Saat ini negara-negara di dunia sedang dalam periode di mana perubahan iklim jadi agenda dan jadi perhatian utama. Seperti yang disampaikan oleh masyarakat internasional dalam pertemuan tingkat internasional di PBB, Sekjen PBB mengatakan tiga krisis utama yakni perubahan iklim, krisis polusi udara dan tanah serta krisis serta keberagaman hayati. Tidak hanya jadi konsen pada negara anggota PBB tetapi juga Indonesia sebagai masyarakat dunia. Termasuk masyarakat Katolik yang tentunya akan mencari penyelesaian bersama sebagai krisis iklim. Demikian kalimat pembuka yang disampaikan oleh Budi Tjahjono dalam siaran YouTube Katolikana bertema iklim ekstrem dan masa depan yang terancam, yang dimoderasi oleh Epifania, Senin (23/2).
Budi menambahkan Tahun 2019 di sidang Konferensi Perubahan Iklim PBB, Indonesia menyepakati bersama, juga di Perjanjian Paris 2015 ada kesepakatan, adanya upaya kenaikan iklim tidak melebihi 1,5 derajat. Ini sangat penting sebab ketika suhu bumi naik 1,5 derajat maka dampaknya akan luar biasa. Bahwa krisis ini tidak hanya mementingkan dampak masyarakat indonesia yang tropis tapi seluruh warga bumi, bukan hanya yang tropis. Dalam ajaran Katolik ada ajaran harus merawat bumi sebagai kekayaan bersama.
Lantas bagaimana dengan Fransiskan Internasional? Budi menjawab bahwa hubungan antara krisis iklim dengan HAM sangat dekat. Perubahan iklim dilihat dari sudut pandang HAM, bagi Budi yang di Fransiskan Internasional, untuk mengajarkan ajaran Santo Fransiskus Asisi dan Santa Clara dengan cara mencoba membungkus dalam bentuk advokasi bersama di tingkat internasional terutama PBB. Bukan hanya membahas hal-hal yang besar tentang kebijakan tetap semua direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat dari ajaran gereja Laudato si yang sangat bagus, sebab tidak hanya melihat permasalahan di kebijakan global tapi juga di keseharian. Fransiskan di berbagai negara, selalu mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus berdampak positif bagi ibu bumi, masyarakat, dan lingkungan kita. Ia juga bekerja bersama- sama dengan gerakan HAM yang lain yakni hak lingkungan hidup yang sehat. Di sidang Dewan HAM PBB tahun 2021-2022 hal ini jadi pembahasan bersama sehingga akhirnya ada pengakuan bahwa ada hak untuk lingkungan hidup yang sehat. Hak ini menjadi sesuatu yang diakui dan menjadikan argumen untuk melakukan aksi-aksi untuk menanggapi krisis iklim yang ada di berbagai belahan bumi.
Salah satu contoh konkret hak ini, bisa dilihat pada salah satu keputusan dari Internatonal Court of Justice (ICJ) di Den Haag, Belanda. Mereka mengakui pentingnya suatu kewajiban bagi negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap HAM. Pengadilan tertinggi dunia ini memberikan keputusan bahwa setiap negara wajib melakukan aksi positif supaya perubahan iklim ini bisa ditangani supaya kenaikan suhu tidak melebihi 1,5 derajat Celsius.
Menjawab pertanyaan berikutnya yang dilontarkan oleh pembawa acara, bahwa World Meteorological Organization (WMO) atau organisasi meteorologi dunia menyatakan bahwa sepanjang 2025 merupakan salah satu tahun terpanas secara global, Budi menjawab dengan memberikan contoh konkret kerja-kerja yang dilakukannya bersama tim di Kepulauan Solomon. Negara Kepulauan Solomon tidak jauh dari Pulau Papua. Pihaknya bekerja sama dengan gereja Katolik maupun Anglikan untuk melihat pemanasan global. Dampaknya sangat konkret sekali, melihat laut semakin lama masuk menggerus daratan. Negara Kepulauan Solomon menghadapi tantangan sehingga beberapa kepulauan mereka hilang karena perubahan iklim.
