Ekologi

Penilaian: 3 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Jika kita membaca judul dari tulisan ini tentu saja apa yang akan kita bahas kali ini adalah sedikitnya generasi penerus yang akan menjadi petani di masa yang akan datang. Banyak yang berpendapat bahwa bertani bukanlah pekerjaan. Hal ini disebabkan di antaranya mereka merasa malu atau minder dengan pekerjaan petani. Mereka merasa bahwa petani itu rendah, kotor, tidak membanggakan, penghasilannya tidak menentu dan lain-lain. Sehingga menyebabkan mereka menjadi tidak percaya diri untuk mengatakan diri mereka sebagai petani, begitu pendapat Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat yang sedang menggalakkan Program Petani Milenial. Padahal sebaliknya, petani merupakan sosok yang paling penting di negara kita karena justru masyarakat dengan latar belakang pekerjaan ataupun profesi yang beraneka-ragam berharap pada hasil produksi dari petani itu sendiri, yakni pangan.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Sepuluh  orang anggota dari 100-an petani yang tergabung Paguyuban Petani Paranggupito duduk melingkar di rumah seorang petani bernama Sukisno, Desa Kranding, Paranggupito. Mereka datang dari beberapa wilayah. Dibuka dengan pernyataan dari ketua kelompok, biasa dipanggi Mbah Mul, mereka menyambut baik kedatangan para staf Yayasan YAPHI di hari itu, Rabu (19/1). Beberapa pertanyaan kemudian mencuat di antara perbincangan-perbincangan yang sangat cair, ditandai dengan hampir semua yang hadir turut berbicara.

Add a comment

Penilaian: 2 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Saat ini masih banyak ketimpangan tentang hak atas tanah. Setiap konflik agraria selalu diiringi kekerasan dan intimidasi yang tidak hanya terjadi pada laki-laki tetapi juga perempuan. Berbicara agraria tidak hanya petani tetapi juga nelayan. Seperti diungkapkan oleh Nur Sia perempuan nelayan dari Sengka Batu, Makassar, dalam dialog publik bertema perlindungan hak perempuan berhadapan dengan konflik agraria dalam reforma agraria yang diselenggarakan oleh Solidaritas Perempuan akhir September lalu.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Banyak sekali kesan baik datang dari berbagai penjuru terhadap Maria Rita Roewiastoeti, seorang perempuan pejuang hak atas tanah bagi masyarakat adat, para sahabat dan bahkan orang yang baru pertama kenalan. Kesan-kesan itu termaktub dalam sebuah buku yang sebagian bersumber dari Zoom pada 9 Januari 2021 dan penggalian kisah dari orang-orang yang berinteraksi dengan Maria yang diinisiasi oleh Yayasan YAPHI, hari di mana jenazah Maria diperabukan. Buku berjudul “Maria dalam Kacamata Sahabat” yang berbentuk soft-file dan masih dalam proses final editing tersebut rencananya akan dicetak terbatas dan dipersembahkan bagi keluarga Maria. Demikian salah satu dari statemen Haryati Panca Putri, Direktur Yayasan YAPHI yang memberikan sambutan dan pernyataan dalam  Zoom memperingati kiprah Maria R. Roewiastoeti dalam penguatan isu perempuan dan sumber daya alam yang dimoderatori oleh Myra Diarsi , Sabtu (20/2).

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Mengambil tema masa depan perjuangan reforma agraria, Yayasan YAPHI menghelat diskusi yang diikuti oleh internal staf dan mengundang Roni S. Maulana, dari Seknas Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) untuk menjadi narasumber sekaligus pemantik diskusi via Zoom Meeting pada Rabu (19/1).

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Rabu 6 Januari 2021 Yayasan YAPHI mengikuti webinar yang dilaksanakan oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yakni Peluncuran Catatan Akhir Tahun 2020 KPA “Pandemi Covid-19 dan Perampasan Tanah Berskala Besar”. Acara yang diikuti oleh 257 peserta ini menghadirkan narasumber Dewi Kartika, Sekjen KPA dan para penanggapnya antara lain Surya Tjandra, Sugeng Purnomo dan Arif Rahman.

Add a comment

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Budaya patriarki makin mencengkeram kuat, demikian pula yang terjadi pada perempuan adat. Tekanan bukan hanya di luar tapi di dalam. Ketika perempuan adat berorganisasi maka ada pandangan : terlalu maju, melawan adat, hanya bergosip,atau selingkuh. Lalu perempuan melakukan transformasi, namun apa yang disampaikan hanya seperti jargon saja. Kawan-kawan yang berkumpul di Perempuan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)  kemudian menyampaikan fakta, praktik kejadian, bahwa cerita perempuan adat adalah fakta. Kerentanan yang dialami oleh perempuan adat   lebih kompleks. Yang belum dilaksanakan salah satunya adalah pendataan oleh negara. Maka perempuan AMAN melakukan pendataan, ditemukan 90% perempuan adat belum dilibatkan dalam pembicaraan atas pembangunan yang dilakukan di daerah. Demikian dikatakan oleh Devi Anggraini, Ketua Perempuan AMAN saat Simposium Perempuan AMAN via Zoom, Rabu (16/12/2020).

Add a comment