Gerakan Wanita Indonesia, atau yang lebih dikenal sebagai Gerwani, merupakan salah satu organisasi perempuan terbesar yang pernah tumbuh dalam sejarah Indonesia. Sebelum dilarang pada tahun 1966, organisasi ini memiliki jutaan anggota dan keterlibatan yang sangat luas dalam isu-isu sosial.
Namun, ingatan kolektif masyarakat terhadap Gerwani sering kali terdistorsi oleh narasi tunggal yang dibangun pada masa Orde Baru. Untuk memahami organisasi ini secara menyeluruh, kehadiran para peneliti seperti Saskia Wieringa dan Astrid Reza pada diskusi yang diadakan oleh Logosid secara online hari Sabtu (10/10) bertemakan Witchhunting and Gender Panic pada Genosida 1965. Memberikan sudut pandang yang sangat berharga dalam membongkar tabir sejarah tersebut.
Pandangan dan Penelusuran Para Peneliti Sejarah
Dalam pemaparannya, Saskia Wieringa, seorang akademisi dan peneliti sosialis-feminisme asal Belanda, mengulas perjalanan Gerwani mulai dari pembentukannya hingga proses penghancurannya. Berdasarkan riset mendalam yang ia lakukan sejak era 1970-an, Saskia menemukan bahwa Gerwani bermula dari gerakan massa yang sangat aktif membela nasib rakyat kecil, terutama kaum buruh dan perempuan di pedesaan. “Namun, pasca-peristiwa 1965, rezim Orde Baru sengaja menciptakan propaganda dan fitnah seksual untuk menghancurkan legitimasi politik Gerwani”, jelas Saskia. Narasi ini dipakai untuk menyingkirkan gerakan perempuan yang mandiri dan memindahkan kembali peran wanita ke dalam ruang domestik rumah tangga. Kerja keras Saskia dalam mengungkap fakta historis ini bahkan membuatnya sempat diancam dan dilarang memasuki wilayah Indonesia hingga tahun 1998.
Sementara itu, Astrid Reza, seorang peneliti sejarah gerakan perempuan lulusan Universitas Gadjah Mada, memfokuskan penjelasannya pada aspek simbolis dan perkembangan riset sejarah Gerwani. Astrid menekankan bahwa usaha untuk meneliti kembali sejarah Gerwani kini terus berkembang melalui digitalisasi arsip, pementasan seni, dan diskusi independen sebagai upaya melawan pembatasan narasi dalam kurikulum sekolah formal.
Makna Filosofis di Balik Logo Gerwani
Melalui penelusuran arsip, Astrid juga membedah filosofi di balik logo Gerwani yang kaya akan makna perjuangan kaum perempuan. Astrid mengutip dari tulisan Gita Mukherjee tahun 1957 yang diterbitkan ulang dalam buku Sekapur Sirih Gerakan Wanita Indonesia, simbolisme dan makna dibalik logo Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) menyajikan sudut pandang sejarah yang utuh dan bernilai tinggi. Pembacaan terhadap logo ini memperlihatkan bagaimana estetika, visi sosial, dan semangat emansipasi perempuan dirajut secara mendalam, sekaligus meluruskan berbagai stigma traumatis yang selama puluhan tahun menyelimuti narasi organisasi tersebut pasca-1965.
Dalam ingatan kolektif yang terbentuk akibat propaganda Orde Baru, logo dan keberadaan Gerwani sering kali diasosiasikan dengan narasi kelam dan ketakutan. Namun, ketika arsip pra-1965 dibuka kembali, kesan pertama yang tampak dari lambang tersebut justru menghadirkan keindahan, kelembutan, sekaligus keberanian yang elegan. Logo tersebut menggunakan latar belakang berwarna biru, sebuah warna yang secara universal melambangkan para pejuang perdamaian. Di tengah latar biru itu, hadir sebuah bunga melati putih yang digambarkan memiliki kuncup serta mahkota bunga yang sedang mekar menembus dan menghancurkan sebuah lingkaran berwarna kuning.
