Ekologi

Mollo Menulis Ulang Ingatan dari Tanah, Hutan, dan Gunung Mutis

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
Suara-suara tentang Mollo selama ini kerap datang dari luar. Sejarah, budaya, alam, sampai identitas masyarakat di wilayah Timor, Nusa Tenggara Timur, sering diceritakan melalui sudut pandang orang yang datang untuk melihat, meneliti, mendokumentasikan, lalu pulang.

Buku "Pah Pinan: Jagat Raya Mollo dan Seisinya" dan film "Naijan On Hai Aina" tentang masyarakat Mollo mencoba mengubah arah cerita tersebut. Masyarakat tidak lagi sekadar menjadi objek yang dilihat. Mereka menulis, merekam, berbicara, dan menentukan sendiri cerita tentang kehidupan mereka. Gagasan itu menjadi salah satu benang merah dalam kegiatan pemutaran film dan bedah buku "Pah Pinan; Jagat Raya Mollo dan Seisinya." yang dihelat Patjar Merah dan berlangsung di Hetero Space, Surakarta pada Sabtu (5/9). Ruang diskusi berkembang dari cerita tentang proses produksi karya menuju pembicaraan yang lebih luas mengenai bahasa ibu, pangan lokal, pendidikan, konservasi, kolonialisme, hingga hak masyarakat menentukan masa depan ruang hidupnya.
Dicky Senda, salah satu penggerak produksi buku dan film, mengatakan karya tersebut lahir dari pengalaman panjang masyarakat yang merasa identitasnya sering dibicarakan oleh pihak lain. "Berangkat dari pengalaman bahwa banyak hal, banyak kali sejarah atau budaya atau identitas orang Timur itu ditulis atau dibicarakan oleh orang lain atas nama kami," ujar Dicky. Buku tersebut menjadi upaya untuk mengambil kembali ruang bercerita. Sebanyak 20 orang Mollo terlibat dalam penulisannya. Mereka berasal dari beberapa generasi, termasuk tiga penulis dari generasi Alpha dan sejumlah penulis dari generasi Z.

Prosesnya tidak berhenti pada pengumpulan cerita. Para penulis belajar dari awal mengenai proses menulis, mengedit, menyusun buku, hingga memahami bagaimana sebuah karya diproduksi. Orang-orang yang terlibat juga datang dari berbagai tempat seperti Jakarta, Kupang, Kediri, dan Mollo. Jarak tidak menjadi penghalang untuk membangun proses kreatif bersama.Bagi Dicky, buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia menjadi penanda identitas sekaligus arsip bagi masyarakat Mollo.

Film memiliki fungsi serupa. Pengetahuan yang sebelumnya hidup melalui percakapan di rumah, kebun, hutan, dan ruang komunitas direkam menjadi bentuk baru. Kamera menjadi salah satu cara untuk menyimpan ingatan yang mudah hilang jika tidak diwariskan.

Windy Ariestanty, editor buku, menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Banyak cerita dalam buku berangkat dari tradisi tutur. Bahasa yang digunakan sehari-hari memiliki irama, konteks, dan cara pengungkapan yang tidak selalu mudah dipindahkan ke dalam teks. Karena itu, penyuntingan tidak diarahkan untuk membuat seluruh tulisan menjadi seragam. Suara masing-masing penulis tetap diberi ruang.
"Buku ini bukan cuma persoalan teks. Cara bertutur di sana kan oral, kemudian dibuat menjadi buku dan teks, tetapi masih mempertahankan rasa oralnya," kata Windy dalam diskusi. Dia melihat bahasa sebagai bagian dari pengetahuan. Hilangnya bahasa ibu tidak sekadar membuat seseorang kehilangan kemampuan berbicara dalam bahasa tertentu. Ada pengetahuan yang ikut terputus di dalamnya.

Salah satu cerita yang dibacakan dalam kegiatan tersebut membawa peserta masuk ke ingatan masa kecil seorang anak Mollo. Ada batu yang sering dilewati, juga pesan seorang mama agar tidak mengambil sesuatu sembarangan, serta percakapan dengan seorang Opa tentang leluhur. Dari cerita sederhana itu muncul pemahaman tentang hubungan manusia dengan tanah dan alam.

