Ekologi

SIPA 2026, Sajian Seni yang Membunyikan Alarm dari Tanah Papua

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Suara sirene terdengar dari panggung. Bunyinya seperti tanda bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja. Ia datang di antara gerak tubuh para penari Papua, memecah ruang pertunjukan yang semula hanya dipenuhi gerak, bunyi dan cahaya.

Di panggung SIPA 2026, tubuh para penari tidak sekadar bergerak untuk menghadirkan keindahan. Bersama karya seni rupa Aries BM dan tarian Ayi Dance, tubuh itu membawa cerita tentang tanah, hutan dan masyarakat adat Papua yang menghadapi perubahan ruang hidup. Karya tersebut berjudul Wounded Indigenous Territory (WIT). Aries BM mengkolaborasikan karya itu dengan Ayi Dance untuk membawa kegelisahan tentang darurat ekologis dan kemanusiaan di Papua. Pertunjukan yang digelar di Pamedan Mangkunegaran, Solo, 11 September 2026, mengangkat persoalan ekspansi perkebunan kelapa sawit dan monokultur kayu serta dampaknya terhadap ruang hidup masyarakat adat.

Ada sebuah gambar yang sulit dilepaskan dari ingatan setelah pertunjukan selesai. Sosok manusia Papua hadir dengan bagian kepalanya berada di bawah kobaran api. Dalam penglihatan penonton, api itu seperti terus menyertai tubuh sepanjang sajian. Aries BM menjelaskan kobaran api tersebut sebagai simbol kehancuran ekologis yang destruktif, penderitaan yang membakar ruang hidup, serta keruntuhan spiritual masyarakat adat yang kehilangan relasi sakral dengan alam. Api itu menjadi sangat dekat karena berada di atas kepala manusia.

Krisis lingkungan yang biasanya dibicarakan melalui angka dan peta tiba-tiba memiliki tubuh. Ada manusia di dalamnya, kepala yang terbakar, tubuh yang bergerak, suara yang terdengar dan sirene yang mengingatkan tentang keadaan darurat.

Di antara sajian tari, terdengar pula suara mama-mama Papua. Justru di sana letak kekuatan pertunjukan. Suara perempuan, tubuh penari, bunyi sirene dan kobaran api bertemu dalam satu ruang. Masing-masing membawa bahasa sendiri untuk berbicara tentang sesuatu yang sebenarnya sulit diringkas menjadi satu kata yakni krisis. Ada banyak krisis di sana meliputi krisis ekologis, ruang hidup, dan kemanusiaan.

Seni memiliki cara untuk membuat krisis tersebut terasa dekat. Selama ini kerusakan hutan sering hadir melalui angka. Luas tutupan hutan yang hilang antara lain luas perkebunan, nilai investasi, target produksi dan data emisi. Angka diperlukan untuk menjelaskan skala persoalan. Seni melakukan pekerjaan yang berbeda. Ia mengembalikan manusia ke dalam angka-angka tersebut.
Ketika tubuh seorang penari bergerak, penonton melihat manusia. Saat suara mama terdengar, penonton mendengar pengalaman dan tangisan. Sewaktu sirene berbunyi, penonton merasakan tanda bahaya. Dandi atas panggung, ketika api menyala di atas kepala, ancaman ekologis terasa begitu dekat dengan tubuh. Di situlah seni dapat menjadi alarm. Bukan alarm yang memberikan jawaban, melainkan alarm yang membuat orang waspada, berhenti dan melihat.

Dari Panggung ke Layar

Beberapa bulan sebelum pertunjukan tersebut, film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita juga membawa persoalan masyarakat adat Papua Selatan ke ruang publik. Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale tersebut mengangkat kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan, termasuk Marind, Yei, Awyu dan Muyu, di tengah perubahan ruang hidup yang berkaitan dengan proyek pangan, perkebunan dan industri berskala besar.

Dalam film itu, persoalan Papua dilihat dari dekat melalui kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. Dandhy dalam sebuah diskusi film di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menekankan bahwa persoalan Papua tidak cukup dilihat hanya melalui sudut pandang pembangunan ekonomi. Cara masyarakat adat memaknai ruang hidup, budaya dan lingkungan juga menjadi bagian penting untuk memahami persoalan tersebut.

Di momen inilah itu, Pesta Babi dan Wounded Indigenous Territory bertemu. Bukan karena keduanya menceritakan kisah yang sama. Bukan pula karena keduanya menggunakan medium yang sama. Justru karena keduanya memilih seni sebagai cara untuk membawa persoalan Papua ke hadapan publik. Yang satu menggunakan kamera, satunya menggunakan tubuh. Film merekam wajah, suara dan kehidupan masyarakat. Pertunjukan menghadirkan tubuh, bunyi, simbol dan gerak. Keduanya membuat hutan tidak berhenti sebagai lanskap.

