Isu perubahan iklim telah menjadi pembahasan global. Meningkatnya emisi karbon dari aktivitas skala besar seperti industri tambang, perkebunan, peternakan, dan pemakaian minyak bumi dari fosil menyebabkan suhu bumi meningkat. Begitulah yang melatarbelakangi JKLPK menggelar diskusi terkait pengalaman baik dalam mengatasi perubahan iklim dan dilaksanakan secara hybrid pada Rabu (25/6). Sahat yang memimpin diskusi hari itu mengatakan dengan terus mengurai apa itu keberhasilan dan bukan hanya untuk sekedar mencari berita sukses tapi adalah mengurangi bagaimana dampak buruknya. Sahat menambahkan bahwa pembelajaran ini bisa direplikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan sesuai daerah di mana tinggal. Yang menjadi catatan penting adalah bagaimana kesenjangan antara kedua tadi di mitigasi dan komitmennya dan bagaimana penanganan dalam adaptasi.
Banu Subagyo, dari Jejaring Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana di Indonesia (Jakomkris PBI), menceritakan beberapa bulan lalu bepergian ke Papua, merasakan perbedaan yang cukup signifikan karena sudah bulan kemarau tetapi hujan masih turun sehingga menyebabkan perubahan terutaman tanaman yang ditanam di kawasan tertentu. Musim tanam yang sudah dihadapi sekarang ini adalah bergeser atau tidak menyentuh dalam kalender.
Banu juga bercerita tentang Kota Lama Semarang, yang dahulu indah namun sekarang lebih banyak ancaman banjir rob. Di Jakarta, daerah wisata Kota Tua juga punya ancaman pula. Di pegunungan Indonesia, kemunduran hutan paling masif di dunia, maka harusnya lebih banyak kantong-kantong air. Gagal panen juga menjadi ancaman. Karena tidak teraturnya pola muslim itu maka musim tanam juga menjadi kacau sehingga produktivitas pertanian menurun. Aspek semakin banyaknya rob, juga terjadi abrasi perikanan.
Catatan kedua adalah secara khusus mengenai kesehatan ini karena suhu bumi meningkat maka bakteri dan virus, kemungkinan terjadinya virus atau penyakit baru. Belum lagi anggaran untuk pembangunan dihabiskan untuk emergency untuk starting lanjut secara ekonomi, maka proses kemiskinan terutama untuk golongan muda kemudian migrasi karena bencana dan biasanya migrasi relokasi itu tidak begitu sukses. Dampak di kemudian hari adalah konflik sosial yang akan semakin naik, untuk pendidikan sekolah juga rusak bahkan sering mengganggu proses belajar.
Tahun 2023 dan kemudian di luar ada negara kecil negara kepulauan nusantara Hindia Maladewa ini akan tenggelam sebagai besar wilayahnya karena naiknya permukaan air laut.Bila makin buruk tahun 50 nanti, maka 80% wilayah negara Maladewa akan tidak bisa dihubungi dan sebagian besar akan berada di bawah.
Ketiga adalah peran gereja dikembangkan untuk menanam pohon, pelestarian lingkungan bersamaan. Program pemerintah sekarang akan membuka lahan hutan di Papua Selatan. Bisa dilihat di Merauke berapa juta hektar, dan apa dampaknya bagi lingkungan. Beberapa hal yang menjadi catatan yang secara khusus mereka mengupayakan pelestarian sumber air dan pengeboran dan ini juga sebenarnya menampung air hujan.Beberapa gereja dan juga kelompok-kelompok yang tradisional berbagi pengalaman menanam pohon. Menanam pohon itu sudah dilakukan sejak tahun 2022 untuk mencari sumber air bagi masyarakat karena sudah melakukan pengeboran beberapa kali.
Di sumber-sumber yang dideteksi ada kandungan air tetapi ternyata tidak bertahan lama, harusnya fokus dari melebur sumber air menjadi menabung air hujan. Kegiatan membuat tampungan air hujan baik dalam komunal maupun segala rumah tangga. Untuk memanfaatkan air hujan tersebut kemudian teman-teman di Gereja Toraja ini punya lahan pertanian sosial.
