Pembicaraan tentang laki-laki dan perempuan sering kali dimulai dari sesuatu yang dianggap sederhana, otak. Dari sana muncul berbagai kesimpulan tentang siapa yang dianggap lebih rasional, lebih emosional, lebih pandai membaca situasi, atau lebih mampu mengendalikan diri.
Buku, media sosial, bahkan percakapan sehari-hari ikut membuat anggapan itu semakin akrab. Laki-laki disebut memiliki otak yang berbeda dengan perempuan. Perempuan dianggap lebih menggunakan perasaan, sementara laki-laki diposisikan sebagai makhluk yang lebih logis.
Dalam sebuah sesi diskusi yang digelar Aliansi Laki-laki Baru bersama Magdalene, dan dipandu oleh Ghevin Agung Nugroho via zoom meeting pada Rabu (16/9), Trisa Triandesa mengajak peserta melihat kembali anggapan tersebut melalui perspektif neurosains.
Menurut Trisa, persoalan otak manusia jauh lebih rumit daripada pembagian sederhana antara otak laki-laki dan otak perempuan. Neurosains sendiri merupakan bidang yang bersinggungan dengan banyak disiplin ilmu, mulai dari biologi, kedokteran, psikologi, psikiatri, fisika, kimia hingga ilmu sosial. Ia juga membedakan neurosains dengan neurologi. Neurologi merupakan cabang kedokteran yang berfokus pada diagnosis dan penanganan penyakit sistem saraf. Sementara neurosains memiliki cakupan lebih luas dan tidak hanya dipelajari oleh dokter.
Bagi Trisa, memahami otak berarti memahami manusia sebagai sesuatu yang terus berkembang dan dipengaruhi pengalaman.
Salah satu hal yang dibicarakan adalah anggapan mengenai perbedaan ukuran otak laki-laki dan perempuan. Secara rata-rata, volume otak laki-laki memang lebih besar. Perbedaannya berkaitan terutama dengan ukuran tubuh. Perbedaan ukuran tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan kecerdasan atau kemampuan seseorang.
Di antara manusia juga terdapat banyak sekali tumpang tindih karakteristik otak. Karena itu, perbedaan individual justru penting untuk diperhatikan. "Perbedaan individual itu lebih besar daripada perbedaan jenis kelamin," kata Trisa.
Pandangan tersebut menjadi penting ketika pembicaraan bergeser pada emosi. Selama bertahun-tahun, laki-laki dibesarkan dengan pesan bahwa menangis adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Mereka diminta kuat, mandiri dan mampu menyelesaikan masalah sendiri. Pesan semacam itu dapat muncul sejak masa kanak-kanak. Anak laki-laki yang menangis bisa mendapatkan teguran. Lama-kelamaan, sebagian anak belajar bahwa menunjukkan kesedihan merupakan sesuatu yang harus disembunyikan.
Trisa melihat bahwa kebiasaan tersebut tidak muncul karena laki-laki secara biologis tidak memiliki emosi. Kemampuan merasakan emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia. Cara seseorang mengenali, menyebutkan dan mengekspresikan emosi banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidup, lingkungan keluarga, budaya serta norma sosial.
Persoalan ini juga berhubungan dengan kesehatan mental laki-laki. Dalam diskusi tersebut, Trisa membahas kecenderungan laki-laki lebih jarang mencari pertolongan untuk persoalan emosional, sementara angka kematian akibat bunuh diri pada laki-laki tercatat lebih tinggi dibanding perempuan dalam berbagai data kesehatan global. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu penyebab. Norma maskulinitas, stigma, kemampuan mengenali emosi dan akses terhadap dukungan ikut berperan.
Laki-laki yang sejak kecil terbiasa menyimpan perasaan bisa mengalami kesulitan ketika harus menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Kesulitan mengenali dan memberi nama pada emosi dikenal dengan istilah alexithymia. Trisa menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menemukan hubungan antara kesulitan regulasi emosi dengan berbagai persoalan psikologis. Hubungan tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas dan bukan sebagai hubungan sebab-akibat yang sederhana.
