Lampu panggung menyala. Seorang perempuan berdiri di hadapan penonton. Ia berdandan, memoles bibirnya dengan lipstik, lalu bertanya kepada para “tuan” apakah penampilannya malam itu sudah cukup layak untuk menggoda.
Namanya Vivienne.
Ia perempuan blasteran Belanda-Jawa yang hidup di antara dua identitas. Di satu sisi, ada ayahnya, seorang insinyur waterstaat dari keluarga berada. Di sisi lain, ada ibunya, perempuan Jawa yang menjadi nyai. Ia tumbuh dalam rumah yang mempertemukan dua dunia: kolonial dan Jawa. Tetapi malam itu Vivienne tidak sedang bercerita tentang dirinya semata. Ia sedang membuka luka sebuah zaman.
Di dalam monolog "Bersiap", Vivienne mengingat masa ketika kemerdekaan Indonesia baru saja diproklamasikan. Keluarganya menyambut Republik dengan kegembiraan. Rumah mereka bahkan menjadi tempat orang-orang berkumpul dan mengonsolidasikan gerakan Republik.
Kemerdekaan, bagi keluarga itu, semula adalah harapan. Namun harapan tersebut segera berubah menjadi ketakutan. Pada masa Bersiap, keluarga Vivienne menjadi sasaran kekerasan. Ayahnya dibunuh, ibunya mengalami kekerasan seksual. Vivienne sendiri bersembunyi dan kemudian ditemukan seorang perempuan tua yang ia panggil Cece. Dari perempuan itu ia belajar bertahan hidup.
Namanya Vivienne.
Ia perempuan blasteran Belanda-Jawa yang hidup di antara dua identitas. Di satu sisi, ada ayahnya, seorang insinyur waterstaat dari keluarga berada. Di sisi lain, ada ibunya, perempuan Jawa yang menjadi nyai. Ia tumbuh dalam rumah yang mempertemukan dua dunia: kolonial dan Jawa. Tetapi malam itu Vivienne tidak sedang bercerita tentang dirinya semata. Ia sedang membuka luka sebuah zaman.
Di dalam monolog "Bersiap", Vivienne mengingat masa ketika kemerdekaan Indonesia baru saja diproklamasikan. Keluarganya menyambut Republik dengan kegembiraan. Rumah mereka bahkan menjadi tempat orang-orang berkumpul dan mengonsolidasikan gerakan Republik.
Kemerdekaan, bagi keluarga itu, semula adalah harapan. Namun harapan tersebut segera berubah menjadi ketakutan. Pada masa Bersiap, keluarga Vivienne menjadi sasaran kekerasan. Ayahnya dibunuh, ibunya mengalami kekerasan seksual. Vivienne sendiri bersembunyi dan kemudian ditemukan seorang perempuan tua yang ia panggil Cece. Dari perempuan itu ia belajar bertahan hidup.

Lima belas tahun kemudian, Vivienne kembali ke tempat yang pernah menjadi rumah keluarganya. Tempat itu telah berubah menjadi hotel. Ia datang bukan sebagai anak pemilik rumah, melainkan sebagai perempuan yang mencari nafkah sebagai pekerja seks. Tanggal kepulangannya bertepatan dengan peringatan 15 tahun peristiwa yang menghancurkan keluarganya.
Ingatan yang selama ini terkubur kembali muncul. Di situlah Yeya harus masuk. Bagi Yeya, Vivienne bukan peran yang sejak awal memang disiapkan untuknya. Tetapi pemain yang semula akan memainkan Vivienne berhalangan. Tawaran kemudian berpindah kepadanya. Yeya menerimanya.
Ingatan yang selama ini terkubur kembali muncul. Di situlah Yeya harus masuk. Bagi Yeya, Vivienne bukan peran yang sejak awal memang disiapkan untuknya. Tetapi pemain yang semula akan memainkan Vivienne berhalangan. Tawaran kemudian berpindah kepadanya. Yeya menerimanya.
Bukan karena merasa paling siap, melainkan karena menyukai tantangan baru. Ia sudah pernah bermain teater. Namun, ada satu hal yang belum pernah dicobanya: monolog.
