Gaya Hidup

Kalis Mardiasih Sebut Kegagalan Negara Mengancam Ruang Aman Pengasuhan Anak

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Pengasuhan anak tidak dapat dilepaskan dari situasi politik dan kondisi negara. Nilai-nilai yang ditanamkan orang tua di dalam keluarga dapat terancam ketika lingkungan sosial, lembaga pendidikan, dan kebijakan negara justru mereproduksi kekerasan serta ketidakadilan. Karena itu, membesarkan anak membutuhkan lebih dari sekadar pola pengasuhan yang baik di rumah.

Hal tersebut disampaikan penulis buku Parenting di Negara Gagal, Kalis Mardiasih, dalam bedah buku dengan narasumber lainnya, Bukik Setiawan, dan dimoderasi oleh Tiead Adhika, Sabtu (7/11) di Monumen Pers. Bedah buku dan diskusi yang diselenggarakan oleh Sanggar Anak Jati (Sajati) dan PAUD Sajati tersebut membahas tentang pengasuhan, pendidikan, dan politik kewargaan. Kalis menjelaskan, buku tersebut lahir dari kegelisahannya sebagai orang tua yang menyaksikan berbagai persoalan sosial dan politik di Indonesia yang berdampak terhadap kehidupan anak.

Ia mengaku awalnya tidak memiliki rencana menulis buku parenting. Sebagai seorang ibu dengan anak perempuan yang saat itu berusia tiga tahun, Kalis justru mempersiapkan diri menjadi orang tua dengan membaca berbagai buku tentang pengasuhan. Buku-buku parenting yang beredar di Indonesia, menurut pengamatannya, sebagian besar ditulis oleh psikolog tumbuh kembang anak dan dokter spesialis anak.

Akan tetapi, sejumlah peristiwa politik membuatnya merasa ada persoalan lain yang belum banyak dibicarakan dalam literatur pengasuhan. Persoalan tersebut berkaitan dengan bagaimana negara dan lingkungan sosial ikut menentukan masa depan anak. Salah satu kegelisahan Kalis muncul ketika menyaksikan praktik politik dinasti. Ia menilai, jabatan dan kekuasaan yang diperoleh melalui hubungan keluarga memperlihatkan ketimpangan kesempatan bagi generasi muda.

Kalis mengingat pesan orang tuanya bahwa pendidikan merupakan bekal paling berharga yang dapat diwariskan kepada anak. Orang tuanya tidak memiliki banyak harta, tetapi berusaha menggunakan berbagai sumber daya agar anak-anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Pendidikan kemudian dipahami sebagai jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Anak didorong belajar, mengembangkan kemampuan, dan bekerja keras agar kelak dapat meraih keberhasilan melalui kapasitasnya sendiri.

Namun, realitas politik memperlihatkan bahwa kesempatan tidak selalu ditentukan oleh kemampuan. Seseorang dapat memperoleh jabatan strategis karena hubungan darah dan kedekatan dengan kekuasaan, tanpa harus melalui proses panjang dalam organisasi maupun kaderisasi. Kondisi tersebut, menurut Kalis, menimbulkan ketidakpercayaan terhadap institusi pendidikan, masyarakat, dan masa depan. Anak-anak dapat mempertanyakan kembali tujuan belajar ketika keberhasilan justru lebih banyak ditentukan oleh jaringan kekuasaan daripada kapasitas dan kerja keras.

Dari kegelisahan itulah Kalis menyebut Parenting di Negara Gagal sebagai buku parenting politik. Menurut dia, pengasuhan tidak cukup dibicarakan melalui persoalan tumbuh kembang, kesehatan, dan psikologi anak. Orang tua juga perlu memahami situasi politik yang membentuk lingkungan kehidupan anak.