Bumi makin panas karena adanya perubahan ketinggian daratan yakni 1 meter atau 50 cm hilang. Kehilangan ini tidak hanya merupakan kehilangan sebuah tanah tapi kehilanah kebudayaan kebudayaan salah satunya warisan budaya yang diturunkan dari ibu ke anak dan cucu. Biasanya di kepulauan Solomon itu, ibu mengajarkan kepada anak. Ketika mereka menganyam tas pandan yang dilakukan di pinggir pantai. Tetapi ketika tidak ada daun pandan lagi, tradisi ini hilang sehingga tidak dapat dilihat lagi kegiatan itu. Ini hanya salah satu contoh dan tentu saja banyak lagi di mana pemanasan global ini juga menyebabkan cairnya beberapa gletser di beberapa negara dingin seperti Swiss. Jumlah sungai es semakin menurun dan ini mengakibatkan adanya longsor yang sering terjadi dan lebih sering ke tahun-tahun berikutnya. Lebih seringnya adalah kenaikan suhu maka dampaknya sangat besar sekali. Oleh karena itu perjanjian iklim di Paris mengatakan bahwa kenaikan suhu dibatasi hanya 1,5 derajat celcius dibandingkan dengan zaman revolusi Industri.
Kemudian, bagaimana upaya sebagai masyarakat awam yang mempelajari krisis iklim yang tidak mengetahui atau mengerti supaya pemanasan global ini tidak terus menerus makin tinggi?
Upaya yang dilakukan oleh Budi dengan membaca Laudato si yakni ajakan Fransiskus di tahun 2015. Ajaran Gereja Laudato si ini sangat sederhana dan mudah dipahami. Dia bukan saja ajaran filosofis tapi juga ada beberapa tindakan. Banyak hal yang harus dilakukan yang berawal dari diri sendiri. Misalnya bagaimana konsumsi terhadap makanan, barang-barang dan terhadap banyak hal. Pertanyaannya adalah apakah kita membutuhkan atau kita ingin seperti yang lain? Contohnya, Budi tidak bisa menyetir dan tidak punya mobil. Ia juga tidak bisa naik sepeda motor. Karena ia bisa menggunakan transportasi publik. Karena ia tinggal di Eropa jadi konteksnya agak lain. Ia jarang sekali membeli baju baru karena ia melihat saat ini manusia dipolakan untuk selalu membeli sesuatu yang baru. Atau mengkonsumsi makan secara berlebihan, termasuk menggunakan teknologi yang berlebihan. “Saya kira sebagai orang muda, terutama orang muda di Indonesia. Gunakanlah sesuatu dengan sadar yang sepenuhnya,”ungkap Budi.
Kristien Yuliarti, host lainnya, menanyakan bagaimanakah spiritualitas Fransiskan bisa diwujudkan dalam sebuah tindakan advokasi krisis iklim, dan bagaimana cara mengambil peran di situ?
Menurut Budi, dalam konseli Vatikan ditegaskan bahwa semua punya tugas dan gereja punya tugas. Banyak ajaran yang bisa dicerna dengan mudah untuk dicontoh seperti di Laudato si yang berbicara pada semua orang. Santo Fransiskus punya teman Santa Clara dan membangun spiritualitas bersama. “Dia prajurit yang merangkul lepra. Itu namanya advokasi. Santo Fransiskus itu pelindung makhluk hidup. Advokasi yang kita lakukan dengan alam dan yang terpinggirkan serta dialog menjadi yang sangat penting. Advokasi adalah yang dekat dengan kita,”jelas Budi.
Di Filipina pihaknya bekerja sama dengan Fransiskan dari kongregasi Kapusin juga konggregasi lain di daerah Pulau Batangas, Luzon Barat Daya. Ada kawasan dimana antara pulau Batangas yang lainnya ada keragaman hayati luar biasa, sering disebut Amazon di Asia Tenggara. Ada banyak binatang dan tumbuhan laut. Namun pemerintah Filipina membangun kilang minyak, LPG dan gas cair di kawasan dekat kepulauan Verde atau Kepulauan Hijau. Dampak dari kilang ini, bukan hanya mempengaruhi lingkup di seputar sana tetapi juga kapal yang lalu-lalang yang menyebabkan laut atau selat semakin tercemar. Advokasi harus dilakukan bersama dengan bekerja sama dengan keuskupan Lipa dan Batangas, yang ada di kawasan pulau, juga masyarakat setempat serta NGO di Filipina.
