Layar-layar ponsel mungkin hanya berukuran beberapa inci. Di dalamnya, cerita tentang seseorang bisa bergerak jauh lebih cepat daripada langkah kaki.
Sebuah video dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lain, sebuah unggahan bisa mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, dan pengalaman yang selama ini hanya tersimpan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjelma menjadi pengetahuan bagi banyak orang.
Ruang digital seperti itulah yang dibicarakan dalam webinar “Difabel Cakap Digital, Memperkuat Eksistensi Difabel dan Organisasi, Membangun Branding dan Menjadikan Dunia Digital sebagai Media Pembelajaran Kekinian.” Bagi difabel dan organisasi difabel, ruang digital tidak lagi sekadar tempat mengunggah dokumentasi kegiatan. Ia dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas, membangun jejaring, mengembangkan usaha, belajar, sekaligus mengambil kembali kendali atas cerita tentang disabilitas.
Gagasan itu menjadi salah satu pokok yang disampaikan Muhammad Rezki Achyana dalam webinar yang diselenggarakan oleh Sigab Indonesia pada Rabu (7/10). Rezki bukan orang baru di dunia media sosial. Akun Instagramnya memiliki sekitar 175 ribu pengikut, TikTok sekitar 655 ribu dan Threads sekitar 28 ribu. Ia juga merupakan pendiri Parakerja, lembaga yang bergerak dalam pelatihan dan akses dunia kerja bagi difabel, serta TamTam Terapi Center yang memberikan layanan terapi bagi anak berkebutuhan khusus.
Pengalamannya bersentuhan dengan dunia digital membuat Rezki melihat media sosial bukan sekadar persoalan jumlah pengikut. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu siapa yang memiliki hak untuk bercerita. “Sekarang saatnya kita ambil kendali tentang cerita kita sendiri,” ujar Rezki. Selama ini, menurutnya, cerita tentang disabilitas terlalu sering ditulis oleh orang non-disabilitas. Mereka berbicara tentang bagaimana rasanya menggunakan kursi roda, menjadi Tuli, memiliki disabilitas mental atau menghadapi hambatan aksesibilitas.
Padahal, orang yang mengalami langsung memiliki pengalaman yang tidak selalu dapat diterjemahkan oleh orang lain. Karena itu, difabel perlu tampil sebagai subjek. Mereka berhak menentukan bagaimana dirinya dikenal, didengar dan dilihat di ruang publik. Ketika cerita disampaikan oleh orang yang mengalaminya sendiri, representasi difabel tidak berhenti pada rasa kasihan atau kisah inspirasi. Cerita menjadi pengalaman hidup.
Dari Objek Menjadi Subjek
Rezki memberi contoh dari pengalaman Para Kerja ketika mengembangkan kelas bahasa isyarat. Ajakan untuk belajar bahasa isyarat akan memiliki makna berbeda ketika disampaikan langsung oleh teman tuli. Orang yang mengikuti kelas tidak hanya mendapatkan teori. Mereka berhadapan dengan pengalaman dan kebutuhan nyata dalam berkomunikasi.
Di situlah media sosial dapat mengambil peran. Penyandang disabilitas tidak harus menunggu media datang untuk menceritakan kehidupan mereka. Mereka dapat membuat sendiri ceritanya.
Pengalaman menggunakan transportasi publik dengan kursi roda, kesulitan menemukan akses yang layak, pengalaman orang tuli ketika berkendara, pengalaman orang yang tidak melihat ketika bermimpi, sampai kehidupan difabel dalam keluarga dapat menjadi bahan cerita. “Banyak pertanyaan tentang kita yang sebenarnya bisa menjadi konten,” katanya.
Cerita sehari-hari tersebut justru dapat membuka jendela bagi masyarakat yang selama ini tidak memahami kehidupan difabel.
Persoalannya kemudian bukan sekadar bagaimana membuat konten, melainkan bagaimana membuat konten yang sampai kepada orang yang tepat. Rezki menjelaskan pentingnya mengenali audiens. Siapa yang hendak dituju, berapa usianya, di mana mereka tinggal, apa minatnya, bagaimana kebiasaan mereka menggunakan media sosial dan persoalan apa yang sedang mereka hadapi.
Setiap platform juga memiliki karakter yang berbeda. Konten yang cocok untuk Facebook belum tentu memiliki pendekatan yang sama di Instagram atau TikTok. Organisasi perlu memahami perbedaan tersebut. K. ika ingin menjangkau masyarakat umum, misalnya, isu disabilitas dapat dikaitkan dengan pengalaman yang mungkin dialami siapa saja.
Jalur landai bukan hanya dibutuhkan pengguna kursi roda. Ia juga berguna bagi ibu yang membawa stroller, lansia, ibu hamil atau orang yang sedang mengalami cedera..Dengan cara itu, persoalan aksesibilitas tidak lagi terlihat sebagai persoalan milik kelompok tertentu.
Tiga Detik Pertama
Dalam membangun konten, Rezki juga mengingatkan pentingnya tiga detik pertama."Fokus di tiga detik pertama,” ujarnya. Tiga detik awal menentukan apakah seseorang akan terus menonton atau segera menggulir layar.
Karena itu, pembuat konten dapat membuka video dengan pertanyaan atau persoalan yang dekat dengan audiens. Bukan langsung masuk pada penjelasan panjang, melainkan membuat orang merasa ada sesuatu yang perlu mereka ketahui.
