Publikasi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Panelis kedua pada Letsstalk_Sexualities even KCIF,  Si Luh Ayu Pawitri memaparkan "Wiji Kendeng. Bagaimana Krisis Iklim dan Perlawanan dari Selatan." Penelitian Ayu lewat Wiji Kendeng membedah bagaimana   krisis  iklim menjadi isu sangat panas di hari ini. Krisis iklim  membuat kebutuhan perempuan dan anak terbatas untuk mendapat akses yang lebih baik.  Akses air oleh perempuan dialami oleh  perempuan di Indonesia dan dunia terkait proses domestik di rumah. Juga kebutuhan reproduksi perempuan sendiri secara global krisis yang berdampak juga pada semua makhluk. Perempuan dan anak jadi sasaran paling rentan.

Add a comment


Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Menurut panelis Helma Nuraini dari  Universitas Islam Negeri  Antasari Banjarmasin pada diskusi 1st Annual Conference on Indonesian Feminisms  (KCIF) oleh  LettStalk_Sexualities, ada tiga hal penting dalam pendidikan seksual yang inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yakni bagaimana mereka mengenali dirinya. Pendidikan seksualitas  itu bukan hanya tentang bagaimana  mereka memahami tentang seks atau seksualitas itu tetapi mengenali diri mereka sendiri  dan menumbuhkan rasa kepercayaan diri termasuk kemampuan  mereka dalam menjalin relasi heteroseksual dan lainnya.

Pendidikan seks dan seksual  juga menunjang tumbuh kembang mereka  menjadi pribadi lebih sesuai dengan tuntutan atau norma yang berlalu di masyarakat yang sesungguhnya tidak adil  bagi mereka. Salah satu  yang terpenting dari  pendidikan seks dan  seksualitas ini adalah  menjaga keselamatan diri seorang ABK. Kita mengenal ABK sebagai seorang yang memiliki kekhasan dan dalam tumbuh kembang mereka dan  tampak bagaimana mereka berinteraksi serta bersosialisasi pada masyarakat.

ABK punya keunikan pada fisik dan komunikasinya. Ada tiga hal yang membedakan individu  pada umumnya yaitu keunikan pada fisik, perbedaan mental intelektual dan berpengaruh secara signifikan pada proses pertumbuhan  dan perkembangannya yang berdampak pada komunikasi mereka dan seluruh aspek kehidupan sepanjang hidupnya. Di sisi lain terkait dengan  seksualitas ada stigma atau label pada mereka yang kemudian menjadikan kekerasan atau diskriminasi. Banyak data kekerasan seksual terjadi pada ABK, terutama kepada ABK perempuan dan anak. Mereka memiliki kerentanan berlapis.

Mereka  memiliki kecenderungan  perilaku yang dianggap tidak sesuai menurut perilaku masyarakat karena keterbatasan mereka memahami konteks di masyarakat, mereka dianggap berperilaku tidak sopan ketika misalnya karena kekurangpahaman mereka terutama autis. Mereka suka memainkan alat kelaminnya atau menyentuh tubuh orang lain  tujuannya supaya kenal orang. Mereka dianggap sebagai pengganggu. ABK sendiri terstigma sebagai orang yang hiperseksulitas atau sebaliknya distigma sebagai aseksual. Ini sangat mengganggu bagi mereka bahkan sampai berbahaya.  Walau ada stigma perilaku seksualitas mereka dianggap tidak normal yakni mereka tidak tahu batas pergaulan.

Berbeda antara laki-laki dan perempuan. Jika yang jadi korban adalah perempuan maka bisa diaborsi, dinikahkan dan  disterilisasi, jadi mereka sama sekali tidak dapat membela diri atas tubuh mereka sendiri.

Ada sebuah cerita di Kabupaten Sragen, satu keluarga yang anaknya ABK dan si orangtua menginginkan anaknya dinikahkan pada sia pun yang mau menikahinya. Dia dinikahkan dengan laki-laki pengangguran dan pemabuk. Dia menikah lalu  hamil dan tidak diurus suami. Ketika dia melahirkan, dia ketakutan dan kesakitan, akhirnya meninggal. Anaknya pun meninggal.

Faktor lain ketika ABK jatuh cinta misalnya, dia merasa 'kalau orang menanggapi cinta saya berarti dia kasihan' atau bahkan ada beberapa difabel perempuan yang memilih untuk tidak menikah karena  oleh orangtuanya dianggap tidak cakap mengurus keluarga. Ini hal-hal yang realitas terjadi seperti itu.

Lalu apa saja hambatan yang dialami oleh guru ketika mengajar pendidikan seks dan  seksualitas pada ABK?