“Dari awal membaca naskah sampai main ini saya sangat bersemangat,” katanya.
Dalam monolog, seorang pemain tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Tidak ada pemain lain yang dapat mengambil alih dialog ketika konsentrasi buyar. Tidak ada lawan main yang bisa menjadi tempat berbagi energi. Semua cerita bertumpu pada satu tubuh.
Yeya harus menjadi Vivienne sekaligus membawa seluruh dunia Vivienne ke atas panggung. Ada identitas yang terbelah. Ada kehilangan. Ada ketakutan. Ada kemarahan. Ada pertanyaan tentang nasionalisme. Dan ada kesepian seorang perempuan yang selamat dari kekerasan tetapi tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan masa lalunya. Bagi Yeya, tantangan itu justru menarik.
Ia tergabung dalam Kelompok Bermain Bakat, sebuah kelompok teater yang menurutnya memiliki semangat sesuai namanya: bermain.Bermain membuat proses latihan tidak terasa seperti beban.
Ia bisa mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diketahui mampu dilakukannya.
“Tidak sedikit pun merasa tertekan. Senang dan mengeksplorasi hal-hal yang saya enggak tahu saya bisa lakukan sebelumnya,” kata Yeya.
Namun tubuhnya tetap harus bekerja keras. Salah satu benda terpenting dalam monolog itu adalah sebuah lemari. Lemari tersebut menjadi tempat Vivienne bersembunyi saat rumahnya diserang. Dalam adegan itu, Yeya harus masuk, bersembunyi, sesekali mengintip keluar, kemudian menyeret lemari menggunakan tubuhnya.
Masalahnya, lemari tersebut baru tiba dua hari sebelum pertunjukan. Selama latihan, Yeya hanya memiliki benda imajiner. Kadang ia menggunakan kursi untuk membayangkan bentuk dan ruang lemari. Tubuhnya harus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ketika lemari sungguhan akhirnya datang, persoalannya bukan menjadi lebih mudah.
“Lemarinya bau apek,” katanya sambil tertawa. Tetapi di balik kelakar itu ada persoalan teknis yang cukup berat. Ia harus mengetahui bagaimana tubuhnya masuk ke dalam ruang sempit, bagaimana bergerak tanpa kehilangan emosi, dan bagaimana membawa ketakutan Vivienne ketika tubuhnya sendiri sedang berhadapan dengan properti panggung.
Lemari itu akhirnya menjadi simbol penting dalam pertunjukan. Di sanalah Vivienne bersembunyi dari dunia.
Di sana pula seorang anak perempuan berusaha menyelamatkan dirinya ketika orang-orang dewasa di sekitarnya tidak lagi mampu memberikan perlindungan. Bagi Yeya, memainkan adegan tersebut bukan hanya perkara menghafal gerakan.
Ia harus memahami ketakutan seorang perempuan yang kehilangan rumah dan keluarganya. Sejarah kemudian masuk melalui tubuh. Itulah salah satu pengalaman baru yang ia dapatkan dari monolog.
Selama ini Yeya lebih banyak bermain teater di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun, terutama dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Dalam pengalaman itu, ia melihat ada orang yang hanya ingin menjadi aktor, berdiri di depan panggung dan mendapatkan perhatian.
Tetapi teater, menurutnya, jauh lebih besar daripada itu. Ada orang yang bekerja di belakang panggung. Ada yang mengurus properti. Ada yang menata panggung. Ada yang memastikan pertunjukan berjalan. Tidak semuanya terlihat penonton. "Ini enggak cuma masalah jadi aktor doang,” katanya.
“Dari awal membaca naskah sampai main ini saya sangat bersemangat,” katanya.
Dalam monolog, seorang pemain tidak memiliki tempat untuk bersembunyi. Tidak ada pemain lain yang dapat mengambil alih dialog ketika konsentrasi buyar. Tidak ada lawan main yang bisa menjadi tempat berbagi energi. Semua cerita bertumpu pada satu tubuh.