Kalis juga mengkhawatirkan munculnya kembali bahasa dan praktik kekerasan dalam kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan pernyataan sejumlah pejabat daerah yang mengusulkan agar anak-anak nakal dikirim ke barak militer. Menurutnya, gagasan tersebut bertentangan dengan pendekatan pengasuhan tanpa kekerasan yang selama ini dipelajari banyak orang tua, khususnya generasi milenial. Generasi ini berusaha memutus pola pengasuhan otoriter yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Kalis menyebut orang tua milenial tidak hanya mengasuh anak, tetapi juga sedang mengasuh dirinya sendiri. Mereka berusaha memulihkan pengalaman masa lalu, mempelajari nilai-nilai baru, dan menghindari pengulangan kekerasan yang pernah dialami ketika kecil. Ia mencontohkan bagaimana orang tua sekarang berusaha membangun komunikasi dengan anak melalui dialog. Bahkan untuk menjelaskan larangan sederhana, seperti tidak boleh makan es krim pada waktu tertentu, orang tua bersedia meluangkan waktu agar anak memahami alasan di balik keputusan tersebut.

Cara pengasuhan itu berbeda dari pola lama yang lebih banyak menggunakan perintah dan hukuman. Persoalannya, ketika keluarga berusaha membangun pola pengasuhan yang sehat, lingkungan masyarakat justru dapat menghadirkan kembali nilai-nilai kekerasan. Kalis menilai keluarga, komunitas, dan lembaga pendidikan seharusnya menjadi ruang aman bagi anak. Akan tetapi, ruang-ruang tersebut semakin rentan dipengaruhi kepentingan kekuasaan.

Ia menyoroti kondisi sekolah yang semestinya menjadi institusi pendidikan yang netral dan memberikan ruang bagi guru untuk menyampaikan pendapat. Dalam praktiknya, guru dapat menghadapi tekanan dari kepala sekolah, kepala dinas, hingga pejabat daerah ketika menyampaikan kritik terhadap kebijakan. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya siklus tekanan yang berjenjang. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak belajar berpikir kritis justru berisiko menjadi ruang yang membatasi kebebasan menyampaikan pendapat.


Bencana Ekologis Mengancam Kehidupan Anak

Persoalan ruang aman, menurut Kalis, juga berkaitan dengan kondisi lingkungan. Ia menyoroti pengalaman perempuan dan anak di Kalimantan yang hidup di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan selama berbulan-bulan. Dalam perjalanannya dari Kapuas Hulu hingga Ketapang, Kalimantan Barat, Kalis mengumpulkan informasi mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap kehidupan ibu dan anak. Ia menemukan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan, tetapi juga keterbatasan air bersih dan kekeringan.

Anak-anak terpaksa lebih banyak berada di dalam rumah karena kondisi udara di luar tidak aman. Situasi tersebut membatasi kesempatan mereka bermain dan bergerak sehingga berpotensi mengganggu perkembangan motorik kasar maupun halus. Ibu hamil juga menghadapi risiko kesehatan akibat paparan polutan. Kalis mengingatkan bahwa dampak pencemaran udara tidak selalu terlihat secara langsung. Sebagian persoalan kesehatan dapat muncul dalam jangka panjang.

Ia menghubungkan kondisi tersebut dengan konsep eksternalitas dalam pembangunan, yakni biaya sosial dan kesehatan yang tidak diperhitungkan dalam aktivitas ekonomi. Kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat sering kali tidak masuk dalam perhitungan keuntungan pembangunan. Kalis juga menyoroti ketimpangan akses layanan dasar di wilayah penghasil sumber daya alam. Masyarakat di sejumlah daerah harus menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan perahu dan kendaraan melalui jalan yang sulit untuk mencapai fasilitas kesehatan.

Menurutnya, keadaan tersebut menunjukkan ketidakadilan pembangunan. Daerah memiliki kekayaan sumber daya alam, tetapi masyarakat yang tinggal di dalamnya justru menghadapi keterbatasan infrastruktur, listrik, dan layanan kesehatan. Bagi Kalis, negara semestinya dinilai dari kemampuannya menyediakan pendidikan dasar, layanan kesehatan, dan tempat hidup yang layak bagi seluruh warga. Ketika kebutuhan mendasar tersebut tidak terpenuhi, anak-anak menjadi kelompok yang ikut menanggung akibatnya.


