Suasana Toko Buku Gramedia Slamet Riyadi, Solo, terasa berbeda ketika talkshow Book Tour Pulih di Solo dimulai pada Selasa, (1/9). Buku-buku yang tersusun di rak menjadi latar perbincangan tentang sesuatu yang tidak selalu terlihat yakni pengalaman buruk yang tersimpan dalam ingatan dan dapat kembali memengaruhi kehidupan seseorang.
Di hadapan peserta, psikiater dr. Jiemi Ardian berbicara tentang trauma, memori, dan proses pemulihan. Ia ditemani Bagus Adi Nugroho, psikolog, sebagai moderator.
dr. Jiemi dikenal sebagai pengembang Trauma Processing Therapy (TPT) dan penulis sejumlah buku kesehatan mental, termasuk Merawat Luka Batin dan Pulih dari Trauma. Melalui buku dan edukasi di media sosial, ia banyak membicarakan kesehatan mental dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagus membuka percakapan dengan pertanyaan sederhana yang membawa peserta pada satu persoalan penting: mengapa sebuah kejadian yang sudah lama berlalu masih dapat terasa begitu dekat?
Menurut dr. Jiemi, jawabannya berkaitan dengan memori. "Kejadian buruk sudah terjadi dan tidak bisa kita perbaiki,” kira-kira demikian inti penjelasannya. “Tetapi banyak hal yang masih bisa kita lakukan terhadap memori tersebut.”
Trauma, ia menjelaskan, tidak sekadar berkaitan dengan kejadian buruk. Trauma juga berhubungan dengan bagaimana otak menyimpan dan memproses pengalaman tersebut. Memori kemudian dapat muncul kembali melalui berbagai reaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa peristiwa tersebut telah berlalu. Ia bahkan bisa memahami secara logis bahwa dirinya sekarang berada dalam situasi yang aman. Rasa sakit yang muncul ketika memori itu datang kembali tetap dapat terasa nyata. Di saat itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk melupakan.
Di hadapan peserta, psikiater dr. Jiemi Ardian berbicara tentang trauma, memori, dan proses pemulihan. Ia ditemani Bagus Adi Nugroho, psikolog, sebagai moderator.
dr. Jiemi dikenal sebagai pengembang Trauma Processing Therapy (TPT) dan penulis sejumlah buku kesehatan mental, termasuk Merawat Luka Batin dan Pulih dari Trauma. Melalui buku dan edukasi di media sosial, ia banyak membicarakan kesehatan mental dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagus membuka percakapan dengan pertanyaan sederhana yang membawa peserta pada satu persoalan penting: mengapa sebuah kejadian yang sudah lama berlalu masih dapat terasa begitu dekat?
Menurut dr. Jiemi, jawabannya berkaitan dengan memori. "Kejadian buruk sudah terjadi dan tidak bisa kita perbaiki,” kira-kira demikian inti penjelasannya. “Tetapi banyak hal yang masih bisa kita lakukan terhadap memori tersebut.”
Trauma, ia menjelaskan, tidak sekadar berkaitan dengan kejadian buruk. Trauma juga berhubungan dengan bagaimana otak menyimpan dan memproses pengalaman tersebut. Memori kemudian dapat muncul kembali melalui berbagai reaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang mungkin sudah mengetahui bahwa peristiwa tersebut telah berlalu. Ia bahkan bisa memahami secara logis bahwa dirinya sekarang berada dalam situasi yang aman. Rasa sakit yang muncul ketika memori itu datang kembali tetap dapat terasa nyata. Di saat itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri untuk melupakan.
Tidak Semua Kejadian Buruk menjadi Trauma

dr. Jiemi mengajak peserta membedakan antara kejadian buruk dan trauma. Setiap orang mungkin pernah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan. Ada yang kehilangan sesuatu, mengalami kegagalan, menghadapi konflik, mengalami perundungan, atau berada dalam situasi yang membuatnya takut.
Dampaknya berbeda pada setiap orang. Satu pengalaman dapat terasa berat bagi seseorang, sementara orang lain mampu melewatinya tanpa mengalami dampak yang sama. Perbedaan tersebut bukan ukuran kekuatan seseorang.
Menurut dr. Jiemi, persoalan justru muncul ketika seseorang tidak memahami alasan di balik reaksinya sendiri. Ia dapat mulai berpikir dirinya lemah, terlalu sensitif, atau memiliki sesuatu yang salah dalam dirinya. Pengetahuan tentang trauma dibutuhkan untuk memberikan penjelasan terhadap reaksi tersebut. Ketika seseorang memahami bahwa otak memiliki mekanisme tertentu dalam menyimpan pengalaman, ia dapat mulai melihat dirinya dengan cara yang berbeda.
