Gaya Hidup

Ketika Hidup Terlalu Cepat, Barangkali Kita Perlu Belajar Berhenti

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Ada masa ketika manusia begitu sibuk mengejar waktu, sampai lupa bahwa waktu juga sedang membawa hidupnya pergi.

Pagi belum benar-benar selesai, pekerjaan sudah menunggu. Telepon genggam menyala, pesan masuk, jadwal berganti. Satu pertemuan selesai, pertemuan lain menanti. Di media sosial, kabar bergerak begitu cepat. Tiga jam tidak membuka layar saja bisa membuat seseorang merasa tertinggal dari percakapan yang sedang berlangsung. Hidup seperti tidak memberi banyak kesempatan untuk berhenti.

Di tengah keadaan semacam itu, muncul pertanyaan sederhana. Apakah manusia benar-benar harus terus berlari?

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pintu masuk dalam talkshow rangkaian Desik di GIK UGM, yang menghadirkan Asri Saraswati, Paksi Raras Alit, dan Shahnaz Soehartono dipandu Yusril dan Mukti pada Kamis (24/9). Mereka berbicara tentang hidup melambat, kesadaran, pilihan, keluarga, pekerjaan, serta cara menemukan kembali makna hidup ketika dunia terasa semakin tergesa-gesa.

Paksi Raras membawa pembicaraan pada kebijaksanaan Jawa yang menurutnya masih relevan dengan kehidupan hari ini. Ia menyebut beberapa nilai yang dapat menjadi pegangan ketika manusia berhadapan dengan percepatan. Salah satunya adalah kemampuan untuk tidak langsung bereaksi.

Setiap hari ada begitu banyak hal yang masuk ke dalam diri seperti berita, komentar di media sosial, isu politik, kabar tentang selebritas, pendapat orang lain, hingga berbagai peristiwa yang kadang membuat emosi bergerak lebih cepat daripada pikiran. Paksi mengajak manusia memberi jarak. Baginya, reaksi dan respons adalah dua hal yang berbeda. Reaksi lahir dengan cepat. Respons membutuhkan waktu. Ada sesuatu yang masuk, kemudian dicerna, dipikirkan, baru setelah itu seseorang menentukan apa yang akan dilakukan. Jeda kecil itu dapat mengubah cara seseorang berhubungan dengan dunia.

Nilai lain yang ia soroti adalah hidup secukupnya. Mengejar uang secukupnya. Menikmati pergaulan secukupnya. Mengejar kesenangan secukupnya. Kata “cukup” mungkin terdengar sederhana. Dalam kehidupan yang terus mendorong manusia untuk memiliki lebih banyak, kata itu justru dapat menjadi sesuatu yang sulit. Sebab ukuran keberhasilan sering kali diletakkan pada hal-hal yang bisa dilihat. Berapa jumlah uang yang dimiliki, rumah seperti apa, kendaraan apa yang digunakan, pekerjaan apa yang dijalani, atau seberapa jauh seseorang bepergian. Paksi mengajak melihat ukuran yang lebih luas.

Manusia juga memiliki modal sosial. Keluarga yang mendukung, teman yang dapat dipercaya, lingkungan yang menerima, pendidikan, kebudayaan, hingga nama baik. Semua itu tidak selalu bisa dimasukkan ke dalam angka, tetapi memiliki peran dalam membentuk kehidupan. Pandangan tersebut menemukan pengalaman nyata dalam cerita Asri Saraswati.

Ia pernah hidup dalam ritme Jakarta yang serba cepat. Pekerjaan datang silih berganti. Waktu terasa pendek. Ketika kemudian berpindah ke desa, ia menemukan sesuatu yang semula terasa asing. Di desa, ketika ada tetangga meninggal, warga bisa meninggalkan pekerjaan untuk datang melayat. Ketika ada hajatan, pekerjaan dapat ditunda. Warga hadir untuk satu sama lain.

Dari sudut pandang ekonomi, mungkin keputusan tersebut terlihat tidak masuk akal. Ada pekerjaan yang ditinggalkan. Ada waktu yang tidak menghasilkan uang. Asri pernah memandangnya dengan cara seperti itu. Sampai kemudian ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak masuk dalam hitungan ekonomi yakni kebersamaan. Ketika seseorang sedang berduka, ia akan merasa tidak sendirian. Ketika ada hajatan, pekerjaan tidak menjadi satu-satunya hal yang penting. Ada kehidupan bersama yang ikut dirawat.

