Selasa malam ( 14/7) sebuah ruang diskusi secara daring helatan Esensi dan Komunitas Orangtua Hebat digelar dan dipenuhi para orang tua yang datang dengan pertanyaan yang sama, bagaimana menjadi tempat paling aman bagi anak-anak mereka. Di tengah derasnya informasi tentang kesehatan mental, satu hal kembali ditekankan dalam forum tersebut, tidak ada satu penyebab tunggal yang membuat seseorang mengalami gangguan mental. Namun, keluarga memiliki peran yang sangat besar sebagai tempat pertama yang dapat melindungi sekaligus mendukung proses pemulihan.
Any Fegda membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa setiap anak tumbuh di tengah banyak faktor yang saling memengaruhi. Selain kondisi biologis, anak dibentuk oleh keluarga, sekolah, teman sebaya, serta pengalaman hidup yang dialaminya. Peristiwa-peristiwa menyenangkan maupun menyakitkan akan membentuk cara berpikir, merasakan, dan memandang dunia.
Menurutnya, pola asuh bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan masa depan anak, tetapi merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Ia mengibaratkan pola asuh seperti air yang memberi kehidupan. Air tidak bekerja sendirian membuat tanaman tumbuh, tetapi tanpanya kehidupan akan sulit berkembang. Begitu pula kehadiran orang tua yang memberikan kasih sayang, rasa aman, dan perhatian menjadi nutrisi penting bagi kesehatan jiwa anak.
Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk terus belajar. Menjadi orang tua, katanya, adalah proses yang tidak pernah selesai. Di era ketika pengetahuan semakin mudah diakses, setiap keluarga memiliki kesempatan memperbaiki cara mendampingi anak.
Any juga mengingatkan bahwa tanpa disadari, luka pada anak sering kali justru lahir dari hal-hal yang dianggap sepele. Membandingkan anak dengan saudara atau teman sebaya, terlalu cepat mengkritik, mengabaikan cerita mereka karena sibuk bekerja atau bermain gawai, hingga jarang memberikan apresiasi dapat meninggalkan bekas yang mendalam.
Ia memperkenalkan prinsip yang sederhana namun penting, yakni connection before correction yang artinya membangun kedekatan sebelum memberikan koreksi. Anak, menurutnya, lebih membutuhkan perasaan dipahami daripada dihakimi. Ketika orang tua mampu mendengar lebih dulu, kritik pun akan lebih mudah diterima.
Fenomena lain yang juga menjadi perhatian adalah penggunaan gawai oleh orang tua. Tidak sedikit orang tua yang melarang anak terlalu lama bermain telepon genggam, tetapi justru mereka sendiri lebih banyak menghabiskan waktu menatap layar. Akibatnya, waktu berkualitas bersama anak semakin berkurang. "Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna," tegasnya. "Yang mereka butuhkan adalah orang tua yang hadir."
Pesan itu menjadi jembatan menuju pembahasan yang lebih spesifik mengenai skizofrenia. Moderator kemudian memperkenalkan psikiater dr. Theresia Ayu untuk menguraikan pemahaman ilmiah mengenai gangguan tersebut.
Di awal paparannya, dr. Ayu mengajak peserta menghapus stigma yang selama ini melekat. Banyak orang masih menganggap skizofrenia identik dengan "orang gila", tidak dapat sembuh, atau pasti berbahaya. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Ia menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan gangguan fungsi otak yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, memahami kenyataan, dan berperilaku. Untuk memudahkan pemahaman, ia mengibaratkan otak seperti radio. Pada kondisi normal, radio hanya menangkap satu frekuensi. Sementara pada skizofrenia, otak seolah menerima banyak sinyal sekaligus sehingga sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang bukan.
Gangguan ini umumnya muncul pada usia remaja akhir hingga dewasa muda dan diperkirakan dialami sekitar satu dari seratus orang sepanjang hidupnya. Penyebabnya bukanlah satu faktor tunggal, melainkan gabungan faktor biologis, psikologis, sosial, kerentanan genetik, perkembangan otak, hingga tekanan hidup yang menjadi pemicu munculnya gejala.