Pembicaraan kemudian bergerak pada satu kata yang terus muncul sepanjang diskusi yakni tentang memori. Menurut dr. Jiemi, realitas dibaca melalui memori. Memori menjadi bagian penting dalam cara manusia memahami dunia.
dr. Jiemi memberi gambaran tentang bayi yang baru lahir. Seorang bayi belum memiliki pengalaman panjang untuk mengenali lingkungan di sekitarnya. Seiring waktu, pengalaman dikumpulkan menjadi memori. Dari sana, bayi mulai mengenali orang tua, lingkungan, suara, dan berbagai situasi. Memori membantu manusia membuat keputusan dan memahami apa yang sedang dihadapi. Karena itu, pengalaman yang tersimpan secara traumatis dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap situasi tertentu.
Intervensi terhadap trauma selama ini banyak berbicara mengenai perubahan cara berpikir. Seseorang diajak melihat kejadian dari sudut pandang berbeda, memahami pikiran yang muncul, dan membangun cara berpikir yang lebih membantu. Pendekatan semacam itu tetap memiliki tempat. dr. Jiemi menjelaskan bahwa persoalannya, memahami suatu kejadian secara rasional belum tentu membuat rasa sakit yang tersimpan dalam memori ikut menghilang.
Di sinilah ia memperkenalkan gagasan pemrosesan memori. Memori bukan rekaman yang beku. Salah satu hal menarik dalam diskusi tersebut adalah penjelasan mengenai sifat memori manusia. Memori bukan rekaman video yang tersimpan secara utuh dan selalu sama setiap kali diputar. Ketika sebuah pengalaman diingat kembali, memori dapat mengalami perubahan.
Contoh sederhana diberikan melalui pengalaman sehari-hari. Seseorang mungkin kesulitan mengingat menu sarapan dua hari lalu. Ia perlu berusaha untuk memanggil memori tersebut. Memori traumatis dapat bekerja secara berbeda. Ia dapat muncul secara tiba-tiba tanpa sengaja dipanggil. Ketika muncul, bukan hanya gambaran peristiwa yang hadir. Sensasi, emosi, atau rasa takut yang berkaitan dengan pengalaman tersebut dapat ikut muncul.
Seseorang bisa saja berkata bahwa dirinya sudah memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Ia bisa merasa sudah berdamai. Ketika memori datang, rasa sakit tetap muncul.
Menurut dr. Jiemi, kondisi tersebut tidak berarti seseorang gagal dalam proses pemulihan. Pemulihan dapat berlangsung secara bertahap.
Untuk menjelaskan bagaimana seseorang berhadapan dengan pengalaman masa lalu, dr. Jiemi menggunakan konsep ego state sebagai metafora. Manusia, menurutnya, memiliki berbagai sisi diri. Ada bagian yang berpikir rasional, ada bagian yang ingin bermain dan bebas, ada bagian yang menjalankan nilai sosial dan agama, serta ada bagian yang bertugas melindungi diri.
Dalam pengalaman trauma, ada bagian diri yang seolah masih berada pada usia ketika peristiwa tersebut terjadi. Seseorang yang sudah dewasa dapat memahami bahwa situasi sekarang aman. Bagian dirinya yang lebih kecil tetap dapat merasa takut.
Kondisi itu dapat membuat berbagai sisi diri seperti berhadapan satu sama lain. Bagian yang terluka ingin menarik diri. Bagian pelindung berusaha menjauhkan seseorang dari situasi yang dianggap berbahaya. Bagian dewasa mencoba berpikir rasional. Ada pula bagian yang mengingatkan nilai dan aturan yang selama ini diyakini.
Menurut dr. Jiemi, persoalannya bukan terletak pada adanya berbagai bagian tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bagian diri yang masih terluka. Ketika rasa sakit tersebut mulai diproses, kebutuhan untuk melindungi diri secara berlebihan dapat berkurang.
