Sebuah diskusi buku dihelat di Aula Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said pada Rabu (3/6). Diskusi berlangsung dalam suasana yang hangat sekaligus reflektif dan dipenuhi mahasiswa, aktivis, dan pegiat literasi yang antusias mengikuti jalannya pembahasan.
Buku yang dibahas bukanlah karya fiksi. "Tersungkur dan Tetap Melawan" adalah sekumpulan reportase jurnalis Project Multatuli yang diterbitkan bekerja sama dengan Marjin Kiri. Buku ini merekam berbagai peristiwa nyata tentang ketidakadilan, kehilangan, serta perjuangan rakyat kecil dalam menghadapi berbagai tekanan.
Bambang Muryanto, salah satu penulis buku, mengawali penjelasannya dengan kisah dari Desa Wadas. Ia menerangkan bagaimana batuan andesit dari wilayah tersebut digunakan untuk mendukung proyek pembangunan yang diklaim sebagai kepentingan nasional. Namun baginya, pembangunan tidak pernah sekadar soal beton, jalan, bendungan, atau bandara. Di balik proyek-proyek besar itu, selalu ada manusia yang harus membayar harga yang mahal.
Ia mengingat kembali pengalaman masyarakat Kulon Progo ketika pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) dilakukan. Sebelum proyek itu hadir, kawasan pesisir yang selama bertahun-tahun dianggap miskin justru berhasil dihidupkan oleh para petani. Mereka mengolah tanah berpasir menjadi lahan produktif. Semangka, cabai, dan berbagai hasil pertanian tumbuh subur. Pendapatan masyarakat meningkat. Rumah-rumah diperbaiki. Kehidupan perlahan berubah menjadi lebih baik.
Namun keadaan itu berubah ketika proyek bandara ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga harus dilepaskan. Sebagian petani menerima ganti rugi dalam jumlah besar. Uang miliaran rupiah masuk ke rekening mereka dalam waktu singkat. Banyak yang membangun rumah baru, membeli kendaraan, atau melengkapi kebutuhan rumah tangga.
Bagi Bambang, persoalannya bukan terletak pada besarnya ganti rugi. Masalahnya adalah hilangnya sumber kehidupan yang selama ini dapat diwariskan lintas generasi. Uang akan habis, sementara tanah yang hilang tidak mudah kembali. Ketika nilai kebutuhan hidup terus naik, ketika harga bahan pokok semakin mahal, uang kompensasi lambat laun menyusut. Sementara itu, petani yang kehilangan lahan kehilangan pula kemampuan untuk menopang kehidupannya secara berkelanjutan.
Menurutnya, apa yang terjadi di Kulon Progo mulai terlihat pula di berbagai daerah lain. Pembangunan yang diklaim membawa kemajuan sering kali justru meninggalkan masyarakat dalam posisi yang lebih rentan. Ia melihat ada pola yang berulang yakni rakyat diminta mengorbankan ruang hidupnya demi proyek-proyek besar yang manfaatnya belum tentu mereka rasakan secara langsung.
Seorang narasumber lain, Abraham Zakky Z, dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Raden Mas Said, mengungkapkan kesannya setelah membaca empat belas reportase yang terkumpul di dalamnya. Baginya, membaca enam tulisan pertama saja sudah cukup membuat seseorang berhenti sejenak untuk merenung. Kisah-kisah di dalam buku itu menghadirkan penderitaan yang nyata, bukan sekadar angka statistik atau laporan singkat yang mudah dilupakan.
Yang membuat buku tersebut istimewa, menurutnya, adalah cara para penulis menyajikan fakta. Reportase-reportase itu tidak terasa kering seperti laporan berita pada umumnya. Mereka ditulis dengan teknik yang kuat, menghadirkan tokoh, suasana, dan emosi yang membuat pembaca seolah berada langsung di lokasi kejadian.
Ia mencontohkan sebuah reportase tentang warga di Serang, Banten, yang menolak keberadaan peternakan ayam berskala besar. Warga mengalami berbagai dampak lingkungan dan kesehatan. Ketika protes mereka tidak digubris, konflik memuncak hingga terjadi pembakaran kandang. Beberapa warga kemudian ditangkap. Kisah itu tidak dibuka dengan uraian data atau kronologi formal, melainkan dengan adegan penangkapan pada tengah malam. Aparat datang, pintu rumah didobrak, dan seorang ayah dibawa pergi di hadapan keluarganya. Adegan itu terasa seperti potongan film, padahal seluruhnya adalah kenyataan.
Contoh lain muncul dalam reportase tentang Tragedi Kanjuruhan. Alih-alih hanya mengulang jumlah korban yang meninggal, penulis memilih mendekatkan pembaca pada satu keluarga yang kehilangan dua anak sekaligus. Dari sudut pandang yang intim, pembaca diajak memahami duka yang tidak mungkin tertangkap hanya melalui angka.
