Sabtu malam (5/9) di Kedai Kebun, Jagalan, Surakarta, tidak langsung dimulai dengan percakapan tentang politik. Sebuah puisi lebih dulu mengisi ruang. Gaso berdiri membacakan sajak tentang kehilangan, hujan, rumah, dan kerinduan untuk pulang. Kata-kata yang lantang itu membawa para hadirin memasuki suasana reflektif dalam peringatan Harlah Gus Dur oleh Gusdurian Solo..
Puisi tersebut bercerita tentang seseorang yang kehilangan bahasa untuk menjelaskan perasaannya. Hujan menjadi bagian dari kesedihan, teh yang mendingin menjadi penanda waktu, sementara rumah hadir sebagai sesuatu yang dirindukan sekaligus sulit ditemukan.
Dari puisi, suasana bergeser menuju monolog. Yeya tampil sebagai Vivienne, tokoh yang hidup di antara berbagai identitas dan pengalaman sejarah Indonesia. Monolog itu membawa penonton pada kisah seseorang berdarah campuran yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia. Ayah dan ibunya memiliki latar berbeda. Rumah mereka pernah menjadi ruang bagi pergerakan dan konsolidasi perjuangan kemerdekaan. Setelah republik berdiri, persoalan baru muncul. Identitas yang dahulu tidak terlalu dipersoalkan berubah menjadi pertanyaan tentang siapa yang dianggap benar-benar menjadi bagian dari bangsa. Dibersamai dengan musik dan lagu pengiring yang syahdu, dan tata lampu bergerak antara temaram dan terang, penampilan Yeya malam itu mengharu-biru sebagian besar penonton.
Vivienne mempertanyakan arti rumah, darah, budaya, bahasa, dan kebangsaan. Pertanyaan tersebut terasa relevan dengan pembicaraan mengenai Gus Dur yang menjadi inti acara malam itu. Gus Dur selama ini lebih sering dikenang sebagai tokoh agama, kepala negara, atau sosok yang lekat dengan gagasan pluralisme. Diskusi di Kedai Kebun mencoba membuka sisi lain dari dirinya. Seni dan kebudayaan menjadi pintu masuk untuk memahami cara Gus Dur melihat masyarakat.
Talkshow dipandu Dinda dengan menghadirkan Ghany dan Olivia sebagai pemantik. Olivia juga dikenal sebagai salah satu anggota Gusdurian Solo dan Ketua PMII UNS. Pembicaraan mengenai Gus Dur membawa peserta menelusuri perjalanan intelektualnya. Pengalaman pendidikan, kebiasaan membaca, ketertarikannya terhadap sastra dan filsafat, serta pergaulannya dengan berbagai kalangan membentuk cara pandang yang luas.
Puisi tersebut bercerita tentang seseorang yang kehilangan bahasa untuk menjelaskan perasaannya. Hujan menjadi bagian dari kesedihan, teh yang mendingin menjadi penanda waktu, sementara rumah hadir sebagai sesuatu yang dirindukan sekaligus sulit ditemukan.
Dari puisi, suasana bergeser menuju monolog. Yeya tampil sebagai Vivienne, tokoh yang hidup di antara berbagai identitas dan pengalaman sejarah Indonesia. Monolog itu membawa penonton pada kisah seseorang berdarah campuran yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia. Ayah dan ibunya memiliki latar berbeda. Rumah mereka pernah menjadi ruang bagi pergerakan dan konsolidasi perjuangan kemerdekaan. Setelah republik berdiri, persoalan baru muncul. Identitas yang dahulu tidak terlalu dipersoalkan berubah menjadi pertanyaan tentang siapa yang dianggap benar-benar menjadi bagian dari bangsa. Dibersamai dengan musik dan lagu pengiring yang syahdu, dan tata lampu bergerak antara temaram dan terang, penampilan Yeya malam itu mengharu-biru sebagian besar penonton.
Vivienne mempertanyakan arti rumah, darah, budaya, bahasa, dan kebangsaan. Pertanyaan tersebut terasa relevan dengan pembicaraan mengenai Gus Dur yang menjadi inti acara malam itu. Gus Dur selama ini lebih sering dikenang sebagai tokoh agama, kepala negara, atau sosok yang lekat dengan gagasan pluralisme. Diskusi di Kedai Kebun mencoba membuka sisi lain dari dirinya. Seni dan kebudayaan menjadi pintu masuk untuk memahami cara Gus Dur melihat masyarakat.
Talkshow dipandu Dinda dengan menghadirkan Ghany dan Olivia sebagai pemantik. Olivia juga dikenal sebagai salah satu anggota Gusdurian Solo dan Ketua PMII UNS. Pembicaraan mengenai Gus Dur membawa peserta menelusuri perjalanan intelektualnya. Pengalaman pendidikan, kebiasaan membaca, ketertarikannya terhadap sastra dan filsafat, serta pergaulannya dengan berbagai kalangan membentuk cara pandang yang luas.