Hutan Menjadi Ruang Hidup

Ketika hutan bukan sekadar hutan, ada kecenderungan melihat hutan melalui fungsi ekonomi. Hutan dapat menjadi kawasan perkebunan, sumber bahan baku, kawasan produksi pangan atau bagian dari proyek pembangunan. Bagi masyarakat adat, hubungan dengan hutan memiliki lapisan yang lebih panjang.

Di dalam hutan terdapat pangan, pengetahuan tentang tanaman dan hubungan dengan sungai serta hewan. Ada tempat-tempat yang memiliki makna kultural, ingatan tentang leluhur. Karena itu, perubahan hutan juga berarti perubahan kehidupan. Inilah yang dibawa Pesta Babi melalui kisah masyarakat adat Papua Selatan. Sejumlah pemberitaan mengenai film tersebut mencatat persoalan deforestasi dan perubahan ruang hidup yang berkaitan dengan ekspansi perkebunan serta proyek pangan dan energi berskala besar.

Sementara di panggung SIPA, persoalan tersebut tidak dijelaskan melalui wawancara panjang. Hanya tubuh yang berbicara, api yang berbicara, sirene yang berbicara dan suara mama-mama yang berbicara. Semuanya seperti potongan-potongan cerita yang meminta penonton untuk menyusun sendiri hubungan antara manusia dan lingkungan.

Kehadiran suara mama-mama Papua memberikan lapisan yang berbeda. Perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai penonton atau latar dari persoalan ekologis. Suara mereka menjadi bagian dari karya.

Ada sesuatu yang penting ketika pengalaman perempuan masuk ke dalam cerita tentang lingkungan. Persoalan ekologis pada akhirnya juga menyentuh kehidupan sehari-hari. Pangan, air, keluarga, pekerjaan, kesehatan dan masa depan anak-anak berhubungan dengan kondisi lingkungan. Karena itu, suara mama-mama tidak perlu dibuat menjadi kalimat yang dramatis. Suara itu sendiri sudah memiliki makna.

Seni sebagai Ruang Kesaksian

Seni tidak menggantikan kerja advokasi. Ia juga tidak menggantikan penelitian, dokumentasi, kebijakan atau perjuangan masyarakat adat. Seni mempunyai jalannya sendiri. Ia menyentuh ingatan, menggerakkan emosi, mempertemukan orang dengan persoalan yang mungkin sebelumnya terasa jauh. Seorang penonton yang tidak pernah menginjak tanah Papua mungkin tidak mengetahui bagaimana masyarakat adat memaknai hutan. Tetapi ia dapat melihat tubuh penari yang bergerak dan mendengar suara dari panggung. Ia mungkin tidak mengetahui seluruh persoalan perkebunan skala besar. Tetapi ia dapat melihat api di atas kepala manusia. Ia mungkin tidak mengikuti seluruh perdebatan tentang kebijakan pembangunan. Tetapi ia dapat mendengar sirene.

Dari pengalaman inderawi itu, sebuah pertanyaan dapat tumbuh. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada ruang hidup manusia? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena krisis ekologis bukan hanya tentang alam. Ia juga tentang relasi manusia dengan alam. Tentang siapa yang memiliki hubungan dengan tanah, yang memiliki suara ketika sebuah wilayah mengalami perubahan, yang dianggap penting ketika pembangunan dirancang dan tentang masa depan siapa yang sedang dibicarakan.

Akhirnya, kekuatan pertunjukan seperti Wounded Indigenous Territory bukan hanya pada pesan yang ingin disampaikan. Ada gambar-gambar yang menetap di kepala penonton. Begitu pula dengan film Pesta Babi. Ia membawa cerita masyarakat adat Papua Selatan melalui medium dokumenter dan memperlihatkan bahwa tanah, hutan dan pembangunan memiliki konsekuensi yang dirasakan oleh manusia yang hidup di dalamnya. Panggung dan layar kemudian bertemu pada satu hal. Keduanya membuat sesuatu yang jauh terasa dekat bahwa Papua bukan sekadar titik di peta. Hutan bukan sekadar angka dalam laporan dan tanah bukan sekadar hamparan yang menunggu investasi.Di dalamnya ada manusia, suara, kebudayaan, ingatan dan masa depan.

Ketika hutan berubah, apa yang sebenarnya kita sedang kehilangan?

Sumber :
https://prsoloraya.pikiran-rakyat.com/budaya/pr-11110446376/tampil-di-sipa-2026-seniman-aries-bm-angkat-tragedi-ekologis-papua?page=all&utm_source=chatgpt.com