Pemutaran film Istimewa pada Kamis, 13 Agustus, di Solo, tidak sekadar menjadi agenda skrining sebuah film drama. Produsen film ini memiliki kedekatan dengan kisah di dalamnya dengan membawa cerita tentang keluarga, perjuangan, kehilangan, sekaligus kesempatan bagi difabel untuk tampil sebagai pelaku utama dalam sebuah karya sinema.
Film tersebut diangkat dari kisah nyata kehidupan seorang ayah yang merawat enam anak difabel. Anak-anak itu datang dengan latar belakang berbeda. Sebagian pernah ditinggalkan atau ditolak keluarganya, sementara yang lain kehilangan orang tua. Sang ayah kemudian membawa mereka tinggal bersama dalam sebuah rumah yang disebut sebagai “Rumah Istimewa”. Dari rumah itulah cerita berkembang.
Kehidupan mereka tidak selalu berjalan mudah. Persoalan ekonomi menjadi bagian dari keseharian. Dalam salah satu bagian cerita, dengan diam-diam, mobil milik sang ayah harus dijual untuk membayar kontrakan rumah. Situasi semakin berat ketika sang Ayah harus menjalani perawatan di rumah sakit karena penyakit kanker.
Kondisi itu membuat anak-anak harus menghadapi kenyataan baru. Tokoh kakak perempuan mengambil peran penting menjaga adik-adiknya agar tetap bertahan dan tinggal di rumah tersebut. Namun, ketika mereka berusaha mencari sang ayah yang sedang dirawat di kota, persoalan justru berkembang ke arah yang tidak mereka duga.
Dalam perjalanan itu, anak-anak tersebut bertemu dengan sebuah kelompok hiburan. Mereka semula melihat kesempatan bekerja sebagai penghibur, seperti pertunjukan di pasar malam atau hiburan keliling. Namun, tawaran tersebut ternyata menyimpan jebakan. Mereka berhadapan dengan situasi ketika manusia diperlakukan sebagai komoditas dan berpotensi diperjualbelikan.
Pencarian terhadap sang ayah pun berubah menjadi perjalanan menghadapi berbagai persoalan.
Film Istimewa tidak sepenuhnya memilih jalur drama yang muram. Di antara rangkaian konflik dan peristiwa yang menyedihkan, muncul adegan-adegan ringan dan komedi. Pilihan tersebut membuat cerita tidak bergerak dalam satu nada emosional saja.
Dari Rumah Istimewa ke Layar Lebar
Abdullah Mansuri, yang akrab disapa Pak Mansuri atau Ayah Mans, produsen dari rumah produksi Kairos Pictures (atau Kairos Film) mengatakan cerita film tersebut berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri sebagai seorang ayah. Kisah yang sebelumnya hadir dalam kehidupan nyata kemudian dikembangkan menjadi cerita film.
Ia menyebut kini memiliki ribuan anak yang berada dalam jaringan rumah atau komunitas yang dibangun dari gagasan “Rumah Istimewa”. Jumlahnya, menurut dia, telah mendekati 5.000 anak di berbagai daerah di Indonesia.
“Ini kisah nyata dan itu terjadi pada diri saya sebagai ayah dari film ini,” ujarnya dalam kesempatan setelah pemutaran.
Gagasan Rumah Istimewa sendiri mengalami perkembangan. Apa yang semula hanya berupa sebuah rumah kemudian berkembang menjadi jaringan yang lebih luas. Dalam cerita film, pengalaman anak-anak yang pernah ditinggalkan keluarganya menjadi salah satu sumber utama narasi.
Ia menjelaskan bahwa proses produksi film tidak sederhana. Tantangan terutama muncul karena sebagian besar pemainnya adalah difabel. Tim produksi harus mempertimbangkan kondisi pemain, termasuk jarak antara lokasi pengambilan gambar dan tempat mereka beristirahat.
Syuting dilakukan di tiga wilayah, yakni Bogor, Jakarta, dan satu lokasi lainnya. Pemilihan lokasi mempertimbangkan akses dan kemampuan tim menjaga kondisi para pemain.
Keterlibatan difabel sebagai pemain bukan sekadar keputusan artistik. Bagi tim produksi, kehadiran mereka sekaligus menjadi bagian dari pesan film. Para pemain tidak ditempatkan hanya sebagai latar untuk menguatkan cerita orang lain. Mereka memainkan karakter, menghadapi konflik, membangun relasi, sekaligus menunjukkan kemampuan di depan kamera.
Mansuri mengatakan gagasan film tersebut juga berkembang dari cerita yang sebelumnya ditulis oleh salah satu anaknya. Beberapa kisah yang dialami anak-anak di Rumah Istimewa kemudian menjadi bagian dari sumber cerita. Karakter-karakter dalam film pun memiliki pijakan pada pengalaman nyata. Salah satunya adalah kisah seorang anak yang dahulu hanya berani mengunci diri di kamar dan tidak berani keluar rumah. Perjalanan hidupnya kemudian berubah.
Rumah yang dahulu hanya menjadi tempat tinggal berkembang menjadi simbol ruang aman bagi anak-anak yang pernah kehilangan tempat untuk pulang.
Ia juga menambahkan bahwa biaya produksi film mencapai sekitar Rp13 miliar, termasuk promosi. Film tersebut direncanakan mulai tayang pada 17 September. Setelah penayangan di Indonesia, tim produksi juga memiliki rencana membawa film tersebut ke luar negeri.
