Publikasi

Dua Keluarga Penyintas 65 Bertemu dan Berbagi Cerita dalam Peluncuran Novel “Katri”

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Tulisan ini membahas tentang dua keluarga yang mengalami tragedi '65. Sengaja saya munculkan di tengah-tengah perjuangan gerakan dan aksi masyarakat sipil melawan rencana pemerintah, lewat kementerian kebudayaan menulis ulang sejarah yang dikatakan sebagai sejarah resmi versi mereka.

Seorang perempuan, keturunan Tionghoa membuka acara yang bisa  saya  sebut sebagai wahana kumpul intim dua keluarga yang sama-sama sintas dari peristiwa tragedi 65. Saya datang bersama tiga teman dari Yayasan YAPHI yang selama ini bekerja mendampingi para penyintas 65."Katri masih hidup  tapi Mak Hok sudah meninggal," kalimat pertama diucapkan oleh Djie Siang Lan alias Lanny Anggawati pada Sabtu, 31 Mei 2025 di rumah yang terletak di pusat kota Klaten. Lanny bercerita tahun 1959 keluarga Djie, masih lengkap dengan 7 anak. Satu Anak ke-8, lahir 6 tahun kemudian. Tapi kemudian terjadi sesuatu yang memotong sejarah itu. Tahun 1968 ayahanda Lanny atau Djie Kiem Khoen alias Alex  meninggal dan ibunya membesarkan anak-anaknya. "Karena Mami adalah anak adopsi maka Mami tidak mau anaknya diadopsi.  Ini adalah harta Mami paling besar. Seperti Katri, harta berharganya adalah anak."

Kalau dilihat, peristiwa tahun 65  adalah 60 tahun yang lalu. Lanny kemudian  menyebut nama Katri, seorang perempuan yang malam itu kisah kehidupannya telah ditulis di dalam novel, tengah dirayakan. Singkatnya, perayaan peluncuran novel ini lebih tepat sebagai perayaan  bertemunya dua keluarga besar dalam beragam  kondisi emosional. Atau mungkin  tepatnya kebersyukuran atas nikmat kesehatan. Di tengah-tengah itu, sebelum acara dimulai, saya sempat menyaksikan, Katri, si tokoh dalam novel menjawab dengan tenang sambil memeragakan telunjuk tangannya yang menyentuh rahang. Si penanya kira-kira menodongkan pertanyaan, "jadi, di mana dulu tepatnya wajah kamu ditembak? "

Di sela-sela Lanny bermonolog_ saya lebih suka menyebutnya begitu_ ia juga membaca beberapa puisi dan menyanyi bersama saudara kandungnya yang lain. Ia terus menyanjung Katri yang ia katakan  sangat luar biasa dibanding dua saudara laki-lakinya yang ia panggil Edy dan satu lagi adik laki-laki bernama Djie Liong Houw yang  ia panggil Hoho. Dari Timur, anak laki-laki Katri, Lanny tahu jika Katri tidak pernah mengeluh.

"Jangan takut menderita. Katri mengalami penderitaan jauh lebih dari yang dialami orang lain. Katri ngomong "mungkin aku harus bicara". Saya ketemu Katri dulu dari dia jelek sampai ayu, "kata Lanny sambil berseloroh. Maka momen peluncuran novel berjudul "Katri" oleh dua keluarga besar itu menjadi semacam rajutan momentum dari beberapa anggota keluarga Djie dan keluarga Katri karena ada beberapa yang berulang tahun.

