Publikasi

AJI Memperkuat Keberlanjutan dan Resiliensi Media Independen di Indonesia

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Indonesia saat ini sedang mengembangkan Media Viability Assessment Tool (Perangkat Penilaian Kelangsungan Media) yang terlokalisasi, terutama ditujukan untuk memperkuat keberlanjutan media alternatif di Indonesia dan diluncurkan pada pertengahan tahun 2025. Poin-poin penting terkait viability assessment media oleh AJI bertujuan untuk Pengembangan Tool, alat yang  dirancang untuk mengukur efektivitas keberlanjutan media alternatif (keberlanjutan finansial dan independensi redaksi) di tengah krisis multidimensi yang dialami media arus utama. AJI bekerja sama dengan International Federation of Journalists (IFJ), European Union, dan BBC Media Action melalui program "Brave Media".

Dalam webinar yang disiarkan di kanal Youtube AJI Indonesia bertema penguatan keberlanjutan dan resiliensi media independen di Indonesia, 9 Januari 2026, AJI Indonesia lewat ketuanya, Nany Afrida mengatakan banyak hal terkait media alternatif. Menurutnya,  kalau bicara soal media alternatif,  publik kadang suka lupa dan  lebih fokus ke media utama yaitu ke media mainstream yang lebih jelas. Media alternatif untuk dapat verifikasi saja susah sekali karena banyak yang tidak memenuhi persyaratan di dewan pers. Hal ini sudah bisa dikatakan  cukup jadi tantangan apa yang terjadi di media saat ini.

Menurut Nany, merupakan suatu hal yang bagus dan bagaimana membuat dan tetap berdiri  supaya membuat demokrasi semakin kuat di tengah-tengah kondisi saat ini. Semua tahu bahwa kepemilikan media semakin terkonsentrasi  ketika kepentingan politik dan ekonomi selalu dominasi dan  bukan rahasia umum lagi bahwa banyak redaksi yang mengaku bahwa mereka menerima telepon dari orang-orang tertentu supaya tidak menaikkan berita-berita tertentu.  Kemudian ada juga suara keras rakyat yang disederhanakan bahkan kadang-kadang hilang suara rakyat karena kebanyakan suara penguasa, bahkan dihapus.  Jadi alternatif itu memang hadir sekaligus  perlu pemberitaan jadi alternatif juga menantang, siapa yang berhak bicara, isu apa yang dianggap penting dan dari sudut pandang apa dan realitas apa, yang nanti akan jadi media alternatif. Tidak hanya soal karena yang berbeda,  tetapi juga soal cara berbeda,  bersama dengan komunitas melaksanakan normalisasi tentang penjaga.

Media alternatif juga berani mengangkat isu lingkungan, hak guru, hak perempuan,  kelompok minoritas dan berbagai persoalan struktural yang kerap dianggap tidak seksi oleh media mainstream atau pasar media pada umumnya. Hal bukti ada upaya serius untuk merawat ruang demokrasi agar tetap inklusif dan kritis di tengah tantangan.

Nany menegaskan kembali bahwa di Indonesia, peran media alternatif saat ini semakin penting.  Ada sekitar 1000 jurnalis yang mengalami PHK dan kebanyakan dari mereka kemudian mendirikan media dan medianya ada yang bagus atau tidak itu terlihat dari konten-kontennya. Media alternatif, adalah bagaimana bisa untuk memverifikasi,  kemudian minta supaya verifikasi dengan melihat dari konten-kontennya, konsisten isi kontennya sehingga itu membedakan dengan media-media alternatif lain yang mungkin munculnya ketika Pemilu atau ketika yang lain.

Jadi mungkin masukan  ke depan untuk merawat media alternatif ini, dengan melihat peran semakin pentingnya media alternatif.  Pada Catatan Akhir Tahun (Catahu) AJI,  bisa diihat bahwa angka kekerasan semakin meningkat baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam situasi seperti ini media alternatif seringkali berada di garis depan. Mereka menyuarakan isu-isu sensitif mengungkap relasi kuasa yang timpang dan bergerak pada saat risiko yang tidak kecil namun penting juga disadari  bahwa media alternatif tidak hidup dalam ruang hampa.  “Mereka juga seperti media utama yang bekerja dengan banyak pengaruh dan tantangan tetapi tantangan yang dihadapi media alternatif itu lebih besar. Kenapa? karena dia itu kecil, sumber dayanya sedikit, modalnya juga kecil,” terang Nany, pada webinar yang dimoderasi oleh Rini Yustiningsih. (Ast)