Gaya Hidup

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Selasa malam ( 14/7) sebuah ruang diskusi secara daring helatan Esensi dan Komunitas Orangtua Hebat digelar dan dipenuhi para orang tua yang datang dengan pertanyaan yang sama, bagaimana menjadi tempat paling aman bagi anak-anak mereka. Di tengah derasnya informasi tentang kesehatan mental, satu hal kembali ditekankan dalam forum tersebut, tidak ada satu penyebab tunggal yang membuat seseorang mengalami gangguan mental. Namun, keluarga memiliki peran yang sangat besar sebagai tempat pertama yang dapat melindungi sekaligus mendukung proses pemulihan.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Ruang-ruang pelayanan Posyandu selama ini identik dengan penimbangan balita, imunisasi, atau pemantauan kesehatan ibu hamil. Namun, di balik perubahan sistem layanan kesehatan masyarakat, peran kader kini berkembang jauh melampaui urusan kesehatan fisik. Mereka juga dipersiapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental masyarakat.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Suasana kelas daring Kamis malam (9/7/2026) diawali dengan kejutan kecil, Adjie Santosoputro, biasa dipanggil Adjie, yang selama sekitar sepuluh tahun dikenal berambut panjang, kini tampil dengan rambut pendek. Penampilannya yang berbeda membuat sebagian peserta mengaku pangling. Dengan santai ia menyapa peserta, memperkenalkan diri, sekaligus membuka sesi yang menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran kesadaran yang rutin diselenggarakan setiap dua pekan.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Sebagai warga negara Indonesia, penyandang disabilitas memiliki potensi yang harus dimaksimalkan, termasuk di sektor digital dalam menghadapi era digital yang tidak bisa dihindarkan. Hal ini ditegaskan Abdurahman Hamas Nahdly, selaku Direktur Program Siberkreasi Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam pengantar Literasi Digital Inklusi Disabilitas di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Kamis (20/7).

"Terlepas dari dinamika yang ada, peluang dan tantangan bagi disabiitas di era digital harus dihadapi. Dengan berbekal potensi-potensi yang dimiliki kaum disabilitas sekirnya mampu dimaksimalkan oleh semua pihak. Siberkreasi kementerian Kominfo mengawal dan memastikan hak-hak tersebut dan mendampingi pelaksanaan dari kebijakan pemerintah" terang Hamas.

Acara yang diselenggarakan oleh Difapedia dengan bekerja sama dengan UKM Peduli Difabel UGM dan didukung Siberkreasi ini dihadiri oleh 124 peserta,r 98 di antaranya adalah disabilitas. Difapedia adalah lembaga yang berfokus pada advokasi dan pemberdayaan difabel yang salah satu concernnya di sektor digital.

Dalam sambutannnya,  M. Karim Amrullah yang mewakili Difapedia menegaskan bahwa harus ada keterlibatan aktif dari disabilitas untuk kemajuan di sektor digital. Oleh karena itu, perlu membangun kesepahaman bahwa semua warga negara Indonesia harus terlibat aktif di dalamnya.

"Kami juga mengapresiasi kepada difapedia yang sudah mengadakan acara ini. Dengan acara ini dapat menjadikan momentum bagi disabilitas agar lebih mandiri dan memperluas dalam usaha" terang Mugiarto, perwakilan UGM dalam sambutan terpisahnya.

Workshop dengan tema "Mewujudkan penyandang disabilitas yang mandiri dan berdaya melalui tranformasi digital yang inklusif” ini menghadirkan dua praktisi konten kreator dan marketplace, yakni Weliyan Tanoyo dan Lalu Bintang Wahyu Putra.

Weliyan Tanoyo, praktisi marketplace memaparkan materi tentang "Manajemen Marketplace dan Optimalisasi Penjualan bagi Pelaku Usaha Diabilitas". Sedangkan Lalu Bintang Wahyu Putra menyampaikan materi "Media Sosial sebagai Alat Juang Difabel".

