Sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang, dan dalam banyak catatan sejarah Indonesia, narasi pergerakan perempuan kerap disederhanakan atau bahkan dikubur dalam-dalam. Namun, jejak pemikiran intelektual perempuan Indonesia sejatinya pernah mencatatkan tinta emas yang amat tajam, berani, dan melampaui zamannya.
Melalui diskusi daring bertajuk "Bedah Majalah Api Kartini, Rubrik Mak Ompreng, Sastra Gerwani, dan Anotasi Sosial Kritis" Sabtu (17/10), para peneliti, aktivis, dan masyarakat umum berkumpul untuk membaca ulang arsip majalah Api Kartini terbitan tahun 1959–1964. Dipandu oleh Annisa Beta selaku moderator, diskusi ini menghadirkan dua narasumber utama: Asri Saraswati (IRC UI, Asisten Profesor) dan Marissa Saraswati (Founder & Anotasi).
Diskusi ini bertujuan bukan untuk sekadar merawat nostalgia sejarah, melainkan menjadikan arsip masa lalu sebagai "teks hidup” yakni sebuah cermin untuk menguji dan merefleksikan kembali ketidakadilan yang masih dialami perempuan hari ini.
Merekam Jejak Api Kartini: Ranah Dapur hingga Politik Global
Dalam pemaparan pertamanya, Asri mengulas secara mendalam profil Api Kartini. Diterbitkan secara bulanan oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pada rentang 1959 hingga 1964, majalah ini menjadi ruang ekspresi bagi para aktivis, jurnalis, dan penulis kebudayaan. Jajaran redaksinya diisi oleh tokoh-tokoh hebat seperti SK Trimurti (bekas Menteri Perburuhan RI), Rukiah Kertapati, Sugiarti Siswandi, hingga Masha Siwi. Meskipun target pembacanya adalah perempuan kelas menengah, terlihat dari adanya iklan dan sistem berlangganan, isi majalah ini sangat radikal dan inklusif.
Keunikan utama Api Kartini terletak pada kemampuannya mengawinkan urusan domestik dengan perjuangan politik tanpa saling mengecilkan. Di satu halaman, pembaca bisa menemukan resep masakan, pola jahitan, tips merawat rumah, hingga psikologi anak. Namun di halaman berikutnya, majalah ini menyajikan analisis tajam mengenai feodalisme, kolonialisme, hak-hak buruh, hingga laporan pergerakan perempuan internasional, seperti aksi anti-bom atom dan solidaritas perempuan di Kuba, Tiongkok, Latin Amerika, hingga Australia.
Salah satu contoh paling menyentuh terlihat pada edisi khusus Hari Buruh. Majalah ini mengajak ibu-ibu rumah tangga kelas menengah untuk mengintip "dapur" pabrik mentega dan sabun. Pesannya tegas: barang-barang nyaman yang digunakan di rumah tangga kelas atas dibayar dengan keringat dan kelelahan buruh-buruh perempuan yang kerap hidup dalam kemiskinan.
Tak hanya itu, Api Kartini terhubung rapat dalam jaringan internasional. Sebagai bagian dari Women’s International Democratic Federation (WIDF), redaksi majalah ini aktif bertukar terbitan dengan majalah perempuan kiri di berbagai penjuru dunia, seperti India dan Argentina.
Mak Ompreng dan Sastra Perlawanan: Ketika Dapur Menjadi Panggung Kritik
Salah satu daya tarik terbesar majalah ini adalah hadirnya rubrik khusus bertajuk Mak Ompreng yang ditulis langsung oleh SK Trimurti. "Ompreng" sendiri merujuk pada rantang atau wadah makanan khas dapur. Lewat tokoh rekaan bernama Mak Ompreng, seorang ibu rumah tangga kelas bawah yang jenaka, lugas, dan cerewet. SK Trimurti mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah dan budaya patriarki menggunakan bahasa sehari-hari berbalut idiom Betawi dan Jawa.
Mak Ompreng membuktikan bahwa isu politik dan ekonomi bukanlah awang-awang yang hanya milik kaum elit di parlemen. Urusan harga beras, pembagian kain bantuan di tingkat kelurahan, hingga belanja pasar adalah isu politik nyata yang mencekik kehidupan rakyat kecil.
Selain Mak Ompreng, setiap edisi Api Kartini selalu dibuka dengan sajak atau puisi. Melalui prinsip turba (turun ke bawah) khas Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), puisi dan karya sastra difungsikan sebagai alat mengasah afeksi atau emosi massa. Sastra menjadi cermin kesadaran kelas, sarana mengecam kebusukan elit politik, sekaligus bahan bakar untuk menguatkan barisan perjuangan perempuan.
Anotasi Sosial Kritis: Menghidupkan Kembali Arsip Bersama
Bagaimana cara kita yang hidup di abad ke-21 membaca arsip sejauh ini? Marissa Saraswati menawarkan metode bernama Anotasi Sosial Kritis.
Pada dasarnya, anotasi adalah pemberian tanggapan terhadap teks, bisa berupa catatan pinggir, stiker, atau komentar. Namun, ketika dilakukan secara sosial dan kritis, proses membaca tidak lagi menjadi aktivitas tunggal yang sunyi. Banyak orang membaca bersama, saling menanggapi, dan menumpuk pengetahuan.
