Ekologi

Dari Suara Sinden ke Bunyi Bumi: Peni Candra Rini Menjaga Alam Lewat Musik

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 
Suara Peni Candra Rini pernah dilatih untuk menembus jarak. Ketika masih kecil, ayahnya memintanya berdiri di hadapan laut dan berteriak. Suara harus dikeluarkan sekuat mungkin. Bukan sekadar agar terdengar, tetapi agar tubuh belajar menghasilkan vokal yang kuat.

Bertahun-tahun kemudian, suara itu memang menempuh jarak jauh. Dari panggung-panggung tradisi di Jawa, Peni berkembang menjadi komposer musik kontemporer yang membawa gamelan, tembang, puisi, dan bahasa Jawa ke berbagai panggung internasional. Namun, suara yang dahulu dilatih untuk menembus laut kini memiliki tujuan lain: membuat manusia kembali mendengar bumi.

Perjalanan itu menjadi cerita dalam film dokumenter karya Reni Apriliana dengan produser Fanny Chotimah dari Yayasan Kembang Gula lewat Program Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan RI. Film "Bunyi Menapak Bhumi" yang diputar pada Minggu (30/8), di Taman Galeri, Lokananta, Surakarta, merekam perjalanan kreatif Peni Candra Rini sekaligus memperlihatkan bagaimana seorang seniman perempuan menjadikan tradisi sebagai pijakan untuk berbicara tentang lingkungan.

Bumi dalam karya Peni bukan sekadar latar. Ia hadir melalui suara burung, katak, air, tanah, kemarau, dan berbagai pengalaman indrawi yang kemudian diterjemahkan menjadi musik. Di tangan Peni, bunyi menjadi bahasa untuk membicarakan sesuatu yang sering kali terlalu jauh jika hanya disampaikan melalui angka, laporan, atau kebijakan terkait hubungan manusia dengan alam.

Dewi Candraningrum, feminis dan seorang akademisi memberikan tanggapan dalam film bahwa ia melihat seni memiliki kemampuan khusus untuk membangun jembatan. Persoalan kerusakan planet, menurut Dewi, dapat didekati melalui dimensi afeksi, kejiwaan, dan spiritualitas. Seni memungkinkan persoalan ekologis dirasakan lebih dekat dan intim oleh masyarakat. Karya Peni bekerja melalui jalur tersebut. Ia tidak harus menjelaskan kerusakan lingkungan melalui istilah-istilah teknis. Ia menghadirkan alam melalui pengalaman tubuh.

Suara burung dan katak menjadi bagian dari komposisi. Hujan menjadi pengalaman. Tanah yang kering menjadi ingatan. Sumber air yang hilang menjadi bunyi. Pengalaman ekologis kemudian berubah menjadi pengalaman musikal.

Peni tidak memulai perjalanan artistiknya dengan meninggalkan tradisi. Ia justru membawanya ke dalam ruang yang baru.Gamelan, tembang, macapat, serat, dan pengalaman sebagai pesinden menjadi bahan yang terus diolah. Elemen-elemen tersebut kemudian dipertemukan dengan instrumen elektronik dan ansambel musik kontemporer.

Profesor Sumarsam melihat proses itu sebagai hubungan yang erat antara alam, manusia, dan musik. Sesuatu yang berasal dari tradisi dapat mengalami pembaruan ketika bertemu dengan pengalaman dan teknologi baru. Peni sendiri menyebut warisan budaya sebagai "jimat identitas". Ia membawanya ketika berhadapan dengan dunia yang lebih luas. Identitas tersebut tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dibekukan. Peni justru menggunakannya sebagai sumber keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Cara itu penting karena tradisi sering kali ditempatkan dalam dua kutub: dipertahankan tanpa perubahan atau ditinggalkan ketika berhadapan dengan modernitas.
dsc07728.jpg.jpeg
dsc07735.jpg.jpeg

Peni Memilih Jalan


Tradisi tetap menjadi akar, sementara bentuknya dapat berkembang. Gamelan dapat bertemu musik Barat kontemporer. Bahasa Jawa dapat didengar oleh penonton yang tidak memahami bahasa tersebut. Macapat dapat menjadi sumber komposisi baru. Yang dipertahankan bukan semata bentuk, tetapi energi dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Perjalanan Peni juga memperlihatkan posisi perempuan dalam dunia musik.

Sejak kecil, ia berhadapan dengan tuntutan untuk menguasai suara. Ia kemudian memilih jalan yang tidak selalu umum bagi perempuan yang tumbuh dalam lingkungan tradisi. Menjadi pesinden menjadi salah satu fondasinya. Namun, Peni tidak berhenti di sana. Ia mengembangkan dirinya sebagai komposer.

Pilihan tersebut membawa konsekuensi. Ketika karya keluar dari pakem yang biasa dikenal, penolakan dan pertanyaan dapat muncul. Peni mengakui bahwa perjalanan itu tidak selalu mudah. Namun, ia memilih untuk tidak terbawa arus.

Ia ingin menciptakan arusnya sendiri. Sikap itu juga terlihat dalam cara Peni memandang tradisi. Ketika menggunakan elemen-elemen tradisional dalam komposisi, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk memuliakan dan meneruskannya. Menurutnya, tradisi bukan bahan yang diambil lalu ditinggalkan. Ia harus dipahami, dihormati, dan dikembangkan. Unsur perempuan, kebudayaan, dan lingkungan bertemu dalam karya Peni.