Setiap elemen visual dalam logo ini memiliki filosofi sosial dan politik yang erat dengan realitas perempuan Indonesia pada masa itu. Bunga melati putih yang beraroma harum dan lembut—yang secara tradisional acap kali dijadikan hiasan pada rambut sutra hitam perempuan Indonesia—diangkat menjadi simbol yang mewakili seluruh perempuan di tanah air. Di dalam lambang ini, melati tidak lagi sekadar menjadi perhiasan atau pemanis visual, melainkan bertransformasi menjadi lambang keberanian dan sumber inspirasi bagi perempuan untuk menjadi pemilik utuh atas kehidupan mereka sendiri.
Kuncup bunga yang berada pada batang melati melambangkan anak-anak dan generasi masa depan yang harus dilindungi dan dibesarkan dengan kasih sayang serta kedamaian. Sementara itu, daun-daun hijau yang melekat pada batangnya menyimbolkan denyut kehidupan itu sendiri. Adapun lingkaran kuning yang melingkupi bunga melati melambangkan tatanan feodalisme dan keterbelakangan sosial yang selama bertahun-tahun mengurung serta membatasi ruang gerak perempuan Indonesia. Peristiwa mekar dan terobosnya bunga melati melintasi lingkaran kuning tersebut menggambarkan peranan Gerwani sebagai gerakan yang membantu perempuan Indonesia untuk mekar sepenuhnya, melepaskan diri dari belenggu feodalisme, serta merebut kesetaraan.
Di samping elemen visual berupa flora dan warna, penulisan nama "Gerwani" dengan aksara Latin juga memiliki tempat tersendiri dalam filosofi logo ini. Penggunaan huruf Latin menegaskan keterhubungan organisasi dengan bahasa Indonesia yang kala itu kian masif digunakan oleh masyarakat luas, baik di kawasan perkotaan maupun pelosok pedesaan. Penulisan ini menandai semangat kebangsaan yang modern dan inklusif.
Kontribusi dan Sisi Positif Gerwani untuk Masyarakat
Jika menengok rekam jejak historisnya, Gerwani pada mulanya memainkan peran yang sangat positif di tengah masyarakat. Organisasi ini gencar menjalankan program pemberantasan buta huruf bagi perempuan desa serta mengadvokasi hak-hak keluarga, seperti menolak poligami dan memperjuangkan perlindungan dari kekerasan dalam rumah tangga. Mereka juga mendirikan tempat penitipan anak dan sekolah TK gratis untuk membantu para ibu yang bekerja sebagai buruh tani, buruh pabrik, maupun pedagang pasar. Di tingkat internasional, Gerwani bahkan aktif menyuarakan perdamaian dunia dan hak-hak anak melalui federasi perempuan dunia.
Konstruksi Stigma dan Citra Negatif Pasca-1965
Namun, seluruh capaian sosial tersebut tertutupi oleh bentukan citra negatif yang masif pasca-peristiwa 1965. Melalui media massa, film propaganda, dan diorama museum, Gerwani dituduh melakukan tindakan kejam dan tarian erotis terhadap para jenderal di Lubang Buaya. Selain itu, independensi Gerwani dilenyapkan dengan menyamaratakan mereka secara penuh sebagai bagian dari PKI, padahal Gerwani adalah organisasi otonom yang kebetulan berkolaborasi dalam garis politik progresif. Propaganda ini digunakan oleh penguasa saat itu untuk menjinakkan gerakan perempuan yang kritis dan membatasi peran mereka hanya pada urusan domestik.
Harapan Pemulihan Sejarah Gerakan Perempuan
Pada akhirnya, mempelajari kembali sejarah Gerwani secara jernih bukan bertujuan untuk mengabaikan dinamika politik di masa lalu, melainkan untuk meluruskan fakta sejarah dan mengembalikan kehormatan perjuangan hak-hak perempuan di Indonesia. Dengan membuka akses arsip dan memperluas ruang diskusi akademis, masyarakat dapat menilai perjalanan sejarah bangsa secara lebih bijak, adil, dan objektif. (Anissa Ratna)


