Publikasi

Merawat Jiwa di Tempat Kerja melalui Lingkungan yang Aman Menjadi Kunci Kesehatan Mental

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Dinas  Kesehatan Provinsi Jawa Barat menghelat zoom meeting dalam Sharing Session edisi ke-46, pada Kamis (9/7). Tema yang diangkat bukan soal penyakit menular, capaian program kesehatan, ataupun inovasi layanan medis. Kali ini, perhatian diarahkan pada sesuatu yang sering luput dibicarakan, tetapi sangat menentukan kualitas pelayanan kesehatan yakni  kesehatan mental di tempat kerja.

Acara dibuka oleh moderator, Fanny, yang memperkenalkan narasumber, dr. Metha Maria Azzahra, Sp.K.J, dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Sejak awal, ia menegaskan bahwa diskusi tersebut diharapkan menjadi ruang belajar bersama agar para pegawai mampu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. Vini Adyani Dewi, MMRS, dalam sambutannya menilai topik tersebut sangat relevan bagi seluruh aparatur di lingkungan dinas. Menurutnya, kesehatan mental bukan sekadar urusan pribadi, tetapi juga berkaitan erat dengan budaya kerja yang saling mendukung.

Ia bahkan menyebut, seandainya memungkinkan, seluruh pegawai di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat seharusnya mengikuti sesi tersebut.

"Bekerja itu harus saling memperhatikan dan saling membahagiakan. Jangan sampai ketika ditelepon atasan langsung merasa takut atau panik. Yang kita takutkan hanya kepada Allah. Di tempat kerja kita harus merasa nyaman," ujarnya.

Ia mengajak seluruh pegawai untuk terus menjadi pribadi yang baik melalui rasa syukur. Menurutnya, rasa syukur akan melahirkan semangat bekerja yang responsif, inovatif, sekaligus bermanfaat bagi orang lain.

"Bekerja dengan jiwa yang sehat akan membuat kita maksimal dalam bekerja dan maksimal pula dalam beribadah," katanya.

Pesan itu menjadi pengantar yang selaras dengan materi utama yang kemudian disampaikan dr. Metha.

Kesehatan Mental Bukan Sekadar Bebas dari Depresi

Mengawali paparannya, dr. Metha mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap kesehatan kerja. Selama ini, kesehatan kerja sering kali hanya dikaitkan dengan penyakit fisik atau kecelakaan kerja. Padahal, menurutnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menempatkan gangguan kesehatan mental sebagai salah satu penyebab utama hilangnya produktivitas tenaga kerja di dunia.

Artinya, persoalan kesehatan mental tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan personal semata. Dampaknya menjalar hingga kualitas pelayanan publik, produktivitas organisasi, bahkan pembangunan secara keseluruhan.

Ia menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari secara produktif, membangun hubungan yang baik dengan orang lain, serta mampu beradaptasi terhadap berbagai perubahan dan tekanan hidup.

"Sehat mental bukan berarti tidak mengalami depresi saja, tetapi bagaimana seseorang mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri," jelasnya.

Orang yang memiliki kesehatan mental yang baik, lanjutnya, mampu menerima dirinya secara realistis. Ia mengetahui kelebihan dan kekurangannya, tidak merasa paling hebat, tetapi juga tidak merendahkan diri.

Selain itu, ia mampu menjalin hubungan interpersonal yang sehat dengan rekan kerja maupun atasan, menerima perbedaan pendapat, memiliki tujuan hidup yang realistis, serta sanggup mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Menurut dr. Metha, kemampuan menerima masukan juga menjadi salah satu indikator kesehatan mental yang baik. Orang yang sehat mental tidak melihat kritik sebagai serangan terhadap dirinya, melainkan sebagai kesempatan untuk berkembang.

 

Pekerjaan Bisa Berubah Menjadi Sumber Stres

Meski bekerja merupakan bagian penting dalam kehidupan, dr. Metha mengingatkan bahwa pekerjaan juga bisa menjadi sumber tekanan apabila tidak dikelola dengan baik.

Mengutip sejumlah penelitian, ia menyebut sekitar 40 persen pekerja melaporkan beban kerja sebagai penyebab stres. Bahkan seperempat responden mengakui pekerjaan menjadi faktor utama yang memicu tekanan psikologis.

Stres kerja sendiri, jelasnya, muncul ketika tuntutan pekerjaan tidak seimbang dengan kemampuan, pengetahuan, maupun sumber daya yang dimiliki seseorang.

"Yang menjadi masalah sebenarnya adalah ketidakseimbangan antara tuntutan dan sumber daya yang kita miliki," ujarnya.

Jika kondisi itu berlangsung terus-menerus tanpa penanganan, seseorang berisiko mengalami burnout, yaitu sindrom akibat stres kerja berkepanjangan.

WHO memperkirakan depresi dan kecemasan pada pekerja menyebabkan hilangnya produktivitas dalam skala yang sangat besar setiap tahun. Kerugian ekonomi global pun mencapai hampir satu triliun dolar Amerika Serikat.

Karena itu, menjaga kesehatan mental pekerja bukan hanya investasi bagi individu, tetapi juga bagi organisasi.

 

Mengenali Tanda-Tanda Burnout

Dr. Metha menjelaskan bahwa burnout memiliki tiga komponen utama, yakni kelelahan emosional, munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan maupun orang lain, serta menurunnya rasa percaya diri terhadap kemampuan profesional.