Dewi Candraningrum membaca relasi tersebut melalui perspektif ekofeminisme. Bumi dan perempuan sama-sama muncul sebagai ruang yang selama ini sering ditempatkan dalam posisi untuk dirawat, dikendalikan, atau dieksploitasi. Cara pandang yang menempatkan manusia sebagai pengelola tertinggi alam, menurut Dewi, menyimpan persoalan. Manusia merasa menjadi pihak yang paling penting. Alam diposisikan sebagai objek yang dapat dikelola. Karya Peni justru menawarkan hubungan yang lebih setara. Manusia mendengar alam, meniru bunyinya, merasakan perubahan di dalam tubuhnya. Hubungan tersebut tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi bergerak menuju pengalaman.

Dari Kemarau Menjadi Komposisi


Salah satu gagasan karya Peni berangkat dari sesuatu yang sangat sederhana yakni menunggu hujan. Kemarau panjang membuat kerinduan terhadap air menjadi pengalaman tubuh. Ketika hujan turun, aroma tanah menjadi penanda bahwa bumi yang kering kembali mendapatkan air. Pengalaman tersebut kemudian diubah menjadi komposisi. Ada tanah yang lelah. Ada sumber mata air yang hilang. Ada aliran air yang tidak lagi menemukan jalurnya. Bunyi-bunyi itu menjadi cara lain untuk bercerita tentang krisis ekologis.

Karya tersebut menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak selalu harus dimulai dari data tentang luas hutan yang hilang, kualitas air, atau perubahan iklim. Ia dapat dimulai dari tubuh manusia yang merasakan panas. Dari tanah yang tidak lagi basah, sungai yang kehilangan air dan kerinduan terhadap hujan. Seni memberi ruang bagi pengalaman semacam itu untuk dibagikan kepada orang lain.

Reni Apriliana, sutradara film, mengatakan riset "Bunyi Menapak Bhumi" berlangsung sekitar tiga tahun. Pada awalnya, tim belum mengetahui bentuk akhir film. Semakin jauh mereka mengenal Peni, semakin jelas bahwa kisah tersebut tidak cukup ditempatkan sebagai cerita tentang seorang maestro musik. Ada isu yang lebih luas. Kebudayaan, perempuan, lingkungan, regenerasi, dan keberanian bersuara muncul dari perjalanan Peni.

Karena itu, film tidak hanya mengikuti proses kreatif seorang komposer. Ia mencoba memperlihatkan bagaimana kegelisahan personal dapat berubah menjadi karya yang memiliki relevansi sosial dan ekologis. Setelah pemutaran, percakapan tersebut berlanjut di antara para peserta.

Ayu, seorang pelaku seni perempuan dari Solo, mengatakan film itu mengingatkannya bahwa musisi perempuan masih memiliki ruang untuk terus berkarya.

Tiya Rima, yang juga seorang musisi perempuan, melihat perjalanan Peni sebagai penguatan bagi dirinya untuk bertahan di jalur musik.

Pertanyaan mereka memperlihatkan satu hal: perjalanan seorang seniman dapat menjadi energi bagi orang lain. Ketika seseorang berani memulai, keberanian tersebut dapat menular.

Peni sendiri tidak hanya berbicara tentang keberanian menciptakan karya. Ia juga memikirkan siapa yang akan meneruskan perjalanan tersebut. Selama sekitar 18 tahun, ia mengajar. Ia menerima murid dari berbagai daerah dan terlibat dalam program residensi yang mempertemukan seniman dari berbagai latar. Baginya, regenerasi tidak berarti membuat generasi berikutnya menjadi salinan dirinya. Setiap orang membawa tradisinya sendiri. Tantangannya adalah menemukan cara agar warisan tersebut dapat dibawa ke ruang baru.

Menjaga yang Hidup


Lokananta, tempat film tersebut diputar, memiliki hubungan kuat dengan sejarah rekaman musik Indonesia. Di taman itu, percakapan tentang Peni kembali bertemu dengan pertanyaan mengenai masa depan musik tradisi.

Dalam diskusi usai film diputar, perwakilan Lokananta menyampaikan keinginan untuk membuka kemungkinan kolaborasi kembali dengan seniman dan komunitas. Gamelan perlu diperkenalkan kepada generasi yang semakin jauh dari bunyi-bunyi tradisional. Bukan dengan memaksa mereka kembali ke masa lalu, tetapi dengan menemukan cara baru agar tradisi terasa relevan.

Persoalan tersebut sejatinya serupa dengan yang dilakukan Peni terhadap alam. Alam tidak cukup hanya dikenang. Ia harus kembali dirasakan. Kebudayaan juga tidak cukup hanya disimpan. Ia harus terus digunakan, ditafsirkan, dan dikembangkan. Di sinilah "Bunyi Menapak Bhumi" memperoleh maknanya. Film tersebut bukan hanya dokumentasi tentang seorang perempuan yang berhasil membawa musik tradisi ke panggung internasional. Ia menjadi catatan tentang bagaimana seni dapat mengambil bagian dalam percakapan mengenai krisis lingkungan.

Peni menggunakan apa yang paling dekat dengannya yakni suara. Suara yang dahulu dilatih ayahnya di hadapan laut. Suara yang tumbuh dari tradisi sinden. Suara yang kemudian bertemu gamelan, puisi, serat, macapat, instrumen elektronik, dan ansambel kontemporer. Kini suara itu digunakan untuk mengingatkan manusia bahwa bumi juga memiliki bunyi. Ada bunyi air, bunyi burung, bunyi tanah, bunyi kemarau dan ada pula kesunyian ketika semua itu mulai hilang. Peni memilih untuk mendengarkannya dan menerjemahkannya menjadi karya.

Pesannya sederhana, tetapi penting, bahwa manusia perlu kembali mendengar apa yang selama ini berada sangat dekat dengannya. Sebab ketika alam hanya dilihat sebagai sumber daya, manusia akan mudah lupa bahwa dirinya merupakan bagian dari alam itu sendiri. (Ast)