"Acaranya sangat baik. Harapan kami workshop ini ditindaklanjuti dengan pelatihan-pelatihan bagi penyandang disabilitas" kata Dwi, salah satu peserta disabilitas rungu. (ast)

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Perjuangan tentang keadilan dan kesetaraan gender di dunia yang  patriarki adalah  sangat sulit. Wacana itu terlebih lahir saat dikemukakan dengan perspektif agama yakni Katolik, namun Nunuk Prasetyo Murniati begitu tegar ketika menyampaikan pemikirannya terkait  prinsip keadilan dan kesetaraan gender.  Demikian dikatakan oleh Bambang Muryanto selaku moderator saat membuka diskusi buku biografi Nunuk Prasetyo Murniati karya Masthuriyah Sa'dan di Institut DIAN/Interfidei. Acara ini juga disiarkan oleh kanal YouTube Interfidei. 

Masthuriyah sebelumnya  sudah  menulis tiga buku salah satunya tentang transgender. Lalu ia menulis sosok Nunuk, seorang teolog tingkat Indonesia bahkan dunia dan  akademisi di kampus berbasis Katolik. Nunuk juga penulis 32 judul buku dan jurnal, aktivis, pendamping  dan konselor. Karena secara budaya ia masih dikultuskan sebagai perempuan, istri dan ibu, pada diri Nunuk Murniati, ia perempuan yang utuh.

Masthuriyah membagikan pengalaman pertama kali saat masuk ke gereja yakni pada tahun  2014 dan waktu itu bersama Nunuk. Salah satu alasan  menulis tentang Nunuk karena ada ikatan batin. Tujuannya menulis adalah untuk  mendokumentasi pengetahuan perempuan karena buku-buku tentang pengetahuan perempuan saat ini sangat minim.

"Saya ingin memperkenalkan kepada generasi muda. Komunitas saya orang Madura belum tentu kenal Bu Nunuk. Laku hidupnya agar bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda feminis. Agar sejarah peradaban manusia Indonesia tidak lapuk. Sebagai salah satu cara media keadilan dan kesetaraan perempuan,"ujar Masthuriyah. Ia menambahkan jika aktivis yang aktif menulis selama ini tidak dianggap padahal aktivitas menulis itu juga aktif.

Setelah persetujuan untuk  menulis diiyakan, Masthuriyah kemudian  mengajukan kerangka dilanjut wawancara dengan durasi 2-3 jam. Ini jadi  tantangan buatnya  sebab wawancara dilakukan sebanyak 13 kali mulai Desember  2021 hingga  Juni 2022.

Terkait penggalian data, hampir tulisan tulisan Nunuk tahun 1970 mengkritik otoritas gereja. Ia kemudian meminta izin kepada para leluhur yang bisa ia katakan sebagai metode ruhani untuk menyampaikan maksud. Ia juga melakukan mewawancarai teman/informan sebanyak 12 orang .

Metode penulisan buku dengan memakai kata ganti "saya" dengan maksud  agar pembaca bisa lebih mendalami tulisan itu secara khusus seolah-olah tokohnya yang bicara. Penulis dengan tokok serasa dekat. Naskah penulisan juga diserahkan ke tokoh untuk  perbaikan.  Total lama waktu yang dibutuhkan oleh Masthuriyah untuk  menuliskan buku ini sekitar 18 bulan.

Sistematika penulisan diawali dengan  membikin pohon keluarga yang ternyata Nunuk masih memiliki darah Diponegoro. Ketika Masthuriyah menulis Bab 8, ia ingin ada kontributor  dari tokoh agama katolik namun tokoh yang diincarnya kurang berkenan sebab terkait kesetaraan, masih belum ada perspektif  di  Teolog Katolik.

Menutup sesinya, Masthuriyah mengatakan untuk menghadirkan buku ini tidaklah  mudah sebab menggunakan dana mandiri dan dicetak terbatas. Laba dari penjualan dari buku tokoh multidimensi ini akan digunakan untuk kegiatan sosial.