Pertanyaan mengenai apakah trauma bisa sembuh menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi. dr. Jiemi mengajak peserta berhenti sejenak untuk mendefinisikan kata “sembuh”. Jika sembuh berarti lupa, jawabannya tidak demikian. Pengalaman masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
Jika sembuh berarti tidak lagi mengalami penderitaan yang sama ketika memori muncul, proses tersebut mungkin dilakukan. Ia menggambarkan pemulihan sebagai proses yang bisa berlangsung berlapis. Seseorang yang mengalami pengalaman traumatis berulang mungkin membutuhkan proses pemulihan yang juga berlangsung beberapa kali.
Kembalinya rasa tidak nyaman tidak otomatis berarti proses sebelumnya gagal. Luka yang berulang membutuhkan perhatian berulang pula.
Pengalaman dr. Jiemi dalam mendampingi situasi bencana turut menjadi bagian dari pembahasan. Ia menyoroti kebiasaan yang kadang muncul setelah bencana, ketika korban didorong untuk segera menceritakan pengalaman yang baru saja dialami. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya dipaksa bercerita.
Orang yang mengalami kejadian berat membutuhkan rasa aman. Ia perlu diberi kesempatan untuk menentukan kapan siap berbicara. Kehadiran komunitas dan dukungan orang-orang di sekitar dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Ketika kondisi psikologis terasa berat dan seseorang kesulitan memprosesnya sendiri, bantuan profesional dapat dicari.
Menurut dr. Jiemi, persoalan justru muncul ketika seseorang tidak memahami alasan di balik reaksinya sendiri. Ia dapat mulai berpikir dirinya lemah, terlalu sensitif, atau memiliki sesuatu yang salah dalam dirinya. Pengetahuan tentang trauma dibutuhkan untuk memberikan penjelasan terhadap reaksi tersebut. Ketika seseorang memahami bahwa otak memiliki mekanisme tertentu dalam menyimpan pengalaman, ia dapat mulai melihat dirinya dengan cara yang berbeda.
Pembicaraan kemudian bergerak pada satu kata yang terus muncul sepanjang diskusi yakni tentang memori. Menurut dr. Jiemi, realitas dibaca melalui memori. Memori menjadi bagian penting dalam cara manusia memahami dunia.
dr. Jiemi memberi gambaran tentang bayi yang baru lahir. Seorang bayi belum memiliki pengalaman panjang untuk mengenali lingkungan di sekitarnya. Seiring waktu, pengalaman dikumpulkan menjadi memori. Dari sana, bayi mulai mengenali orang tua, lingkungan, suara, dan berbagai situasi. Memori membantu manusia membuat keputusan dan memahami apa yang sedang dihadapi. Karena itu, pengalaman yang tersimpan secara traumatis dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap situasi tertentu.
Intervensi terhadap trauma selama ini banyak berbicara mengenai perubahan cara berpikir. Seseorang diajak melihat kejadian dari sudut pandang berbeda, memahami pikiran yang muncul, dan membangun cara berpikir yang lebih membantu. Pendekatan semacam itu tetap memiliki tempat. dr. Jiemi menjelaskan bahwa persoalannya, memahami suatu kejadian secara rasional belum tentu membuat rasa sakit yang tersimpan dalam memori ikut menghilang.
Di sinilah ia memperkenalkan gagasan pemrosesan memori. Memori bukan rekaman yang beku. Salah satu hal menarik dalam diskusi tersebut adalah penjelasan mengenai sifat memori manusia. Memori bukan rekaman video yang tersimpan secara utuh dan selalu sama setiap kali diputar. Ketika sebuah pengalaman diingat kembali, memori dapat mengalami perubahan.
Contoh sederhana diberikan melalui pengalaman sehari-hari. Seseorang mungkin kesulitan mengingat menu sarapan dua hari lalu. Ia perlu berusaha untuk memanggil memori tersebut. Memori traumatis dapat bekerja secara berbeda. Ia dapat muncul secara tiba-tiba tanpa sengaja dipanggil. Ketika muncul, bukan hanya gambaran peristiwa yang hadir. Sensasi, emosi, atau rasa takut yang berkaitan dengan pengalaman tersebut dapat ikut muncul.
Seseorang bisa saja berkata bahwa dirinya sudah memaafkan orang yang pernah menyakitinya. Ia bisa merasa sudah berdamai. Ketika memori datang, rasa sakit tetap muncul.
Menurut dr. Jiemi, kondisi tersebut tidak berarti seseorang gagal dalam proses pemulihan. Pemulihan dapat berlangsung secara bertahap.