1. Orangtua kurang belajar. Kalaupun mereka belajar, mereka tidak tahu bagaimana menerapkannya kepada anak. Contohnya : sulit sekali orangtua mengajarkan anaknya memakai pembalut. Saat pembalut dipakai keliru karena terbalik itu sakit sekali. Ada ibu anak berkebutuhan khusus juga menceritakan anaknya yang  autis yang suka keluar rumah tanpa bilang dan  sangat berbahaya karena banyak remaja berkebutuhan khusus diculik kemudian jadi objek seksual. 2. Metode pengajaran yang tidak dipahami. Guru juga memiliki  kekurangan dalam keterampilan. Banyak guru yang dihadapkan harus mengajar walau dia kurang memiliki kemampuan. Dari pengalaman, guru mengajar seksualitas ABK yang perempuan lebih bisa mengajar daripada guru laki-laki. Materi kurang, metode kurang dan bagi ABK sendiri mereka mendapatkan akses yang kurang. Di zaman banjir  infornasi sekarang belum tentu infornasinya benar.

Lalu kesimpulan bagaimana pendidikan  seksual itu bisa diperoleh? Sebenarnya ada yakni oleh LSM namun belum banyak yang bisa mengakses.  Banyak organisasi yang punya modul dan mengimplementasikan yakni sekadar contoh di  10 provinsi pada tahun 2014 dan yang paling penting bagaimana pendidikan seksualitas komprehensif itu bisa diinklusifkan dengan disesuaikan karakteristik, usia, dan gender ABK.

Kesimpulan bahwa pendidikan seksual bagi ABK belum terserap dengan dengan benar dan baik bagi seluruh masyarakat di 34 provinsi, sebab terstigma oleh nilai-nilai dan standar norma. Modul masih terpusat pada LSM dan  masih eksklusif sehingga belum  terakses, namun sudah diadopsi oleh pemerintah tetapi masih berfokus kepada kesehatan reproduksi. Hal ini dikarenakan masih ada hambatan biaya dan akses.  (ast)

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Merdeka berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta  ‘mahardika’ yang berarti kaya, sejahtera dan kuat. Dalam Bahasa Indonesia atau Melayu bermakna bebas dari segala belenggu (kekangan), aturan, dan kekuasaan dari pihak tertentu.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Pada Instagram dan Youtube LetssTalk_Sexualities edisi Special Forum #58 bertema Mencari Jalan Pemenuhan Hak-hak  Disabilitas Tuli dan Netra, melalui pemutaran film "Sejauh Ku Melangkah", sutradara dan produser Ucu Agustin  menjawab alasan mengapa ia membuat film tersebut.  Pada tahun 2013 Ucu sempat berpikir  membuat film  terkait  isu diisabilitas netra. Menurutnya sepertinya kok tidak mungkin.  Saat itu Ucu berpikir mungkin ia tidak tahu atau ia tidak paham apa yang terjadi dengan isu ini di Indonesia.

Kemudian ia melihat kok dirinya berada  di lingkungan dokumenter Indonesia dan ia tidak melihat isu ini (disabilitas_red). Terus suatu hari ia dikenalkan dengan mamanya Dea. Ucu bertemu Mama Dea. Pengujung 2017, Dea (salah seorang pemain film Sejauh Kumelangkah) sedang me-chalange dirinya sendiri sebagai remaja yang mandiri. Terus Ucu berpikir wah kalau Dea tertarik bikin sesuatu karena referensi audiovisual dengan referensi isu disabilitas Indonesia kayaknya kurang. Lalu ia pun bertanya ke Dea. "De, kalau aku ikutin ceritamu, kamu kan remaja mandiri. Dan saya melihat tokoh saya sebelumnya yakni 2013 tantangan paling pertama dari masa remaja seorang disabilitas adalah bagaimana men-chalange dirinya sendiri." Dea setuju.

Setelah digali dari ceritanya  sendiri kemudian berproses. Ternyata di Indonesia Dea punya teman namanya Salsa. Kemudian dari situ Ucu pengin bikin sesuatu. "Kalian tertarik tidak bahwa kisah kalian dibikin cerita bareng."

Saat proses sedang berjalan Ucu banyak belajar terkait isu pendidikan terutama teman-teman disabilitas di Indonesia yakni netra. Kebetulan ia tinggal di Amerika. Ia senang sekali mendapat support dari salah satu institusi film di Amerika. Mereka membuat program saat itu. Dukungan  itulah yang membuat film ini terjadi. Inspirasi lain diberikan oleh Dea dan Salsa. Ucu mengaku hanya menjembatani saja.