Konten yang baik juga mendorong orang untuk memberikan komentar, menyimpan dan membagikannya. Bagi organisasi difabel, hal tersebut dapat membantu memperluas jejaring. Media sosial dapat menjadi pintu masuk bagi relawan, anggota komunitas, pelanggan maupun masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh kegiatan organisasi. Eksistensi digital kemudian tidak berhenti pada angka pengikut. Ia berkembang menjadi hubungan.
Belajar dari Layar
Jika Rezki berbicara tentang bagaimana penyandang disabilitas dan organisasinya membangun eksistensi, Bramono Adi membawa peserta pada pembahasan lain, yaitu bagaimana dunia digital dapat menjadi ruang belajar. Bramono, praktisi teknologi dan bisnis digital dengan pengalaman lebih dari 11 tahun, mengajak peserta melihat teknologi secara sederhana
Setiap hari orang membuka WhatsApp, mencari informasi melalui Google, menonton YouTube, menggunakan media sosial dan mulai berinteraksi dengan kecerdasan buatan. Pertanyaannya, apakah semua teknologi tersebut hanya digunakan untuk mencari informasi, atau sudah dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan diri? “Teknologi saat ini bisa membantu kita belajar dengan lebih mudah,” kata Bramono.
Pembelajaran digital, menurutnya, tidak lagi harus berlangsung di ruang kelas. Orang dapat belajar melalui video, podcast, artikel, PDF, webinar dan komunitas daring. Belajar bahkan dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Sepuluh atau lima belas menit sehari dapat menjadi waktu untuk mempelajari keterampilan baru. Bramono menyederhanakan proses pembelajaran digital ke dalam tiga langkah, mengakses, mengolah dan membagikan. Pengetahuan yang diperoleh tidak cukup hanya dibaca atau ditonton. Informasi perlu dipahami, diringkas, dibandingkan dan diverifikasi. Setelah itu, pengetahuan dapat dibagikan kepada orang lain.
Ia memberi contoh dalam organisasi. Jika satu anggota telah belajar membuat proposal kegiatan, pengetahuan tersebut tidak seharusnya berhenti pada dirinya. Ia dapat membuat panduan sehingga anggota lain dapat menggunakannya. “Kualitas belajar digital tidak ditentukan oleh alatnya, tetapi oleh bagaimana kita menggunakannya,” ujar Bramono.
Teknologi dan Aksesibilitas
Bramono juga menyinggung kecerdasan buatan yang kini semakin mudah digunakan. AI dapat membantu menjelaskan materi yang sulit, meringkas dokumen, membuat latihan, menyusun kerangka proposal hingga membantu seseorang membuat rencana belajar.
Bagi organisasi difabel, teknologi semacam ini dapat menjadi alat bantu untuk mempercepat pekerjaan. Akan tetapi, teknologi tetap membutuhkan manusia yang mampu memeriksa hasilnya. Informasi yang dihasilkan perlu diverifikasi. Sumber perlu diperiksa. Pengguna tidak dapat menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membuka peluang bagi aksesibilitas.
Subtitle, transkripsi, pembaca layar, perintah suara, pengaturan kontras dan ukuran teks semakin memungkinkan lebih banyak orang mengakses informasi digital. Bagi difabel, fitur-fitur tersebut bukan sekadar tambahan. Ia menentukan apakah sebuah informasi dapat diakses atau justru tertutup.
Bramono mengingatkan peserta untuk tidak mengabaikan keamanan. Data pribadi seperti kata sandi, email, foto KTP dan informasi sensitif lainnya tidak boleh dibagikan sembarangan. Ruang digital dapat menjadi ruang belajar yang luas, tetapi juga memiliki risiko jika digunakan tanpa kehati-hatian.
Dalam sesi tanya jawab, Marcel dari Forum Belarasa Difabel NTT menceritakan pengalamannya sebagai penyandang disabilitas sekaligus jurnalis di Kabupaten Sikka. Ia memiliki media online dengan sekitar 12 ribu pengikut di Facebook. Setelah sempat membuat konten dengan berbagai topik, ia kemudian menemukan fokus pada berita dan peristiwa. Pertumbuhannya terasa ketika konten mulai lebih terarah.
Ada pertanyaan, bagaimana meningkatkan pengikut Instagram, terutama karena akun Instagramnya terhubung dengan Facebook. Rezki menjelaskan bahwa meski kedua platform tersebut berada dalam satu ekosistem, karakter audiensnya berbeda. Konten perlu disesuaikan dengan tempat ia dipublikasikan.
Pertanyaan lain datang dari peserta Yayasan Wiradan Magetan. Ia selama ini aktif mengunggah kegiatan organisasi, seperti musrenbang, bazar dan berbagai kegiatan bersama difabel. Tujuannya sederhana, menunjukkan kepada masyarakat bahwa difabel bukan beban.
Akan tetapi, respons yang datang justru lebih banyak dari sesama difabel. Rezki menjelaskan bahwa persoalan tersebut dapat berkaitan dengan cara algoritma bekerja. Jika konten disabilitas hanya dibicarakan dengan bahasa yang dipahami komunitas disabilitas, orang-orang yang paling mudah merasa terhubung memang mereka yang memiliki pengalaman serupa. Karena itu, isu difabel perlu dijembatani dengan kehidupan masyarakat umum. Ia kembali menggunakan contoh jalur landai. (Ast)