Begitu pula dengan kisah keluarga yang kehilangan kedua orang tua akibat Covid-19 dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Tiga anak harus menghadapi kenyataan menjadi yatim piatu secara bersamaan. Salah satunya adalah Tuli. Cerita seperti itu membuat tragedi yang sering muncul di layar televisi menjadi jauh lebih manusiawi dan menyentuh.
Bagi para pembicara siang itu, kekuatan jurnalisme terletak pada kemampuannya menyelam ke kedalaman. Jika berita harian sering kali hanya bergerak di permukaan, reportase mendalam berusaha melihat apa yang tersembunyi di bawahnya yakni luka, ketakutan, harapan, dan perlawanan yang tidak selalu terlihat.
Salah satu narasumber, Hanifah Islamiyah, Dosen Komunikasi Universitas Sebelas Maret menjelaskan bahwa buku tersebut memperlihatkan beragam metode penulisan reportase yang jauh melampaui rumus dasar 5W+1H. Selama ini banyak orang memahami berita sebagai jawaban atas pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana. Namun reportase yang baik tidak berhenti pada kerangka tersebut. Ia berusaha masuk ke kehidupan manusia yang berada di balik sebuah peristiwa.
Hal itu tampak dalam salah satu tulisan mengenai perlawanan masyarakat terhadap korporasi sawit. Penulis tidak memilih menggambarkan konflik melalui angka atau data semata, melainkan melalui sosok seorang perempuan bernama Mama Yani. Dari pengalaman pribadinya, pembaca diajak memahami bahwa tanah bukan sekadar aset ekonomi. Bagi Mama Yani, tanah adalah bagian dari hidupnya sendiri, tempat ia menggantungkan harapan untuk masa depan anak-anaknya.
Pendekatan semacam itu membuat persoalan agraria yang sering terlihat rumit menjadi lebih dekat dan manusiawi. Konflik tidak lagi dipahami sebagai pertarungan antara perusahaan dan warga, melainkan sebagai kisah seseorang yang berusaha mempertahankan ruang hidupnya.
Dalam reportase lain, penulis menggunakan metode investigatif untuk melihat dampak pembangunan bendungan. Tulisan ini tidak hanya mengulang narasi resmi tentang manfaat pembangunan, namun menggali pengalaman warga yang hidup di sekitar proyek. Dengan cara tersebut, pembaca memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang bagaimana sebuah kebijakan memengaruhi kehidupan masyarakat.
Keunikan lainnya muncul melalui penggunaan metode komparatif. Salah satu penulis membandingkan peristiwa penjarahan yang terjadi pada 1998 dengan kejadian serupa pada masa yang lebih baru, akhir Agustus 2025. Kedua peristiwa ditempatkan berdampingan, bukan untuk memberikan kesimpulan tunggal, tetapi untuk mengajak pembaca berpikir. Mengapa peristiwa serupa bisa terulang? Apa yang berubah dan apa yang tetap sama? Pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan terbuka agar pembaca ikut melakukan analisis.
Bagi para pembicara, membaca reportase tidak seharusnya dilakukan secara pasif. Pembaca perlu terus bertanya. Mengapa penulis memilih narasumber tertentu? Bagaimana data diperoleh? Mengapa suatu sudut pandang dipilih sementara sudut pandang lain tidak muncul? Sikap kritis semacam itu penting agar pembaca tidak menerima informasi begitu saja, sekalipun berasal dari media yang dianggap kredibel.
Ketika ditanya mengenai ukuran keberhasilan sebuah negara, Bambang menawarkan pandangan yang berbeda dari ukuran pembangunan fisik semata. Baginya, pembangunan seharusnya berangkat dari bottom up atau kebutuhan masyarakat, bukan dipaksakan dari atas. Negara yang berhasil adalah negara yang mendengarkan warganya, memahami kebutuhan lokal, dan melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Hanifah Islamiyah, pembicara, mengajak peserta melihat bahwa jurnalisme tidak selalu harus ditulis dengan pola berita yang kaku. Di balik setiap peristiwa, terdapat manusia, pengalaman, dan emosi yang sering kali lebih penting daripada sekadar deretan fakta.
Ia menceritakan pengalamannya mengenal media independen yang memilih berjalan tanpa bergantung pada iklan perusahaan. Media tersebut hidup dari dukungan pembaca dan donasi publik. Model semacam itu memungkinkan redaksi bekerja dengan lebih bebas dalam mengangkat isu-isu yang sering luput dari perhatian media arus utama, terutama persoalan masyarakat yang berhadapan dengan kekuatan negara maupun korporasi.
Diskusi semakin hidup ketika mahasiswa mulai mengajukan pertanyaan tentang peran anak muda di tengah berbagai persoalan sosial. Mereka ingin tahu bagaimana cara ikut menyuarakan ketidakadilan yang dialami masyarakat di Wadas, Papua, Halmahera, maupun daerah lainnya.
