Publikasi

Menemani yang Sering Ditinggalkan: Pentingnya Pendampingan bagi Orang dengan HIV di Tengah Ancaman Berakhirnya Dukungan Program

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Bagi banyak orang, Human Immunodeficiency Virus (HIV) sering dipahami sebatas persoalan medis. Ketika seseorang dinyatakan positif HIV, yang terbayang biasanya adalah pemeriksaan laboratorium, obat antiretroviral, dan kunjungan rutin ke fasilitas kesehatan. Namun bagi mereka yang hidup dengan HIV, kenyataannya jauh lebih kompleks. Yang dihadapi bukan hanya virus, melainkan juga ketakutan, stigma, penolakan, dan sering kali kesendirian.

Di Kota Surakarta, isu tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam diskusi yang dihelat oleh Yayasan Mitra Alam mengenai keberlanjutan program HIV yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, pemerintah daerah, media, dan komunitas, pada Senin (22/6/2026) di Warteg Bolodewe. Dalam pertemuan ini, satu pesan muncul berulang kali yakni  pengobatan penting, tetapi pendampingan sama pentingnya.

Selama lebih dari dua dekade, berbagai organisasi masyarakat sipil telah menjadi jembatan antara Orang dengan HIV (ODHIV) dan layanan kesehatan. Mereka membantu seseorang yang baru mengetahui status HIV-nya untuk memahami kondisi yang dihadapi, mengakses playanan kesehatan, menjalani pengobatan, hingga kembali percaya diri menjalani kehidupan sehari-hari.

Peran tersebut sering kali tidak terlihat. Padahal, di balik setiap orang yang berhasil bertahan menjalani terapi, ada proses panjang yang melibatkan dukungan emosional, sosial, dan kemanusiaan.

Direktur Yayasan Mitra Alam, Ligik Triyogo, menjelaskan bahwa pendekatan yang selama ini dilakukan organisasinya tidak berangkat dari identitas seseorang, melainkan dari kebutuhan untuk melindungi kesehatan masyarakat dan memastikan setiap orang mendapatkan hak pelayanan kesehatan.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam penanggulangan HIV bukan hanya bagaimana menemukan orang yang berisiko atau menyediakan layanan kesehatan, tetapi bagaimana memastikan mereka mau dan mampu mengakses layanan tersebut secara berkelanjutan.

“Orang sering melihat HIV dari identitasnya. Padahal yang perlu dilihat adalah bagaimana seseorang mendapatkan akses informasi, pencegahan, pengobatan, dan dukungan,” ujarnya dalam diskusi tersebut.

Bagi sebagian orang yang baru menerima diagnosis HIV, dunia bisa terasa runtuh dalam hitungan detik. Tidak sedikit yang mengalami guncangan psikologis, merasa malu, takut diketahui keluarga, atau khawatir kehilangan pekerjaan dan relasi sosial. Dalam situasi seperti itu, kehadiran pendamping sering menjadi titik awal yang menentukan.

Pendamping biasanya bukan dokter atau tenaga medis. Mereka adalah orang-orang yang telah dilatih untuk memberikan informasi, dukungan psikososial, dan membantu ODHIV menavigasi berbagai layanan yang tersedia. Mereka mendengarkan ketika seseorang merasa takut. Mereka menemani saat seseorang harus memulai terapi. Mereka juga hadir ketika seseorang ingin menyerah.

Banyak pendamping berasal dari komunitas yang memahami langsung pengalaman hidup dengan HIV. Karena itu, hubungan yang terbangun sering kali lebih dekat dan setara. Peran inilah yang selama bertahun-tahun membantu meningkatkan keberhasilan pengobatan HIV di berbagai daerah, termasuk Surakarta.

Namun kini, muncul kekhawatiran baru. Sejumlah organisasi yang selama ini menjalankan program pendampingan menghadapi tantangan keberlanjutan akibat berkurangnya dukungan pendanaan dari Global Fund. Pendanaan internasional yang selama ini menjadi salah satu sumber utama program HIV perlahan memasuki masa transisi.  Menurut Ligik, terjadi penurunan dukungan 30-40 persen dibanding sebelumnya.  Oleh sebab itu, seluruh pemangku kepentingan perlu memikirkan solusi agar layanan pencegahan, pendampingan dan pengobatan HIV tetap berjalan.

Azkia, staf Yayasan Mitra Alam, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menuntut semua pihak untuk mulai memikirkan model keberlanjutan yang lebih mandiri. Menurutnya, layanan HIV tidak boleh berhenti hanya karena sumber pendanaan berubah. Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar kelangsungan pprogram, tetapi kehidupan manusia yang selama ini bergantung pada dukungan tersebut.

“Yang dibutuhkan bukan hanya layanan kesehatan, tetapi juga dukungan agar mereka tetap bisa mengakses layanan itu,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan realitas yang sering luput dari perhatian publik. Pengobatan HIV memang tersedia secara gratis di banyak fasilitas kesehatan. Namun tidak semua orang mampu menjangkau layanan tersebut tanpa bantuan.

Ada yang takut datang ke rumah sakit karena khawatir dikenali. Ada yang kehilangan semangat menjalani terapi karena merasa sendirian. Ada pula yang berpindah tempat tinggal sehingga terputus dari layanan kesehatan. Dalam situasi seperti itu, pendamping menjadi penghubung yang sangat penting.

Yudi Agung Setiawan dari Dinas Kesehatan Kota Surakarta menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan berbagai layanan HIV yang dapat diakses masyarakat. Saat ini terdapat puluhan layanan HIV di puskesmas dan rumah sakit yang tersebar di Kota Surakarta. Namun ia mengakui bahwa ketersediaan layanan belum otomatis menjamin semua orang mau mengaksesnya. Stigma masih menjadi hambatan terbesar.