Listia Suprobo, Dosen UGM yang hadir dalam diskusi menyatakan bahwa terbitnya buku biografi Nunuk P. Murniati adalah sebuah prestasi karena  penulis dengan latar belakang yang berbeda berhasil menerbitkan satu buku. Artinya perbedaan identitas bukan penghalang ketika visi itu bertemu. Masthuriyah dan Nunuk sama-sama suka ziarah kubur. Buku ini menurutnya adalah pernyataan bahwa sebagian gerakan perempuan dan  masalah- masalah kemanusian lainnya tidak dapat diidentifikasi oh ini urusan Katolik, maka urusan Katolik begitu dan itu bagian Islam, maka bagian Islam  adalah begini. Masalah kemanusiaan tidak bisa lagi di kapling-kapling itu jadi urusan ini, itu jadi urusan siapa.

Kedua, Nunuk memberikan tema, bahwa feminisme itu tidak satu alias tidak tunggal.

Bahwa ada tanggapam soal Nunuk mencium tangan Paus, atau saat Nunuk menangis dan menimbulkan satu pemikiran, "feminis kok nangis". Melihat perkembangan feminisme, menurut Listia maka mereka  memiliki perkembangan konteks masing-masing. Dalam hal ini konteks masyarakat sekuler dan relijius ternyata berbeda. Mau tidak mau itu harus  diakui sebagai keragaman. Bahwa di sini ada keragaman dan harus  di-highlight dalam rangka menjaga persatuan.

Sementara feminisme yang berkembang di Indonesia dianggap itu bukan hal penting. Padahal yang  suci diturunkan dan hal nilai dan norma. Meskipun itu semua memiliki tujuan ingin memutus jejaring kekuasaan yang sentris. Ada perbedaan yang harus diterima. Salah satunya juga ketika Masthuriyah  minta izin penulisan buku ini sampai naik gunung untuk berziarah kepada leluhur Nunuk.  Cara ini bisa dianggap tidak masuk akal jika dilihat dari filsafat moderen. Namun dalam kajian ilmiah, itu bisa didiskusikan.

 

Feminis adalah "Berani"

Mengawali cerita, Nunuk mengatakan bahwa feminis di waktu ia masih  muda diartikan dengan 'berani". Saat usianya  8 tahun ia memiliki  tetangga namanya Mbok Sastro. Ia sering melihat Mbok Sastro dipukuli oleh suaminya sampai berdarah-darah namun diam saja. Tidak ada yang membantu lalu Nunuk keluar rumah dan namanya dipanggil.

Menurut Nunuk, ternyata dalam agama ada kesadaran perempuan ada pandangan misoginis bahwa laki-laki lebih superior dari inferior. Ia menyebut dalam agama Katolik ada second sex. Ia mengajar teologi feminis dan tahu bahwa ada perbedaan, tetapi masalahnya  mengapa dibeda-bedakan.

Waktu Nunuk mengajar di seminari ada pastor menyuruh mahasiswa yang diampunya untuk menulis dan itu berat apalagi terkait bahwa laku mistik itu ada. Dalam hal ini mistik itu terjadi. "Ilmu pengetahuan itu mengabaikan misteri. Misteri itu ada,"terang Nunuk. (Ast)

 

 

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Candra Gunawan,  Ketua Perkumpulan Tuli Buta (Pelita) masih dalam kesempatan diskusi pemutaran film "Sejauh Kumelangkah" di LetssTalk_Sexualities edisi Special Forum #58 mengatakan bahwa film tersebut bagus sekali dan ia berharap dengan adanya film yang diambil dari pengalaman penyandang disabilitas ini masyarakat jadi lebih memahami bahwa disabilitas memiliki harapan dan cita-cita sama dengan non disabilitas.