Ego State dan Bagian-Bagian Diri
Untuk menjelaskan bagaimana seseorang berhadapan dengan pengalaman masa lalu, dr. Jiemi menggunakan konsep ego state sebagai metafora. Manusia, menurutnya, memiliki berbagai sisi diri. Ada bagian yang berpikir rasional, ada bagian yang ingin bermain dan bebas, ada bagian yang menjalankan nilai sosial dan agama, serta ada bagian yang bertugas melindungi diri.
Dalam pengalaman trauma, ada bagian diri yang seolah masih berada pada usia ketika peristiwa tersebut terjadi. Seseorang yang sudah dewasa dapat memahami bahwa situasi sekarang aman. Bagian dirinya yang lebih kecil tetap dapat merasa takut.
Kondisi itu dapat membuat berbagai sisi diri seperti berhadapan satu sama lain. Bagian yang terluka ingin menarik diri. Bagian pelindung berusaha menjauhkan seseorang dari situasi yang dianggap berbahaya. Bagian dewasa mencoba berpikir rasional. Ada pula bagian yang mengingatkan nilai dan aturan yang selama ini diyakini.
Menurut dr. Jiemi, persoalannya bukan terletak pada adanya berbagai bagian tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bagian diri yang masih terluka. Ketika rasa sakit tersebut mulai diproses, kebutuhan untuk melindungi diri secara berlebihan dapat berkurang.
Sembuh Bukan Berarti Lupa
Pertanyaan mengenai apakah trauma bisa sembuh menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi. dr. Jiemi mengajak peserta berhenti sejenak untuk mendefinisikan kata “sembuh”. Jika sembuh berarti lupa, jawabannya tidak demikian. Pengalaman masa lalu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.
Jika sembuh berarti tidak lagi mengalami penderitaan yang sama ketika memori muncul, proses tersebut mungkin dilakukan. Ia menggambarkan pemulihan sebagai proses yang bisa berlangsung berlapis. Seseorang yang mengalami pengalaman traumatis berulang mungkin membutuhkan proses pemulihan yang juga berlangsung beberapa kali.
Kembalinya rasa tidak nyaman tidak otomatis berarti proses sebelumnya gagal. Luka yang berulang membutuhkan perhatian berulang pula.
Pengalaman dr. Jiemi dalam mendampingi situasi bencana turut menjadi bagian dari pembahasan. Ia menyoroti kebiasaan yang kadang muncul setelah bencana, ketika korban didorong untuk segera menceritakan pengalaman yang baru saja dialami. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya dipaksa bercerita.
Orang yang mengalami kejadian berat membutuhkan rasa aman. Ia perlu diberi kesempatan untuk menentukan kapan siap berbicara. Kehadiran komunitas dan dukungan orang-orang di sekitar dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Ketika kondisi psikologis terasa berat dan seseorang kesulitan memprosesnya sendiri, bantuan profesional dapat dicari.
Memproses trauma membutuhkan kesiapan. Dalam proses terapi, dr. Jiemi memperkenalkan konsep window of tolerance atau jendela toleransi. Memori traumatis tidak selalu tepat disentuh ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sangat tidak stabil. Ada tahap stabilisasi yang perlu diperhatikan.

Ketika seseorang sudah memiliki kapasitas yang cukup untuk mengatur emosi dan menghadapi memori, proses terhadap pengalaman tersebut dapat dilakukan.
Dalam kondisi tertentu, bantuan psikolog atau psikiater menjadi penting untuk memastikan proses berjalan sesuai kebutuhan individu. Pemulihan juga tidak berhenti ketika rasa sakit mulai berkurang. Seseorang masih perlu membangun keterampilan lain: mengatur emosi, membuat batas diri, berkomunikasi, membangun relasi, serta memahami kebutuhan dirinya. Dengan cara itu, kehidupan tidak terus berpusat pada trauma.
Salah seorang peserta kemudian membawa pembicaraan ke wilayah yang lebih luas: kondisi sosial dan politik. Trauma sering dibicarakan sebagai pengalaman individual. Kehidupan seseorang tetap berlangsung di tengah lingkungan sosial yang dapat menghadirkan rasa aman maupun ancaman.
dr. Jiemi menjelaskan trauma melalui konsep ancaman. Ketika ancaman benar-benar ada, respons untuk menyelamatkan diri merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Trauma berkaitan dengan bagaimana pengalaman ancaman tersebut tetap memengaruhi seseorang setelah peristiwa berlalu. Ia juga mengingatkan pentingnya kekuatan komunitas.
