Gerakan Perempuan Lintas Iman, Keadilan Gender, dan Toleransi Berkeyakinan di Indonesia
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 2574
Wiwin Siti Aminah Rohmah, Co Founder Srikandi Lintas Iman dan Direktur Direktorat GESI UNU/Gender Equality and Social Inclusion Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta dalam siaran IG Live @letsstalk_sexualities yang dipandu oleh Renvi Liasari menyatakan bahwa Indonesia memiliki deklarasi tentang Penghapusan Segala Bentuk Intoleransi dan Diskriminasi Berdasarkan Agama/Kepercayaan PBB tahun 1981 Pasal 1 menyatakan,”Setiap orang bebas untuk memilih dan menganut agama/kepercayaan, dan memanisfestasikannya secara pribadi dan berkelompok, baik dalam beribadat, pengalaman, maupun pengajarannya.”
Add a commentKomunitas-Komunitas Imajiner: Renungan tentang Asal-Usul dan Penyebaran Nasionalisme
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 7953
Buku ini merupakan terjemahan dari naskah asli Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism (Verso, 1983), Penulis: Benedict R. O’Gorman Anderson •Penerjemah: Omi Intan Naomi •Penerbit: Pustaka Pelajar dan INSISTPress •Edisi: I, Agustus 1999 •Kolasi: 16x24cm; xxxvii + 300 halaman.
Add a commentODGJ Berdaya Secara Ekonomi Lewat Djuminten Dolan
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 2353
Namanya Agus, seorang penyintas kesehatan jiwa atau disabilitas mental yang telah pulih dan berdaya serta saat ini aktif menjadi relawan di Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya.
Add a commentMengulik Aksesibilitas Sebagai Syarat Kota Inklusif Disabilitas
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 3604
Aksesibilitas adalah ukuran kemudahan dalam melakukan perjalanan dari lokasi tempat tinggal ke lokasi pelayanan yang dibutuhkan. Ukuran kemudahanlah yang kemudian dijadikan indeks aksesibilitas. Ada dua macam aksebilitas, yaitu fisik dan non fisik. Aksesibilitas fisik adalah aksesibilitas terkait dengan infrastruktur bangunan dan lingkungan, seperti gedung, dan website. Aksesibilitas nonfisik terkait dengan lingkungan sosial, seperti etika interaksi, penyampaian informasi, dan teknologi dan disertai perspektif dan paradigma.
Add a commentKontroversi JHT dan Akses Pelayanan Publik JKN
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 2340
Pada Selasa (22/2) Ombudsman RI mengadakan update publik via zoom meeting yang disiarkan secara langsung lewat kanal youtube Ombudsman RI bertema Kontroversi Jaminan Hari Tua (JHT) dan Akses Pelayanan Publik Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Zoom dibuka oleh Robert Endi Jaweng, anggota Ombudsman RI yang menyatakan tujuan acara adalah untuk melihat kebijakan terkait JHT dan harus dilihat secara cermat dari segala aspeknya. Beberapa aspek tersebut adalah yuridis, filosofis, dan sosiologis untuk melihat kondisi kebijakan tersebut.
Add a commentMengenal Disabilitas Intelektual dan Psikososial
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 4575
Disabilitas intelektual adalah kondisi yang ditandai dengan fungsi intelektual di bawah rata-rata dan kurangnya keterampilan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan biasanya kondisi ini sering memengaruhi anak-anak. Sedangkan menurut laman Special Olympics, disabilitas intelektual adalah istilah yang digunakan ketika seseorang memiliki keterbatasan/hambatan tertentu dalam fungsi dan keterampilan kognitif, termasuk keterampilan komunikasi, sosial, dan perawatan diri sendiri.