Haris Oematan dari Cis Timor, tergabung di dalam RPK yakni lembaga pelayanan Kristen di NTT memberi informasi bahwa di kepulauan ada banyak lembaga yang tergabung, termasuk dirinya dan lembaganya. Di dalam ini adalah Flores di daratan Timur. Haris kemudian bercerita langsung terkait dengan bagaimana kepemimpinan perempuan di dalam adaptasi perubahan iklim. Dampak perubahan iklim itu paling besar yang dirasakan oleh kelompok rentan dan salah satu kelompok horizontal yang paling terdampak adalah kelompok perempuan dengan melihat bagaimana dampak terhadap peran perempuan dalam program-program Cis Timor untuk mendorong kemiskinan perempuan dalam beradaptasi lebih berdaya. “Kami punya lima misi bagaimana orang hidup dalam damai dan adil, bagaimana orang hidup tanpa hidup dan ketangguhannya untuk berhadapan dengan risiko bencana dan hidup di dalam lingkungan ekonomis dan ancaman perubahan iklim yang bermitigasi,”terang Haris. Ia menambahkan semua orang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan serta semua perempuan dan laki-laki dibangun di dalam budaya yang Utara dan eksekutif dan bukan di dalam budaya yang keras lanjut yang besar.
Apa saja aktivitas adaptasi perubahan iklim yang Cis Timor lakukan? Kurang lebih ada di lima sektor kunci : yang pertama adalah bagaimana pertanian dan pertahanan pangan, kedua terkait dengan pengelolaan sumber daya air, ketiga terkait dengan sekolah lingkungan tempat pengorganisasian, keempat ketahanan organisasi masyarakat sipil,yang kelima membangun ketahanan ekonomi. Selanjutnya yang dilakukan di sektor pertanian dan ketahanan pangan itu yang pertama adalah yang dilakukan yang menjadi pembelajaran yang bisa direplikasi yaitu pertanian yang berkelanjutan dan konservasi air karena di NTT itu kepulauan dan kecenderungannya kering.
Model menanam yang tidak di lubang dan lebih menanam di dalam pot membuat dengan membuat pot. Ini menjadi solusi terhadap bagaimana daerah-daerah yang mengalami krisis air. Lubang ini juga bisa menekan ladang berpindah, atau budaya untuk tempat bakar, dan berpindah yang disebut sebagai pindah lubang.” Jadi orang tua hanya berpindah rumah, di dalam satu area yang yang sama dan ini kami sudah lakukan dalam program Bersama,”jelas Haris.
Kedua, untuk kelompok perempuan fokus pada menanam buah-buahan: buah jambu, pisang, juga rempah-rempah kunyit jahe dan lain-lain. Mereka juga melihat bahwa dengan mahalnya harga buah-buahan seperti durian yang bisa 200-300. 000 per buah. Mereka jadi konservasinya dengan pohon buah-buahan seperti Nangka. Mungkin kemudian dalam jangka panjang setelah melihat iklim di NTT, tanaman pangan ini mengalami gangguan yang sangat hebat jadi tahun ini hujan cukup banyak, bahkan sangat banyak tapi kondisi ini tidak sama untuk setiap waktu. Jadi karena itu di Cis Timor juga mendorong untuk fokus kepada tanaman perkebunan asam.
Mengakhiri sesi kedua narasumber, Sahat dari JKLPK menyampaikan adanya upaya dengan mitigasi yang dilakukan lokal maupun global. Dan yang dilakukan oleh Haris ada adaptasi dan mitigasi juga memperkuat jumlah daerah masing-masing. Menjadi catatan penting dari kedua narasumber adalah banyak sudah banyak yang dilakukan atau berupaya dari teknik maupun secara perlakuan. Adanya konflik maka mereka melakukan perubahan, bagaimana tanggapan dan bagaimana kedua lembaga ini melakukan hal-hal terkait. Pemerintah juga melakukan beberapa kali di antaranya untuk masuk dan bisa membuat komunitas ataupun membangun desanya dengan membuat dalam konteks program. (Ast)