Film sebagai Ruang Inklusi
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, dalam sambutan sebelum pemutaran, menempatkan film Istimewa dalam konteks yang lebih luas yakni upaya membangun kota yang memberikan akses setara bagi difabel. Ia menyambut kehadiran komunitas difabel, komunitas film, akademisi, film reviewer, konten kreator, dan influencer dari Solo Raya.
Menurut dia, semangat inklusi tidak semestinya berhenti pada pendidikan, pelatihan, atau layanan publik. Kebudayaan dan ruang kreatif juga harus menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Bagaimana kami bisa memberikan akses yang sama, no one left behind, tidak ada satu pun yang tertinggal,” katanya.
Film, menurut Astrid, menjadi salah satu medium yang efektif untuk menyampaikan gagasan tersebut. Masyarakat luas dapat melihat difabel bukan hanya sebagai kelompok yang membutuhkan bantuan, tetapi sebagai individu yang memiliki kemampuan dan potensi.
Sebaliknya, difabel juga didorong untuk semakin percaya diri menunjukkan kemampuan mereka. “Ada yang ternyata pintar main film,” ujarnya, merujuk pada para pemain Istimewa. Ia berharap film semacam itu dapat memperluas ruang bagi penyandang disabilitas di bidang seni dan budaya.
Pesan itu menemukan bentuk konkretnya dalam film. Para pemain difabel tidak hanya hadir untuk “mewakili” kelompok difabel. Mereka benar-benar memainkan karakter yang menjadi pusat cerita.
Ketika Film Mengingatkan pada Ayah
Bagi Hermin, salah seorang penonton, film Istimewa memiliki kedekatan personal. Cerita tentang seorang ayah yang menjadi penguat kehidupan anak-anak membuatnya teringat pada sosok ayahnya sendiri.
Sejak kecil hingga dewasa, kata dia, sang ayah menjadi orang yang terus memberikan dukungan. Ia juga tidak pernah membedakannya dengan saudara-saudaranya yang lain.
Ada satu kalimat dari ayahnya yang terus diingatnya, bahwa dirinya tidak berbeda dengan orang lain dan karena itu tidak perlu merasa berbeda. Pesan tersebut membuat pengalaman menonton film Istimewa menjadi lebih emosional baginya.
Ia menangis ketika film berjalan, bukan semata karena alur ceritanya, tetapi karena film itu membawanya kembali pada ingatan tentang ayah. Pengalaman Hermin menunjukkan bahwa kekuatan film tidak selalu terletak pada seberapa sempurna sebuah cerita dibangun. Ada kalanya sebuah film bekerja melalui ingatan personal penontonnya.
Lain cerita Ami, salah seorang penonton juga. Bagi Ami, film tersebut juga memiliki nilai penting karena dapat membantu mengurangi stigma terhadap difabel. Sementara sejumlah penonton memberikan catatan terhadap detail cerita dan kesinambungan adegan, mereka tetap melihat pesan utama film sebagai sesuatu yang penting.
Di titik itu, film Istimewa memiliki dua wajah. Ia adalah sebuah drama keluarga yang berusaha menyentuh emosi penonton, tetapi sekaligus menjadi upaya membuka ruang representasi bagi difabel dalam industri film Indonesia.
Namun, sejumlah penonton juga memberikan catatan terhadap beberapa bagian film. Tatik, salah seorang penonton, misalnya, mempertanyakan konsistensi waktu dan latar dalam cerita. Ia menilai ada bagian yang terasa memiliki jarak waktu cukup panjang, tetapi perubahan usia atau kondisi tokoh tidak selalu tergambarkan secara meyakinkan.
Catatan lain datang dari Katrin. Ia menyoroti detail kontinuitas dalam beberapa adegan, terutama ketika tokoh melakukan perjalanan dan pencarian dalam waktu cukup lama. Kondisi pakaian dan penampilan tokoh dinilai kurang menggambarkan perjalanan yang sudah berlangsung berhari-hari.
“Kadang, orang kok begini,” menjadi kesan yang muncul dari pengamatannya terhadap beberapa bagian film yang dianggap kurang detail.
Meski demikian, kritik tersebut tidak menghilangkan perhatian utama yang dibawa film, bagaimana difabel ditempatkan sebagai manusia dengan kehidupan, konflik, kemampuan, dan pilihan mereka sendiri.
Film ini mengingatkan bahwa cerita tentang difabel tidak harus selalu berhenti pada kisah penderitaan. Ada keluarga, persahabatan, pekerjaan, kelucuan, konflik, kemampuan, bahkan cita-cita di dalamnya. Film Istimewa juga menampilkan ketika difabel berkreasi membentuk kelompok komedi adalah sebuah kewajaran. Dengan alur cerita yang sulit ditebak, kiranya film ini berusaha menyuguhkan skenario yang tidak tanggung-tanggung.
Dan yang tidak kalah penting, ada manusia yang selama ini sering hanya hadir sebagai objek cerita, tetapi kali ini berdiri di depan kamera sebagai pemeran utama.
Dari Rumah Istimewa, kisah itu kemudian bergerak ke layar lebar. Harapannya sederhana yakni semakin banyak ruang yang terbuka, semakin sedikit alasan bagi penyandang disabilitas untuk disisihkan dari dunia seni, budaya, dan kehidupan sosial.
Film Istimewa mencoba membuka pintu itu. (Ast)