Pengalaman itu perlahan mengubah cara pandangnya tentang arti cukup. Hidup yang melambat bukan berarti tidak memiliki ambisi. Bukan pula berarti seseorang kehilangan motivasi untuk bekerja. Ada kesadaran untuk memilih apa yang ingin diperjuangkan. Bagi Asri, keluarga menjadi salah satu hal yang ingin ia perjuangkan. Kegiatan mengantar anak sekolah, misalnya, mungkin bagi sebagian orang merupakan kegiatan sederhana yang bisa didelegasikan. Bagi Asri dan keluarganya, ada nilai yang ingin mereka jaga dari kegiatan tersebut. Waktu bersama anak menjadi sesuatu yang penting.

Pilihan itu tentu memiliki konsekuensi seperti jadwal yang harus diatur, pekerjaan yang perlu disesuaikan dan hal-hal yang mungkin tidak bisa dikejar sebanyak orang lain. Di situlah, menurut Asri, hidup sadar bekerja.

Shahnaz menghadapi persoalan yang berbeda. Aktivitasnya di Jakarta membuat hari-harinya dipenuhi jadwal. Ada kalanya satu agenda hanya berjarak 30 atau 40 menit dari agenda berikutnya. Dalam ritme seperti itu, jeda tidak datang dengan sendirinya. Maka menurutnya, jeda harus dibuat.

Shahnaz membuat ritual untuk dirinya sendiri. Ia menggunakan alarm sebagai pengingat untuk berhenti sejenak. Ada waktu untuk berdoa, meditasi, yoga, atau sekadar diam. Beberapa menit mungkin tampak kecil. Akan tetapi, dalam hari yang penuh jadwal, beberapa menit itu menjadi ruang untuk kembali kepada diri sendiri.

Ia merasa perlu melakukan semacam check-in. Memeriksa bagaimana keadaan dirinya setelah berjam-jam berada dalam kesibukan. "Kita yang membuat, kita yang mengingatkan. Semuanya ada di tangan kita.” Kebiasaan tersebut kemudian ikut dikenal oleh anak-anaknya. Ketika suasana mulai terlalu reaktif, ada pengingat untuk berhenti. Kesadaran tidak lagi menjadi sesuatu yang hanya dibicarakan dalam forum, melainkan tumbuh sebagai kebiasaan di rumah.

Masih di sesi talkshow, Paksi melihat bahwa manusia sebenarnya tidak kekurangan cara untuk berhenti. Berbagai agama telah memiliki ritual yang membuat manusia mengambil jeda dari aktivitas sehari-hari. Doa, sembahyang, meditasi, dan berbagai bentuk perenungan memberi kesempatan kepada manusia untuk berhenti dari hiruk-pikuk. Ritual tersebut dapat menjadi cara mengatur kembali ritme kehidupan. Di dunia yang dipenuhi teknologi, persoalannya bukan semata-mata bagaimana menjauh dari telepon genggam. Persoalannya adalah siapa yang mengendalikan siapa.

Paksi bercerita tentang kebiasaannya tidak langsung memegang telepon setelah bangun tidur. Ada waktu yang diberikan untuk membaca, keluar rumah, menikmati pagi, atau sekadar membiarkan dirinya hadir tanpa segera masuk ke arus informasi. Padahal ia tetap aktif di media sosial. Ia hanya berusaha menentukan kapan harus membuka dan kapan harus melepaskan. Kesadaran semacam itu juga berkaitan dengan kebiasaan membandingkan hidup.

Media sosial membuat kehidupan orang lain hadir di depan mata setiap saat. Pencapaian orang lain terlihat lebih dekat. Kehidupan seseorang dapat tampak begitu sempurna dari layar. Padahal, setiap pilihan mempunyai harga yang berbeda. Orang yang hidup di kota besar mungkin memiliki pencapaian ekonomi yang lebih tinggi. Ada pekerjaan, jaringan, dan kesempatan yang lebih banyak. Di sisi lain, waktu yang harus diberikan juga tidak sedikit.

Orang yang memilih kehidupan lebih tenang mungkin memiliki ukuran ekonomi berbeda, tetapi memiliki waktu yang lebih banyak untuk keluarga, tetangga, teman, atau dirinya sendiri. Paksi tidak sedang mengatakan satu kehidupan lebih baik daripada kehidupan lainnya. Ia justru mengajak setiap orang mengenali pilihannya sendiri.

Asri menemukan ruang jeda melalui menulis. Ketika kepala terasa penuh, ia menuliskan apa yang ada di pikirannya. Dari sana, keruwetan perlahan terurai. Menulis baginya bukan semata-mata soal menjadi penulis. Ada kebutuhan untuk memiliki waktu sendiri. Ada kebutuhan untuk membuat pikiran berhenti berlari ke segala arah. Menulis menjadi semacam rem. Barangkali hidup melambat memang tidak selalu membutuhkan keputusan besar.
(Ast)