Masukan lebih banyak lagi supaya film  diangkat langsung dari kisah nyata disabilitas  terutama disabilitas ganda tuli buta seperti dirinya. Karena sampai sekarang masyarakat Indonesia belum memahami tentang disabillitas ganda. Mungkin baru tahu tentang keberadaan disabilitas tuli buta. Masyarakat akan tahu bagaimana masyarakat berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka masyarakat tuli buta dengan wahana film. Candra Gunawan lewat organisasi Pelita  sebenarnya  memiliki harapan dan cita-cita sama dengan teman disabilitas lainnya untuk memberikan sesuatu yang berharga bagi bangsa indonesia

Sementara itu Aria Indrawati, Ketua Umum Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) menyatakan dalam diskusi, ketika ia  tahu Ucu Agustin akan membuat film tentang kehidupan remaja disabilitas netra sebagai sesama disabilitas netra ia senang karena sesuatu yang jarang ditampilkan, baik sebagai apa pun yakni film dokumenter maupun fiksi. Aria melihat angle film ini adalah persahabatan dua remaja netra yang kemudian mereka terpisah, satu tinggal di Amerika  dan di Indoneaia mengikuti orangtua. Tapi di balik itu banyak sekali pesan.

Dikatakan sebelumnya bahwa secara pribadi Ucu punya pesan melalui film ini bahwa ia sebagai produser dan pencipta film  membebaskan penonton terkait pesan apa pun di film ini. Pesan di balik itu, bagi Aria  yang berkecimpung di dunia pendidikan dan pemberdayaan disabilitas netra bahwa kondisi anak- anak disabilitas  netra di Indonesia, yang  disaksikan pada film tersebut adalah yang tinggal di  Jakarta. Lalu bagaimana dengan Aceh, Manokwari, Biak,  Sambas  Kalimantan, atau  Halmahera? Ia  berharap itu menjadi referensi bagi semua. Siapa pun dalam kapasitas apapun, ia berharap itu menjadi pesan terhadap kondisi pendidikan netra di Indonesia.

Tuli dan buta saja seperti yang dialami Salsa untuk komunikasinya sudah diangkat  apa belum, bahwa disabilitas ganda Tuli dan Buta membutuhkan akomodasi yang berbeda dengan Tuli. "Pesan positif bahwa ayo kita mengambil peran bersama sama. Saya akan lalukan itu dengan bisa memberikan solusi sebisa saya, sebagai bagian masyarakat Indonesia saya akan  mengambil peran untuk mengatasi ini dengan kapasitas yang saya miliki,"tandas Aria.

Sedangkan Andi Kasri Unru biasa dipanggil Akas, aktivis Tuli, founder Indonesia Deaf-Hard of Hearing Law and Advokasi/Idhola mengatakan  banyak teman Tuli memiliki pendidikan yang baik. Ada guru yang mengajarkan dengan verbal dan bahasa isyarat. Ia membandingkan pengalamannya dan di kampung asalnya. Di Kota Makasaar awalnya tidak bisa berbahasa isyarat dan tidak memahami budaya Tuli. Di situ penting sekali untuk edukasi sehingga guru harus bisa mengajarkan anak Tuli bagaimana mengajarkan anak-anak Tuli sehingga ia bisa memahami. Bagaimana cara berkomunikasi yang tepat bagi anak-anak Tuli. Teman-teman Tuli banyak yang bercerita kepadanya kalau ketika guru mengajarkan kepada mereka dengan cara membelakangi atau tidak berhadapan. Ada juga yang bilang gurunya tidak bisa berisyarat, baik SIBI maupun Bisindo. Kalau di kampung atau desa biasanya pakai bahasa daerah dan bikin lebih berat lagi.

Akas mendampingi anak Tuli yang kebetulan ia temui di kampung dari dia sekolah di kampung dan sekarang kuliah semester 5-6. Ia sangat senang dan bangga karena anak itu merasa " oh,  saya bisa ya masuk kuliah dan anak-anak Tuli seperti saya bisa mendapatkan suatu bimbingan."

Ketika smp kelas 2, tahun 2017. Akas mengajarkannya bahasa  isyarat dan juga orangtuanya untuk bisa mendorong  supaya bisa kuliah. Lain hal, kampus hanya mau menerima anak PLB. Jadi inilah bukti perbedaan pendidikan di desa dan kota. Kalau mau membandingkan tidak harus Amerika. Di Indonesia antara kota dan desa sudah beda.(Ast)


 
Add a comment