Program pengabdian masyarakat yang digagas Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) membuka ruang baru bagi difabel untuk mengembangkan kapasitas diri dan usaha mereka. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini dirancang tidak hanya sebagai aktivitas akademik, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UNS, Prof. Argyo Demartoto, bertempat di Pendapi Gede, Komplek Balai Kota Surakarta, Rabu (10/6) menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menjalankan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang mampu menjawab kebutuhan sosial di lapangan. Menurutnya, difabel merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama untuk berkembang dan memperoleh akses terhadap berbagai peluang.
Melalui program tersebut, mahasiswa Sosiologi FISIP UNS berperan sebagai fasilitator yang menjembatani kebutuhan peserta difabel dengan berbagai sumber daya yang tersedia. Salah satunya melalui pelatihan dan pendampingan yang melibatkan instansi pemerintah, termasuk dinas terkait di Kota Surakarta dan Dinas Ketenagakerjaan.
Selama satu semester, program ini dipersiapkan dan dijalankan dengan mempertimbangkan beragam karakteristik peserta. Mereka berasal dari berbagai kelompok usia, latar belakang, serta jenis difabilitas yang berbeda. Keragaman itu membuat pendekatan yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta.
Di lapangan, tim pendamping menemukan bahwa persoalan yang dihadapi difabel tidak hanya berkaitan dengan keterampilan usaha. Tantangan psikologis, seperti rendahnya rasa percaya diri, masih menjadi hambatan yang cukup besar. Padahal, banyak di antara mereka memiliki kemampuan dan potensi yang dapat dikembangkan.
Selain itu, keterbatasan informasi mengenai akses permodalan dan dukungan anggaran juga kerap menjadi kendala. Harapannya, para peserta tidak hanya semakin percaya pada kemampuan diri mereka, tetapi juga mengetahui jalur-jalur yang dapat ditempuh untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Dengan demikian, kampus hadir bukan sekadar sebagai pusat ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai mitra yang membantu membuka peluang bagi kelompok yang selama ini kerap menghadapi berbagai keterbatasan
Moderator Ersi Armadani mengawali sesi seminar dengan menyampaikan narasi di tengah pesatnya pertumbuhan kedai kopi di berbagai kota, Kawan Tuli Coffee and Space hadir bukan sekadar sebagai tempat menikmati secangkir kopi. Ruang yang didirikan oleh komunitas ini menjadi wadah bagi teman-teman Tuli untuk belajar, bertumbuh, dan menunjukkan kemampuan mereka di dunia kerja yang masih belum sepenuhnya inklusif.
Tino, salah satu pendiri Kawan Tuli Coffee and Space, menjelaskan bahwa ide membangun usaha berbasis kafe berangkat dari kebutuhan nyata yang ditemui di lapangan. Awalnya, mereka melihat bahwa pelatihan barista bagi teman-teman Tuli belum cukup jika tidak diikuti dengan ruang praktik yang berkelanjutan.
“Bulan ketiga kami menemukan bahwa kebutuhan teman Tuli adalah benar-benar mempraktikkan kemampuan yang mereka pelajari. SOP juga harus disesuaikan, termasuk dari sisi linguistik,” ujar Tino.
Menurutnya, Kawan Tuli Coffee and Space lahir dari langkah-langkah kecil yang terus dikembangkan. Selain menjadi tempat usaha, kafe tersebut juga berfungsi sebagai ruang untuk memperkenalkan dunia teman Tuli kepada masyarakat luas. “Kami mencoba melakukan sesuatu hal kecil, lalu membuat tempat untuk bertumbuh. Kawan Tuli adalah tempat bertumbuh dan berkembang sekaligus mengenalkan dunia teman Tuli,” katanya.
Saat ditanya apakah sejak awal tujuan mereka memang membentuk Kawan Tuli Coffee and Space, Tino menjelaskan bahwa fokus awalnya justru pada pelatihan. Ketika itu mereka belum memiliki sumber daya manusia yang memadai di bidang kopi. Berbagai program pelatihan yang pernah dilakukan pemerintah maupun organisasi nonpemerintah menjadi bahan evaluasi untuk melihat celah yang masih perlu diperbaiki.
Salah satu peserta pelatihan yang kemudian bergabung sebagai barista adalah Adit, pemuda asal Solo. Ia menceritakan bahwa perjalanan menjadi barista dimulai dari mengikuti pelatihan pembuatan kopi dan praktik langsung bersama pelaku usaha kopi.
“Selain belajar membuat kopi, kami juga belajar pelayanan kepada pelanggan, memahami menu, dan bagaimana membuat pelanggan merasa nyaman,” ungkap Adit.
Bagi Adit, kesempatan bekerja di Kawan Tuli menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuka peluang yang sebelumnya sulit didapatkan. Ia juga membagikan pengalaman saat mengikuti pelatihan tata boga dan magang di PT Alfamart. Menurutnya, komunikasi bukanlah hambatan selama ada kemauan untuk saling memahami.