Dr. Ayu menjelaskan bahwa gejala skizofrenia dapat berupa halusinasi, keyakinan yang tidak sesuai kenyataan, menarik diri dari lingkungan, kehilangan semangat menjalani hidup, hingga kesulitan berkonsentrasi dan mengambil keputusan. Yang paling penting, katanya, skizofrenia bukan akhir dari kehidupan. Dengan pengobatan yang tepat, pendampingan psikologis, edukasi, serta dukungan keluarga yang konsisten, banyak penyandang skizofrenia tetap mampu bekerja, menjalani kehidupan sosial, dan hidup secara produktif. Ia juga meluruskan anggapan bahwa semua penyandang skizofrenia berbahaya. Berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa mereka lebih sering menjadi korban kekerasan dibandingkan pelaku.
Bagi para orang tua yang memenuhi ruang diskusi sore itu, benang merah dari seluruh pembahasan terasa semakin jelas. Gangguan mental bukanlah sesuatu yang lahir karena kesalahan satu orang. Namun ketika keluarga berhenti menyalahkan, mulai mendengar, memahami, dan berjalan bersama proses pengobatan, peluang pemulihan akan terbuka jauh lebih besar. Pada akhirnya, kehadiran yang tulus menjadi obat pertama yang paling dibutuhkan setiap anak.
Psikiater dr. Theresia Ayu menegaskan bahwa pengobatan skizofrenia tidak berhenti pada pemberian obat. Justru, ketika kondisi pasien mulai stabil, perjalanan pemulihan memasuki tahap yang lebih panjang: mengembalikan seseorang agar mampu menjalani hidup secara utuh di tengah keluarga dan masyarakat.
Ia mengakui tidak ingin pasien terus-menerus mengonsumsi obat dalam dosis tinggi sepanjang hidup. Karena itu, evaluasi rutin menjadi bagian penting dari terapi. Seiring perkembangan kondisi pasien, dosis obat dapat disesuaikan agar tetap efektif sekaligus meminimalkan efek samping.
Namun, obat hanyalah satu bagian dari proses pemulihan. Tahap berikutnya adalah terapi psikologis yang membantu pasien memahami pengalaman hidupnya, mengenali pemicu kekambuhan, serta membangun strategi menghadapi tekanan jika situasi serupa kembali terjadi. Dengan begitu, pasien tidak hanya pulih dari gejala, tetapi juga memiliki bekal untuk menjaga kesehatan jiwanya.
Pemulihan juga membutuhkan rehabilitasi sosial. Banyak penyandang skizofrenia kehilangan pekerjaan atau menarik diri dari lingkungan ketika gejala muncul. Saat kondisi membaik, mereka sering merasa canggung untuk kembali menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Rehabilitasi hadir untuk mengembalikan rasa percaya diri sekaligus melatih keterampilan agar mereka dapat kembali bekerja, berkarya, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di atas semua itu, dr. Ayu menyebut keluarga dan lingkungan sebagai faktor terbesar yang menentukan keberhasilan pemulihan. Dukungan yang hangat mampu menjadi kekuatan, sementara penolakan justru dapat menjadi tekanan baru yang memperburuk kondisi pasien.
Karena itu, ia mengajak masyarakat mengubah cara berbicara tentang gangguan jiwa. Sebutan seperti "orang gila", "kurang iman", atau "cuma stres" sebaiknya ditinggalkan karena memperkuat stigma. Sebaliknya, gunakan bahasa yang lebih manusiawi, seperti "orang dengan skizofrenia", "sedang mengalami gangguan kesehatan jiwa", atau "sedang menjalani proses pemulihan". Bahasa, menurutnya, dapat menjadi jembatan menuju penerimaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya penanganan sejak dini. Semakin cepat seseorang memperoleh pertolongan profesional, semakin besar peluang untuk pulih, semakin kecil risiko kekambuhan, dan semakin baik kualitas hidup yang dapat diraih. Tujuan pemulihan bukan berarti seseorang tidak pernah lagi mengalami gejala, melainkan mampu menjalani kehidupan yang bermakna, bekerja, membangun relasi, dan tetap berfungsi di tengah masyarakat.
Pesan itu menjadi pengantar sebelum forum mendengarkan kisah nyata dari Ruby Diantono, seorang penyintas gangguan skizoafektif yang telah menjalani perjalanan panjang menuju pemulihan.