Gus Dur disebut memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan. Ia tidak menempatkan agama dan kebudayaan sebagai dua wilayah yang harus dipisahkan secara kaku. Sastra, seni, film, dan kebudayaan justru dapat menjadi ruang untuk membaca kehidupan manusia. Salah satu bagian yang dibahas adalah keterlibatan Gus Dur dalam Dewan Kesenian Jakarta. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada awal dekade 1980-an. Posisi tersebut dianggap menarik sebab Gus Dur bukan semata tokoh agama. Ia juga dikenal melalui tulisan dan pemikirannya mengenai sosial, kebudayaan, sastra, serta kehidupan masyarakat.
Pengalaman intelektual Gus Dur turut menjadi perhatian. Pendidikan di Al-Azhar dan Universitas Baghdad mempertemukannya dengan berbagai tradisi pemikiran. Sastra dan filsafat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ghany menyebut pengalaman itu ikut membentuk cara Gus Dur membaca persoalan. "Gus Dur tidak hanya fokus pada sastra, tetapi juga ikut memperbincangkan kritik film dan persoalan kesenian," ujarnya dalam diskusi.
Pembicaraan kemudian bergerak menuju hubungan antara Islam dan kebudayaan. Gus Dur dianggap memiliki kemampuan menghadirkan pembacaan keislaman yang tidak kehilangan substansi, sekaligus terbuka terhadap karya sastra dan kesenian. Sastra sufistik turut dibicarakan. Karya sastra tidak hanya dipandang sebagai bentuk artistik, tetapi juga sebagai ruang untuk menyampaikan pengalaman spiritual dan kemanusiaan. Nama Mustofa Bisri juga muncul dalam pembahasan mengenai perkembangan sastra dan kebudayaan.
Pengalaman intelektual Gus Dur turut menjadi perhatian. Pendidikan di Al-Azhar dan Universitas Baghdad mempertemukannya dengan berbagai tradisi pemikiran. Sastra dan filsafat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ghany menyebut pengalaman itu ikut membentuk cara Gus Dur membaca persoalan. "Gus Dur tidak hanya fokus pada sastra, tetapi juga ikut memperbincangkan kritik film dan persoalan kesenian," ujarnya dalam diskusi.
Pembicaraan kemudian bergerak menuju hubungan antara Islam dan kebudayaan. Gus Dur dianggap memiliki kemampuan menghadirkan pembacaan keislaman yang tidak kehilangan substansi, sekaligus terbuka terhadap karya sastra dan kesenian. Sastra sufistik turut dibicarakan. Karya sastra tidak hanya dipandang sebagai bentuk artistik, tetapi juga sebagai ruang untuk menyampaikan pengalaman spiritual dan kemanusiaan. Nama Mustofa Bisri juga muncul dalam pembahasan mengenai perkembangan sastra dan kebudayaan.
Menurut Olivia, kebudayaan dapat menjadi media penyebaran nilai. Masyarakat Jawa memiliki berbagai bentuk ekspresi budaya seperti tembang, wayang, aksara, dan cerita. Saat Islam berkembang, bentuk-bentuk kebudayaan tersebut dapat menjadi medium penyampaian nilai keagamaan. "Tiga kebudayaan bisa disatukan dan bisa kita maknai ulang. Di situ ada nilai toleransi," kata Olivia.
Pandangan itu membawa diskusi pada persoalan kebudayaan masa kini. Perjumpaan tidak lagi berlangsung hanya melalui ruang fisik. Teknologi digital ikut mengubah cara masyarakat mengenal dan menyebarkan kebudayaan. Revitalisasi naskah menjadi salah satu contoh. Teknologi dapat digunakan untuk menjaga kebudayaan agar tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Nilai dan bentuk budaya juga dapat dibaca ulang sesuai kebutuhan masyarakat masa kini.
Bagi Ghany, pemikiran Gus Dur mengenai keberagaman juga berkaitan dengan posisi seorang pemimpin. Pemimpin harus mampu menaungi berbagai kelompok agama dan kepercayaan. Gagasan tersebut kemudian dihubungkan dengan pengalaman Gus Dur dalam membaca persoalan Aceh dan Papua. Identitas daerah, simbol, dan tuntutan masyarakat tidak selalu harus dibaca sebagai ancaman terhadap negara. Ada sejarah panjang yang perlu dipahami.
Diskusi juga menyinggung persoalan bendera daerah. Simbol identitas daerah dipandang sebagai bagian dari pengalaman masyarakat. Negara perlu memahami konteks tersebut agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik. Gus Dur digambarkan sebagai sosok yang mencoba menjaga persatuan tanpa memaksakan keseragaman.
