Sutarno, menjelaskan bahwa jalur afirmasi difabilitas tahun 2026 dilakukan secara daring dan tanpa ujian tertulis. Seleksi dilakukan melalui penilaian rapor, dokumen administrasi, dan wawancara.

“Jalur afirmasi disabilitas itu tidak ada ujian. Peserta tinggal mengunggah dokumen dan nanti dilakukan penilaian,” katanya.

Ia menjelaskan terdapat beberapa skema dalam jalur mandiri, termasuk jalur afirmasi bagi pemegang Kartu Indonesia Pintar (KIP). Proses pendaftaran dilakukan secara online sehingga peserta dari berbagai daerah, termasuk Papua dan Kalimantan, tidak perlu datang langsung ke Solo.

Dalam sesi teknis, Dr. Subagya dari Unit Layanan Disabilitas UNS memberikan penjelasan panjang mengenai definisi disabilitas, dokumen yang diperlukan, hingga kesiapan mental dan akademik calon mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa merujuk Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, disabilitas mencakup ragam kondisi, mulai dari disabilitas fisik, sensorik, intelektual, mental, hingga psikososial. Menurutnya, orientasi utama jalur afirmasi bukan semata soal belas kasihan, melainkan pemenuhan hak asasi difabel untuk memperoleh pendidikan. “Siapa saja yang memenuhi kriteria disabilitas bisa mendaftar di UNS,” ujarnya.

Subagya menjelaskan bahwa mahasiswa difabel nantinya akan mendapatkan berbagai layanan pendampingan, mulai dari administrasi akademik, pendampingan praktikum, layanan konseling, hingga dukungan penyusunan tugas akhir. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan calon mahasiswa dalam menghadapi sistem pembelajaran perguruan tinggi yang berbeda dengan sekolah menengah.

Menurutnya, kemampuan menggunakan teknologi digital menjadi salah satu hal yang wajib dikuasai. Mahasiswa difabel, kata dia, perlu memahami penggunaan komputer, internet, hingga aplikasi pendukung pembelajaran. “Kalau belum bisa menguasai komputer, nanti akan susah karena pekerjaan perkuliahan memanfaatkan teknologi digital,” katanya.

Subagya juga menyoroti pentingnya kemandirian bagi mahasiswa difabel. Ia mengatakan kemandirian bukan berarti harus mampu melakukan semua hal sendiri, melainkan memiliki kemampuan mengambil keputusan, mencari informasi, dan beradaptasi dengan lingkungan kampus. “Banyak mahasiswa disabilitas yang kurang mencari informasi akademik sehingga tidak tahu jadwal ujian atau perubahan kuliah. Itu harus diubah,” ujarnya.

Ia mengingatkan calon mahasiswa untuk memilih program studi sesuai minat dan kemampuan, bukan karena ikut-ikutan. Menurutnya, ketidaksesuaian pilihan jurusan dengan kemampuan sering menjadi penyebab mahasiswa kesulitan menyelesaikan studi.

Selain itu, Subagya memaparkan sejumlah dokumen yang harus dipersiapkan peserta, mulai dari rapor, KTP, surat keterangan disabilitas, hingga surat kesehatan. Ia menekankan bahwa surat keterangan harus dikeluarkan oleh tenaga medis yang sesuai dengan jenis disabilitas peserta.

Misalnya, surat keterangan Tuli harus berasal dari dokter THT, sedangkan low vision harus diperiksa dokter mata. Untuk peserta dengan hambatan intelektual atau psikososial, diperlukan hasil tes intelegensi atau pemeriksaan psikologis. “Surat keterangan yang tidak sesuai dengan keahlian pemeriksa bisa dianggap tidak sah,” katanya.

Dalam sesi berikutnya, Ahmad Syahrul dari Corporate Social Responsibility PT Bayan Resources menjelaskan dukungan beasiswa bagi mahasiswa difabel UNS. Meski mengikuti acara secara daring dari perjalanan kerja di Manggarai Timur, ia menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung pendidikan inklusif.

Menurut Syahrul, program beasiswa disabilitas sudah berjalan sejak 2024 dan akan memasuki tahun ketiga. Program tersebut diberikan dalam bentuk full scholarship selama maksimal delapan semester. “Biaya UKT, biaya kos, living cost, biaya buku, sampai biaya skripsi kami kaver penuh,” ujarnya.

Ia menyebut dukungan itu diberikan karena perusahaan menyadari bahwa penyandang disabilitas juga memiliki peran penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Menurutnya, akses pendidikan tinggi menjadi salah satu cara membuka kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas. “Kami menyadari bahwa adik-adik berkebutuhan khusus memiliki peran penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” katanya.

Sesi yang paling menyentuh dalam sosialisasi tersebut hadir ketika mahasiswa tuli UNS angkatan 2023, Muhammad Yahya, berbagi pengalaman mengenai perjuangannya masuk perguruan tinggi. Yahya mengaku sempat gagal diterima di kampus lain melalui jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sebelum akhirnya diterima di UNS. “Saya percaya pendidikan bisa membuka banyak peluang dan pengalaman baru bagi saya,” ujarnya melalui penerjemah bahasa isyarat Indonesia (bisindo).

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa itu mengatakan dirinya memilih UNS karena melihat komitmen kampus terhadap inklusivitas. Ia juga merasa terbantu dengan berbagai fasilitas yang tersedia, seperti akses ramp/plengsengan untuk kursi roda, tambahan waktu ujian, serta dukungan relawan dan Unit Layanan Disabilitas (ULD). “Ketika ujian saya diberi tambahan waktu sampai 30 menit,” katanya.

Yahya juga membagikan pesan kepada calon mahasiswa difabel agar tidak mudah menyerah dalam mengejar pendidikan tinggi. Menurutnya, proses seleksi memang tidak selalu mudah, tetapi setiap orang memiliki kesempatan yang sama selama mau berusaha. “Yang paling penting adalah tetap konsisten dan memahami kemampuan diri,” ujarnya.

Di akhir acara, sejumlah orang tua peserta menyampaikan pertanyaan terkait pendampingan mahasiswa difabel dan biaya pendidikan di UNS. Salah seorang orang tua mengaku baru mengetahui adanya jalur afirmasi disabilitas tahun ini dan berharap kampus benar-benar menyediakan lingkungan belajar yang ramah bagi anak-anak difabel.

Pertanyaan juga muncul mengenai kemungkinan adanya perbedaan biaya pendidikan antara mahasiswa difabel dan mahasiswa reguler. Menjawab hal tersebut, pihak UNS menegaskan bahwa penentuan UKT tetap mengikuti kebijakan umum berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, bukan berdasarkan status disabilitas mahasiswa.

Pada acara sosialisasi ini memperlihatkan bahwa akses pendidikan tinggi bagi difabel perlahan semakin terbuka. Namun, dari acara ini juga memperlihatkan bahwa perjuangan menuju kampus inklusif tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa baru. Kesiapan sistem pendidikan, layanan pendampingan, dukungan teknologi, hingga keberanian mahasiswa difabel untuk percaya pada kemampuannya sendiri menjadi bagian penting dari proses panjang tersebut. (Ast)