Pada 30 Oktober 1965 , Djie, ayahanda Lanny diciduk dengan meninggalkan 8 anak. Setelah itu kehidupan keluarga Djie yakni anak-anak  dan istrinya langsung jungkir balik. Mereka orang kaya yang  memiliki dua mobil dan empat motor. Tiba -tiba jatuh tersungkur dan tidak tahu besok mau makan apa. "Semua disita atau diamankan. Keluarga kami diteror dengan senjata. Kami mau makan apa, kami tidak tahu. Siapa yang mampu prihatin, itu yang kami alami sesudah Papi diciduk. Mungkin sulit dibayangkan. Siapa pun yang dekat dengan kami bisa-bisa hilang. Papi orang pintar, wasit berlisensi, pintar bahasa Belanda  maka hilang begitu saja. Maka menyebut kata CPM dan kantor pemerintah kami menjadi takut dan  trauma. Saya paling tua dan saat itu usia saya 13 tahun karena kakak  sekolah di Jogja dan Solo,"terang Lanny.

Karena mereka mempunyai bengkel sepeda, maka Lanny belajar di bengkel, dengan cara memperbaiki sepeda. Karena kepepet maka ia bisa. Ia jarang masuk sekolah karena harus menjaga toko, jadi kuli dan tukang  tambal ban. Ibunya yang kala itu berusia 39 tahun saat ditinggal sang ayah tidak punya keterampilan mencari duit. Yang ada di benak Lanny kecil saat itu adalah bagaimana dan mau makan apa esok hari . "Masa itu yang namanya penderitaan, maka saya bersumpah "aku tidak mau miskin". Mami setiap hari masuk angin. Kalau sekarang namanya depresi. Setiap hari kerokan. Siapa suport sistem? Si emak saya. Nenek saya, "jelas Lanny.

Pada waktu sang ayah dipenjara, mereka diberi kesempatan sekeluarga menjenguk ke markas CPM. Hanya salah seorang putri Djie tidak boleh pulang. Jadi ketika anak perempuan itu  datang dengan segala harapan, namun sang ayah sudah tidak ada. Ada satu cerita yang dihadirkan ketika si anak perempuan tersebut, yang dipanggil Cik Hwa, suatu saat  pergi  ke Belanda. Ia bertemu dengan korban politik yang berhasil meloloskan diri ke Belanda dan mereka berdua menyanyikan lagu yang dikarang oleh sesama korban politik, orang Pekalongan yang di penjara. Penampakan video dua orang itu menyanyi di YouTube  lebih berjiwa ketika  Cik Hwa menimpali dengan suara aslinya secara live.  Lagu itu menginspirasi Lanny membuat puisi berjudul "Bila Engkau Kembali."

UCLA pernah melakukan riset dan mereka mengambil beberapa keluarga korban, salah satu adalah keluarga Djie. Ada dampak dari itu, sebab mereka akhirnya menemukan keluarga Djie. Keluarga yang kokoh itu banyak ditopang oleh keluarga. Maka kemudian diproduksilah film "40 Years of Silence" atau "40 Tahun dalam Kebisuan" di tahun 2005. Menurut Lanny, salah satu dampak secara psikologis terlihat pada  Edy. Ia mengalami trauma lumayan lama.

Lanny menceritakan saudara laki-lakinya, Hoho, juara satu se-Klaten tapi memilih tidak sekolah sebab menurut laki-laki yang juga budayawan itu,  perempuanlah yang harusnya tinggi pendidikannya agar tidak dilecehkan.

Lanny menutup percakapannya di tengah  pertemuan dua keluarga ini dengan mengatakan bahwa setiap orang  semestinya  mengembangkan diri sebaik-baiknya. Ada buku  yang ditulisnya berjudul "Justru karena Papi Mati Dibunuh" yang meneguhkan kepercayaamnya bahwa jangan anggap penderitaan itu tidak bagus. Juga buku "Dalam Derita, Manusia Membaja". Ia menggantungkan harap kepada semua yang hadir bahwa pertemuan di malam itu harus membakar inspirasi. Malam yang demikian manis berubah menjadi sangat magis bagi para sintas ditutup dengan musikalisasi puisi berjudul " Mekar".

 

Timur,"Kita yakin jika sejarah dituliskan, akan menjadi sejarah yang besar. Hari ini kita meluncurkan sejarah atas versi kita sendiri. Kitalah yang jadi penulis sejarah."