Seseorang yang mengalami burnout biasanya merasa lelah sepanjang waktu meskipun sudah beristirahat. Energi terasa terkuras, emosi menjadi lebih sensitif, mudah marah, sulit berkonsentrasi, bahkan mulai kehilangan makna dalam pekerjaannya.

"Tidur seharian saat akhir pekan tetapi hari Senin tetap merasa lelah, itu bisa menjadi salah satu tanda burnout," katanya.

Tak hanya berdampak pada individu, burnout juga meningkatkan risiko kesalahan kerja, kecelakaan kerja, penurunan kualitas pelayanan, hingga memburuknya hubungan antarpegawai.

Menurutnya, burnout muncul ketika tekanan pekerjaan jauh lebih besar dibandingkan dukungan yang tersedia, baik dari organisasi, rekan kerja, maupun atasan.

Stres ternyata juga bisa berdampak positif. Menariknya, dr. Metha menegaskan bahwa tidak semua stres bersifat buruk.

Ia menjelaskan adanya konsep optimal stress, yaitu kondisi ketika tekanan kerja masih berada pada tingkat yang sehat sehingga justru mendorong seseorang menjadi lebih kreatif, termotivasi, dan produktif.

Pada kondisi tersebut, tantangan dipandang sebagai peluang belajar, bukan ancaman.

Sebaliknya, ketika tekanan terlalu rendah, seseorang justru bisa kehilangan motivasi dan merasa bosan. Di sisi lain, jika tekanan terlalu tinggi dan berlangsung terus-menerus, burnout menjadi sulit dihindari. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama.

 

Peran Organisasi dan Pemimpin

Selain faktor individu, organisasi juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kesehatan mental pegawai.Dr. Metha menyebut sejumlah faktor organisasi yang dapat memicu burnout, seperti beban kerja berlebihan,  penghargaan yang tidak jelas, pengawasan yang terlalu ketat (micromanagement), ketidakadilan di tempat kerja, hingga lemahnya kepemimpinan.

Ia menilai kualitas pemimpin menjadi salah satu penentu utama kesehatan mental tim.

Bahkan terdapat istilah, employees leave managers, not organizations, yang menggambarkan bahwa banyak orang memilih meninggalkan pekerjaannya bukan karena organisasinya, melainkan karena hubungan yang tidak sehat dengan atasannya.

Pemimpin yang baik, menurutnya, adalah mereka yang memiliki empati, integritas, mampu menginspirasi, serta menciptakan ruang aman bagi anggota tim untuk menyampaikan pendapat maupun kesulitan yang dihadapi.

Sebaliknya, kepemimpinan yang berubah menjadi arogan, intimidatif, manipulatif, atau terlalu mengontrol justru berpotensi merusak kesehatan mental pegawai.

Karena itu, pemimpin juga perlu terus melakukan refleksi diri agar mampu menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati.

 

Menjaga Diri Sebelum Terlambat

Pada bagian akhir paparannya, dr. Metha membagikan sejumlah langkah sederhana untuk mencegah burnout.

Ia mengajak peserta mulai mengenali kapasitas diri dan gejala stres sejak dini. Dengan memahami batas kemampuan masing-masing, seseorang dapat mengambil langkah sebelum tekanan berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara bekerja dan beristirahat.

"Jangan terus-terus bekerja. Beri waktu untuk diri sendiri, lakukan hal-hal yang membuat kita kembali merasa nyaman," ujarnya.

Masing-masing orang memiliki cara berbeda untuk memulihkan energi, mulai dari menikmati makanan favorit, mendengarkan musik, berolahraga, hingga menonton film. Tidak ada cara yang paling benar selama aktivitas tersebut membantu seseorang kembali merasa lebih baik.

Selain itu, ia mendorong peserta belajar menghargai pencapaian kecil, tidak terus-menerus mencari validasi dari orang lain, berani mendelegasikan pekerjaan ketika diperlukan, serta menyusun skala prioritas agar tidak merasa kewalahan menghadapi banyak tugas sekaligus.

"Fokuslah pada satu pekerjaan dalam satu waktu. Selesaikan selangkah demi selangkah," pesannya.

Menjelang penutupan acara, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat kembali menyampaikan refleksinya. Menurutnya, kebahagiaan di tempat kerja akan membawa suasana yang sama ketika seseorang pulang ke rumah. Sebaliknya, jika beban pekerjaan terus dibawa tanpa dikelola, kehidupan keluarga pun dapat ikut terdampak. Ia mengaku selalu berusaha mensyukuri amanah sebagai aparatur negara sehingga beban pekerjaan terasa lebih ringan.

"Mari terus menjadi orang baik. Bekerjalah dengan rasa syukur, responsif, inovatif, dan memberikan manfaat," pesannya kepada seluruh pegawai.

Sementara itu, moderator menutup sesi dengan merangkum inti diskusi. Ia menegaskan bahwa kesehatan mental di tempat kerja bukan sekadar terbebas dari stres, melainkan kemampuan mengelola tekanan, membangun hubungan yang positif, serta menjaga keseimbangan kehidupan sehari-hari. Ia berharap materi yang disampaikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan diterapkan dalam budaya kerja di masing-masing unit. (Ast)