Pembahasan mengenai kebudayaan dan toleransi kemudian bersinggungan dengan politik. Menjelang Reformasi 1998, Gus Dur disebut melakukan perjalanan ke berbagai daerah serta bertemu dengan sejumlah tokoh yang pada masa itu memiliki posisi berseberangan dengan kelompok reformasi. Langkah tersebut sempat mendapat sorotan. Bagi sebagian orang, kunjungan kepada tokoh-tokoh yang berkaitan dengan Orde Baru dapat dianggap sebagai tindakan politik yang kontroversial.
Pandangan itu membawa diskusi pada persoalan kebudayaan masa kini. Perjumpaan tidak lagi berlangsung hanya melalui ruang fisik. Teknologi digital ikut mengubah cara masyarakat mengenal dan menyebarkan kebudayaan. Revitalisasi naskah menjadi salah satu contoh. Teknologi dapat digunakan untuk menjaga kebudayaan agar tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Nilai dan bentuk budaya juga dapat dibaca ulang sesuai kebutuhan masyarakat masa kini.
Bagi Ghany, pemikiran Gus Dur mengenai keberagaman juga berkaitan dengan posisi seorang pemimpin. Pemimpin harus mampu menaungi berbagai kelompok agama dan kepercayaan. Gagasan tersebut kemudian dihubungkan dengan pengalaman Gus Dur dalam membaca persoalan Aceh dan Papua. Identitas daerah, simbol, dan tuntutan masyarakat tidak selalu harus dibaca sebagai ancaman terhadap negara. Ada sejarah panjang yang perlu dipahami.
Diskusi juga menyinggung persoalan bendera daerah. Simbol identitas daerah dipandang sebagai bagian dari pengalaman masyarakat. Negara perlu memahami konteks tersebut agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik. Gus Dur digambarkan sebagai sosok yang mencoba menjaga persatuan tanpa memaksakan keseragaman.
Pembahasan mengenai kebudayaan dan toleransi kemudian bersinggungan dengan politik. Menjelang Reformasi 1998, Gus Dur disebut melakukan perjalanan ke berbagai daerah serta bertemu dengan sejumlah tokoh yang pada masa itu memiliki posisi berseberangan dengan kelompok reformasi. Langkah tersebut sempat mendapat sorotan. Bagi sebagian orang, kunjungan kepada tokoh-tokoh yang berkaitan dengan Orde Baru dapat dianggap sebagai tindakan politik yang kontroversial.
Dalam diskusi malam itu, tindakan Gus Dur dibaca melalui sudut pandang berbeda. Ia dinilai sedang berusaha membuka komunikasi dan meredakan ketegangan. Gus Dur tidak selalu memilih posisi yang paling populer. Ia dapat mendatangi pihak yang dianggap sebagai lawan politik demi membuka ruang komunikasi.
Pembicaraan mengenai sikap tersebut mengantarkan peserta pada pertanyaan mengenai batas toleransi. Salah seorang peserta bernama Risqi mempertanyakan sejauh mana seni dapat digunakan sebagai ruang kritik. Pertanyaan itu berangkat dari kegelisahan mahasiswa dan generasi muda. Seni dapat hadir melalui musik, tulisan, pertunjukan, maupun berbagai bentuk ekspresi lain. Sampai sejauh mana toleransi memberikan ruang bagi ekspresi tersebut.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi sebab pemikiran Gus Dur mengenai toleransi tidak dapat dilepaskan dari keberanian menyampaikan kritik. Ghany menjelaskan bahwa pemikiran Gus Dur perlu dilihat melalui pengalaman panjangnya dalam bidang keilmuan, sastra, agama, kebudayaan, dan politik. Pengalaman itu membuat Gus Dur memiliki cara pandang yang tidak sederhana dalam menghadapi perbedaan.
Gus Dur juga dikenal aktif menulis di berbagai media. Majalah Panji disebut sebagai salah satu sumber yang memperlihatkan gagasan dan sikap politiknya. Ia pernah menanggapi berbagai persoalan secara terbuka, termasuk pemberitaan yang dianggap merugikan dirinya. Sikap Gus Dur terhadap kritik tidak selalu diwujudkan melalui pembalasan. Ia lebih sering memilih menjelaskan, berdialog, atau mencari jalan agar konflik tidak semakin melebar.
Pembicaraan mengenai sikap tersebut mengantarkan peserta pada pertanyaan mengenai batas toleransi. Salah seorang peserta bernama Risqi mempertanyakan sejauh mana seni dapat digunakan sebagai ruang kritik. Pertanyaan itu berangkat dari kegelisahan mahasiswa dan generasi muda. Seni dapat hadir melalui musik, tulisan, pertunjukan, maupun berbagai bentuk ekspresi lain. Sampai sejauh mana toleransi memberikan ruang bagi ekspresi tersebut.
