







Konsultasikan masalah anda

Yayasan Yekti Angudi Piadeging Hukum Indonesia (Yayasan YAPHI) berkarya atas dasar kemanusiaan, kebenaran, keadilan, kasih dan sikap kritis untuk mewujudkan masyarakat yang beradab dengan ciri kebhinekaan dalam lingkungan hidup yang lestari serta relasi yang penuh kedamaian. Yayasan YAPHI memiliki semangat dan mandat yang sama dengan Yayasan Pengabdian Hukum Indonesia (YAPHI) yang didirikan pada tahun 1987 oleh Yayasan Bimbingan Kesejahteraan Sosial (YBKS) Surakarta dengan Yayasan Ignatius Slamet Riyadi (YISR) Surakarta

Publikasi
SIPA 2026, Sajian Seni yang Membunyikan Alarm dari Tanah Papua
Suara sirene terdengar dari panggung. Bunyinya seperti tanda bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja. Ia datang di...
Membongkar Mitos Otak Laki-laki dan Perempuan, dari Maskulinitas hingga Regulasi Emosi
Pembicaraan tentang laki-laki dan perempuan sering kali dimulai dari sesuatu yang dianggap sederhana, otak. Dari sana...
Pembiayaan Ketangguhan Komunitas dalam Kebencanaan
Di sebuah desa, bencana tidak selalu dimulai dari bunyi sirene. Kadang ia dimulai dari ingatan warga tentang jalan...
Peringatan Dini Bencana Harus Sampai Menjadi Tindakan Warga
Hujan yang turun sebentar belum tentu berarti kekeringan berakhir. Air yang mulai naik di sungai juga tidak selalu...
Merebut Kursi Kemudi: Perjalanan Menuju Kedaulatan Kepemimpinan Kemanusiaan Lokal di Indonesia
Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (KN PRBBK) ke-XVII yang diselenggarakan di Banten...
KN PRBBK XVII Bahas Peran Data, Teknologi, dan Pengetahuan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana
Data dan teknologi dinilai harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat serta mendukung pengambilan keputusan yang...
Perempuan Difabel Mendorong Perubahan dari Desa hingga Ruang Digital
Perubahan sering tumbuh dari tempat yang sederhana. Dari ruang pertemuan desa, rumah yang menjadi tempat produksi...
Baleg DPR RI-RDPU RUU Reforma Agraria : Tanah yang Hilang dari Ingatan Negara
Ada tanah yang sudah lama menjadi tempat hidup masyarakat, tetapi tiba tiba muncul dalam dokumen negara sebagai tanah...
Forum Diskusi Denpasar 12 bertema Reforma Agraria sebagai Agenda Konstitusi Tanah
Sebuah peta wilayah adat tidak pernah sekadar menunjukkan garis batas. Di dalam garis itu ada kebun yang diwariskan...
Membaca Gus Dur dari Puisi, Kebudayaan, dan Ruang Toleransi
Sabtu malam (5/9) di Kedai Kebun, Jagalan, Surakarta, tidak langsung dimulai dengan percakapan tentang politik. Sebuah...
Mollo Menulis Ulang Ingatan dari Tanah, Hutan, dan Gunung Mutis
Suara-suara tentang Mollo selama ini kerap datang dari luar. Sejarah, budaya, alam, sampai identitas masyarakat di...
Ketika Kemiskinan Tidak Muat dalam Angka
Di ruang rapat, kemiskinan tampak seperti sesuatu yang bisa dihitung. Ada persentase yang harus diturunkan, garis...












