Ekologi

Pangan Lokal, Tanah, Pengetahuan Perempuan, dan Peran Generasi Muda

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Sinar matahari sore belum benar-benar tenggelam ketika pembicaraan tentang pangan dimulai. Ada nama-nama tanaman yang disebut satu per satu. Juga cerita tentang pasar, kebun, benih, pohon yang hilang, dan tentang ibu-ibu yang masih mengingat bagaimana daun tertentu dimasak ketika mereka kecil. Pangan rupanya bukan hanya perkara apa yang ada di piring.

Di belakang sepiring nasi, ada tanah, benih dan tangan yang menanam. Ada perempuan yang mengolahnya menjadi makanan. Juga pengetahuan yang diwariskan dari ibu kepada anak. Ada pula tanaman yang pelan-pelan hilang karena tak lagi ditanam dan tak lagi dikenali. Begitulah tema sarasehat "Tanah untuk Tani, Pangan oleh Perempuan" yang digelar dalam Festival Mbok Sri ke-9 di Sanggar Rojolele, Delanggu, Sabtu (26/9).

Peneliti pangan sekaligus penulis, Maria Stephanie, bercerita tentang bagaimana ia pertama kali masuk ke dunia pangan lokal. Ceritanya bermula dari usaha salad yang ia jalankan bersama teman-temannya sekitar 2014 hingga 2021. Pada masa itu, kebutuhan sayur untuk usaha semakin banyak. Membeli sayuran di supermarket tentu bukan pilihan yang bisa terus dilakukan. Harganya mahal dan ada persoalan lain yang kemudian membuatnya mencari sumber pangan dari tempat berbeda.

Ia bertemu dengan orang-orang yang mempertemukan petani, produsen makanan, koperasi, dan konsumen. Dari pertemuan itulah perempuan yang akrab dipanggil Stefi itu mulai melihat pangan dengan cara berbeda. Ia menemukan tempe yang dibuat dari kacang-kacangan lokal. Ia bertemu petani yang tidak hanya menjual sayur. Petani itu juga bisa bercerita tentang sayuran yang dibawanya, bagaimana mengolahnya, dan makanan apa yang bisa dibuat darinya. “Beli sayur sama dia bisa dikasih tahu. Ini bisa dibuat jus, ini bisa dicampur dengan bahan lain,” cerita Stefi.

Ada sesuatu yang menarik dari cara petani itu berjualan. Ia tidak sekadar menyerahkan sayur lalu menerima uang. Pengetahuan ikut berpindah tangan. Dari sana Stefi mulai mengenal kembali pangan Nusantara. Ternyata makanan yang bisa dimakan tidak berhenti pada beras. Ada kacang-kacangan, ubi, pakis, dan koro pedang. Ada berbagai daun yang tumbuh di sekitar rumah dan kebun. Sebagian masih dikenal masyarakat, sebagian lain mulai dilupakan. Padahal, setiap daerah mempunyai kekayaan pangan sendiri.

Persoalannya, banyak orang kini tidak lagi mengenal apa yang tumbuh di halaman, kebun, tegalan, atau pinggir jalan mereka sendiri. Chandra Prijosusilo kemudian membawa cerita itu lebih jauh. Ia pernah memulai perjalanan panjang dari kapas. Bersama teman-temannya, ia menanam kapas sendiri untuk membuat kain tenun. Dari sana perhatiannya kemudian melebar pada tanah, benih, tanaman, dan kehidupan yang tumbuh di atasnya.

Pernah ada gagasan melakukan perjalanan menyusuri pasar tradisional dari Jawa Barat hingga ujung timur Pulau Jawa. Yang dicari bukan sekadar makanan, melainkan biji-biji tanaman dan buah yang mulai jarang ditemukan.

Pasar tradisional bagi Chandra menyimpan sesuatu yang lebih besar daripada kegiatan jual beli. Di sana ada identitas. Ia kemudian mengajak peserta kembali kepada ingatan masa kecil. Dulu, alam adalah bagian dari permainan anak-anak. Pohon besar menjadi tempat berteduh. Tanaman liar dikenal namanya. Anak-anak tahu mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak.

Ia mengingat sayuran bernama ale, semacam kecambah yang tumbuh di sekitar rumah. Ia juga mengingat pohon-pohon besar yang dulu masih banyak. Ada pula daun sembukan yang diolah menjadi makanan. Dalam bahasa Jawa, Chandra menyebut istilah tanduran lan thukulan. Tanduran adalah tanaman yang ditanam manusia. Thukulan adalah sesuatu yang tumbuh, yang memang sengaja ditanam. Ada pula yang tumbuh karena tanah, air, angin, burung, atau hewan lain membawanya. Dulu, pergantian musim berarti pergantian makanan.