Bagi masyarakat Mollo, alam bukan ruang kosong yang berdiri di luar kehidupan manusia. Hutan dipandang sebagai ibu. Batu merupakan tulang. Tanah menjadi bagian dari tubuh. Air berkaitan dengan kehidupan. Cara pandang tersebut membuat kerusakan lingkungan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Merusak tanah bukan sekadar mengubah bentang alam. Ia seperti melukai tubuh sendiri.
whatsapp-image-2026-09-06-at-15.08.33.jpeg
Pandangan tersebut juga tercermin dalam kehidupan pangan. Sebelum beras dan berbagai bahan makanan dari luar hadir secara luas, masyarakat mengenal pangan yang berasal dari hutan dan kebun. Jagung bose menjadi bagian penting dari kehidupan, begitu pula kacang dan berbagai tanaman lokal. Pangan menyimpan pengetahuan tentang musim, lingkungan, bahasa, dan sejarah keluarga.

Ada pengalaman anak-anak yang membawa makanan lokal dan justru mendapat ejekan dari teman sebaya. Pangan yang seharusnya menjadi kebanggaan budaya dapat berubah menjadi sesuatu yang dianggap berbeda. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana standar kehidupan dari luar dapat perlahan menggeser pengetahuan yang telah diwariskan selama beberapa generasi.

Perubahan itu juga dapat terlihat dari tanda-tanda alam. Masyarakat Mollo mengenali musim melalui suara burung, kemunculan tanaman, perubahan udara, hingga posisi benda-benda langit. Suara burung tertentu menjadi penanda datangnya hujan. Kemunculan bunga tanaman tertentu menandai musim dingin. Pengetahuan semacam itu tidak tertulis dalam buku pelajaran sekolah. Ia hidup melalui ingatan dan percakapan antargenerasi.

Saat tanaman tidak lagi ditanam, nama dan fungsi tanaman juga mulai dilupakan. Bahasa yang berkaitan dengan tanaman perlahan menghilang. Bersamaan dengan itu, pengetahuan mengenai tanda alam ikut terputus.

Persoalan tersebut membawa diskusi pada pendidikan. Mollo memiliki pengalaman mengembangkan pendidikan berbasis konteks lokal. Ada kurikulum komunitas, sekolah budaya, ruang belajar, serta pertukaran pengetahuan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Kebun, hutan dan bahkan dapur dapat menjadi ruang belajar. Percakapan antara anak dan orang tua juga menjadi proses pendidikan.

Dicky mengatakan masyarakat Mollo memiliki pengalaman panjang menghadapi sistem pendidikan yang tidak selalu sesuai dengan kebutuhan mereka. Ia pernah menjadi guru selama bertahun-tahun di Yogyakarta dan Timor. Dari pengalaman tersebut, ia melihat pentingnya pendidikan yang memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenali dirinya sendiri. "Kami bikin kurikulum sendiri, pertukaran pengetahuan dan bangun sistem sendiri," katanya.

Pendidikan tersebut juga berkaitan dengan perjuangan mempertahankan identitas. Dicky menyebut masyarakat Mollo memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap berbagai bentuk tekanan. Menurutnya, label bodoh yang pernah dilekatkan kepada masyarakat Timor bukan sekadar persoalan kata. Label tersebut berhubungan dengan sejarah kekuasaan dan cara kelompok tertentu memandang kelompok lain.

Pembicaraan kemudian bergerak menuju persoalan yang lebih luas mengenai kolonialisme. Kolonialisme tidak hanya dipahami sebagai peristiwa masa lalu. Ia dapat hadir melalui bahasa, pendidikan, kebijakan, pengelolaan sumber daya, serta standar pengetahuan yang menempatkan satu kelompok sebagai pusat dan kelompok lain sebagai pinggiran. Dandhy Laksono yang menjadi narasumber diskusi mengingatkan bahwa masyarakat adat tidak cukup hanya diposisikan sebagai objek yang menarik untuk diceritakan. "Jangan hanya jadi romantis dan kita apresiasi, tetapi tidak jadi real politic power" ujarnya.