Yeya harus menjadi Vivienne sekaligus membawa seluruh dunia Vivienne ke atas panggung. Ada identitas yang terbelah. Ada kehilangan. Ada ketakutan. Ada kemarahan. Ada pertanyaan tentang nasionalisme. Dan ada kesepian seorang perempuan yang selamat dari kekerasan tetapi tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan masa lalunya. Bagi Yeya, tantangan itu justru menarik.
Ia tergabung dalam Kelompok Bermain Bakat, sebuah kelompok teater yang menurutnya memiliki semangat sesuai namanya: bermain.Bermain membuat proses latihan tidak terasa seperti beban.
Ia bisa mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diketahui mampu dilakukannya.
“Tidak sedikit pun merasa tertekan. Senang dan mengeksplorasi hal-hal yang saya enggak tahu saya bisa lakukan sebelumnya,” kata Yeya.
Namun tubuhnya tetap harus bekerja keras. Salah satu benda terpenting dalam monolog itu adalah sebuah lemari. Lemari tersebut menjadi tempat Vivienne bersembunyi saat rumahnya diserang. Dalam adegan itu, Yeya harus masuk, bersembunyi, sesekali mengintip keluar, kemudian menyeret lemari menggunakan tubuhnya.
Masalahnya, lemari tersebut baru tiba dua hari sebelum pertunjukan. Selama latihan, Yeya hanya memiliki benda imajiner. Kadang ia menggunakan kursi untuk membayangkan bentuk dan ruang lemari. Tubuhnya harus menyesuaikan diri dengan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ketika lemari sungguhan akhirnya datang, persoalannya bukan menjadi lebih mudah.
“Lemarinya bau apek,” katanya sambil tertawa. Tetapi di balik kelakar itu ada persoalan teknis yang cukup berat. Ia harus mengetahui bagaimana tubuhnya masuk ke dalam ruang sempit, bagaimana bergerak tanpa kehilangan emosi, dan bagaimana membawa ketakutan Vivienne ketika tubuhnya sendiri sedang berhadapan dengan properti panggung.
Lemari itu akhirnya menjadi simbol penting dalam pertunjukan. Di sanalah Vivienne bersembunyi dari dunia.
Di sana pula seorang anak perempuan berusaha menyelamatkan dirinya ketika orang-orang dewasa di sekitarnya tidak lagi mampu memberikan perlindungan. Bagi Yeya, memainkan adegan tersebut bukan hanya perkara menghafal gerakan.
Ia harus memahami ketakutan seorang perempuan yang kehilangan rumah dan keluarganya. Sejarah kemudian masuk melalui tubuh. Itulah salah satu pengalaman baru yang ia dapatkan dari monolog.
Selama ini Yeya lebih banyak bermain teater di lingkungan kampus. Kegiatan tersebut rutin digelar setiap tahun, terutama dalam rangka penerimaan mahasiswa baru. Dalam pengalaman itu, ia melihat ada orang yang hanya ingin menjadi aktor, berdiri di depan panggung dan mendapatkan perhatian.
Tetapi teater, menurutnya, jauh lebih besar daripada itu. Ada orang yang bekerja di belakang panggung. Ada yang mengurus properti. Ada yang menata panggung. Ada yang memastikan pertunjukan berjalan. Tidak semuanya terlihat penonton. "Ini enggak cuma masalah jadi aktor doang,” katanya.


Pengalaman memainkan Vivienne membuat pandangan itu semakin kuat. Sebab meskipun malam itu hanya Yeya yang berdiri di depan penonton, ia tidak pernah benar-benar sendirian. Ada teman-teman yang berlatih bersamanya. Ada kelompok yang memberinya ruang untuk bereksplorasi. Ada sutradara yang mengembangkan perannya. Ada kru yang bekerja dalam diam.
Dan ada proses selama tiga minggu yang membawanya dari seorang penonton menjadi seorang pemain monolog. Barangkali karena itulah Yeya tidak menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang selesai ketika pertunjukan berakhir.
Jika kelak ditawari memainkan Vivienne lagi atau mengembangkan monolog tersebut, ia mengaku akan bersedia. Bagi Yeya, panggung telah membuka kemungkinan baru.