Dengan tenang, Ruby memperkenalkan dirinya sebagai ayah tunggal berusia 51 tahun dengan dua anak yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Di balik senyumnya, tersimpan pengalaman berulang keluar masuk bangsal jiwa sejak masih duduk di bangku SMA. Ia beberapa kali menjalani perawatan di berbagai rumah sakit jiwa, hingga terakhir dirawat kembali pada akhir 2024.
Ia memahami bahwa penyakit yang dialaminya lahir dari banyak faktor. Ada riwayat gangguan serupa dalam keluarganya, tekanan ekonomi sejak kecil sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara, pengalaman sakit pada masa kanak-kanak, hingga berbagai beban emosional yang menumpuk sepanjang hidup.
Kesadaran untuk menjalani pengobatan secara konsisten baru tumbuh setelah diagnosis skizoafektif ditegakkan pada 2010. Sebelumnya, setiap kali merasa lebih baik, ia menghentikan pengobatan. Akibatnya, gejala terus berulang dan membawanya kembali ke rumah sakit.
Kini, setelah lebih dari satu dekade menjalani terapi secara teratur, Ruby tetap bekerja di sebuah perusahaan manufaktur Jepang di Jakarta Timur. Selama 31 tahun, ia mampu mempertahankan pekerjaannya meski harus menghadapi pasang surut kondisi mental.
Perjalanan menerima diagnosis bukan perkara mudah. Ketika pertama kali mengetahui dirinya mengalami gangguan skizoafektif, bayangan yang muncul hanyalah satu: "Apakah saya sudah menjadi orang gila?" Stigma itu sempat menghantui dirinya.
Namun perlahan, pemulihan tidak hanya datang dari obat-obatan. Ia menemukan harapan melalui penerimaan keluarga. Orang tuanya tidak pernah menyembunyikan dirinya dari lingkungan. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit, sang ayah mengajaknya berkeliling kampung, seolah ingin mengatakan bahwa penyakit bukan alasan untuk mengasingkan seseorang.
Kalimat sederhana dari istrinya pun masih ia ingat hingga kini. "Kamu hebat, dengan kondisi seperti ini masih bisa bekerja."
Bagi Ruby, kalimat itu menjadi api yang terus menyala setiap kali semangatnya meredup. Setelah sang istri meninggal, kedua anaknya menjadi alasan terkuat untuk tetap bertahan. Kehadiran mereka membuatnya merasa tetap dibutuhkan dan berharga.
Di akhir kisahnya, Ruby menyampaikan satu kalimat yang merangkum seluruh perjalanan hidupnya. Bagi penyintas gangguan jiwa, pemulihan bukan sekadar hilangnya gejala. Pemulihan adalah ketika seseorang masih memiliki tempat untuk pulang, sebuah hati yang tetap menerima mereka apa adanya.
Sesi berbagi pengalaman berakhir, tetapi percakapan malam itu justru semakin hidup ketika moderator membuka ruang tanya jawab. Kolom percakapan dipenuhi puluhan pertanyaan dari para orang tua yang berusaha memahami bagaimana mendampingi anggota keluarga yang hidup dengan skizofrenia.
Pertanyaan pertama datang dari seorang ibu yang ingin mengetahui apakah gejala dapat dicegah sebelum berkembang menjadi lebih berat.
Menjawab hal itu, dr. Theresia Ayu menjelaskan bahwa pencegahan bergantung pada tahap yang sedang dialami pasien. Jika tanda-tanda awal mulai muncul, dukungan keluarga, pengurangan stres, dan konsultasi sedini mungkin menjadi langkah penting. Namun ketika gejala telah tampak jelas, pengobatan tetap menjadi pintu pertama sebelum pasien memasuki tahap rehabilitasi.
"Rehabilitasi dilakukan secara bertahap," ujarnya. Aktivitas sederhana di rumah dapat menjadi awal. Ketika kondisi membaik, keluarga dapat mulai mengajak pasien berinteraksi kembali dengan kerabat, kemudian perlahan masuk ke lingkungan sosial yang lebih luas. Pemulihan, katanya, bukan proses yang instan, melainkan perjalanan yang dibangun sedikit demi sedikit.