Keluarga Djie, terutama anaknya yang bernama Edy, bersahabat dengan Katri, tokoh yang dituliskan dalam novel yang berjudul sama. Saking akrab  keduanya,  wajah Edy selalu ada dalam album foto, dalam setiap momen penting yang terjadi pada pada keluarga Katri. Bahkan saat Katri mantu cucunya, wajah Edy ada. "Pak Edy menyadari bahwa apa yang terjadi pada Katri, ibu saya,  tidak seberapa dibanding apa yang menimpa keluarganya." Demikian  Timur, salah seorang anak laki-laki Katri membuka narasi di depan para tamu saat sesi kedua peluncuran novel "Katri".

Perkataan yang langsung dijawab oleh Edy, bahwa ia ingat momen pertama  bertemu dengan Timur di kampus. Ia berkata pada Timur agar membuat biografi Katri karena kisahnya luar biasa. Menurutnya, kalau tidak dibukukan maka belum lengkap. Lantas dijawablah oleh Timur bahwa itu berat. Kemudian jadilah novel "Katri" yang lama pengerjaannya 11 tahun. Bukan buah karya Timur.

Edy mengungkapkan momen setiap kali wawancara dia stress,  sedih, dan gelisah. "Saya ingat waktu mbak Katri cerita di Amigo (toko busana milik Edy), mbak Katri sudah tidak sedih. Karena Mbak Katri  tidak menyimpan dendam, maka keluarganya bisa mekar," demikian kalimat Edy.

Ketika mendengar sejarah Indonesia akan ditulis kembali, ia berpesan, sebagai guru adalah kewajiban untuk  bilang "jangan memanipulasi sejarah. Percayalah murid-murid dengan sejarah sejati." Seharusnya jadi pelajaran bagi semua bahwa itu tidak boleh diulang lagi. Artinya guru jangan melanggengkan sejarah yang bohong.

Usai Edy memberikan testimoni, Timur kemudian berkata pelan, memperkenalkan teman-teman ibunya. Ada yang menjadi teman semasa kuliah.

Sumiyati yang berasal dari Jatinom, Klaten menceritakan bagaimana selama hidup, setelah keluar dari penjara,  ia dinikahi tentara, "Saya hidup berdampingan dengan musuh. Di mata masyarakat saya berjuang, saya tunjukkan siapa saya sebenarnya. Di dalam  rumah, penuh air mata darah." Tahun 2015  Ia baru merasa lepas dari luka batin setelah kepergian suaminya ke alam baka.

Kemudian ada teman Katri yang lain, yang bertemu saat di Klaten, Semarang dan Plantungan Yogya. "Katri teman yang paling saya cintai dan jadi contoh bagi diri saya. Segala penderitaan, kepandaiannya dan banyak yang bisa saya tiru dan bisa saya teladani, " ungkapnya.

Seorang teman perempuan juga hadir dan bercerita bagaimana dulu menjadi anggota paduan suara Lembah Merapi. Ia memiliki suara sopran. Sampai tahun 1965 setamat Pangudi luhur dan tahun itu pula sekolah di SPG kepala sekolah lantas ia "diambil" oleh tentara." Tahun 68 saya dikumpulkan bersama teman-teman. Bertemu lama di LP Klaten. Saya sering curhat pada Katri dan di Plantungan  saya paling kecil. Saya lantas pulang, terus kenal dengan seseorang yang jadi teman hidup saya pada Nopember  1979,"kisahnya.

Rasa bungah yang membuncah bagi Timur diungkapkan dalam baris-baris kata, "Hari ini nama ibu saya tidak hanya tertulis sebagai catatan kaki saja tetapi juga sebuah judul novel. "

Setelah beberapa saat, Timur mempersilakan Adeste Adipriyanti atau biasa dipanggil Dede,  si penulis novel, cucu dari Djie, untuk berbagi cerita tentang penulisannya. Ia menceritakan jika butuh waktu 11 tahun untuk menyelesaikan penulisan novel "Katri".

