Lembaga Partisipasi Perempuan (LP2) meluncurkan Buku Jurnal Puan Volume 2, tulisan para feminis muda yang mengikuti workshop feminis menulis batch 2. Pada zoom meeting yang diselenggarakan pada Kamis (9/4), moderator yang juga peneliti dan penulis, Eka Hindra, mengatakan bahwa para penulis akan lahir dari Lembaga Partisipasi Perempuan (LP2). Dan itu dibenarkan oleh Adriana Venny, narasumber sekaligus editor Jurnal Puan Vol. 2 bahwa masih ada utang dari generasi sebelumnya yakni terkait RUU PPRT dan RUU Masyarakat Hukum Adat, maka oleh sebab itu ada ‘PR” bahwa feminis harus lahir kembali.
Budi Wahyuni, dewan pakar LP2 dan pernah menjadi komisioner Komnas Perempuan menyatakan bahwa tulisan para feminis muda berbagai ragam, dan ada dua tulisan terkait Kesehatan reproduksi dengan latar belakang pondok pesantren. Pada tulisan berjudul "Jerat pernikahan hetero normatif di tengah gay" Afifah menggambarkan betapa minim informasi tentang kesehatan reproduksi, orientasi seks, dan reproduksi. Yang menarik dari tulisan-tulisan pada buku ini menurut Budi Wahyuni adalah, disadari atau tidak, ada satu kebutuhan banyak yang ingin dituliskan. Seperti, kalau bicara sehat secara seksual, yang setuju orientasi seksual itu homo atau tidak? Yang setuju adalah pasti dikaitkan dengan haknya. Ia juga mengemukakan bahwa tidak akan pernah selesai dengan cara pandang yang berbeda.
Pertanyaannya adalah, lantas memulai pendidikan kespro dari mana? Karena jika jawabannya adalah sebelum menstruasi dan sebelum mimpi basah itu telat, apalagi sebelum kehamilan atau sejak adanya penetrasi. Maka usia untuk belajar dan mengenalkan tidak terbatas, artinya sejak lahir sampai mati.
Maria Hartiningsih, jurnalis senior Kompas 1984-2015, dan seorang penulis serta pembelajar memberikan tanggapan atas karya-karya tulisan feminis muda tersebut. Ia mengatakan bahwa tema yang ditulis oleh para feminis muda semuanya menarik dan bercorak seperti tulisan gado-gado. Namun, jika akan dipakai untuk jurnal, akan tanggung karena misalnya harus ada referensi yang bisa diklarifikasi. Ia mempertanyakan di sebuah judul tulisan, sebenarnya corak tulisan ini mau bagaimana? Karena kalau bersumber pada buku, maka harus ditulis judul bukunya, dan terbitan tahun berapa yang bisa dipertanggungjawabkan. Kalau misalnya itu adalah hasil survei, maka tuliskanlah survei apa.
Istilah heteronomi yang ada di satu bagian tulisan, harus dijelaskan itu dari mana karena akan lebih bisa dipertanggungjawabkan untuk mendukung tema yang menarik. Maria juga memberikan masukan tulisan soal perempuan di ranah politik, apakah 30 persen kuota perempuan itu jujur atau tidak? Sebab sebenarnya kita ingin tahu perempuan ada di sana mau apa, apa betul mewakili perempuan? Sebab yang terjadi perilaku mereka tidak berbeda. “Yang kita mau keterwakilan perempuan yang seperti apa. Apakah perempuan di sana mengerti situasi konstituen mereka?” terang Maria. Ia mempertanyakan apakah ada, mereka yang betul-betul bekerja di bawah. Sebenarnya bisa menggugah balik keterwakilan perempuan, jadi sudutnya dibalik lalu mulai membongkar restrukturisasi partai. “Yang di sini terjadi bukan teori politik tapi teori kekuasaan. Kita baca Habermas seperti apa. Tema banyak tapi cara menuliskannya masih bingung. Nulis panjang panjang tapi tidak jelas ke mana, tentang Gay Married misalnya,”imbuh Maria.
Maria menambahkan bahwa melihat seksualitas itu bukan sesuatu yang kaku. Lantas ia mengemukakan teori seksualitas Kingsley, yang menunjukkan bahwa manusia bukan 100 persen perempuan dan 100 persen laki-laki. Ia mencontohkan, ada perkawinan hetero dan 15 tahun mereka bertemu pasangan yang beda. Artinya orientasi seksual bisa berubah seiring pola tadi, apakah benar manusia itu 80 persen perempuan atau laki laki, atau sebaliknya, itu seperti biseksual tapi ini lebih setia.
