Gaya Hidup

Hening, Pulang kepada Diri Sendiri

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, berhenti sejenak barangkali menjadi sesuatu yang tidak mudah.

Manusia terbiasa mengejar. Setelah satu pekerjaan selesai, ada pekerjaan lain. Setelah satu tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya. Telepon genggam menyala, pesan masuk, jadwal berganti. Di media sosial, kabar bergerak begitu cepat. Satu persoalan belum selesai, persoalan lain sudah mengetuk pintu.

Tubuh mungkin sedang duduk di suatu tempat, tetapi pikiran sudah berjalan ke mana-mana. Suasana semacam itulah yang terasa ketika sesi hening bersama Adjie Santosoputro menjadi bagian dari rangkaian acara DESIK yang diselenggarakan di tengah rangkaian acara yang mempertemukan berbagai cerita, gagasan, dan pengalaman, peserta diajak melakukan sesuatu yang justru sangat sederhana, yakni berhenti. Acara diselenggarakan di GIK UGM, pada Kamis (24/9).

Berhenti adalah tidak mengejar apa-apa. Tidak perlu mencapai sesuatu. Dan hanya duduk diam dan menyadari keberadaan diri.

Sebuah sesi hening. “Hadiah terindah untuk orang yang kamu cintai adalah kehadiran diri secara utuh untuk dirinya,” ujar Adjie. Kalimat itu menjadi pintu masuk menuju perjalanan ke dalam diri. Menurut Adjie, manusia hidup dalam dunia yang berlebihan cepat. Karena itu, manusia perlu belajar berhenti. Bukan berhenti dari kehidupan, melainkan berhenti sejenak agar dapat menyadari bagaimana sebenarnya dirinya sedang menjalani kehidupan.

Hidup, katanya, bukan hanya soal seberapa cepat seseorang bergerak. Yang lebih penting adalah seberapa tepat ia melangkah. Peserta kemudian diminta duduk senyaman mungkin. Boleh bersandar. Boleh mengubah posisi. Tidak ada tuntutan untuk terlihat sempurna dalam keheningan.

"Perlahan, mata terpejam.
Napas menjadi perhatian pertama.
Tarik napas. Sadari.
Hembuskan napas. Sadari.
Tidak ada yang perlu dipaksakan."

Pikiran tentu saja datang dan pergi. Ingatan tentang masa lalu bisa muncul. Bayangan tentang masa depan dapat menyela. Ada percakapan yang tiba-tiba teringat. Ada pekerjaan yang belum selesai. Ada persoalan yang mungkin sedang dipikirkan.

Bagi Adjie, semua itu bukan kegagalan. Ketika pikiran mengembara, peserta hanya diajak kembali. Kembali kepada napas. Kembali kepada saat ini. Di situlah latihan hening menjadi menarik. Hening bukan berarti pikiran harus kosong.

Ia adalah latihan untuk hadir. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering hidup dengan orientasi menuju sesuatu. Makan sambil memikirkan pekerjaan. Berjalan sambil memikirkan pertemuan berikutnya. Berbicara dengan seseorang sambil sesekali memeriksa telepon. Bahkan ketika sedang beristirahat, pikiran masih sibuk menyusun daftar pekerjaan.

Tubuh berada di sini, tetapi kesadaran mungkin sudah berada di tempat lain. Karena itu, napas menjadi semacam jangkar. Ketika pikiran pergi terlalu jauh, seseorang dapat kembali kepada sesuatu yang paling dekat dengan dirinya, napas yang sedang berlangsung.

"Tarik.
Hembuskan.
Kembali."

Dalam paparannya, Adjie menjelaskan bahwa meditasi tidak semata-mata aktivitas yang dilakukan dengan duduk diam dalam waktu tertentu. Aktivitas sehari-hari pun dapat menjadi ruang untuk berlatih hadir ketika seseorang benar-benar menyadari apa yang sedang dilakukannya.

Hening kemudian bukan perlombaan untuk mencapai keadaan tertentu. Ia adalah latihan untuk hadir.

Dalam sesi tersebut, Adjie juga mengajak peserta melihat hubungan dengan masa lalu dan masa depan. Masa lalu telah berlalu. Ia hanya dapat hadir kembali melalui ingatan. Tidak ada cara untuk kembali dan mengubah jalan cerita yang sudah terjadi. Masa depan pun belum pasti. Ia masih berupa kemungkinan. Yang benar-benar sedang berlangsung adalah saat ini.

Kesadaran terhadap saat ini bukan berarti mengabaikan masa lalu atau tidak memikirkan masa depan. Ia memberi ruang agar manusia tidak terus-menerus terseret oleh sesuatu yang sudah berlalu atau sesuatu yang belum terjadi. Napas menjadi jembatan menuju saat ini.

Setelah cukup lama mengajak peserta menyadari napas, Adjie membawa latihan ke bagian yang lebih personal. Peserta diminta meletakkan tangan kanan di bahu kiri dan tangan kiri di bahu kanan. Memeluk diri sendiri.

