Publikasi

Relasi sebagai Cermin Diri: Belajar Mengenali Luka Batin Lewat Hubungan dengan Orang Lain

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Suasana kelas daring Kamis malam (9/7/2026) diawali dengan kejutan kecil, Adjie Santosoputro, biasa dipanggil Adjie, yang selama sekitar sepuluh tahun dikenal berambut panjang, kini tampil dengan rambut pendek. Penampilannya yang berbeda membuat sebagian peserta mengaku pangling. Dengan santai ia menyapa peserta, memperkenalkan diri, sekaligus membuka sesi yang menjadi bagian dari rangkaian pembelajaran kesadaran yang rutin diselenggarakan setiap dua pekan.

Menurut Adjie, sesi tersebut berada di bawah payung besar pembelajaran inquiry, yakni proses menyelidiki diri, menengok ke dalam batin, dan mengenali hakikat diri yang sesungguhnya. Ia mengajak peserta mempertanyakan kembali identitas yang selama ini dianggap sebagai diri. “Siapa diri kita ketika semua yang kita kira sebagai diri ternyata bukan diri yang sejati?” ujarnya.

Kegiatan itu dijalankan bersama tim kecil bernama Samadya, istilah Jawa yang berarti “secukupnya”. Filosofi tersebut dipilih sebagai pengingat bahwa setiap orang diterima apa adanya. Peserta dipersilakan memberikan kontribusi sesuai kemampuan, bahkan jika tidak mampu membayar sekalipun tetap disambut tanpa perbedaan.

Selain kelas daring rutin, Adjie juga memperkenalkan sejumlah agenda pembelajaran lain, mulai dari sesi daring dan luring, lokakarya satu hari di berbagai kota, hingga program retret tiga hari yang berfokus pada pemulihan batin. Seluruh kegiatan itu, katanya, berangkat dari keyakinan bahwa kesadaran dapat menjadi jalan untuk mengenali diri sekaligus menyembuhkan luka batin.

Mengapa Relasi Menjadi Tema yang Dekat dengan Banyak Orang?

Malam itu tema yang dipilih adalah “Seni Relasi Sehat dengan Kesadaran.” Adjie mengaku sengaja mengangkat topik tersebut karena melihat betapa besar perhatian masyarakat terhadap persoalan hubungan. Setiap kali ia membagikan tulisan atau video tentang relasi di media sosial, respons yang muncul selalu sangat tinggi.

Baginya, hal itu menunjukkan bahwa relasi merupakan bagian terbesar dalam kehidupan manusia. Orang mencari kebahagiaan melalui relasi, berharap pasangan, keluarga, atau sahabat dapat mengisi kesepian dan kekosongan hidup. Namun di saat yang sama, relasi juga menjadi sumber luka, patah hati, kekecewaan, dan penderitaan.

“Relasi bisa membuat kita bahagia, tetapi relasi juga bisa membuat kita terluka,” kata Adjie. Spektrum emosi dalam relasi sangat luas, mulai dari gembira hingga sedih, dari rasa aman hingga rasa takut kehilangan.

Ia menegaskan bahwa relasi tidak boleh dipahami secara sempit hanya sebagai hubungan romantis. Relasi mencakup hubungan dengan pasangan, orang tua, anak, teman, rekan kerja, atasan, bahkan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Masalah Relasi Tidak Selalu Berasal dari Orang Lain

Menurut Adjie, banyak orang terbiasa menganggap bahwa konflik selalu disebabkan oleh pihak lain. Ketika hubungan memburuk, yang muncul pertama kali adalah tuduhan: pasangan tidak peka, teman egois, orang tua terlalu mengatur, atau rekan kerja sulit diajak bekerja sama.

Padahal, ia mengingatkan bahwa persoalan relasi juga dipengaruhi oleh pola pikir, emosi, trauma, dan luka batin yang belum disadari dalam diri sendiri. Seseorang bisa saja bereaksi berlebihan bukan karena situasinya terlalu besar, melainkan karena ada luka lama yang ikut tersentuh.

Untuk menjelaskan hal itu, Adjie mengangkat contoh sederhana dari masa kecil. Ketika seorang anak jatuh, orang tua sering kali memukul lantai atau kursi sambil berkata bahwa benda itulah yang “nakal”. Tanpa sadar, anak belajar bahwa setiap kali ada masalah, selalu ada pihak lain yang harus disalahkan. Program batin semacam itu kemudian terbawa hingga dewasa.

Akibatnya, ketika relasi bermasalah, seseorang lebih sibuk menunjuk keluar daripada bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diriku?”

Relasi sebagai Cermin Diri

Salah satu gagasan utama yang berulang kali ditekankan Adjie adalah bahwa relasi bukan hanya pertemuan antara dua orang. Relasi juga merupakan pertemuan seseorang dengan dirinya sendiri.

Hubungan dengan pasangan dapat memperlihatkan rasa takut ditinggalkan. Hubungan dengan orang tua dapat memperlihatkan kemarahan yang selama ini dipendam. Hubungan dengan teman atau rekan kerja dapat memperlihatkan kebutuhan untuk diakui dan dihargai.