Sekali lagi ia memuji bahwa kumpulan tulisan pada buku ini isinya menarik, hanya kurang digali dan berharap para penulis banyak membaca supaya bisa menentukan. Ia mengumpakan dirinya yang dalam pekerjaan punya tujuan. Sebab tidak ada jalan linier mendaki tapi banyak yang bergelombang. “Ini langkah pertama, nanti di kemudian hari bisa ditulis balik tapi cara menulis beda dan angle berbeda,”ungkap Maria.
Ia menceritakan pengalamannya, beberapa transgender yang ia temui banyak dari pesantren. Menurutnya, segala sesuatu yang tersegregasi pasti ada sesuatu yang ingin keluar dari situ,termasuk di seminari. Ia juga menanggapi tulisan tentang standar kecantikan, “Saya mau kasih nilai atau aplaus. Kayaknya penting untuk teman-teman untuk membuat gambar-gambar yang dibuat sendiri. Supaya orang tidak capai membaca dan bisa jadi strategi. Tentu saja butuh teman untuk menggambar. Ini tentang standar kecantikan,”jelasnya. Ia juga menceritakan pernah mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) saat mendampingi kasus 65.
Matahari, salah satu penulis, dalam zoom meeting menceritakan pengalaman personal sebagai penyintas dan pendamping korban. Ia harus mengulas kembali pengalaman dan kadang sulit untuk me-recall, karena kejadian tahun 2019 sampai beberapa tahun lalu. Sebagai korban lantas sintas, pengalamam traumatisnya bisa ia aku arahkan ke kegiatan yang lebih baik. “Aku bisa menolong orang lain dan itu bagian yang menyembuhkanku dan juga pendamping lain yang juga merasakan seperti itu. Kita sebagai pendamping bisa burn out. Ini peluang untuk bikin colective care,”ucap Matahari.
Adhieva Salaysya, salah seorang penulis mengakui bahwa ia butuh banyak bahan riset sebab belum pernah memiliki pengalaman menulis jurnalistik. Dan yang ia tulis adalah isu sensitif. Di pesantren tidak ada Pendidikan HKSR dan ia mendengar dari saya pasangannya. “Pacarku yang menghubungkan mereka karena ada yang kakak kelasnya, adik kelasnya. Mereka mengisi kuisioner. Menurutku, HKSR penting untuk menghindari perilaku LGBT,” ungkapnya. Bahkan menurutnya ada temuan mereka penasaran dengan tubuh mereka. Mereka tidak tahu kalau pembalut itu hanya bisa sekali pakai. Ia mengakui bahwa ada keterbatasan narasumber yang mau speak up dan ia pernah ditolak di pesantren karena isu ini dianggap tidak biasa.
Galuh, penulis lainnya mengucapkankan terima kasih kepada LP2 karena memberi wadah untuk menulis yang bisa bermanfaat. Keprihatinannya adalah tuntutan perkawinan heteroseksual. Bahkan ada anggapan perkawinan lavender bisa digunakan untuk mengubah orientasi seksual, untuk perbaikan. Galuh mendapatkan sumber dari Youtube dan media sosial serta wawancari laki-laki gay yang mengalami tekanan karena secara terpaksa mengalami nikah dengan perempuan. Data yang ia dapatkan bisa dibilang terbatas dan belum lengkap. "Saya hargai narasumber laki laki ini yang sudah mau berdiskusi dan jadi narasumber. Lavender marriage dampaknya kompleks. Dan perempuan yang mengalami berpotensi mengalami permasalahan HKSR karena terjadi IMS,” ungkapnya.
Maria Dominika menulis tentang standar kecantikan dengan latar belakang sekolahnya waktu SMA yang homogen. Setelah kuliah, lantas masuk organisasi masih ada tekanan sosial juga, lalu ia membuat form sederhana di media sosial dan mengisi bagaimana terkait standar kecantikan.
Menutup zoom meeting, Budi Wahyuni mengatakan bahwa kelebihan bagi para feminis muda itu adalah mereka sebagai pendamping dan konselor sehingga hal itu bisa dieksplor dan bisa diperdalam yang tidak hanya misalnya dengan berbahan wawancara 30 menit.
Maria pun lantas juga memberikan pendapatnya kembali, bahwa dalam menulis yang paling utama adalah semangat dulu sebelum mengalami proses panjang. Ia juga menyarankan untuk membaca lebih banyak lagi dan pesan-pesan bagi pendamping korban kekerasan. “Sebagai pendamping, kita harus kuat dulu sebelum mendampingi. Saya pernah mengalami sekitar tahun dua ribu sekian. Itu seperti pancaran cahaya tapi bukan cahaya yang sehat namun seperti menghunjam,”ungkapnya. Ia mengimbuhkan, pendamping perlu bertemu dengan banyak orang dulu. Karena kalau tidak, yang kena adalah badan sendiri, karena terus-menerus menguatkan diri sendiri. (Ast)



