Publikasi

Pelajaran Ekologi dalam Film AVATAR

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Dalam tiga sekuel film Avatar, ada hal yang sering menjadi pertanyaan penonton, mengapa Jake Sully yang dipilih Eywa? Si manusia hybrid dari Eywa selaku dewa di semesta  Pandora.

Jake Sully dipilih karena ia datang ke Pandora dalam keadaan kosong alias tidak berpretensi apa-apa atau murni. Ia mau belajar untuk melepaskan ego dan belajar tentang budaya bangsa Na'vi. Ia rela meninggalkan identitas manusianya. Jake adalah seseorang yang sudah jelas mati, dan ia bisa mendapatkan hidupnya lagi. Keputusannya untuk menyelamatkan bangsa Na'vi lebih tepat daripada menyelamatkan manusia bumi. Ini jelaslah sebuah koreksi moral atas peradaban manusia.

Pemahaman manusia kini (Indonesia terutama ehehe), selama ini banyak yang keliru, mengenakan krisis bumi yang terjadi karena takdir dan bencana alam. Namun tidak demikian di Pandora, krisis bumi dalam film Avatar datangnya bukan dari takdir, atau bencana alam. Namun dari pilihan manusia yang sadar  eksploitasi, keserakahan dan pengabaian keseimbangan alam. Persis yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini yang mendera masyarakat Aceh dan Sumatera Utara. Dari penggundulan hutan, konsumsi energi yang berlebihan hingga keputusan politik yang merusak lingkungan atau ekologi, bahkan ekosistem,  semuanya dilakukan dengan penuh kesadaran.

Kalau demikian, seperti halnya yang terjadi di Avatar, kalau manusia merusak rumahnya sendiri mengapa harus bangsa lain yang dikorbankan? Klaim darurat manusia, realita energi semakin menipis, dan bumi semakin kritis, tidak boleh tidak membenarkan bahwa bangsa Na'vi yang hidupnya selaras dengan alam dan tidak pernah terlibat dalam perusakan bumi. Tanggung jawab tidak boleh digeser kepada mereka. Jake Sully berpihak pada bangsa Na'vi dan menolak pemikiran lama peradaban manusia bahwa yang kuat selalu berhak bertahan dengan mengorbankan yang lemah. Pandora adalah imitasi dari itu. Penjajahan dibungkus dengan cerita krisis kebutuhan.

Dan tanpa perubahan moral, Pandora yang ibaratnya adalah ekosistem alam seperti bumi yang runtuh, tentang peradaban lokal yang musnah. Dengan menyelamatkan Na'vi, berarti memutus kepunahan dan bisa belajar pada kegagalan.

Dikutip dari gilafilm.id, Eywa sering disebut "dewa" Pandora tapi di Semesta Avatar, Eywa bukan Tuhan Mistis. Ia adalah kesadaran biologis planet Pandora yang nyata dan ilmiah.

Pandora memiliki jaringan kehidupan raksasa bahkan dari akar pohon, flora dan faunanya saling terhubung jaringan syaraf otak. Inilah yang disebut Eywa. Ia bukan metafora. Menurut ilmuwan di film, akar-akar  Pandora membentuk sistem elektro kimia yang mentransmisikan data-data biologis. Dan setiap makhluk hidup di Pandora adalah titik, yang menyumbangkan data berupa pengalaman hidup, emosi, memori, intuisi dan respons. Mereka seperti internet biologis, hidup tanpa server pusat dan tetap terhubung secara kolektif.

Satu ikatan syarafnya disebut Tsaheylu dan bukan simbol spiritual saja. Itu adalah muka biologi seperti colokan syaraf antara makhluk hidup dan jaringan Eywa yang menyimpan memori hidup sehingga ketika Na'vi mati, kesadaran mereka tidak hilang tapi di"unggah" ke Eywa, seperti Cloud Storage biologis.

Itu yang mendasari adanya dialog, "semua energi dipinjam". Sehingga kematian bukan akhir tapi kembali kepada jaringan. Eywa tidak mengontrol titik-titik satu per satu, karena hanya menjaga keseimbangan sistem.

Pada film Avatar (2009) saat Resources Development Administration (RDA), organisasi non-pemerintah terbesar yang bertanggung jawab atas penambangan sumber daya, pengembangan teknologi, dan kolonisasi manusia di Pandora. RDA nyaris menghancurkan Pandora, Eywa merespons kolektif titik-titik dan kemudian menyerang pasukan manusia.

Lantas timbul pertanyaan apakah Eywa itu Tuhan? Bukan. Tetapi ia kosmik yang menciptakan segalanya. Ia adalah "dewa ekologi", penjaga kehidupan lokal dan keseimbangan planet. Ia menjaga agar Pandora tidak musnah, supaya tidak dijadikan kolonisasi manusia.

Dikaitkan dengan tema, Eywa adalah salah satu bentuk kritik James Cameron, sang sutradara, terhadap eksploitasi dan kapitalisme ekstratif.

Dikutip dari mubadalah.id, dalam Avatar: Fire and Ash, lapisan-lapisan kritik itu terasa semakin tebal dan matang. Konflik tidak lagi hanya soal siapa melawan siapa, melainkan tentang struktur kekuasaan yang memungkinkan perang dan krisis ekologis yang terus-menerus  berulang.

Kita diajak melihat bagaimana kekerasan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan beriringan dengan eksploitasi alam, kolonialisme, dan logika rakus yang sama. Api dan abu bukan sekadar elemen visual, melainkan penanda kehancuran yang tertinggalkan. Tanah yang gosong, kehidupan yang tercerabut, dan masa depan yang terpaksa hangus sebelum sempat tumbuh.

Yang paling mengusik, film ini dengan jujur memperlihatkan siapa yang paling membayar mahal dari semua kekacauan itu. Bukan para penguasa perang, bukan pula mereka yang duduk nyaman di balik layar teknologi. Yang paling menanggung dampaknya justru mereka yang selama ini dianggap kuat karena terbiasa bertahan yakni perempuan. Perempuan yang menjaga kehidupan sehari-hari, yang merawat saat dunia runtuh, yang kehilangan rumah, anak, dan rasa aman, tetapi tetap saja kita harapkan bertahan tanpa banyak suara.  (Ast)