Ketika musim tertentu datang, tanaman tertentu tumbuh. Ketika musim berganti, makanan yang tersedia juga berubah. Masyarakat tidak perlu memaksakan tanah menghasilkan makanan yang sama sepanjang tahun. Tanah mempunyai waktunya sendiri. Chandra menyebut pohon bligo, sawo, mangga, kelapa dan berbagai tanaman yang pernah begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebagian masih ada. Sebagian lainnya tinggal nama.

Ketika sebuah tanaman hilang, yang hilang bukan hanya buah atau daunnya. Cara mengolahnya ikut hilang. Cerita tentangnya pun ikut hilang. Pengetahuan tentang kapan tanaman itu tumbuh dan bagaimana merawatnya juga perlahan menghilang. Disinilah pembicaraan bertemu dengan perempuan.

Stefi melihat perempuan memiliki posisi penting dalam menjaga pengetahuan pangan. Bukan karena perempuan harus selalu ditempatkan di dapur. Justru karena selama ini perempuan memang banyak menjadi orang yang paling dekat dengan urusan makanan dalam keluarga. Mereka tahu makanan kesukaan anak, bahan apa yang tersedia. Juga bagaimana satu bahan yang sama bisa diolah menjadi beberapa jenis makanan.

Stefi mengingat ibunya. Ibunya mempunyai banyak pengetahuan tentang bahan pangan dan cara mengolahnya. Ketika ada anggota keluarga sakit, ibunya mempunyai pengetahuan sendiri mengenai bahan-bahan yang bisa digunakan. Pengetahuan itu ada di rumah. Sayangnya, tidak semuanya sempat diwariskan. Pengalaman itu kemudian membawanya bertemu dengan kelompok ibu-ibu. Salah satu latar belakangnya adalah persoalan gizi buruk dan gizi kurang. Stefi melihat persoalan gizi tidak cukup dibicarakan melalui angka atau iklan makanan sehat.

Ada pengetahuan yang sudah lama dimiliki masyarakat. Para ibu tahu tanaman apa yang tumbuh di sekitar mereka. Mereka tahu mana yang bisa dimakan, meraciknya dan tahu makanan yang disukai anak. Hanya saja, pengetahuan itu semakin lama semakin terdesak oleh perubahan zaman. Akhirnya para perempuan dikumpulkan. Mereka belajar bersama, menanam bersama dan mengolah makanan bersama serta mengenali kembali tanaman yang selama ini berada di sekitar mereka. KWT kemudian tidak hanya menjadi kelompok yang berkebun.

Dari kebun, pembicaraan tentang pangan kemudian bergerak ke kesehatan. Makanan sehat tidak selalu harus mahal dan tidak harus datang dari tempat yang jauh. Kadang ia tumbuh di halaman sendiri.

Stefi kemudian berbicara tentang hal lain yang menurutnya tidak kalah penting yakni peran laki-laki. Ia melihat kegiatan pangan dan gizi masih banyak diikuti perempuan. Ketika membicarakan gizi keluarga, tentang kebun, dan makanan anak perempuan datang. Stefi ingin laki-laki ikut masuk ke pembicaraan tersebut. Bukan sekadar datang menemani istri.

Ia pernah menerbitkan buku tentang gizi. Dalam berbagai acara yang berkaitan dengan buku dan isu tersebut, peserta laki-laki jumlahnya sangat sedikit. Kalau ada seorang suami datang, sering kali alasannya karena ingin mendukung istrinya. Menurut Stefi, dukungan itu baik. Akan lebih jauh jika laki-laki juga datang karena ingin belajar menjadi bagian dari pengasuhan dan pemenuhan gizi keluarganya. Ia kemudian menceritakan pengalaman di Nusa Tenggara Timur.

Sejak 2022, ia mendampingi riset dan dokumentasi pangan lokal bersama anak-anak muda. Salah seorang di antara mereka adalah laki-laki. Ia bisa memasak. Kemampuan itu diperoleh dari ibunya sejak kecil. Ibunya mengajarkan bahwa pekerjaan rumah bukan pekerjaan perempuan saja. Anak laki-laki juga harus bisa memasak, membersihkan rumah, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pengetahuan sederhana dari seorang ibu itu kemudian dibawa ke ruang yang lebih luas. Ia mendokumentasikan pangan lokal. Ia mengenalkannya kepada anak-anak yang diajarnya.