Budi membawa kasus ini di berbagai pertemuan internasional termasuk sidang Dewan Keamanan PBB dan di Jenewa. Juga kasus contoh penggunaan bahan fosil yang tidak berkelanjutan atau ketergantungan kita terhadap lingkungan hidup yang ada di sana. Pihaknya melakukan peningkatkan kesadaran dan mewajibkan pemerintah mengambil tindakan. Salah satu tindakan yang dilakukan koalisi ini dengan meminta bank internasional untuk menghentikan investasi. Mereka akhirnya melihat bahwa investasi mereka berdampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan hidup di sekitar kepulauan Verde. Koalisi juga mendekati bank di Swiss dan bank di Inggris, agar mereka berpikir, ketika mereka berinvestasi agar memikir dampak dan tanggung jawab moral dan etis. Perjuangan ini cukup panjang dan mereka harus tetap optimis.
Berbicara tentang tantangan, Budi yang berlatar belakang sebagai guru yang dari desa dan datang dari generasi reformasi. Nah, itulah yang kemudian ia jadikan kekuatan. Ketika ia bilang kelaparan, artinya ia pernah merasakan kelaparan. Ketika bicara banjir, ia juga tahu rasanya banjir. Ketika ia bicara tentang kerusakan alam, contohnya ketika ada di kondisi kelembaban, ia jadikan itu kekuatan. Dan ia berharap untuk masa depan, generasi muda saat ini adalah generasi muda yang sangat luar biasa. Maka ia optimis Indonesia akan lebih baik
Dalam ensiklik Laudato Si disebutkan pertobatan ekologis, pertanyaannya adalah apa tindakan kita sebagai umat manusia untuk melakukan pertobatan ekologis terhadap bumi ini? Budi menjawab bahwa harus melakukan dalam berbagai segmen, sebagai individu harus mengerjakan sesuatu dan tindakan yang terlibat dalam kebijakan. Dengan harus semaksimal mungkin mempengaruhi supaya kebijakan pada bumi baik tingkat lokal, nasional dan global. Sebab sekarang sistem ekonomi internasional adalah berkelanjutan. Dan seakan-akan perusahaan lebih besar dari negara. Ini berbahaya sekali sebab negara yang harus bertanggung jawab. Karena negara ini disetir oleh pengusaha/korporat, maka harus mencegah. “Kita harus memasukkan orang-orang di DPR, harus beri tekanan yang terus menerus. Kita harus terus “menggonggong” sebab ini bumi kita. Susah tetapi kita jalankan. Saya bangga gereja Katolik selain Laudato Si kemarin, sebelumnya juga ada dan di Amerika Latin. Mereka ajukan tentang hak alam. Bahwa alam ini punya hak. Ada tindakan yang kita lakukan bersama-sama,”pungkas Budi.
Butuh Kesadaran yang Besar untuk Mendorong Perubahan
Membincang tentang krisis iklim dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia, apakah ini berhubungan dengan kurangnya literasi masyarakat? Uli Arta Siagian, Koordinator Kampanye WALHI mengatakan bahwa ada yang unik dengan masyarakat kota yang tidak mengenal krisis iklim. Dalam tataran yang dipakai, mereka sadar atas penanda alam yang berubah. Mereka menyadari karena mereka sulit air. Juga realita-realita saat sekarang terjadi perubahan kualitas maupun kuantitas dari hasil panen. Secara kualitas menurun mutunya dan kuantitas menurun jumlahnya serta adanya obsesi sawit atau tambang di wilayah hulu, mereka menyadari ketika perusahaan masuk, banjir dan longsor sering terjadi.” Masyarakat kita itu mungkin tidak terlalu aware dengan arti krisis iklim itu apa. Tetapi mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dari lingkungannya atau cuaca/iklim. Mereka menyadari ada sesuatu yang berubah dengan iklim kita,”ujar Uli.