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam diskusi sebab pemikiran Gus Dur mengenai toleransi tidak dapat dilepaskan dari keberanian menyampaikan kritik. Ghany menjelaskan bahwa pemikiran Gus Dur perlu dilihat melalui pengalaman panjangnya dalam bidang keilmuan, sastra, agama, kebudayaan, dan politik. Pengalaman itu membuat Gus Dur memiliki cara pandang yang tidak sederhana dalam menghadapi perbedaan.
Gus Dur juga dikenal aktif menulis di berbagai media. Majalah Panji disebut sebagai salah satu sumber yang memperlihatkan gagasan dan sikap politiknya. Ia pernah menanggapi berbagai persoalan secara terbuka, termasuk pemberitaan yang dianggap merugikan dirinya. Sikap Gus Dur terhadap kritik tidak selalu diwujudkan melalui pembalasan. Ia lebih sering memilih menjelaskan, berdialog, atau mencari jalan agar konflik tidak semakin melebar.

Malam itu, pembicaraan mengenai Gus Dur akhirnya kembali bertemu dengan seni. Puisi pembuka, monolog Vivien, cerita tentang naskah Jawa, sastra, film, politik, hingga persoalan toleransi seperti berada dalam satu rangkaian. Ada pesan sederhana yang terasa dari seluruh percakapan tersebut. Gus Dur tidak mudah ditempatkan dalam satu kotak. Ia adalah tokoh agama yang membaca sastra, intelektual yang masuk ke ruang politik, pemimpin yang berbicara mengenai kebudayaan, sekaligus manusia yang berusaha menjembatani kelompok-kelompok berbeda.
Di tengah suasana peringatan Harlah Gus Dur, warga Putri Cempo juga mendapat ruang untuk menyampaikan persoalan mereka. Ibu Karni dari Jatirejo menceritakan situasi warga yang terdampak kebakaran TPA Putri Cempo. Asap, evakuasi balita dan lansia, serta kebutuhan masker dan obat tetes mata menjadi bagian dari percakapan malam itu.
Kisah tersebut membuat peringatan Gus Dur tidak berhenti pada nostalgia terhadap seorang tokoh. Gagasan mengenai kemanusiaan dan keberpihakan dibawa kembali pada kehidupan warga. Gus Dur dikenang bukan hanya melalui pidato dan buku. Ia juga hadir melalui pertanyaan tentang bagaimana masyarakat memperlakukan perbedaan, bagaimana kebudayaan dirawat, bagaimana kritik diberi ruang, dan bagaimana kelompok yang berbeda dapat tetap hidup dalam satu republik.
Kedai Kebun malam itu menjadi ruang perjumpaan berbagai cerita. Puisi beralun tentang rumah. Monolog berbicara tentang identitas. Kebudayaan mengarah kepada perjumpaan. Politik memicu keberanian mengambil posisi. Dan warga yang merasakan bencana lantas berpendapat tentang asap dan kebutuhan sehari-hari mereka. Semua cerita tersebut bertemu dalam satu gagasan besar tentang manusia dan kemanusiaan. (Ast)
Di tengah suasana peringatan Harlah Gus Dur, warga Putri Cempo juga mendapat ruang untuk menyampaikan persoalan mereka. Ibu Karni dari Jatirejo menceritakan situasi warga yang terdampak kebakaran TPA Putri Cempo. Asap, evakuasi balita dan lansia, serta kebutuhan masker dan obat tetes mata menjadi bagian dari percakapan malam itu.
Kisah tersebut membuat peringatan Gus Dur tidak berhenti pada nostalgia terhadap seorang tokoh. Gagasan mengenai kemanusiaan dan keberpihakan dibawa kembali pada kehidupan warga. Gus Dur dikenang bukan hanya melalui pidato dan buku. Ia juga hadir melalui pertanyaan tentang bagaimana masyarakat memperlakukan perbedaan, bagaimana kebudayaan dirawat, bagaimana kritik diberi ruang, dan bagaimana kelompok yang berbeda dapat tetap hidup dalam satu republik.
Kedai Kebun malam itu menjadi ruang perjumpaan berbagai cerita. Puisi beralun tentang rumah. Monolog berbicara tentang identitas. Kebudayaan mengarah kepada perjumpaan. Politik memicu keberanian mengambil posisi. Dan warga yang merasakan bencana lantas berpendapat tentang asap dan kebutuhan sehari-hari mereka. Semua cerita tersebut bertemu dalam satu gagasan besar tentang manusia dan kemanusiaan. (Ast)