Karena itu, kemampuan mengatakan "saya sedang sedih", "saya takut", "saya kecewa" atau "saya marah" menjadi penting.
Memberi nama pada emosi bukan berarti seseorang kehilangan kendali. Justru dari pengenalan tersebut seseorang dapat mulai memahami apa yang sedang dialami dan mencari langkah yang sesuai.
Trisa juga mengingatkan bahwa respons tubuh terhadap emosi melibatkan banyak bagian otak. Amygdala, hippocampus, thalamus dan bagian-bagian korteks bekerja dalam sistem yang saling terhubung. Tidak tepat jika satu bagian otak diperlakukan sebagai pusat tunggal dari sebuah perilaku manusia. Reaksi seseorang terhadap rasa takut, misalnya, juga dipengaruhi konteks dan pengalaman sebelumnya. Sensasi tubuh yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi tertentu dapat ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa manusia tidak bekerja seperti mesin dengan tombol yang selalu menghasilkan respons sama.
Pembahasan kemudian masuk pada kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang dekat adalah pekerjaan domestik. Ada anggapan bahwa laki-laki kurang pandai memasak, menjahit, mengasuh anak atau mengurus rumah karena otaknya memang tidak dirancang untuk pekerjaan tersebut. Bagi Trisa, anggapan itu tidak memiliki dasar sederhana.
Memasak merupakan keterampilan. Menjahit merupakan keterampilan. Mengurus anak juga membutuhkan keterampilan. Semua dapat dipelajari melalui pengalaman dan latihan.
Ia menceritakan pengalaman dalam keluarganya ketika anak laki-laki dan perempuan sama-sama belajar melakukan pekerjaan rumah. Dari pengalaman tersebut, ia belajar memasak, menyetrika dan menjahit. Menurutnya, pengalaman seperti itu merupakan sebuah privilese karena tidak semua anak tumbuh dalam lingkungan yang memberikan kesempatan yang sama.
Di sinilah konsep neuroplastisitas menjadi relevan. Otak manusia dapat berubah melalui pengalaman, pembelajaran dan latihan. Kemampuan bukan sesuatu yang selalu selesai sejak seseorang lahir. Ketika seorang anak laki-laki tidak pernah diberi kesempatan memasak karena dianggap pekerjaan perempuan, ia mungkin tumbuh tanpa keterampilan tersebut. Penyebabnya bukan karena otaknya tidak mampu memasak. Ia hanya tidak mendapatkan kesempatan belajar.
Pandangan serupa dapat digunakan untuk memahami kerentanan laki-laki. Norma yang meminta laki-laki selalu kuat dapat membuat sebagian laki-laki mencari jalan lain ketika kesulitan mengelola emosi. Kemarahan, perilaku berisiko atau penggunaan zat dapat muncul sebagai bentuk ekspresi yang berbeda. Trisa menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu biaya dari maskulinitas yang kaku.
Ia juga mengajak peserta melihat kerentanan bukan sebagai kelemahan. Meminta bantuan bukan berarti kehilangan kendali atas kehidupan. Bantuan dapat datang dari psikolog, teman, keluarga atau ruang aman yang memungkinkan seseorang berbicara tanpa takut dihakimi.
Ruang semacam itu, menurut Trisa, perlu diperbanyak. Ia mencontohkan kelompok ayah yang bertemu, melakukan aktivitas bersama dan membicarakan pengalaman menjadi orang tua. Pertemuan semacam itu dapat menjadi ruang bagi laki-laki untuk membicarakan hal-hal yang selama ini sulit mereka ungkapkan.
Pembicaraan tentang gender juga tidak berhenti pada pengalaman laki-laki. Dalam diskusi, muncul pertanyaan mengenai bagaimana menghadapi anggapan bahwa laki-laki merupakan korban terbesar karena mereka dibatasi untuk menunjukkan emosi. Trisa mengakui bahwa sistem peran gender yang kaku dapat merugikan laki-laki. Pada saat yang sama, perempuan juga mengalami dampak dari norma gender yang membatasi.