"Aku baru tahu kalau Pak Edy yang mendorong penulisan buku tentang Katri. Ternyata harus dari keluarga Djie yang  menyelesaikan. Aku juga nggak punya alternatif judul lain selain Katri. Novel itu harus Katri. Mak Hok (ny. Djie/nenek) selalu ngomong sama saya "Nek, bener, jangan takut, (Jika benar, maka jangan takut), "

Dede dan Timur lantas saling melempar pertanyaan, di bagian mana saja, novel "Katri" sangat berarti bagi mereka. Lantas, para tamu yang sudah membaca novel " Katri" satu persatu lantas meneguhkan bacaannya dengan bercerita. Ada yang memberi testimoni, "Kekerasannya terlalu lembut. Banyak kisah imajinasi yang diciptakan oleh Dede. "

Lalu, apa yang membedakan kisah Katri dengan  yang lain? Dede berharap buku ini hadir untuk me-reframing atau membingkai ulang agar anak-anak muda mau membaca.

Sylvie Tanaga, pembaca akhir naskah novel "Katri" yang turut hadir dalam acara menyatakan bahwa setiap kata dalam buku ini adalah powerful. Tidak ada satupun kata tersia-sia. Hal lain, buku ini bukan hanya proyek. Tapi Adeste ikut berproses di tengah pergumulan hidup. Bukan hanya nulisnya   tapi prosesnya. Maka menurut Sylvie benar apabila dikatakan bahwa personal is political. Apalagi ketika bicara sejarah besar yang sampai saat ini masih disembunyikan. "Luar biasa Bu Katri tegar  dan memaafkan. Yang saya kagum dalam proses, cara penyajian sejarah yang kreatif dan berelasi dengan kehidupan anak muda saat ini. Buku yang ada, sebaik apa substansinya, buku ini style buku anak muda, dengan misi besar melawan lupa. Bagaimana sejarah ini bisa dibawa ke terang dan penting menurut saya adalah penyajian yang tidak penuh kemarahan tapi ada kasih dan romansa, "terang Sylvie.

Di pengujung acara, semua anak dan cucu Katri diajak untuk tampil ke depan dan berfoto bersama. Hal yang kemudian menjadi terenyuh seluruh yang hadir tatkala Timur, dengan terbata-bata bertanya dan menyapa Yudi, Kakaknya, bagaimana tidak mudah hidup bagi Katri dengan mengenakan KTP Eks tapol. Saat itu Yudi dalam di dalam perut Katri, ketika  ditembak. Yudi lahir dengan berat badan hanya 1,7 ons, dan disonde. Sepanjang hidup Yudi dirundung, tidak hanya oleh temannya tetapi juga oleh negara. "Apa yang Mas pelajari dari Ibu sehingga bisa survive? 11 tahun hidup tanpa Katri? " Deg! Segenap hadirin seperti termangu. Dengan lembut, Yudi menjawab, "Sabar, pemaaf, jangan menyimpan dendam apapun.  Saya harus kerja apa saja yang penting menghasilkan. "

Dalam penutupan acara yang penuh khidmat malam itu, Katri memberi sesorah atau nasihat bagi kalangan anak muda terutama pembaca novel "Katri"  supaya tidak bosan berjuang untuk hidup yang penuh  tantangan. "Jujur, jangan menyimpan dendam karena merugikan diri sendiri. Berpikir positif bagi siapapun sehingga membuat tentram. Rajin membaca sehingga banyak ilmu. Hormat pada orang tua  dan rajinlah bekerja."

Malam yang berakhir dengan riuh tanpa gempita, saling jabat tangan dan pelukan kedua keluarga, Djie dan Katri, membawa pemaknaan bagi saya bahwa hidup harus diperjuangkan dan kebenaran mesti ditegakkan. (Astuti Parengkuh)