Ruang-ruang pelayanan Posyandu selama ini identik dengan penimbangan balita, imunisasi, atau pemantauan kesehatan ibu hamil. Namun, di balik perubahan sistem layanan kesehatan masyarakat, peran kader kini berkembang jauh melampaui urusan kesehatan fisik. Mereka juga dipersiapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental masyarakat.
Semangat itulah yang terasa dalam webinar bertajuk "Yuk Jadi Kader yang Peduli Kesehatan Mental", Senin (13/7), yang diikuti ratusan kader Posyandu dari berbagai daerah di Indonesia. Selama beberapa jam, peserta diajak memahami bahwa kesehatan jiwa bukan lagi isu yang hanya menjadi urusan psikolog atau psikiater, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan terdekat.
Diskusi dibuka dengan gambaran besarnya tantangan kesehatan mental di Indonesia. Gangguan mental emosional masih dialami oleh jutaan penduduk, sementara penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif terus menjadi ancaman, terutama di kalangan remaja. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa bukan lagi kasus yang jarang ditemukan, melainkan kenyataan yang hidup berdampingan dengan masyarakat.
Moderator mengingatkan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Sayangnya, hingga kini masih banyak orang yang enggan mencari pertolongan karena takut dicap lemah, kurang beriman, atau bahkan dianggap "gila". Akibatnya, banyak kasus baru diketahui ketika kondisinya sudah berat. Karena itulah, pemerintah mendorong kader Posyandu untuk menjadi bagian dari sistem deteksi dini di masyarakat.
Perwakilan Direktorat Pelayanan Kesehatan, Yunita, menjelaskan bahwa kader merupakan orang yang paling dekat dengan kehidupan warga. Mereka mengenal keluarga, mengetahui perubahan perilaku masyarakat, sekaligus menjadi tempat pertama yang sering didatangi ketika seseorang membutuhkan teman berbicara.
Menurut Yunita, menjadi kader peduli kesehatan mental bukan berarti harus mampu menyelesaikan semua persoalan psikologis warga.
"Kadang orang yang sedang punya masalah tidak membutuhkan nasihat panjang. Mereka hanya ingin didengarkan. Curhat saja sebenarnya sudah sangat membantu," ujarnya.
Ia mengajak para kader membedakan luka fisik dengan luka psikologis. Jika luka fisik mudah terlihat dan dapat diperkirakan waktu sembuhnya, luka batin sering kali tersembunyi.
Seseorang bisa tampak tertawa, bekerja seperti biasa, bahkan aktif di lingkungan, padahal di dalam dirinya sedang menyimpan kesedihan yang tidak pernah diketahui orang lain.
Karena itu, Yunita mengingatkan agar kader tidak mudah menghakimi seseorang sebagai terlalu sensitif atau berlebihan ketika menunjukkan kesedihan. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda sehingga cara mereka menghadapi tekanan pun tidak sama.
Kepedulian, menurutnya, dapat dimulai dari tindakan sederhana. Ia memberi contoh seorang ibu yang baru melahirkan lalu tiba-tiba tidak lagi aktif di lingkungan, tampak murung, atau tidak merawat diri. Kondisi seperti itu tidak semestinya menjadi bahan gosip.
Sebaliknya, kader justru didorong untuk mendatanginya dengan empati.
"Kepo boleh, tapi kepo yang positif. Datangi, tanyakan kabarnya, sudah makan atau belum, ada yang bisa dibantu atau tidak," kata Yunita.
Perhatian sederhana semacam itu sering menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk mulai membuka diri mengenai persoalan yang sedang dihadapinya.
Yunita juga mengingatkan bahwa kesehatan mental menyangkut seluruh kelompok usia. Balita, anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lansia memiliki tantangan psikologis masing-masing.
Remaja menjadi kelompok yang mendapat perhatian khusus. Media sosial membuat mereka lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain, takut tertinggal tren, hingga merasa harus memenuhi standar tertentu agar diterima dalam lingkungan pergaulan.
Tekanan semacam itu berkontribusi terhadap meningkatnya kecemasan dan depresi pada usia sekolah. Meski demikian, Yunita kembali menegaskan bahwa kader bukanlah psikolog.
Peran mereka adalah memperhatikan, mendengarkan, lalu menghubungkan masyarakat dengan tenaga kesehatan apabila dibutuhkan.
Pendekatan tersebut kemudian diperdalam oleh psikolog Yudi Kurniawan yang membahas posisi kader dari sudut pandang psikologis.
Menurut Yudi, tantangan kesehatan mental semakin besar. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan satu dari delapan orang di dunia mengalami masalah kesehatan jiwa. Di Indonesia, jutaan orang menghadapi persoalan serupa, tetapi hanya sebagian kecil yang datang mencari bantuan profesional. Kelompok usia paling rentan justru remaja hingga dewasa muda.
Ironisnya, stigma masih menjadi penghalang utama. Untuk mengajak peserta berpikir kritis, Yudi mengawali paparannya dengan sejumlah mitos yang sering berkembang di masyarakat.Salah satunya adalah anggapan bahwa gangguan kesehatan mental hanya dialami oleh orang yang lemah. "Itu mitos," tegasnya.
Menurutnya, gangguan kesehatan jiwa dapat dialami siapa saja tanpa memandang usia, status ekonomi, maupun kondisi fisik. Faktor biologis, psikologis, dan lingkungan saling memengaruhi sehingga setiap orang memiliki risiko.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa mencari bantuan psikolog merupakan tanda kelemahan.
"Justru itu bentuk keberanian dan kepedulian terhadap diri sendiri," katanya.
Yudi mengingatkan bahwa penampilan luar tidak selalu mencerminkan kondisi psikologis seseorang.