Ia mencontohkan kekerasan seksual. Laki-laki juga dapat menjadi korban dan hak atas persetujuan berlaku bagi siapa pun, tanpa bergantung pada jenis kelamin. Menurut Trisa, pembicaraan mengenai keadilan gender tidak harus berubah menjadi perlombaan tentang siapa yang paling menderita. Yang perlu dilihat adalah bagaimana norma sosial dapat menciptakan kerugian bagi manusia yang berbeda.
Pertanyaan lain membawa diskusi pada perkembangan komunitas daring yang menggunakan istilah ilmiah atau psikologi populer untuk membenarkan pandangan tertentu mengenai laki-laki dan perempuan. Trisa mengajak peserta tidak langsung menerima klaim yang terdengar ilmiah. Informasi perlu diperiksa, terutama ketika penelitian dipotong dari konteksnya lalu digunakan untuk membenarkan stereotip.
Ia juga mengajak peserta membangun empati. Ketika seseorang berbicara mengenai perempuan sebagai objek, misalnya, peserta dapat mengajak orang tersebut membayangkan apakah ia rela orang-orang yang dekat dengannya diperlakukan dengan cara yang sama. Empati menjadi pintu untuk melihat manusia sebagai manusia, bukan sebagai kategori yang harus ditaklukkan atau ditempatkan dalam hierarki tertentu.
Dalam diskusi tersebut, muncul pula pertanyaan tentang neurodivergensi. Trisa mengingatkan bahwa banyak penelitian menggunakan kelompok partisipan tertentu sehingga hasil penelitian tidak otomatis berlaku untuk semua orang. Setiap otak memiliki perjalanan yang berbeda. Pengalaman sosial, budaya, kondisi ekonomi, pendidikan dan lingkungan turut membentuk manusia.
Karena itu, tidak ada satu resep yang bisa diterapkan kepada semua orang. Pesan tersebut membawa pembicaraan kembali pada gagasan awal. Otak laki-laki dan perempuan tidak dapat dipahami melalui kotak-kotak sederhana. Ada perbedaan biologis tertentu. Ada pula pengaruh hormon dan kondisi tubuh. Siklus hormonal dapat memengaruhi suasana hati, tetapi hal itu tidak berarti kemampuan berpikir atau kecerdasan seseorang dapat ditentukan hanya berdasarkan jenis kelamin.
Yang sering luput justru pengalaman manusia setelah lahir. Anak belajar dari keluarga. Mereka belajar dari sekolah, lingkungan pertemanan, media dan masyarakat. Seorang anak laki-laki belajar bahwa ia boleh menangis ketika lingkungan memberinya ruang untuk menangis. Ia juga dapat belajar bahwa meminta pertolongan merupakan sesuatu yang wajar ketika orang-orang di sekitarnya menunjukkan bahwa bantuan bukan tanda kegagalan.
Begitu pula anak perempuan. Ia dapat belajar memasak, memimpin, mengambil keputusan dan mengembangkan kemampuan lain tanpa harus dibatasi oleh anggapan mengenai apa yang disebut pekerjaan perempuan.
Trisa berharap pembicaraan mengenai otak tidak lagi digunakan untuk mengurung manusia dalam stereotip. Bagi dia, pengetahuan tentang otak justru dapat membuka kemungkinan. Manusia dapat belajar, berubah, dan dapat membangun kebiasaan baru. Pembicaraan tentang otak akhirnya menjadi pembicaraan tentang kehidupan sehari-hari. Tentang anak yang diajari menahan tangis. Tentang laki-laki yang merasa harus selalu kuat. Tentang perempuan yang dibatasi oleh stereotip. Tentang orang-orang yang membutuhkan ruang aman untuk berbicara.
Dan tentang satu hal yang sering terlupakan ketika manusia terlalu sibuk mencari perbedaan, bahwa setiap orang membawa otaknya sendiri, pengalaman sendiri dan cerita yang tidak sepenuhnya bisa dimasukkan ke dalam kotak laki-laki atau perempuan. ? (Ast)