Ia menemukan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dicoba. Sementara Vivienne, tokoh yang ia mainkan, tetap tinggal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Tentang siapa yang berhak disebut Jawa. Tentang siapa yang dianggap Indonesia. Tentang nasionalisme yang menjanjikan perlindungan tetapi pada saat tertentu justru meninggalkan luka.
Vivienne pernah bertanya apakah orang yang berkulit cokelat dan berambut hitam otomatis lebih Jawa daripada seseorang yang berkulit pucat dan berambut pirang. Ia mempertanyakan apakah identitas dapat ditentukan hanya oleh darah. Pertanyaan itu tidak berhenti pada sejarah.
Ia sampai ke panggung, lalu berpindah kepada penonton. Yeya hanya menjadi tubuh yang menyampaikannya.
Di akhir monolog, Vivienne kembali menjadi perempuan yang kesepian. Ia meminta para “tuan” agar tidak pergi. Di tengah keramaian, ia tetap sendiri. Lampu panggung mungkin akhirnya padam. Tetapi pertanyaan Vivienne tidak ikut mati.
Naskah monolog "Bersiap" ditulis oleh DS. Aji, pada helatan lomba Monolog dalam even Emparty 3-10 Agustus 2026. Ia berkomentar bahwa inti paling sederhana dari monolog ini adalah Vivienne yang merupakan simbol orang-orang yang berada di antara dua identitas. Ia menyambut kemerdekaan Indonesia, tetapi justru menjadi korban kekerasan dalam proses revolusi dan kehilangan rumahnya akibat nasionalisasi. Melalui diri Vivienne, naskah mempertanyakan apakah kemerdekaan benar-benar berlaku untuk semua orang, serta apakah menjadi Indonesia ditentukan oleh darah dan warna kulit atau oleh rasa memiliki, memahami, dan hidup bersama negeri ini. (Ast)
Dan ada proses selama tiga minggu yang membawanya dari seorang penonton menjadi seorang pemain monolog. Barangkali karena itulah Yeya tidak menganggap pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang selesai ketika pertunjukan berakhir.
Jika kelak ditawari memainkan Vivienne lagi atau mengembangkan monolog tersebut, ia mengaku akan bersedia. Bagi Yeya, panggung telah membuka kemungkinan baru.
Ia menemukan bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah dicoba. Sementara Vivienne, tokoh yang ia mainkan, tetap tinggal dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Tentang siapa yang berhak disebut Jawa. Tentang siapa yang dianggap Indonesia. Tentang nasionalisme yang menjanjikan perlindungan tetapi pada saat tertentu justru meninggalkan luka.
Vivienne pernah bertanya apakah orang yang berkulit cokelat dan berambut hitam otomatis lebih Jawa daripada seseorang yang berkulit pucat dan berambut pirang. Ia mempertanyakan apakah identitas dapat ditentukan hanya oleh darah. Pertanyaan itu tidak berhenti pada sejarah.
Ia sampai ke panggung, lalu berpindah kepada penonton. Yeya hanya menjadi tubuh yang menyampaikannya.
Di akhir monolog, Vivienne kembali menjadi perempuan yang kesepian. Ia meminta para “tuan” agar tidak pergi. Di tengah keramaian, ia tetap sendiri. Lampu panggung mungkin akhirnya padam. Tetapi pertanyaan Vivienne tidak ikut mati.
Naskah monolog "Bersiap" ditulis oleh DS. Aji, pada helatan lomba Monolog dalam even Emparty 3-10 Agustus 2026. Ia berkomentar bahwa inti paling sederhana dari monolog ini adalah Vivienne yang merupakan simbol orang-orang yang berada di antara dua identitas. Ia menyambut kemerdekaan Indonesia, tetapi justru menjadi korban kekerasan dalam proses revolusi dan kehilangan rumahnya akibat nasionalisasi. Melalui diri Vivienne, naskah mempertanyakan apakah kemerdekaan benar-benar berlaku untuk semua orang, serta apakah menjadi Indonesia ditentukan oleh darah dan warna kulit atau oleh rasa memiliki, memahami, dan hidup bersama negeri ini. (Ast)


