Dalam rangka memperingati International Women’s Day 2026, komunitas mahasiswa Girl Up UNS menggelar rangkaian acara bertajuk “Beyond Labels: Advancing Equity Together.” Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (18/04) di Baron House Resto, dengan menghadirkan talkshow, pameran seni, serta penampilan band.
Acara ini bertujuan mengulas peran label dan stereotip gender dalam kehidupan sehari-hari serta dampaknya terhadap cara pandang dan pilihan individu. Talkshow menghadirkan pembicara Septiana Dwi Rosita, seorang konsultan manajemen proyek dan advokasi yang aktif di PUKAPS Solo dan berbagai gerakan kepemudaan. Diskusi dipandu oleh Hanastasya selaku moderator.
Dalam pemaparannya, Septiana menekankan bahwa banyak orang hidup dalam sistem patriarki tanpa menyadarinya. Ia mengibaratkan patriarki seperti air bagi ikan,tak terlihat karena telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, patriarki adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas dan standar utama.“Patriarki bertahan melalui tiga pilar utama, yaitu hierarki yang menempatkan perempuan di bawah, legitimasi yang menganggap laki-laki selalu benar, serta nilai inti yang menganggap dominasi laki-laki dan kepatuhan perempuan sebagai hal wajar,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pembagian peran antara ranah domestik dan publik sebagai salah satu fondasi patriarki. Perempuan kerap dilekatkan pada peran domestik, sementara laki-laki berada di ranah publik. Meski saat ini banyak perempuan aktif berkarier, standar ganda masih terjadi, seperti pertanyaan mengenai siapa yang mengurus rumah tangga yang lebih sering ditujukan kepada perempuan.
Lebih lanjut, Septiana menjelaskan proses internalisasi patriarki melalui empat jalur utama, yakni keluarga, agama dan budaya, media, serta institusi. Proses ini, menurutnya, membentuk standar perempuan ideal yang taat dan melayani, serta melanggengkan sikap misoginis dalam masyarakat.
Dampak patriarki juga dirasakan secara psikologis dan sosial. Septiana menyebutkan tekanan untuk memenuhi standar tertentu dapat memicu stres, rasa tidak percaya diri, hingga kesulitan dalam relasi interpersonal. Dalam lingkup keluarga, ketimpangan terlihat dari dominasi pengambilan keputusan dan pembagian beban yang tidak seimbang.
Moderator Hanastasya turut membagikan pengalamannya, termasuk stigma terhadap kepemimpinan perempuan di lingkungan sekolah serta tekanan standar kecantikan yang sempat memengaruhi kesehatan mentalnya. Menanggapi hal tersebut, Septiana menilai bahwa kondisi tersebut sering kali dianggap normal karena telah terinternalisasi sejak lama.
Dalam sesi tanya jawab, peserta menyoroti fenomena ketergantungan perempuan pada laki-laki serta penggunaan istilah pick me dalam konteks feminisme. Septiana menekankan pentingnya kesadaran diri dan kemandirian perempuan.
“Perlu disadari bahwa pusat kehidupan tidak hanya pada laki-laki. Perempuan perlu mengenali diri dan tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa istilah pick me awalnya berkembang di media sosial untuk menggambarkan perempuan yang menjatuhkan perempuan lain demi mendapatkan pengakuan laki-laki, namun kini sering disalahgunakan untuk menyerang sesama perempuan.
Menutup sesi, Septiana mengajak peserta untuk memulai perubahan dari kesadaran bahwa ketimpangan gender merupakan konstruksi sosial yang dapat diubah. Ia menegaskan bahwa mempelajari patriarki dan feminisme bukanlah tentang membenci laki-laki, melainkan upaya mencapai kesetaraan.
“Ini bukan soal persaingan, tetapi tentang mengejar ketertinggalan dan menciptakan ruang yang setara bagi semua,” pungkasnya.(Renny Talitha Candra/ast)