Menurut Yudi, diskriminasi terhadap ODHIV masih ditemukan dalam berbagai bentuk. Ada yang terjadi secara terang-terangan, tetapi ada pula yang muncul dalam bentuk sikap dan prasangka sehari-hari.

Akibatnya, sebagian orang memilih menyembunyikan status kesehatannya bahkan dari orang-orang terdekat. Di sinilah pendampingan memainkan peran yang tidak bisa digantikan oleh sistem administratif semata.

Pendamping membantu membangun kepercayaan. Mereka memastikan bahwa seseorang tidak menghadapi diagnosis HIV seorang diri. Mereka juga membantu memastikan bahwa terapi yang harus dijalani seumur hidup dapat dilakukan secara konsisten.

Pentingnya pendampingan semakin terlihat ketika Yayasan Lentera memaparkan kondisi di lapangan. Bandi, perwakilan Yayasan Lentera, menjelaskan bahwa dari ribuan ODHIV yang telah terhubung dengan layanan kesehatan, masih terdapat sejumlah orang yang putus pengobatan.

Mereka tidak berhenti minum obat karena tidak tersedia layanan. Sebagian berhenti karena kelelahan secara mental. Sebagian lainnya mengalami masalah ekonomi, perpindahan tempat tinggal, atau persoalan keluarga. Bagi pendamping, kondisi tersebut bukan sekadar angka statistik.

Setiap orang yang putus pengobatan memiliki cerita yang berbeda. Ada ibu rumah tangga yang takut diketahui tetangga. Ada pekerja yang khawatir kehilangan pekerjaan jika statusnya terungkap. Ada anak muda yang belum berani bercerita kepada keluarganya.

Karena itu, upaya menghubungkan kembali mereka dengan layanan kesehatan membutuhkan pendekatan yang sangat personal. Pendamping sering kali harus mendatangi rumah, membangun komunikasi berulang kali, hingga membantu menyelesaikan persoalan sosial yang menjadi penghambat pengobatan.

“Ketika satu orang kembali menjalani terapi, itu berarti kita menyelamatkan satu kehidupan dan mencegah penularan baru,” kata Bandi. Pendampingan juga tidak berhenti pada aspek kesehatan.

Orang dengan HIV tetap membutuhkan pekerjaan, pendidikan, dan kesempatan untuk hidup mandiri. Kesadaran itulah yang mendorong berbagai instansi di Surakarta membuka akses bagi kelompok rentan. Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Surakarta, misalnya, menyediakan berbagai program pelatihan keterampilan yang dapat diakses tanpa diskriminasi. Status HIV tidak menjadi penghalang seseorang untuk memperoleh pelatihan dan sertifikasi kompetensi. Di tempat yang sama, penyandang disabilitas dan kelompok marginal lainnya juga memperoleh kesempatan yang setara. Langkah tersebut penting karena salah satu dampak stigma HIV adalah hilangnya kesempatan ekonomi.

Tidak sedikit ODHIV yang mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan akibat prasangka yang berkembang di masyarakat. Padahal, dengan pengobatan yang teratur, mereka dapat hidup sehat dan produktif seperti orang lain pada umumnya.

Dukungan serupa juga diberikan melalui program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso. Melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), ODHIV yang memiliki usaha dapat memperoleh bantuan pengembangan usaha berupa peralatan maupun bahan pendukung. Bantuan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan, tetapi juga membantu mereka membangun kemandirian dan rasa percaya diri.

Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial terus berupaya memastikan kelompok rentan memperoleh akses pendidikan dan perlindungan sosial yang memadai. Seluruh upaya tersebut menunjukkan bahwa pendampingan HIV sesungguhnya merupakan kerja lintas sektor.

Pendamping tidak bisa bekerja sendirian. Begitu pula pemerintah. Keberhasilan pendampingan bergantung pada kolaborasi berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, pekerja sosial, organisasi masyarakat sipil, media, dunia pendidikan, hingga masyarakat luas.

Media sendiri memiliki peran yang tidak kalah penting. Selama bertahun-tahun, pemberitaan yang tidak sensitif sering memperkuat stigma terhadap ODHIV. Sebaliknya, informasi yang akurat dapat membantu masyarakat memahami bahwa HIV bukanlah alasan untuk mengucilkan seseorang.

Karena itu, sejumlah awak media di Surakarta menyatakan komitmennya untuk menghadirkan pemberitaan yang lebih berperspektif hak asasi manusia dan mengurangi diskriminasi. Seluruh pembahasan dalam diskusi tersebut bermuara pada satu kesimpulan sederhana bahwa ODHIV tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga dukungan.

Mereka membutuhkan orang-orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Mereka membutuhkan sistem yang memudahkan akses layanan. Mereka membutuhkan lingkungan yang menerima keberadaan mereka sebagai sesama manusia.

Ketika pendampingan berjalan baik, seseorang yang semula merasa putus asa dapat kembali memiliki harapan. Seseorang yang sempat meninggalkan pengobatan dapat kembali menjalani terapi. Seseorang yang merasa sendiri dapat menemukan komunitas yang mendukungnya.

Di tengah berkurangnya dukungan donor internasional, tantangan terbesar bukan hanya menjaga keberlanjutan program. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa tidak ada ODHIV yang kembali merasa ditinggalkan.

Sebab inti dari seluruh upaya penanggulangan HIV bukanlah angka, target, atau laporan program. Intinya adalah manusia. Dan selama masih ada orang yang membutuhkan dukungan untuk bertahan, pendampingan akan tetap menjadi salah satu bentuk kemanusiaan yang paling penting. (Ast)