Karena itu, semakin dekat sebuah hubungan, semakin besar pula ekspektasi yang digantungkan pada orang tersebut. Orang berharap dipahami, dicintai, dihargai, dan diperlakukan sesuai harapan. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, relasi mudah berubah menjadi sumber penderitaan.

"Semakin dekat relasinya, semakin besar ekspektasinya,” ujar Adjie. Di titik itulah seseorang mulai berhadapan dengan kondisi batinnya sendiri.

Program Batin yang Dibawa Sejak Kecil

Dalam sesi itu, Adjie banyak berbicara tentang apa yang ia sebut sebagai “program batin”. Pengalaman masa kecil, menurutnya, membentuk cara seseorang berpikir, merasa, dan bereaksi hingga dewasa.
Ada orang yang mudah marah ketika merasa tidak dihargai. Ada yang langsung defensif ketika dikritik. Ada yang memilih diam ketika konflik muncul. Ada pula yang selalu ingin menang dalam setiap perdebatan. Semua itu bukan muncul tiba-tiba, melainkan terbentuk melalui pengalaman hidup yang berulang.

Masalahnya, banyak orang tidak menyadari program tersebut karena terlalu menyatu dengan pikiran dan emosinya sendiri. Ketika marah, misalnya, seseorang merasa kemarahannya pasti benar. Ketika cemburu, ia merasa harus mengontrol pasangan. Ketika tersinggung, ia merasa orang lain pasti jahat. Padahal di balik reaksi itu sering tersembunyi rasa takut kehilangan, luka lama, atau kebutuhan akan validasi.

Ketidaksadaran dan Konflik yang Berulang

Adjie menyebut keadaan ketika seseorang sepenuhnya dikuasai oleh pikiran dan emosinya sebagai bentuk ketidaksadaran. Dalam kondisi itu, pikiran dianggap sebagai kebenaran mutlak. Asumsi dianggap fakta. Drama pikiran dianggap kenyataan.

Akibatnya, konflik dalam relasi mudah berulang. Tema pertengkarannya mungkin berubah, hari ini soal pesan yang tidak dibalas, besok soal keuangan, minggu depan soal keluarga, tetapi pola batinnya tetap sama: ingin menang, ingin membela diri, ingin diakui sebagai korban, atau ingin membalas.

Ia menggambarkan luka batin sebagai “monster kecil” yang mencari makanan berupa drama dan emosi negatif. Ketika dua orang sama-sama bereaksi dari luka batinnya, konflik akan saling memberi makan dan terus membesar.

Konflik sebagai Latihan Kesadaran

Meski demikian, Adjie tidak melihat konflik semata-mata sebagai sesuatu yang buruk. Baginya, ketidaknyamanan justru dapat menjadi pintu latihan kesadaran.

Ia memberi contoh situasi yang sering terjadi di keluarga: pertanyaan tentang kapan menikah, kapan punya rumah, atau kapan punya anak. Jika selama ini seseorang selalu membalas dengan emosi, pola konflik akan terus berulang. Namun ketika ia mampu menyadari rasa kesal yang muncul lalu menjawab dengan tenang, rantai reaksi mulai terputus.

Ia mengajak peserta membedakan antara fakta dan asumsi. Fakta adalah apa yang benar-benar terjadi. Asumsi adalah cerita tambahan yang dibuat pikiran. Pasangan belum membalas pesan adalah fakta. “Dia sudah tidak sayang lagi” adalah asumsi. Kemampuan membedakan keduanya, menurutnya, sangat menentukan kualitas relasi.

Satu Orang yang Sadar dapat Mengubah Dinamika Relasi

Dalam banyak hubungan, kata Adjie, kedua pihak sering saling menunggu siapa yang lebih dulu berubah. Padahal perubahan tidak harus dimulai oleh dua orang sekaligus. Satu orang yang berhenti bereaksi otomatis sudah dapat mengubah dinamika hubungan.

Ia memberi contoh situasi yang sering terjadi di keluarga: pertanyaan tentang kapan menikah, kapan punya rumah, atau kapan punya anak. Jika selama ini seseorang selalu membalas dengan emosi, pola konflik akan terus berulang. Namun ketika ia mampu menyadari rasa kesal yang muncul lalu menjawab dengan tenang, rantai reaksi mulai terputus.

Emosi mungkin tetap ada, tetapi tindakan yang dipilih menjadi berbeda. Kesadaran memberi ruang bagi seseorang untuk tidak lagi bergerak secara otomatis.

Relasi sebagai Jalan Spiritual

Menjelang akhir sesi, Adjie menegaskan bahwa relasi bukan sekadar sarana mencari kebahagiaan. Relasi adalah cermin yang menunjukkan bagian diri yang belum pulih: luka, ketakutan, ego, kebutuhan akan pengakuan, dan pola defensif yang selama ini tersembunyi.

Karena itu, perjalanan berelasi pada akhirnya adalah perjalanan mengenali diri sendiri. Semakin seseorang berani melihat sisi terang dan sisi gelap dalam dirinya, semakin ia mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

"Relasi itu cermin. Kalau ingin tahu dirimu seperti apa, lihatlah dirimu ketika sedang berelasi dengan orang lain,” ujar Adjie menutup sesi malam itu. (Ast)