Di tempat lain, Stefi juga mendampingi seorang guru SMA di Sumba Tengah yang membuat kelas untuk mengenalkan kembali pangan lokal kepada anak-anak seperti ini jalar, Ubi kayu, dan nasi jagung. Anak-anak yang sebelumnya merasa belum makan kalau belum makan nasi, perlahan diperkenalkan pada makanan yang tumbuh di sekitar mereka. Para ibu kemudian datang. Mereka menjadi relawan. Sebuah kelas kecil mulai mempertemukan anak, guru, ibu, pangan, dan ingatan tentang tanah.

Kembali kepada Chandra yang mengingatkan bahwa menjaga pangan lokal tidak selalu harus dimulai dengan mencari benih dari tempat yang jauh. Lihat dulu apa yang masih ada di sekitar. Kenali tanah sendiri, bentang alamnya, dan tanaman yang masih tumbuh. Benih yang tersisa mungkin tampak kecil. Hanya segenggam. Hanya beberapa butir. Tetapi dari sana bisa tumbuh kembali sesuatu yang hampir hilang. Chandra bercerita tentang perjalanannya ke sejumlah desa.

Ada pengalaman yang membuatnya melihat kehidupan desa dengan cara berbeda. Ketika pagi masih gelap, ia melihat laki-laki sudah bekerja memanjat pohon lontar atau siwalan. Ia yang biasanya bangun lebih siang tiba-tiba melihat aktivitas yang sudah berlangsung sejak sebelum matahari muncul. Dari atas pohon, kehidupan diturunkan ke tanah. Ada hasil yang kemudian menjadi bagian dari makanan dan penghidupan keluarga.

Pengalaman itu membuat Chandra merasa tidak pantas melihat kehidupan masyarakat hanya dari apa yang tampak di siang hari. Ada kerja yang tidak terlihat serta pengetahuan yang tidak tertulis. Ada orang-orang yang bekerja ketika sebagian orang lain masih tidur.

Pembicaraan kemudian kembali kepada tanah. Tanah hari ini tidak hanya menerima benih dan air. Ia juga menerima plastik. Kegiatan masyarakat yang membawa nama lingkungan dan alam pun masih menghasilkan sampah. Chandra mengingatkan bahwa manusia tidak mungkin sepenuhnya menghindari teknologi dan berbagai kebutuhan moderen. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya..

Ia membayangkan ruang-ruang yang ada di desa dapat dimanfaatkan untuk mengelola sampah rumah tangga. Bahkan fasilitas yang selama ini belum digunakan secara maksimal dapat menjadi ruang pengelolaan sampah atau lumbung desa. Desa juga dapat mulai mendata pohon-pohon yang masih tumbuh yakni pohon pangan dan nuah bahkan tanaman yang dapat digunakan sebagai pewarna alami. Dengan mendata, masyarakat mulai mengetahui apa yang sebenarnya mereka punya. Sebab sering kali kehilangan dimulai dari ketidaktahuan.

Seorang peserta kemudian bertanya bagaimana semua gagasan tersebut dapat diwujudkan di tempat mereka masing-masing. Stefi tidak memberikan jawaban yang sederhana. Kondisi masyarakat, menurutnya, memang rumit. Ada orang-orang yang memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya. Ada keputusan yang berada di tangan mereka yang mempunyai kekuasaan. Karena itu, pekerjaan menjaga pangan dan tanah membutuhkan kesabaran maka harus membuka akses, mendampingi, membangun pengetahuan dan membuat masyarakat kembali mengenali apa yang mereka miliki. Bagi Stefi, perlawanan tidak selalu harus berbentuk aksi di jalan.

Ketika masyarakat kembali mengetahui haknya, mengetahui pangan yang tumbuh di tanahnya, dan mampu mengelola sumber dayanya, di situ ada sebuah gerakan. Gerakan yang mungkin tidak selalu terdengar. Tetapi bekerja pelan-pelan.

Chandra menutup pembicaraan dengan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni mengurangi plastik karena plastik yang kita buang pada akhirnya kembali ke tanah. Sedangkan Stefi menutup acara dengan mengingatkan satu hal lagi bahwa semua pengetahuan itu perlu didokumentasikan, baik itu tulisan, video, dan musik. Apa pun bentuknya. Sebab orang-orang yang menyimpan pengetahuan tidak selamanya ada. Ketika mereka pergi, pengetahuan yang tidak pernah dicatat bisa ikut pergi. (Ast)