Seseorang yang menghadapi situasi sulit sendirian dapat memiliki pengalaman berbeda ketika berada bersama orang lain yang mengalami kondisi serupa. Rasa tidak berdaya dapat berubah ketika seseorang mengetahui bahwa ia tidak sendirian.
Di ruang Gramedia Slamet Riyadi sore itu, pembicaraan mengenai trauma akhirnya tidak berhenti pada persoalan luka. Ada pembicaraan tentang memori, tubuh, relasi, komunitas, keterampilan, dan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan.
Pesan yang berulang dari dr. Jiemi sederhana bahwa pengalaman buruk tidak menentukan seluruh identitas seseorang. Peristiwa masa lalu tetap menjadi bagian dari sejarah hidup. Ia tidak perlu menjadi satu-satunya cerita yang dibawa sepanjang kehidupan.
Buku Pulih dari Trauma dan Merawat Luka Batin yang menjadi bagian dari tur tersebut pun ditempatkan sebagai salah satu pintu untuk memahami proses itu. Bukan sebagai pengganti bantuan profesional, melainkan sebagai bahan untuk belajar mengenali pengalaman dan membuka kemungkinan pemulihan.
Di tengah percakapan tentang memori yang dapat muncul tanpa diundang, ada satu gagasan yang terasa paling kuat: seseorang boleh memiliki masa lalu yang menyakitkan dan tetap memiliki ruang untuk membangun masa depan. Karena pulih bukan tentang menghapus apa yang pernah terjadi. Pulih adalah ketika pengalaman tersebut tidak lagi mengambil seluruh ruang dalam kehidupan. (Ast)
Dalam kondisi tertentu, bantuan psikolog atau psikiater menjadi penting untuk memastikan proses berjalan sesuai kebutuhan individu. Pemulihan juga tidak berhenti ketika rasa sakit mulai berkurang. Seseorang masih perlu membangun keterampilan lain: mengatur emosi, membuat batas diri, berkomunikasi, membangun relasi, serta memahami kebutuhan dirinya. Dengan cara itu, kehidupan tidak terus berpusat pada trauma.
Ketika Trauma Bertemu Kondisi Sosial
Salah seorang peserta kemudian membawa pembicaraan ke wilayah yang lebih luas: kondisi sosial dan politik. Trauma sering dibicarakan sebagai pengalaman individual. Kehidupan seseorang tetap berlangsung di tengah lingkungan sosial yang dapat menghadirkan rasa aman maupun ancaman.
dr. Jiemi menjelaskan trauma melalui konsep ancaman. Ketika ancaman benar-benar ada, respons untuk menyelamatkan diri merupakan respons terhadap kondisi yang sedang berlangsung. Trauma berkaitan dengan bagaimana pengalaman ancaman tersebut tetap memengaruhi seseorang setelah peristiwa berlalu. Ia juga mengingatkan pentingnya kekuatan komunitas.
Seseorang yang menghadapi situasi sulit sendirian dapat memiliki pengalaman berbeda ketika berada bersama orang lain yang mengalami kondisi serupa. Rasa tidak berdaya dapat berubah ketika seseorang mengetahui bahwa ia tidak sendirian.
Di ruang Gramedia Slamet Riyadi sore itu, pembicaraan mengenai trauma akhirnya tidak berhenti pada persoalan luka. Ada pembicaraan tentang memori, tubuh, relasi, komunitas, keterampilan, dan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan.
Pesan yang berulang dari dr. Jiemi sederhana bahwa pengalaman buruk tidak menentukan seluruh identitas seseorang. Peristiwa masa lalu tetap menjadi bagian dari sejarah hidup. Ia tidak perlu menjadi satu-satunya cerita yang dibawa sepanjang kehidupan.
Buku Pulih dari Trauma dan Merawat Luka Batin yang menjadi bagian dari tur tersebut pun ditempatkan sebagai salah satu pintu untuk memahami proses itu. Bukan sebagai pengganti bantuan profesional, melainkan sebagai bahan untuk belajar mengenali pengalaman dan membuka kemungkinan pemulihan.
Di tengah percakapan tentang memori yang dapat muncul tanpa diundang, ada satu gagasan yang terasa paling kuat: seseorang boleh memiliki masa lalu yang menyakitkan dan tetap memiliki ruang untuk membangun masa depan. Karena pulih bukan tentang menghapus apa yang pernah terjadi. Pulih adalah ketika pengalaman tersebut tidak lagi mengambil seluruh ruang dalam kehidupan. (Ast)