Gerakan itu tampak sederhana. Di baliknya ada pertanyaan yang tidak sederhana. Kapan terakhir kali seseorang benar-benar memeluk dirinya sendiri? Manusia sering sibuk mengurus orang lain, menjaga perasaan orang lain, memenuhi kebutuhan keluarga, mengejar pekerjaan, menjawab pesan dan menjadi tempat orang lain bersandar. Dalam kesibukan itu, diri sendiri kadang menjadi orang yang paling lama ditinggalkan.

Adjie mengajak peserta kembali kepada dirinya. Apa pun yang muncul, terima. Jika rasa gembira muncul, terima. Jika sedih datang, terima. Jika ada air mata, biarkan. Penerimaan tidak berarti menyukai semua yang terjadi. Penerimaan berarti berani menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi di dalam diri tanpa buru-buru menolaknya.

Sedih tidak harus segera diusir.
Marah tidak harus segera disangkal.
Takut tidak harus ditutupi dengan kalimat bahwa semuanya baik-baik saja.
Yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah menyadarinya.

Di hadapan perasaan, seseorang belajar mengatakan, ini sedang terjadi di dalam diriku. Ada jarak kecil antara diri dan perasaan itu. Di dalam jarak tersebut, manusia memiliki kesempatan untuk tidak langsung bereaksi.

Adjie juga mengajak peserta untuk belajar ramah dan sabar kepada dirinya sendiri. Cara seseorang memperlakukan dirinya akan tercermin dalam caranya memperlakukan orang lain.

Ketika seseorang terus-menerus memusuhi dirinya, hidup terasa semakin keras. Ketika seseorang mulai belajar berbelas kasih kepada dirinya, ada ruang yang lebih luas untuk memberikan kasih kepada orang lain.

Sesi itu kemudian sampai pada bagian yang sederhana sekaligus dalam. Peserta diajak mengucapkan terima kasih kepada dirinya sendiri.

"Terima kasih karena sudah bertahan.
Terima kasih karena sudah berjalan sejauh ini.
Terima kasih karena, dengan segala kesulitan yang pernah datang, diri itu masih terus melangkah."

Ada sesuatu yang lembut dari ajakan tersebut. Manusia sering lebih mudah mengucapkan terima kasih kepada orang lain daripada kepada dirinya sendiri. Padahal, hubungan dengan diri sendiri juga membutuhkan kasih.

Di akhir sesi, peserta perlahan membuka mata. Sebagian mungkin membawa pulang rasa lega. Sebagian mungkin masih menyimpan kesedihan. Ada yang mungkin meneteskan air mata. Air mata tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.

“Kita adalah manusia,” menjadi salah satu pesan yang terasa dari sesi itu. Manusia memiliki perasaan. Manusia bisa lelah. Manusia bisa bahagia, sedih, marah, takut, kecewa, dan menangis. Semua itu bagian dari pengalaman menjadi manusia.

Bagi Adjie, keheningan bukan ruang untuk melarikan diri dari kehidupan. Justru melalui keheningan seseorang diajak menemui kehidupan dengan lebih utuh. Ia tidak menjanjikan bahwa setelah hening semua masalah akan hilang. Hening juga bukan cara untuk membuat masa lalu berubah atau masa depan menjadi pasti.

Yang berubah adalah cara seseorang hadir terhadap apa yang sedang dialaminya. Dalam keheningan, manusia belajar melihat bahwa pikiran hanyalah pikiran. Emosi adalah emosi. Ingatan adalah ingatan. Diri tidak harus terseret oleh semuanya.

Ada kesadaran yang dapat mengamati. Dan mungkin di situlah makna “pulang” menemukan bentuknya. Bukan pulang ke sebuah rumah, melainkan pulang kepada diri sendiri.

Di dunia yang terus meminta manusia bergegas, keheningan menawarkan sesuatu yang sederhana. Sebuah jeda.

Beberapa menit untuk tidak mengejar. Beberapa tarikan napas untuk menyadari bahwa tubuh masih berada di sini. Beberapa saat untuk mendengarkan suara yang selama ini tertutup oleh keramaian.

Dan mungkin, beberapa menit untuk bertanya kepada diri sendiri, bagaimana kabarku sebenarnya? Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi sering kali justru menjadi pertanyaan yang paling jarang diberikan kepada diri sendiri. Sebab manusia terlalu sibuk mencari apa yang kurang, mengejar apa yang belum tercapai, dan memikirkan apa yang akan terjadi.

Di GIK, melalui sesi hening dalam rangkaian DESIK itu, peserta seperti diajak mengambil jarak sebentar dari semua yang sedang dikejar. Bukan untuk meninggalkan dunia, melainkan untuk kembali kepadanya dengan kesadaran yang lebih utuh.

Sebab mungkin, sebelum hadir sepenuhnya untuk orang yang dicintai, manusia perlu belajar hadir untuk dirinya sendiri. Dan sebelum kembali berlari, ada baiknya memastikan bahwa ia masih tahu ke mana hendak berjalan. (Ast)