Gaya Hidup

Menatap Bulan yang Sama (Yang Menantimu Pulang)

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Di sebuah kota tua, malam purnama menjadi saksi kehidupan orang-orang yang kehilangan rumah akibat penggusuran paksa atas nama pembangunan. Di antara puing-puing bangunan, anak-anak masih bermain, sementara orang tua mereka berusaha merawat ketabahan dengan secangkir teh hangat.

Di tempat lain, mereka yang menentang penggusuran menghadapi pembungkaman, intimidasi, hingga kriminalisasi. Di tengah ketidakadilan itu, bulan tetap bersinar. Terang tanpa menyilaukan, seolah menjadi satu-satunya ruang bersama bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan.

Di bawah bulan yang sama, ada sepasang kekasih yang terpisah oleh pilihan jalan perjuangan. Mas dan Jeng, demikian mereka saling memanggil, pernah tumbuh bersama dalam semangat yang sama untuk membela mereka yang terpinggirkan. Mas memilih berada di tengah masyarakat, mendampingi warga yang kehilangan tempat tinggal dan memperjuangkan hak-hak mereka. Sementara Jeng memilih masuk ke parlemen, berusaha mengubah keadaan melalui jalur kebijakan dan politik.

Perbedaan pilihan itu perlahan menjadi jarak di antara keduanya. Mas memandang demokrasi dan partai politik telah terjebak dalam kepentingan elite, sedangkan Jeng merasa perjuangannya di parlemen tidak semestinya dianggap sebagai bentuk pengkhianatan. Sebuah pertengkaran meninggalkan luka, membuat cinta yang dahulu menjadi kekuatan justru dipenuhi keraguan dan pertanyaan tentang kesetiaan pada cita-cita bersama.

Meski terpisah, setiap tanggal lima belas dalam penanggalan bulan, keduanya selalu keluar untuk menatap purnama yang sama. Bulan menjadi ruang pertemuan, tempat menyampaikan rindu, mengingat kenangan, sekaligus mempertukarkan kabar yang tak lagi mudah mereka sampaikan secara langsung.

Demikianlah sinopsis naskah yang ditulis oleh DS. Aji atau lebih populer dipanggil Sura Aji. Lantas refleksi saya atas pembacaan naskah karyanya adalah, ketika sebuah aksi besar direncanakan di depan gedung parlemen untuk memprotes penggusuran, harapan pertemuan kembali tumbuh. Jeng berusaha mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada warga, sementara Mas tetap percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan bersama rakyat. Aktivisme dalam lakon ini tidak hanya ditampilkan sebagai keberanian melawan kekuasaan, tetapi juga sebagai kemampuan untuk tetap mencintai, memahami, dan menjaga kemanusiaan.

Itulah pembacaan yang membuat Menatap Bulan yang Sama memiliki dimensi lebih luas daripada drama percintaan biasa. Dan saya ingin mengajukan satu pertanyaan reflektif untuk Sura Aji, yang menurut saya sangat bisa menjadi bahan diskusi, apakah Mas dan Jeng sedang mencari jalan untuk kembali bersama, atau sebenarnya mereka sedang mencari cara agar tidak kehilangan cita-cita yang dahulu membuat mereka saling jatuh cinta? Sebab mungkin, yang ditunggu untuk pulang dalam lakon ini bukan hanya Jeng atau Mas.

Yang ditunggu pulang adalah keberanian, kesetiaan, dan kemanusiaan dalam sebuah perjuangan.

Jawaban itu terbentang saat Teater Kelompok Bermain Bakat turut serta memeriahkan rangkaian Hari Teater Dunia (Sala Hatedu), Selasa (3/11) di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT). Menatap Bulan yang Sama adalah kisah tentang cinta, kerinduan, perbedaan pilihan, dan kesetiaan terhadap perjuangan. Sebuah pengingat bahwa cinta tidak semestinya berhenti pada dua manusia, tetapi juga tumbuh menjadi keberpihakan kepada sesama dan bumi. Sebab, sejauh apa pun dua orang terpisah oleh jalan yang dipilih, selalu ada bulan yang sama untuk ditatap dan harapan yang sama untuk diperjuangkan.

Barangkali, pulang bukan sekadar kembali kepada seseorang, melainkan menemukan kembali jalan yang pernah membuat mereka saling mencintai. Ini salah satu gagasan paling menarik. Bulan bukan sekadar latar romantis. Ia menjadi semacam ruang pertemuan yang melampaui jarak, waktu, bahkan pertengkaran. Tanggal lima belas menjadi penanda kerinduan sekaligus kesetiaan. Kemudian, penggusuran sebagai latar cinta. Kisah cinta mereka tidak berlangsung di ruang yang steril dari persoalan sosial. Ada rumah yang dihancurkan, rakyat yang kehilangan ruang hidup, dan kekuasaan yang menggunakan pembangunan sebagai pembenaran.

Kepada saya, penulis naskah sekaligus sutradara, Sura Aji menyatakan bahwa sebenarnya naskah teater tersebut pengembangan dari cerpen karyanya yang pernah terbit tahun 2019. Lantas setelah menjadi naskah, pernah sempat dipentaskan pada tahun 2022. Lakon yang diperankan dengan sangat apik oleh Lilik Setiawan sebagai Mas dan Yeya sebagai Jeng, didukung dengan penataan ruang, lighting dan musik yang sama bagusnya. Alunan vokal Checha syahdu membius telinga penonton, dengan iringan gitar dan biola.

Sura Aji menyatakan butuh waktu satu bulan untuk berlatih sebelum tampil. Dan ia gembira karena dua per tiga kapasitas tempat duduk dipenuhi oleh penonton. Hal ini menunjukkan animo masyarakat yang sungguh besar terhadap seni pertunjukan teater.

Dikutip dari rri.co.id, Ketua Panitia Hatedu ke-13 sekaligus Pimpinan Omah Kreatif, Caroko Tri Hananto, memaparkan maraknya ponsel pintar membuat masyarakat modern kesulitan berinteraksi fisik. Oleh karena itu, perhelatan yang diikuti 33 kelompok teater dari enam provinsi dan mancanegara ini diposisikan sebagai alat pemersatu. Menurut Caroko, kehadiran para delegasi teater dari Jepang, Jerman, Kroasia, hingga nusantara dengan biaya swadaya membuktikan besarnya kerinduan akan ruang sosial nyata.

Ia menambahkan, kehadiran para delegasi teater dari Jepang, Jerman, Kroasia, hingga nusantara dengan biaya swadaya membuktikan besarnya kerinduan akan ruang sosial nyata. (Astuti Parengkuh)