Ekologi

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Pada ruang zoom yang diinisiasi oleh Pulitzer Center, pada Kamis (23/7) istilah-istilah seperti pasar karbon, restorasi ekosistem, penertiban kawasan hutan, hingga net zero emission berulang kali terdengar. Di atas kertas, semuanya terdengar menjanjikan. Indonesia berupaya menekan emisi, menjaga hutan, sekaligus memenuhi komitmen iklim dunia. Namun, di balik bahasa kebijakan yang terdengar teknokratis itu, para jurnalis investigasi justru menemukan cerita yang jauh lebih rumit.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Suara peserta dari Papua memecah keheningan ruang Zoom yang dipenuhi aktivis lingkungan, pegiat masyarakat sipil, dan organisasi dari berbagai daerah. "Di Papua sekarang sebentar panas, sebentar dingin. Masyarakat bingung. Tapi yang lebih bingung lagi, bagaimana negara melindungi masyarakat adat?"

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Suara peserta silih berganti memenuhi ruang diskusi. Tidak ada perdebatan yang meledak-ledak. Namun, dari setiap pertanyaan dan tanggapan yang mengalir, tampak satu kegelisahan yang sama: mengapa pengetahuan yang lahir dari masyarakat, yang dibangun melalui pengalaman puluhan tahun menjaga hutan, begitu sulit memperoleh tempat dalam kebijakan publik?

Add a comment

Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

WALHI, BEM UBK, dan WALHI Jakarta, mengadakan kegiatan Talkshow pada hari Rabu, 31 Mei 2023 dalam Pekan Rakyat dan Perlindungan Lingkungan mengenai “Masa Depan Orang Muda : HAM, Demokrasi dan Lingkungan Hidup Saat Ini”. Kegiatan Talkshow diadakan di Universitas Bung Karno dengan moderator Sandi Saputra Pulungan selaku Tim Akademi Ekologi WALHI dan mengundang narasumber Suci Fitria Tanjung selaku Direktur Eksekutif Daerah WALHI, Betran Sulani selaku ketua BEM FH Universitas Bung Karno, Christina Rumahlatu selaku pegiat HAM, dan Adi Rohand Samsu selaku MARPALA Universitas Bung Karno.

Suci Fitria Tanjung memaparkan bahwa saat ini lingkungan yang ada di sekitar sangat memprihatinkan karena tidak adanya gerakan dari anak muda yang pasif dalam mengamati lingkungan yang seharusnya menjadi kewajiban mereka bagaimana semestinya alam yang ada saat ini untuk generasi bangsa berikutnya.

Menurut Suci semestinya anak muda bisa bergerak dan menyuarakan aspirasi serta mampu mengubah Indonesia menjadi lebih baik.

Dipaparkan juga oleh Betran Sulani bahwa saat ini demokrasi telah dibungkam dan masih banyak kasus pembungkaman pendapat dengan ancaman, seperti yang terjadi pada orang Timur yang tidak diberikan haknya, hal ini terkait tanah Maluku yang diabaikan oleh investor.

Dari pembicara Christina Rumahlatu ditegaskan adanya kebebasan pendapat yang dibungkam oleh pemerintah dengan menggunakan pelecehan seksual sebagai media untuk membungkam kebebasan berpendapat tersebut.

Sedangkan Adi Rohand Samsun sebagai pecinta alam merasa bahwa dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan alam pastinya memiliki kode etik agar pendaki tidak merusak alam, namun pemerintah hadir untuk mengeksploitasinya bukan menjaga dan melindungi keasriannya. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat indonesia merupakan “paru-paru dunia” yang memiliki dampak besar terhadap keadaan dunia yang bahkan saat ini sangat tidak baik-baik saja. (Renny Talitha Chandra/ast))

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Ada satu pernyataan menarik dari Busyro Muqqodas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM dan Hikmah dalam Temu Nasional Reforma Agraria yang diselenggarakan akhir Januari lalu. Busyro selain memberi apresiasi kepada Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), ia juga mengambil data dari KPA bahwa ada penguasaan bisnis kalangan swasta di sektor Sawit seluas Pulau Jawa. Lalu hal ini mau disikapi bagaimana?

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Tandu Ramba, motivator pembangunan masyarakat wilayah Sulawesi dalam zoom meeting yang diselenggarakan oleh Seknas Jaringan Kerja Lembaga Kristen Indonesia (JKLPK) Jumat (20/1) menyatakan mengapa tema perubahan iklim menjadi penting, sebab ada amanat dari Allah untuk memelihara ciptaan-Nya. Selain itu karena strategi pembangunan nasional adalah pembangunan rendah emisi dan  semua sektor terdampat oleh perubahan iklim maka ia juga memaparkan terkait adaptasi perubahan iklim termasuk dalam pendanaan yakni Dana Desa dan tersedianya berbagai pendanaan dari pemerintah maupun NGO internasional.

Add a comment

Penilaian: 3 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Menurut sebuah situs tentang iklim, di Inggris   satu pohon memiliki kapasitas untuk menyerap karbon sebanyak 167 kilogram per tahun (dan jika ada 6 pohon dewasa, maka serapan CO2 per tahun diperkirakan sebanyak 1 ton). Sementara sebuah studi menyatakan bahwa pohon yang ditanam di kawasan tropis lembab rata-rata mampu menyerap 22 kilogram CO2 per tahun selama 44 tahun. Meski dua sumber tersebut menyebut angka yang berbeda terkait kapasitas penyerapan CO2 sebuah pohon, namun keduanya menunjukkan pentingnya sebuah pohon dalam menyerap CO2 (atau dengan kata lain, pohon memiliki kontribusi penting untuk melawan perubahan iklim).

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Ada beberapa catatan dari kegiatan FGD yang dilakukan oleh Jaringan Masyarakat Pedulii Sungai Juwana (Jampisawan) didukung Yayasan YAPHI pada Rabu, (15/6) bertempat di Sekolah Tinggi Agama Islam Pati (STAIP). FGD dihadiri oleh antara lain para anggota Jampisawan, DPRD, BBWS dan BPDAS, Bappeda Pati serta akademisi. Dibuka dengan memperkenalkan Jampisawan dan kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukannya, Sunhadi, ketua panitia sekaligus ketua Jampisawan mengatakan bahwa pihaknya pernah menggelar Festival Sungai Juwana. Jampisawan mendorong agar proses normalisasi sungai berhasil dilaksanakan.

Add a comment