Pengasuhan Merupakan Tanggung Jawab Bersama

Kalis juga menekankan bahwa pengasuhan tidak selalu dapat dibebankan kepada orang tua biologis. Ia mencontohkan keluarga pekerja migran yang terpaksa meninggalkan anak untuk mencari penghidupan di luar negeri. Keputusan bekerja ke luar negeri sering kali bukan pilihan yang sepenuhnya bebas. Sebagian orang tua menghadapi tekanan utang keluarga, kehilangan tanah, terbatasnya lapangan pekerjaan, dan kesulitan memperoleh penghasilan di daerah asal.

Dalam situasi tersebut, anak membutuhkan figur kelekatan aman yang dapat memberikan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang. Figur tersebut tidak harus selalu ayah atau ibu kandung, tetapi dapat berasal dari pengasuh, kakek, nenek, maupun orang dewasa lain yang hadir secara konsisten dalam kehidupan anak.

Karena itu, Kalis mendorong pengembangan pengasuhan kolektif atau gotong royong, terutama di wilayah yang banyak ditinggalkan pekerja migran. Masyarakat dapat membangun kegiatan belajar bersama, termasuk memberikan pengetahuan kepada kakek dan nenek mengenai perkembangan anak dan tantangan pengasuhan pada masa sekarang. Ia mengangkat prinsip bahwa anak orang lain juga merupakan anak bersama. Menurutnya, anak tidak mungkin tumbuh menjadi pribadi yang baik hanya melalui pendidikan di rumah. Lingkungan pergaulan dan perilaku anak-anak lain turut memengaruhi pembentukan karakter.

Karena itu, ketika masyarakat ingin menciptakan ruang aman bagi anak, tanggung jawab pengasuhan perlu diperluas menjadi tanggung jawab komunitas.


Membangun Politik Kewargaan dari Lingkungan Terdekat


Kalis menegaskan bahwa gagasan utama dalam bukunya adalah politik kewargaan. Ia mengajak masyarakat tidak menyerah terhadap keadaan politik dan sosial, meskipun perubahan di tingkat negara tidak selalu dapat segera diwujudkan. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari ruang-ruang terkecil. Ketika keluarga telah menjadi ruang aman, warga dapat memperluas upaya tersebut ke lingkungan RT, komunitas, kelompok belajar, dan lembaga pendidikan.

Ia mencontohkan gerakan ibu-ibu yang setiap Jumat melakukan aksi memukul panci di Bundaran UGM. Gerakan tersebut menjadi ruang bagi para ibu untuk saling menguatkan sekaligus menyalurkan kegelisahan terhadap situasi sosial dan politik. Kalis menyebut tindakan-tindakan kecil semacam itu sebagai everyday resistance atau perlawanan sehari-hari. Komunitas baca yang hanya beranggotakan lima orang, misalnya, tetap dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan masyarakat dan membangun kesadaran bersama.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperluas upaya memutus rantai kekerasan, kemiskinan, dan patriarki dalam keluarga. Orang tua dapat belajar membangun pengasuhan tanpa kekerasan, meningkatkan kesadaran finansial, serta membagi pekerjaan domestik secara lebih setara. Namun, perubahan tidak boleh berhenti di dalam keluarga. Masyarakat perlu memperkuat solidaritas dan menemukan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap persoalan bersama.

Kalis menilai pengetahuan dan kesadaran tidak seharusnya hanya disimpan di dalam rumah masing-masing. Keduanya perlu dibagikan agar semakin banyak warga terlibat dalam membangun lingkungan yang aman bagi anak. Baginya, membesarkan anak di tengah situasi negara yang bermasalah membutuhkan kerja bersama. Pengasuhan bukan hanya urusan orang tua terhadap anak biologisnya, melainkan juga tanggung jawab warga untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan tumbuh, belajar, dan menjalani kehidupan secara layak. (Ast)