Publikasi

Serial Diskusi Pelokalan Loka Nusa : RGA, untuk Kaji Dampak Bencana

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Dalam serial diskusi pelokalan yang dihelat oleh Loka Nusa, Jumat (6/2) Ismail Marzuki narasumber dari Yayasan PKPA, Medan, menjelaskan tentang aksi respon bersama mitra lokal, seperti Monitoring Disaster Impac (MDI), PKPA, YAPPIKA dan lembaga lain yang  berada dalam satu program ToGETHER bersama Caritas Jerman dengan 5 lembaga yang diperkuat secara kelembagaan.

Sejak tahun 2024-2027 program ini diberi mandat untuk memperkuat lembaga lain/mentoring di lembaga lokal sekitar yakni 4-6 lembaga di Aceh Tamiang. Bersama lembaga, ada sesi penguatan kapasitas yang dibutuhkan oleh masing-masing lembaga : kajian cepat, penyesuaian, SITREP, MEAL, dan penulisan proposal.

Di Tamiang, PKPA memastikan kebutuhan awal. Sebagai mitra memastikan kawan-kawan yang didampingi. Mereka juga melalukan respon. "Kami masuk di Aceh, dan berkegiatan di 10 desa, melakukan intervensi mengembangkan di daerah Sumbar di Desa Nagari, kerja sama dengan Mitra lokal dan MDI. Kami melakukan pendistribusian air, dan alat perlengkapan paket tidur, " terang Ismail.

Selanjutnya ia memaparkan tentang Peta Respon  Aceh Tamiang bahwa rencana intervensi PKPA ke depan adalah masa pemulihan yang  sangat penting bagi korban banjir, karena itu, Yayasan PKPA menyiapkan sejumlah program yang akan dilaksanakan di desa-desa : hunian, layanan kesehatan, layanan perlindungan anak dalam situasi bencana, perlengkapan sekolah, akses pendidikan : masa darurat, gizi dan nutrisi, rehabilitasi sumber air bersih.

Sedangkan narasumber kedua, Indira Hapsari dari YAPPIKA mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan BITRA Indonesia. Pada Desember pihaknya melakukan respon darurat bekerja sama dengan jejaring : GMKI, gereja dengan melakukan pendampingan psikososial.

Menurut Indi, lembaga-lembaga kemanusiaan saat itu mencoba untuk memastikan dengan melakukan asesmen ke beberapa lembaga perempuan dengan melakukan Rapid Gender Assesment (RGA) untuk mengkaji dampak bencana untuk perlindungan penyandang disabilitas. Sedangkan harapan dari adanya RGA adalah agar ditindaklanjuti untuk proses pemulihan awal.

Mereka sepakati masing-masing organisasi sudah mengembangkan Tools sendiri dan bersepakat mengumpulkan hasil serta akan melakukan  rilis hasil bersama RGA ini.

Dari adanya RGA ini bisa disimpulkan ada beberapa hal : 1. Menunjukkan kegagalan sistemik/bencana sistemik/kegagalan sistem pembangunan, 2. Kerusakan ekogis dalam konteks bencana  kalimantan, 3. Banjir mengubah lahan terkubur hampir rata, 4. Sebelum bencana ada kontrol beda antara laki-laki dan perempuan, 5. Sistem pengupahan yang berbeda, 6. Situasi ini semakin jadi buruk dan perlu dilihat lagu supaya dampak perempuan sebab perempuan paling rajin mengolah lahan. Tapi akses kepemilikan minim, 7. Perempuan tidak terwakili dalam keputusan keputusan desa termasuk akses yang memadai dalam forum-forum pengambil keputusan.

RGA juga meliputi persepsi tata ruang. Beberapa desa tidak tahu mengapa mereka mengalami ini dengan mengatakan, "Kami merawat kawasan kami dan lahan kami".Nyaris tidak ada info yang diterima warga sebelum bencana dan pasca bencana, misal : konteks Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Sub DAS.

Kemudian lahirlah rekomendasi-rekomendasi yakni :

1.       Dukungan psikososial bagi perempuan, lansia, dan komunitas terpencil

2.       Integrasi PSS dengan pemulihan mata pencaharian.

3.       Pelatihan beternak untuk skala rumah tangga.

4.       Mobilisasi ahli pertanian untuk melakukannya analisis komprehensif tentang kebutuhan pemulihan lahan dan pemanfaatan lahan yang tidak terdampak.

5.       Distribusi bibit padi, palawija, dan peralatan pertanian untuk pemulihan awal.

6.       Koordinasi dengan pihak terkait dalam membantu jalan dan akses ke pasar.

7.       Peralatan kebersihan rumah

8.       Fasilitas ramah anak dan lansia

9.       Penguatan kapasitas, komunitas, dalam DRR dan aksi antisipasi - integrasi dalam solidaritas.

YAPPIKA juga melakukan pelatihan tentang Early Warning System berbasis komunitas. Bahkan mereka juga menemukan di Tapanuli Utara ada perempuan-perempuan pengelola hutan adat, dan di situ ada sesi berbagi pengetahuan kepada  perempuan di desa lain sehingga  ini sangat memberdayakan. (Ast)