Masyarakat belajar sendiri dengan perubahan perubahan yang terjadi. Mungkin juga ada penelitian -penelitian semacam yang pernah dilakukan. Namun, seperti apa pemuka agama melihat itu? Dan seperti apa literasi-literasi kita harus diberikan kepada masyarakat? Pertanyaan berikutnya mencuat.
Uli menjawab tidak banyak pendiskusian mengenai perubahan iklim di gereja-gereja, atau di ibadah kalau misalnya ada khotbah. Di kalangan pengkotbah atau pendeta belum banyak yang punya pengetahuan kenapa terjadi krisis iklim. Di sisi yang sama, investasi ekstraktif banyak berkontribusi di krisis iklim. Kurangnya pemahaman tentang itu menjadikan mereka jarang membicarakan melalui mimbar-mimbar di gereja. Artinya masyarakat mempelajari dari basis pengalaman langsung atau paparan informasi yang dikampanyekan oleh para pegiat yang punya konsentrasi besar di isu lingkungan. Menurut Uli, ini yang juga hendak ia dorong karena dalam konteks Indonesia, penting dilakukan aksi. Maka agar maksimal gerakan itu dengan mengubah sistem yang jadi pemicu atau akar yang dialami. Tidak hanya Indonesia tetapi di dunia secara umum.
Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar pengaruh perubahan iklim sehinga bencana terus terjadi? Menurut Uli,krisis iklim seperti lingkaran setan. Ia lahir bukan dari rumah kosong karena memang terjadi eksploitasi besar-besaran oleh para pemodal. Ia membongkar ekstraksi penambangan dan ini sangat ekstrem. Para kelompok ini juga membongkar hutan, juga pembakaran industrialisasi PLTU.
Uli menambahkan bahwa ketergantungan kita kepada ekstraktif yang kemudian disebut bencana ekologi. Inilah yang menjadi akar krisis iklim. Krisis iklim juga mengubah situasi iklim sulit ditebak seperti cuaca ekstrem dan anomali. Pada situasi anomali, bencana banjir sering sekali terjadi. Tetapi kemudian situasi krisis iklim tidak berubah kalau model ekonomi bergantung ekstraktif. Ia menambahkan sebenarnya tidak ada istilah lagi bencana alam tetapi bencana ekologi. Mereka sudah meninggalkan istilah bencana alam. Karena bencana itu sifatnya sangat dipengaruhi politik sistem ekonomi dan seluruh negara. “Selama kita tidak bisa benar-benar berubah dari model ekonomi dan kebijakan kita yang selalu terus-menerus mengejar pertumbuhan, sebenarnya kita akan terus-menerus memperparah krisis iklim dan ini menambah kerentanan kondisi di kehidupan kita karena anomali-anomali terkait cuaca akan sering kita hadapi ke depan,”ujarnya. Ia mengimbuhkan, sulit berharap adanya perubahan kebijakan apalagi dalam dua hari terakhir ada perjanjian dagang Amerika dan indonesia. Sulit berharap pada pemerintah tetapi mau tidak mau revisi kebijakan dan kritik kebijakan di tangan pemerintah dan legislatif.
Uli mengimbuhkan, kita sendiri yang harusnya punya kesadaran yang besar, sebab kalau bukan kita yang mendorong perubahan hari ini, maka kita tidak bisa mewariskan bumi yang baik untuk generasi selanjutnya maka penting untuk mengkonsolidasikan. Semua dengan kepentingan yang satu, bagaimana menciptakan rumah yang aman, yang harusnya terkonsolidasi dengan baik dengan mendesak agar pemerintah mengubah arah dimana dan memperbaiki perspektif mereka. “Sudah banyak sejarah menunjukkan bahwa gerakan masyarakat yang datang dari bawah untuk mengubah satu sistem. Maka gerakan yang terkonsolidasi sangat bisa mengubah corak pengurus negara dalam rangka menguji indonesia. Kita siap membangun blok politik rakyat,”ungkap Uli.
Uli juga mengungkapkan bahwa saat ini kita belum bisa mengubah keterhubungan sistem. Selama ini hambatan bisa dijadikan tantangan dan memaksimalkannya misalnya di setiap khotbah gereja di setiap Minggu yang jangan hanya membincang tentang surga dan neraka saja. (Ast)