Pesan apa yang coba Ucu sampaikan lewat film ini kepada  masyarakat terkait mengapa ia tertarik dengan Dea dan Salsa secara  langsung. Ucu menjawab karena genrenya  dokumenter dan bukan fiksi. Gambar-gambar yang diambil untuk dokumen, film  lalu jadi gambar-gambar bercerita. Dan ini bukan film fiksi. Jadi terkait kenapa Dea atau kenapa Salsa bukan terkait akting mereka. "Ini kisah hidup mereka. Boleh tanya tentang kasus melalui dia. Pesannya bebas. Siapa pun yang  ingin menginterpretasikan silakan,"jelas Ucu.

Satu hal yang menjadi  concern  Ucu adalah inisiatif awal. Terus Dea dan Salsa tentang bagaimana tentang pendidikan di dunia disabilitas. Di Amerika yang masih  jauh dari sempurna bisa ditanyakan pada Dea , di Indonesia pun sama. Pesan Ucu kepada disabilitas netra yang masih remaja adalah mari melihat ke dalam, lalu sama-sama mencari cara menyelesaikan persoalan yang ada di dalam diri sendiri dan  yang paling utama yaitu menantang diri sendiri untuk menjadi mandiri. Karena seluruh pesan ini adalah bagaimana Dea dan Salsa mempersiapkan masa depannya sebagai remaja untuk menjadi manusia mandiri terhadap dunia yang belum ramah terhadap manusia di Indonesia.

Ini adalah film pertama Ucu dan  dibuat  ketika  ia menemani pasangannya belajar di Amerika."Terus terang saya tidak punya pekerjaan. Kesulitan utamanya  adalah bagaimana terbang di Indonesia sedang suami saya sedang pendidikan post doctoral. Tapi saya melihat hal-hal seperti  itu bukan hambatan pertama untuk menyelesaikan tentang bagaimana karena secara  finansial tidak mampu."

Ucu  memegang kameranya  sendiri. Padahal di Indonesia saat ia membuat film, ia menyewa kameraman.Ia biasanya bekerja  untuk film itu dengan bebas tinggal memgarahkan. Kalau di Amerika ia harus melalukan hal-hal  teknis. Di Indonesia masih bisa dilakukan dengan gotong-royong. Di Amerika harus betul-betul berhitung.

Ucu belajar menjadi filmmaker  mandiri sama seperti Dea dan Salsa untuk bisa memproduksi dan mengambil gambar sendiri. Rasa sukanya adalah Dea dan Salsa memiliki visi yang sama. Dea dan Salsa bisa belajar untuk melihat bahwa apa yang mereka bikin berasa bahwa hal tersebut   lebih besar dari hidup mereka. "Kayaknya kita bisa bikin karya yang bisa mengetuk berbagai pihak yang harusnya terlibat di sini," terang Ucu.

Justru karena film sederhana lalu mendapat apresiasi dan Ucu menghargai film ini dapat piala tapi sebenarnya yang paling penting adalah bagaimana isu ini dapat diserap oleh wilayah-wilayah di level-level yang memang dituju misalnya orang-orang di kemendikbud. Para orangtua yang lebih bisa memfasilitasi anaknya dan yang paling penting adalah bagaimana mewujudkan Indonesia inklusif yang  tidak hanya menjadi jargon.

Terkait pandangannya tentang inklusivisme dalam film, menurut Ucu  referensi pertama adalah Amerika. Tiga tahun ia tidak pulang, ada dokumen juga tentang production film yang dimiliki oleh Obama yang masuk nominasi oscar dan bisa dilihat perbedaannya. Lalu bisa dilihat My Disability  Journey itu cerita tentang remaja down syndrome yang dibuat oleh bapak dan anak. Juga tentang bagaimana para aktivis di amerika berkumpul dan mereka ramai-ramai  bikin America Disability Act (ADA).

Film-film tersebut memperlihatkan pada  Ucu dengan jelas orang-orang yang memberikan kesempatan bukan hanya orang yang pernah memiliki kekuasaan kayak Obama, yang membuat production house dan  yang paling pertama filmya adalah tentang disabilitas. Juga anak dengan downsyndrome yang bersama dengan bapaknya bikin film. "Sekarang saatnya semua kelompok menarasikan kelompoknya. Tidak butuh lagi orang-orang yang jadi jembatan representasi. Di Indonesia saya melihat ada beberapa organisasi yang sudah secara spesifik kayak teman Tuli  sudah bikin film. Ada beberapa juga berkolaborasi dengan lain. Yang penting seharusnya kita sudah mampu, yuk.  Yuk disabilitas mampu dan orang-orang seperti saya juga. Jadi bisa mengambil peran masing-masing. Kita berperan masing masing. Bikin skript teman-teman bisa. Teman Tuli bisa jadi kamera person. Seharusnya tahun depan kita bisa banyak melihat kreator-kreator. Dari komunitas dan teman-teman untuk meng-create karya sendiri," pungkas Ucu. (Ast)

Add a comment