Pernyataan itu menjadi penting dalam pembahasan mengenai Gunung Mutis dan kemungkinan pengelolaan kawasan sebagai taman nasional. Masyarakat Mollo memiliki kekhawatiran terhadap konsep konservasi yang ditentukan dari luar. Mereka mempertanyakan siapa yang menentukan batas kawasan, siapa yang menentukan zonasi, serta siapa yang memiliki kewenangan atas sumber daya alam.
whatsapp-image-2026-09-06-at-15.09.16.jpeg
Air menjadi salah satu kekhawatiran utama. Gunung Mutis merupakan sumber kehidupan bagi wilayah yang lebih luas di Pulau Timor. Air dari kawasan tersebut digunakan oleh masyarakat di sejumlah kabupaten. Di tengah kebutuhan air yang semakin besar, masyarakat melihat kemungkinan munculnya kepentingan ekonomi terhadap sumber daya tersebut. Kekhawatiran serupa muncul terhadap mineral, marmer, emas, kayu, dan berbagai sumber daya lainnya.

Pengalaman dari kawasan lain juga menjadi bahan refleksi. Taman Nasional Komodo disebut dalam diskusi sebagai contoh bagaimana masyarakat lokal dapat menghadapi perubahan ruang hidup setelah kawasan mendapatkan status konservasi dan pariwisata.Dicky mengatakan masyarakat Mollo tidak menolak gagasan menjaga alam. Mereka justru mempertanyakan model konservasi yang memisahkan manusia dari alam. "Masyarakat adat di situ dianggap sebagai perusak, kemudian justru menjadi tokoh antagonis," katanya. Bagi masyarakat Mollo, manusia merupakan bagian dari ekosistem. Karena itu, perlindungan alam seharusnya berjalan bersama dengan perlindungan masyarakat yang telah hidup dan merawat wilayah tersebut.
Pembahasan itu kemudian mengarah pada satu pertanyaan penting mengenai kedaulatan masyarakat dalam menentukan masa depan ruang hidupnya. Dicky menilai kolaborasi dengan masyarakat lokal harus berlangsung secara setara. Komunitas perlu dilibatkan sejak awal, bukan hanya diminta hadir setelah sebuah proyek selesai dibuat.

Ia menceritakan pengalaman sebuah proyek musik yang mengambil inspirasi dari perjuangan masyarakat Mollo. Lagu sudah dibuat tanpa keterlibatan masyarakat sejak awal. Setelah lagu selesai, masyarakat diminta tampil dalam video klip. Permintaan itu ditolak. Bagi Dicky, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menghindari tokenisme. "Mereka harus siap menerima kalau masyarakat bilang tidak," katanya. Penolakan bukan berarti masyarakat menolak kerja sama. Penolakan dapat menjadi bagian dari hak komunitas untuk menentukan bagaimana identitas mereka direpresentasikan.

Film dan buku yang dibahas dalam kegiatan tersebut mencoba mempraktikkan prinsip berbeda. Wisnu F. Wardana sutradara "Naijan On Hai Aina" menjelaskan bahwa proses pembuatan film berlangsung bersama masyarakat. Kamera tidak selalu ditempatkan sebagai alat yang mengarahkan warga untuk bertindak sesuai kebutuhan pembuat film. Banyak adegan lahir dari percakapan dan aktivitas sehari-hari. "Saya datang sebagai teman bermain," ujar Wisnu. Proses editing berlangsung sekitar satu tahun. File film dibawa bolak-balik dari Mollo ke Yogyakarta. Proses penerjemahan dan pemilihan bagian film dibicarakan berulang kali agar tidak menghilangkan konteks cerita.

Fanny Chotimah, narasumber dari Yayasan Kembang Gula melihat pendekatan tersebut sebagai bentuk kerja dokumenter yang berusaha mengurangi intervensi. Pembuat film tidak perlu memaksa sebuah cerita menjadi sesuai dengan kerangka yang sudah dibuat dari luar.

Cara tersebut juga menjadi bagian dari politik representasi. Buku dan film tidak hanya menghadirkan wajah masyarakat Mollo. Keduanya mencoba memperlihatkan cara masyarakat memahami tanah, air, hutan, pangan, bahasa, dan leluhur. Bagi para pembuatnya, kerja tersebut merupakan bagian dari upaya panjang merawat ingat. (Ast)