“Orang-orang berkomunikasi dengan saya melalui tulisan atau menggunakan HP. Dari situ saya bisa memahami dan belajar berkomunikasi,” ujarnya.
Tino menilai bahwa tantangan utama yang masih dihadapi difabel dalam dunia kerja berkaitan dengan keterampilan, aksesibilitas, serta dukungan lingkungan kerja yang inklusif. Ia mengibaratkan proses pengembangan diri seperti pertumbuhan tanaman yang membutuhkan tempat yang sesuai dan perawatan yang berkelanjutan.
“Kalau manusia ingin bertumbuh seperti tanaman, maka tempatnya harus cocok dan ada yang merawat. Pendampingan yang dilakukan dengan hati akan membuat perkembangan itu menjadi lebih baik,” katanya.
Kisah Adit dan Kawan Tuli Coffee and Space menunjukkan bahwa inklusi tidak selalu dimulai dari program besar. Kadang, perubahan lahir dari ruang sederhana yang memberi kesempatan kepada setiap orang untuk belajar, bekerja, dan tumbuh bersama tanpa diskriminasi.
Wacana inklusi bagi difabel menguat, tantangan terbesar ternyata bukan hanya soal akses fisik, melainkan juga kesempatan dan cara masyarakat memahami kebutuhan mereka. Hal itu mengemuka dalam diskusi mengenai peluang kerja bagi teman-teman tuli yang menghadirkan pelaku usaha, pendamping, dan pekerja difabel sebagai narasumber.
Ketika ditanya mengenai aksesibilitas di Kota Solo bagi difabel fisik, para narasumber menilai bahwa situasinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. Namun, masih banyak tempat kerja yang belum siap menerima pekerja difabel karena beragam pertimbangan dan keterbatasan pemahaman.
Adit mengungkapkan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan masyarakat adalah mendengarkan langsung kebutuhan difabel. Menurutnya, banyak teman Tuli yang sebenarnya memiliki kemampuan dan kompetensi yang memadai, bahkan telah melalui berbagai pelatihan dan memperoleh sertifikasi dengan hasil yang baik.
“Teman-teman Tuli harus punya keberanian untuk mendaftar pelatihan atau melamar pekerjaan. Dengan begitu pengetahuan dan kemampuan kita juga bertambah,” ujar Adit.
Namun, kemampuan saja belum tentu membuka jalan menuju dunia kerja. Kesempatan yang terbatas dan stigma yang masih melekat sering kali menjadi hambatan yang lebih besar. Menurut para narasumber, perusahaan yang telah membuka ruang bagi pekerja difabel perlu mendapatkan apresiasi agar semakin banyak pihak terdorong melakukan hal serupa.
Tino menambahkan bahwa solusi terbaik harus berangkat dari kebutuhan yang disampaikan langsung oleh difabel. Ia mengingatkan bahwa berbagai program pemerintah dan organisasi sering kali belum sepenuhnya menjawab persoalan yang dihadapi di lapangan.
“Kita perlu bertanya kepada teman-teman difabel apa yang menjadi kebutuhan mereka. Lalu bertanya kepada para pemangku kepentingan apa yang bisa mereka lakukan. Dari situ kita bisa menemukan titik temu,” katanya.
Bagi Tino, perubahan tidak harus selalu dimulai dari program besar. Diskusi-diskusi sederhana yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas difabel dapat menjadi fondasi lahirnya gerakan akar rumput yang kuat.
Persoalan komunikasi juga menjadi sorotan. Pendamping pekerja Tuli, Budi Utami, mengungkapkan bahwa banyak kesalahpahaman di tempat kerja terjadi bukan karena rendahnya kemampuan pekerja Tuli, melainkan karena tidak adanya jembatan komunikasi yang memadai.
“Teman Tuli sebenarnya bisa sangat fokus bekerja. Kendala utamanya adalah komunikasi. Karena itu perusahaan perlu belajar berkomunikasi dengan cara yang sederhana, misalnya melalui tulisan dan kalimat yang tidak terlalu panjang,” jelasnya.
Menurut Budi, pendampingan berkelanjutan juga penting dilakukan agar pekerja Tuli mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja dan perusahaan memahami kebutuhan mereka.
Sementara itu, Kawan Tuli Coffee and Space berupaya menjadi ruang pertemuan antara masyarakat umum dan komunitas Tuli. Di tempat itu, pengunjung tidak hanya membeli kopi, tetapi juga belajar mengenal bahasa isyarat dan budaya tuli secara langsung.
“Kalau orang tidak pernah bertemu teman Tuli, mereka sering takut salah berkomunikasi. Karena itu kami ingin menciptakan ruang belajar bersama agar muncul kesadaran dan keberanian untuk saling berinteraksi,” ujar Tino. (Ast)