Add a commentPeluncuran Buku Magdalena Sitorus, “Taburan Kebaikan di Antara Kejahatan”
- Admin YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 2171
Setelah reformasi, upaya penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu terus diperjuangkan oleh lembaga-lembaga. Mereka setia mendampingi dan upaya itu hampir 21 tahun. Ini bukanlah waktu yang pendek. Bukan pula jalan lurus namun terjal. Kemudian yang menjadi persoalan adalah stigma. Hingga hari ini mereka menyebut diri sebagai penyintas, atas apa yang seringkali mereka alami seperti bola yang dilempar-lempar. Selama dua dasa warsa ini, rupanya banyak memberi warna.
Add a commentStop Sikap Audism dan Linguicism!
- YAPHI
- Gaya Hidup
- Dilihat: 3732
Di momen Hari Disabilitas Internasional (HDI), awal Desember 2021, publik disentakkan dengan peristiwa Menteri Sosial, Tri Rismaharini memaksa seorang disabilitas rungu wicara/Tuli untuk berbicara. Ada pertanyaan, mengapa Tuli tidak boleh memakai bahasa isyarat? Menurut Fajri Nursyamsi dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) dalam konferensi persnya, Tuli ini ada berbagai macam ragam : ada yang memang Tuli sejak lahir, ada yang Hard of Hearing (HOH) seperti Angkie Yudistia, maka berilah kenyamanan sesuai dengan apa yang ada pada Tuli tersebut dalam berkomunikasi. Ada Tuli yang nyaman dengan bahasa isyarat Indonesia, ada yang nyaman dengan SIBI, ada yang nyaman dengan tulisan, dan gambar, serta dengan gestur.
Pertanyaan yang sama diajukan oleh Udana, seorang Tuli, bagaimana disabilitas Netra dengan tongkat putihnya dan braille? Banyak orang berpikir bahwa bahasa verbal lebih penting dari bahasa isyarat. Dan ada yang perlu ditegaskan bahwa Tuli itu ada bermacam ragamnya. Ini yang kemudian kita sebut dengan ‘Audism’. Mengutip dari Tom Humpries, 1975, yang menerangkan bahwa audism adalah bentuk pemikiran seseorang yang menganggap bahwa orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding orang Tuli.
Surya Sahetapy, aktivis Tuli memberikan contoh-contoh sikap audism yakni : Tuli tidak mampu mencapai orang dengar dalam berintelektual, berbahasa, memiliki karier, berkemampuan finansial, berkomunikasi dan lainnya, Tuli tidka bisa menjadi guru, pilot, pengacara, dokter dan lainnya, Tuli tidak bisa menyetir mobil, Tuli tidak bisa berkuliah, Tuli tidak bisa berbicara maka tidak memiliki masa depan, Tuli tidka bisa berbaur, bahasa isyarat membuat orang malas berbicara, semua orang Tuli harus dilatih berbicara supaya pintar dan sukses.
Orang-orang yang memiliki sikap diskrminatif seperti di atas disebut Audist. Dalam unggahan di akun instagram miliknya, Surya menyatakan alasan kenapa orang audism bisa seperti itu? Sebab sistem pendidikan dan sosial memisahkan Tuli-HoH dan non disabilitas dalam kehidupan. Kebanyakan orang non Tuli baru memahami Tuli-HoH pada usia dewasa, apalagi untuk belajar bahasa isyarat. Ia juga menyampaikan penyebab dari kondisi audism pada seseorang adalah ketiadaan guru Tuli-HoH yang mengajarkan bahasa isyarat di sekolah umum, serta tidak ada pertukaran pelajar di antara sekolah Tuli-HoH dan umum/reguler.
Surya juga mengimbau kepada orang-orang untuk menghindari sikap Linguicism, yakni pandangan yang menganggap pengguna bahasa Indonesia secara lisan lebih pintar daripada orang yang menggunakan bahasa isyarat. Ia menyatakan bagi Tuli-HoH, bahasa isyarat adalah bahasa Ibu, dan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua. “Bukan berarti saya tidak berkompeten sebagai warga negara Indonesia, tetapi mari rombak sistem sosial dan pendidikan yang kejam di Indonesia, sebelum 2045,” ujarnya dalam unggahan. (astuti)
Add a comment