Orang yang tampak ceria, aktif bekerja, dan tetap tersenyum bisa saja sedang memikul beban yang sangat berat. Karena itu, kader diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku warga.
Misalnya seseorang yang tiba-tiba menarik diri dari lingkungan, kehilangan minat beraktivitas, mudah marah, mengalami perubahan pola tidur maupun nafsu makan, atau sering mengeluhkan sakit fisik tanpa penyebab medis yang jelas.
"Itu bisa menjadi alarm awal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan," ujarnya.
Meski demikian, ia berkali-kali menekankan bahwa kader bukan tenaga terapi.
"Kader bukan superman yang harus menyelesaikan semuanya. Peran kader adalah mendengar, memberi dukungan awal, lalu menghubungkan warga dengan layanan yang tepat."
Yudi kemudian memperkenalkan konsep Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP).
Prinsipnya sederhana, yakni menghadirkan rasa aman, mendengarkan tanpa menghakimi, kemudian membantu seseorang memperoleh layanan profesional jika diperlukan.
Menurutnya, pendekatan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk kader Posyandu.
Namun, ada situasi tertentu yang memerlukan rujukan segera, misalnya ketika seseorang mulai mengungkapkan keinginan mengakhiri hidup, mengalami halusinasi, atau menunjukkan perilaku yang membahayakan dirinya maupun orang lain.
Pada sesi diskusi, berbagai persoalan lapangan mulai bermunculan.
Seorang kader bertanya bagaimana membedakan stres biasa akibat kelelahan dengan tanda awal gangguan kesehatan mental. Yudi menjelaskan bahwa stres pada dasarnya merupakan respons normal terhadap tekanan hidup dan bahkan dapat menjadi motivasi.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika kondisi tersebut berlangsung lebih dari dua minggu hingga sebulan, terus-menerus dirasakan, serta mulai mengganggu fungsi seseorang di rumah, sekolah, atau tempat kerja.Ia mengibaratkan stres seperti balon yang terus diisi udara.
Selama masih terkendali, balon tetap utuh. Namun apabila tekanan terus bertambah tanpa pernah dilepaskan, suatu saat balon itu akan pecah.
Pertanyaan lain datang dari kader yang ingin mengetahui langkah pertama ketika menemukan warga yang diduga mengalami gangguan kesehatan jiwa saat melakukan kunjungan rumah.
Perwakilan tim kesehatan jiwa, Evi, menegaskan bahwa kader merupakan perpanjangan tangan tenaga kesehatan.
Tugas mereka adalah memberikan edukasi sederhana, mengurangi stigma, lalu mengarahkan warga menjalani skrining kesehatan jiwa di puskesmas. Menurut Evi, kader tidak perlu memikul seluruh persoalan sendirian.
Koordinasi dengan puskesmas menjadi langkah penting agar warga memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Diskusi juga membahas situasi ketika keluarga menolak menerima kenyataan bahwa salah satu anggotanya membutuhkan bantuan psikologis.
Menurut Yudi, pendekatan kolaboratif menjadi kunci. Kader dapat menggandeng tenaga kesehatan puskesmas, bahkan melibatkan ketua RT atau RW apabila diperlukan.
"Kalau kader bekerja sendiri tentu akan berat. Karena itu perlu dukungan lintas pihak," katanya.
Peserta lain menanyakan apakah kader boleh bertanya mengenai kondisi psikologis warga. Yudi menjawab bahwa kader justru perlu membuka percakapan dengan hangat.
Namun, pertanyaan tersebut bukan untuk menegakkan diagnosis seperti psikolog, melainkan untuk memahami kebutuhan warga.
"Fungsi pertanyaannya adalah mengenali kebutuhan mereka, bukan melakukan wawancara klinis," jelasnya. Pertanyaan yang cukup menyita perhatian datang dari seorang kader asal Gresik.
Ia tidak bertanya tentang warga, tetapi tentang dirinya sendiri.
Bagaimana kader menjaga kesehatan mental ketika setiap hari mendampingi berbagai persoalan masyarakat?
Yudi mengakui bahwa kader juga rentan mengalami kelelahan emosional. Karena itu, mereka perlu memiliki cara untuk memulihkan energi.
Setiap orang memiliki strategi yang berbeda, mulai dari beristirahat, memasak, berjalan kaki, berbincang bersama keluarga, hingga melakukan aktivitas yang disukai. Yang terpenting, persoalan warga tidak ikut dibawa pulang menjadi beban pribadi.
"Kalau energinya habis, tentu akan sulit mendampingi masyarakat," katanya.
Menjelang penutupan, Evi kembali mengingatkan pentingnya kolaborasi antara kader dan puskesmas.
Ia berharap kader tidak ragu berkonsultasi apabila menemukan persoalan kesehatan jiwa di lapangan.
"Kami sangat membutuhkan peran teman-teman kader sebagai perpanjangan tangan di masyarakat. Kalau menemukan warga yang membutuhkan bantuan, jangan sungkan berkoordinasi dengan puskesmas," pesannya.
Senada dengan itu, Yudi menutup sesi dengan apresiasi kepada seluruh kader Posyandu yang selama ini bekerja tanpa banyak sorotan.
Menurutnya, kader bukan sekadar membantu pelayanan kesehatan fisik, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan harapan.
"Kader bukan superman. Tetapi kader adalah jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan layanan dan harapan yang mereka butuhkan."
Pesan itu menjadi penutup yang merangkum semangat webinar bahwa menjaga kesehatan mental bukan semata-mata pekerjaan tenaga profesional, melainkan gerakan bersama yang dimulai dari kepedulian terhadap orang-orang terdekat. Dalam banyak kasus, sapaan sederhana, kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, dan keberanian menghubungkan seseorang dengan layanan kesehatan bisa menjadi langkah kecil yang menyelamatkan kehidupan. (Ast)


