Publikasi


Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

"Kalau hutan kami sudah diambil, kami mau tinggal di mana?"

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun ketika muncul dalam film dokumenter Pesta Babi, ia menjelma menjadi jeritan yang sulit diabaikan. Bukan sekadar pertanyaan tentang tempat tinggal, melainkan pertanyaan tentang masa depan, identitas, dan hak hidup masyarakat adat Papua yang kini berhadapan dengan ekspansi proyek-proyek berskala besar di tanah leluhur mereka.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Kedukaan merupakan pengalaman emosional yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Namun, cara setiap orang menghadapi kehilangan sangat berbeda dan tidak selalu berjalan dalam pola yang sama. Dalam sebuah diskusi yang dimoderasi oleh Dwi Aryani dari Perempuan Bumi, Sabtu (23/5) mengenai kesehatan mental dan proses berduka, psikolog Dinastuti menjelaskan bahwa teori lima tahap kedukaan yang diperkenalkan Elisabeth Kübler-Ross kini lebih dipahami sebagai gelombang emosi yang dapat datang dan pergi secara berulang. 

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Perjuangan pekerja rumah tangga (PRT) tidak dapat dilepaskan dari persoalan gender, kelas sosial, dan berbagai lapisan identitas yang melekat pada perempuan. Dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) pada Jumat (29/5), aktivis perempuan Linda Tagie menyoroti bahwa mayoritas pekerja rumah tangga adalah perempuan yang hidup di persimpangan berbagai bentuk kerentanan, mulai dari status ekonomi, budaya, agama, hingga relasi kuasa dalam keluarga dan masyarakat.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Peristiwa Mei 1998 bagi banyak anak muda hari ini mungkin hanya sekumpulan tanggal, nama tokoh, dan arsip sejarah yang semakin jauh dari kehidupan sehari-hari. Tidak semua orang mencium asap kebakaran, mendengar suara tembakan, atau hidup dalam ketakutan seperti yang dialami generasi saat itu. Namun anehnya, luka itu tetap bisa terasa, bahkan bagi mereka yang lahir setelah reformasi atau masih terlalu kecil untuk mengingat apa pun.

Add a comment