Menanggapi hal itu, Bambang Muryanto menekankan pentingnya kesadaran dan keterlibatan publik. Menurutnya, generasi muda dapat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi, membangun solidaritas, dan memperluas kesadaran masyarakat. Namun yang lebih penting adalah keberanian untuk terus mempertanyakan berbagai kebijakan yang memengaruhi kehidupan rakyat.
Baginya, ukuran keberhasilan sebuah negara tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya infrastruktur yang dibangun. Keberhasilan harus diukur dari sejauh mana negara mendengarkan kebutuhan masyarakat. Pembangunan yang baik lahir dari aspirasi warga, bukan dipaksakan dari atas. Ketika suara masyarakat menjadi dasar kebijakan, pembangunan tidak hanya menghasilkan bangunan fisik, tetapi juga keadilan sosial bagi mereka yang selama ini paling terdampak.
Bambang Muryanto mengajak peserta melihat persoalan dari sudut pandang masyarakat yang hidup langsung di wilayah-wilayah terdampak pembangunan. Menurutnya, keberhasilan sebuah negara tidak dapat diukur semata dari banyaknya proyek yang dibangun atau besarnya investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah apakah negara benar-benar mendengarkan kebutuhan warganya.
Ia mencontohkan berbagai daerah yang menjadi lokasi proyek ekstraktif dan pembangunan berskala besar. Di Halmahera, misalnya, banyak masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan hutan dan tanahnya. Ketika industri tambang nikel masuk, sebagian ruang hidup mereka berubah. Bagi masyarakat lokal, kemajuan tidak selalu berarti hadirnya industri atau jalan raya. Banyak di antara mereka hanya ingin mempertahankan hubungan yang selama ini terjalin dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Pandangan serupa disampaikan Hanifah. Berdasarkan pengalamannya tinggal di Halmahera Selatan, ia melihat bagaimana keterbatasan akses informasi membuat banyak warga sulit memperoleh pengetahuan mengenai berbagai kebijakan maupun proses politik yang berlangsung di daerah mereka sendiri. Dalam situasi seperti itu, menurutnya, anak muda memiliki peran penting untuk menjadi penyambung informasi.
Ia mendorong munculnya praktik jurnalisme warga atau citizen journalism. Di era media sosial, setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi penyampai cerita dari lingkungannya sendiri. Tidak harus menunggu media besar datang dari Jakarta atau kota-kota lain untuk melaporkan kondisi desa. Justru masyarakat setempatlah yang paling memahami persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Bagi Hanifah, langkah besar selalu dimulai dari hal-hal sederhana. Anak muda dapat mulai mendokumentasikan jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, jembatan yang mangkrak, atau persoalan sosial yang dihadapi masyarakat di sekitar mereka. Dari situ tumbuh kepekaan untuk melihat persoalan yang lebih luas.
Sementara itu, Zaki menyoroti pentingnya membangun ruang-ruang diskusi di lingkungan kampus. Menurutnya, kesadaran sosial tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui kebiasaan membaca, berdiskusi, dan mempertanyakan berbagai hal yang dianggap biasa. Komunitas buku, kelompok diskusi, dan ruang belajar alternatif menjadi sarana penting untuk membangun nalar kritis di tengah derasnya arus informasi yang serba cepat.
Diskusi juga menyentuh pertanyaan mengenai makna kemajuan. Hanifah mengingatkan bahwa standar kemajuan sering kali dibangun dari perspektif yang sempit. Sebuah daerah dianggap maju ketika jalan-jalannya beraspal, bangunannya permanen, dan pusat perbelanjaan berdiri di mana-mana. Padahal bagi sebagian masyarakat adat, kemajuan memiliki makna yang berbeda. Mereka memandang tanah, hutan, sungai, dan rumah sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Karena itu, tidak ada satu ukuran tunggal mengenai keberhasilan negara. Negara yang baik bukanlah negara yang memaksa semua orang mengikuti definisi kemajuan yang sama, melainkan negara yang mampu menghormati keragaman cara hidup warganya.
Menjelang akhir diskusi, Bambang menjelaskan bahwa reportase yang baik lahir dari proses menyelami kehidupan masyarakat secara mendalam. Seorang jurnalis tidak cukup datang, mewawancarai beberapa orang, lalu pulang. Ia harus memahami konteks, mengenali lingkungan, membaca dokumen, dan hidup bersama masyarakat yang sedang diliput. Menurutnya, sebuah reportase tidak mengubah dunia sendirian. Perubahan baru mungkin terjadi ketika orang-orang yang membacanya memperoleh kesadaran, membangun empati, dan memilih untuk bertindak. Dari situlah jurnalisme menemukan maknanya, bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan membantu masyarakat melihat kenyataan dengan lebih jernih dan manusiawi. (Ast)