Prinsip dasar dari metode ini adalah meyakini bahwa setiap pengalaman hidup manusia adalah bentuk pengetahuan yang sah. Baik pengalaman seorang ibu di dapur, buruh di pabrik, maupun warga di jalanan, semuanya memiliki nilai analisis yang setara. Anotasi sosial kritis bertugas memusatkan kembali suara-suara kelompok marjinal yang selama ini sengaja dibungkam atau diabaikan oleh sejarah arus utama.
Suara Peserta: Cermin Masalah yang Tak Pernah Usai
Saat sesi diskusi interaktif digelar, para peserta diajak mempraktikkan anotasi terhadap sampel kolom Mak Ompreng dan puisi-puisi Api Kartini. Refleksi yang lahir dari para peserta menunjukkan betapa isu yang diangkat 60 tahun lalu ternyata masih membentur dinding realitas kita hari ini:
- Pengekangan dan Ketimpangan Kelas: Peserta menyoroti bagaimana kritik Mak Ompreng mengenai gaji buruh perempuan sangat sejalan dengan teori reproduksi sosial modern. Api Kartini berhasil menjelaskan ketimpangan struktur kapitalisme dengan bahasa yang sangat membumi.
- Simbol dan Metafora Sastra: Peserta mengulas puisi Kalung Tanjung. Bunga Tanjung yang sederhana menjadi simbol kerakyatan dan rasa tanggung jawab, sangat kontras dengan "Kalung Permata" milik kaum elit yang sering kali dibeli dari hasil eksploitasi manusia.
- Terputusnya Sejarah dan Bahaya Neoliberalisme: Peserta menekankan betapa hancurnya referensi gerakan perempuan akibat penghapusan arsip secara sistematis oleh rezim Orde Baru. Dampaknya, gerakan perempuan masa kini sering terisolasi dan terputus dari akar intelektualnya sendiri. Ditambah lagi, seperti yang disinggung oleh peserta lain, narasi perjuangan modern sering kali terjebak pada "feminisme liberal" yang mereduksi kesetaraan sebatas pilihan individu atau sekadar tren media sosial tanpa membongkar struktur patriarki dan kapitalisme.
- Beban Ganda dan Reproduksi Sosial: Peserta menggarisbawahi kritik Mak Ompreng mengenai double burden (beban ganda). Perempuan dituntut aktif di luar rumah, tetapi beban perawatan rumah tangga tetap dipikul sendirian. Peserta mengutip kalimat fenomenal dari kolom Mak Ompreng: "Jika perempuan mogok hamil dan melahirkan, dunia ini akan berubah menjadi kuburan." Ini adalah penegasan bahwa kerja perawatan manusia (care work) adalah fondasi utama kehidupan, bukan sekadar tugas alami tanpa bayaran.
- Jeritan Nyata dari Lapangan: Refleksi paling menyengat datang dari Kak Amin, seorang buruh dari kawasan industri nikel Morowali, Sulawesi Tengah. Ia bersaksi bahwa kondisi buruh perempuan di pabrik-pabrik nikel saat ini masih amat memprihatinkan: keselamatan kerja yang buruk, minimnya ruang laktasi, hingga pemenuhan hak cuti haid yang masih harus diperjuangkan mati-matian. Masalah yang dikritik Mak Ompreng dekade 1960-an ternyata masih kasat mata di lapangan hari ini.
Menghubungkan Kembali Mata Rantai Perjuangan
Diskusi ini memberikan kesimpulan yang sangat terang: gerakan perempuan Indonesia pada pertengahan abad ke-20 telah memiliki kesadaran politik, analisis kelas, dan wawasan transnasional yang sangat matang. Terhapusnya arsip-arsip ini dari ingatan publik adalah sebuah kerugian besar yang membuat kita kerap memulai perjuangan dari nol kembali.
Namun, pintu untuk mempelajari kembali sejarah tidak pernah benar-benar tertutup. Saat ini, arsip digital majalah Api Kartini dan berbagai dokumen sejarah lainnya telah diunggah dan dapat diakses secara bebas melalui platform Ensiklopedia Logos ID.
Mari Mengambil Peran!
Membaca sejarah bukanlah tindakan pasif untuk sekadar menambah wawasan, melainkan sebuah tindakan politik untuk merawat ingatan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Kak Amin dari Morowali, wacana dan gagasan besar dari Api Kartini tidak boleh berhenti di ruang-ruang diskusi akademis yang nyaman atau diskusi daring semata. Gagasan ini harus dibawa pulang ke ruang-ruang pabrik, ke dapur-dapur komunitas, ke tempat kerja, dan ke dalam percakapan sehari-hari.
Mari kita hidupkan kembali semangat keberanian Mak Ompreng dan para perempuan pejuang terdahulu. Jadikan sejarah sebagai bahan bakar untuk mengkritisi ketidakadilan di sekitar kita, membongkar struktur patriarki dan eksploitasi, serta merajut solidaritas lintas kelas. Karena selama ketimpangan dan penindasan masih ada, Api Kartini tidak boleh dan tidak akan pernah padam! (Anissa Ratna)


