Bencana tidak pernah memberi banyak waktu untuk berpikir. Ketika air tiba-tiba naik, tanah bergerak, atau gempa mengguncang, beberapa menit bahkan beberapa detik dapat menentukan keselamatan seseorang. Karena itu, kesiapsiagaan bukan sesuatu yang baru dipikirkan ketika bencana datang.
Ia harus disiapkan jauh sebelumnya, bahkan dari ruang paling dekat dengan kita: rumah.
Pesan itu mengemuka dalam Webinar Kemanusiaan yang menghadirkan praktisi komunikasi dan pengurangan risiko bencana, Saina Sabrina. Dalam forum tersebut, peserta diajak melihat bencana bukan sekadar sebagai peristiwa alam, tetapi sebagai situasi yang menuntut pengetahuan, keputusan cepat, komunikasi, dan tindakan nyata.
Saina, yang telah berkecimpung dalam edukasi kesiapsiagaan bencana selama lebih dari 20 tahun, menekankan pentingnya membangun pola pikir siaga. Menurutnya, masyarakat perlu memahami risiko di sekitarnya sekaligus mengetahui apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat terjadi.
14 Menit yang Menyelamatkan Ratusan Nyawa
Salah satu kisah yang dibagikan dalam webinar memperlihatkan betapa pentingnya keputusan cepat.
Dalam sebuah kejadian banjir bandang di Nepal, peringatan yang diterima kepala sekolah segera diikuti tindakan. Kegiatan belajar dihentikan, tanda darurat dibunyikan, dan siswa serta guru dievakuasi ke tempat aman.
Hanya dalam waktu sekitar 14 menit, keputusan tersebut disebut berhasil menyelamatkan sekitar 900 siswa serta 16 guru dan staf.
Cerita itu bukan sekadar kisah tentang bencana di tempat yang jauh. Ia membawa pertanyaan sederhana kepada kita: jika bencana terjadi hari ini, apakah kita tahu harus melakukan apa?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena dalam situasi darurat, kepanikan dapat membuat seseorang kehilangan waktu. Sebaliknya, pengetahuan dan latihan dapat membantu seseorang mengambil tindakan dengan lebih cepat.
Kalau Keluarga Terpisah, Harus Bertemu di Mana?
Kesiapsiagaan kemudian dibawa ke lingkup yang paling dekat: keluarga.
Peserta diajak membayangkan situasi sederhana tetapi sangat mungkin terjadi. Gempa terjadi ketika anggota keluarga sedang berada di tempat berbeda. Jaringan komunikasi terganggu. Anak berada di sekolah, orang tua di tempat kerja, sementara anggota keluarga lainnya berada di rumah.
Jika semua terpisah, di mana mereka harus bertemu? Siapa yang harus dihubungi? Bagaimana cara memastikan anggota keluarga yang paling rentan tetap aman?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dari rencana darurat keluarga.
Rencana itu tidak harus rumit. Keluarga dapat mulai dengan menentukan titik kumpul, menyepakati jalur komunikasi, mengenali jalur evakuasi dari rumah, serta membagi peran masing-masing anggota keluarga.
Kebutuhan anggota keluarga juga perlu diperhitungkan. Bayi, lansia, maupun anggota keluarga yang memiliki kebutuhan khusus mungkin membutuhkan perlengkapan dan dukungan yang berbeda.
Dengan kata lain, kesiapsiagaan bukan hanya soal memiliki tas darurat. Ia juga soal saling mengenal kebutuhan, saling mengetahui peran, dan tahu harus mencari satu sama lain ke mana ketika keadaan menjadi tidak normal.
Tas Siaga Bukan Sekadar Barang
Dalam webinar, peserta juga diajak menyiapkan tas siaga bencana. Isinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga, termasuk dokumen penting, obat-obatan pribadi, makanan dan minuman, senter, baterai, powerbank, pakaian, serta kebutuhan dasar lainnya.
Namun, yang lebih penting dari isi tas adalah kesiapan untuk menggunakannya.
Sebab, tidak ada gunanya tas siaga tersimpan rapi jika anggota keluarga tidak tahu di mana letaknya atau tidak pernah berlatih melakukan evakuasi.
Kesiapsiagaan, pada akhirnya, bukan benda yang disimpan di sudut rumah. Ia adalah pengetahuan yang dipraktikkan.
Dari Rumah ke Kebijakan
Diskusi dalam webinar kemudian bergerak lebih jauh. Kesiapsiagaan keluarga memang penting, tetapi keselamatan masyarakat tidak mungkin dibebankan seluruhnya kepada individu.
Persoalan bencana juga berkaitan dengan sistem, kebijakan, tata ruang, infrastruktur, kapasitas pemerintah, layanan darurat, hingga kondisi lingkungan.
Dalam diskusi, persoalan banjir di kawasan perkotaan turut disinggung. Salah satu peserta mengaitkannya dengan persoalan drainase, penyempitan sungai dan berkurangnya ruang untuk menampung air hujan. Diskusi tersebut menegaskan pentingnya melihat risiko dari hulu hingga hilir, bukan hanya ketika air sudah masuk ke rumah warga.
Karena itu, kesiapsiagaan juga membutuhkan kerja bersama.
Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk membangun sistem yang melindungi masyarakat. Masyarakat sipil dapat memperkuat literasi, melakukan advokasi dan mengawal kebijakan. Sementara masyarakat di tingkat komunitas memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung mengenai risiko yang mereka hadapi.
Data dan kajian menjadi penting agar advokasi kebencanaan tidak berhenti pada keluhan. Temuan di lapangan perlu diterjemahkan menjadi usulan dan solusi yang dapat dibawa kepada pengambil kebijakan.
Bencana Adalah Urusan Bersama
Pada akhirnya, webinar tersebut mengingatkan bahwa tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan harus dibangun mulai dari rumah, sekolah, komunitas hingga pemerintah. Pengetahuan perlu terus diperbarui karena karakter risiko dan pengalaman bencana dapat berubah.
Pesan yang muncul dalam webinar pun sederhana: jangan menunggu bencana datang untuk belajar menyelamatkan diri.
Mulailah hari ini. Tentukan titik kumpul keluarga. Sepakati cara berkomunikasi. Kenali jalur evakuasi. Siapkan tas siaga. Latih anak-anak. Perhatikan kebutuhan lansia dan anggota keluarga yang membutuhkan dukungan khusus.
Sebab ketika bencana benar-benar datang, kita mungkin tidak punya waktu untuk membuka buku panduan.
Yang tersisa mungkin hanya beberapa menit untuk mengambil keputusan.
Dan pada saat itulah, kesiapsiagaan yang kita bangun hari ini dapat menjadi keselamatan bagi kita dan orang-orang yang kita cintai esok hari. (Yohanes Handharu)