Pertanyaan lain datang dari seorang nenek yang merawat cucunya. Ia bercerita bahwa pengobatan telah dijalani, tetapi gejala justru terasa semakin berat. Bagaimana mengetahui obat yang tepat?
Dr. Ayu memahami kelelahan para pendamping. Ia menyarankan keluarga mencatat setiap perubahan setelah penggunaan obat, termasuk gejala yang membaik maupun yang memburuk. Catatan sederhana itu akan sangat membantu psikiater mengevaluasi terapi. Menurutnya, tidak ada satu jenis obat yang cocok untuk semua pasien karena setiap orang memiliki respons yang berbeda.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa pasien yang banyak tidur setelah minum obat berarti pengobatannya gagal. Pada fase awal, efek mengantuk memang kerap muncul. Prioritas utama adalah mengendalikan gejala terlebih dahulu. Setelah kondisi stabil, terapi akan berlanjut pada pengembalian fungsi sosial dan aktivitas sehari-hari.
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir. Ada yang bertanya apakah hipnoterapi dapat menggantikan pengobatan, bagaimana membujuk anggota keluarga yang menolak berobat, hingga benarkah skizofrenia hanya disebabkan ketidakseimbangan hormon.
Jawaban dr. Ayu selalu kembali pada satu pesan yakni jangan menunda mencari pertolongan profesional. Gangguan jiwa adalah persoalan kesehatan, bukan persoalan kurang iman, kelemahan karakter, ataupun kutukan. Penanganannya membutuhkan pendekatan medis, psikologis, sekaligus dukungan keluarga.
Di tengah diskusi, perhatian peserta kembali tertuju kepada Ruby. Seorang peserta bertanya apakah rasa tidak berharga menjadi akar dari perjuangan panjang yang ia alami.
Ruby tidak buru-buru menjawab. Ia mengakui bahwa perasaan itu memang datang berulang, terutama setiap kali selesai menjalani rawat inap. Setelah gejala mereda, justru fase depresi sering muncul. Efek obat yang masih kuat membuat tubuh terasa berat, sementara rasa bersalah atas perilaku yang pernah ia lakukan terus menghantuinya.
Namun setiap kali ingin menyerah, ia menemukan alasan untuk kembali berdiri.
"Anak-anak membuat saya merasa masih dibutuhkan," tuturnya pelan.
Kalimat itu menjadi inti dari seluruh kisah yang ia bagikan malam itu. Bukan obat semata yang membuatnya bertahan selama lebih dari tiga dekade bekerja, melainkan keyakinan bahwa kehadirannya masih berarti bagi orang lain.
Peserta lain kemudian bertanya apakah keluarganya pernah mendapatkan pendampingan psikologis. Ruby menggeleng. Tidak ada terapi khusus bagi keluarganya. Yang ada adalah kebersamaan. Kakak, adik, istri, mertua, hingga orang tua saling menopang ketika dirinya sedang berada dalam masa-masa sulit.
Ia juga mengisahkan bagaimana komunitas menjadi ruang aman untuk belajar memahami diri sendiri. Di sana, ia mendengar cerita penyintas lain, melihat keluarga lain berjuang, dan perlahan menyadari bahwa ia tidak sendirian. Dari pengalaman bersama itulah tumbuh kesadaran untuk terus menjalani pengobatan dan menjaga harapan.
Menjelang akhir diskusi, moderator menutup forum dengan ucapan terima kasih kepada seluruh narasumber. Malam itu tidak menghadirkan jawaban sederhana bagi persoalan kesehatan jiwa. Sebaliknya, forum tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan adalah kerja bersama, antara tenaga kesehatan, keluarga, komunitas, dan penyintas itu sendiri.
Skizofrenia memang mengubah perjalanan hidup seseorang, tetapi stigma sering kali melukai lebih dalam daripada penyakitnya sendiri. Ketika keluarga memilih tetap hadir, lingkungan berhenti menghakimi, dan masyarakat memberi ruang untuk kembali hidup bermakna, harapan bukan lagi sekadar wacana. Ia menjadi sesuatu yang benar-benar dapat dijalani, satu langkah kecil setiap hari. (Ast)


