Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Ada hal menarik yang disampaikan oleh Doktor Windhu Purnomo, dosen FKM Universitas Airlangga dalam sebuah diskusi via zoom meeting yang digelar oleh Forum Diskusi Denpasar 12 bertema “Meramu Keseimbangan Antara (Kewaspadaan Gelombang  ke-3) COVID-19 dan Kenormalan Baru" di akhir September lalu, bahwa ketika pada bulan Juni virus Delta merebak, banyak angka kematian karena COVID-19, sebab pasien tidak mendapat tempat tidur dan ruang isolasi yang terbatas. Angka testing dan tracing yang sangat jauh dari ideal juga menyumbang besarnya angka kematian. Baru 13% penduduk Indonesia yang melakukan testing dan tracing, sangat kecil dibanding Singapura yang 300% dan Australia 400%. Apa yang belum terdeteksi masih banyak di luaran. Menurut Windhu, kita harus hati-hati dengan data yang dilaporkan sebab kasus positif COVID-19 dan angka kematian masih seperti fenomena gunung es.



Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Dilatarbelakangi masih banyak teman penyandang disabilitas yang belum pernah menonton teater boneka Maria Tri Sulistyani akrab dipanggil Ria Papermoon kemudian menciptakan perform teater boneka yang kemudian mengambil berbagai jenis tema. Titik mulanya pada tahun 2018-2019 Ria memiliki workshop bersama teman Tuli kemudian ia ingin mementaskan karya mereka. Ada 15 orang teman Tuli dari komunitas. Setelah project bersama dilakukan mereka, teman Tuli bilang “Datanglah.” Ria mengaku, mereka silent project dan sengaja tidak menempelkan kata Tuli atau kata disabilitas.  Demikian penjelasan  Ria Papermoon saat diskusi tantangan dan inovasi menuju masyarakat inklusif yang digelar oleh Ford Foundation, Kamis, 9/9.  

Ria juga melakukan workshop dengan teman Transpuan. Di Film 1200° bercerita tentang kegigihan seseorang yang memilih atas pilihan tubuhnya. Endingnya, satu karakter yang belum coming out. Ia memilih keramik sebagai media, mengapa? Ketika bicara, maka butuh pula konsentrasi dan tidak boleh jatuh. Menurutnya, seni bisa menjadi jembatan tanpa melabeli dan apa yang dilakukan menjadi inspirasi orang lain.

Cerita lain dikemukakan oleh Devi Anggraini, Presiden Perempuan Aman yang berbicara tentang visibilitas perempuan AMAN, yakni organisasi sayap masyarakat adat nusantara, Anggotanya adalah ibu-ibu perempuan adat. Kenapa mereka ada? Perjuangan dan gerakan menjadi kontribusi besar melalui peran yang dilakukan dalam kerja-kerja mereka, Kongres masyarakat adat pertama diselenggarakan pada tahun 1996, dan kehadiran pemimpin saat itu disadari tidak langsung mudah. Perempuan adat lalu berorganisasi supaya terlihat visibilitasnya.

Maulani Rotinsulu, Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) memiliki cerita lain sebab ia berkisah tentang bagaimana perempuan disabilitas mengalami stigma ganda dan kekerasan berbasis gender yang paling rentan adalah perempuan disabilitas. Mereka banyak mendapat tekanan dalam keluarga. Kurangnya pemahaman dan aksesibilitas jadi faktor. Tekanan  dirasakan oleh keluarga. Dan di sini dibutuhkan peran serta organisasi.

Maulani juga bercerita tentang aksesibilitas teman Tuli dalam akses pembelajaran yang membutuhkan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Terlepas dari tantangan umum seperti anggaran dan layanan serta lambatnya perubahan mindset implementatornya. Atau terlambat menemukenali siapa saja yang masuk penyandang disabilitas.  Ragam difabel masih terbantu secara individual. Menurut HWDI saat ini yang  urgen dilakukan adalah  membangun pemahaman stakeholder bagaimana mereka melakukan  pendekatan inkusif dan masih dibutuhkan tindakan afirmatif untuk mengejar ketertinggalan serta mengejar pembangunan. “Kita tertinggal dalam kemampuan mengakses. Juga fasilitas pemerintah tidak bisa menjangkau, sehingga berbagai sektor pembangunan terganggu,” pungkasnya. (Astuti).


Penilaian: 5 / 5

Aktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan BintangAktifkan Bintang

Mbah Mardi panggilannya. Anak seorang Ulu-ulu atau petugas pengairan. Usia Mbah Mardi kini 84 tahun, dan tampak tangkas dalam berbicara meski untuk berjalan, ia kerap terlihat terhuyung-huyung.


Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Saat ini jumlah penduduk Indonesia adalah 271 juta-an. Menurut penelitian World Health Organization (WHO), 15% penduduk dunia adalah penyandang disabilitas atau kerap disebut juga difabel. Penyandang disabilitas di Indonesia kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi. Untuk mendapatkan apa saja pengalaman yang didapat oleh pegiat disabilitas, Lukas Ispandriarno lewat siaran Radio Katolikana pada Kamis (5/8), menghadirkan tiga orang narasumber yang sudah malang melintang di isu disabilitas.


Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang

Di momen Hari Disabilitas Internasional (HDI), awal Desember 2021, publik disentakkan dengan peristiwa Menteri Sosial, Tri Rismaharini memaksa seorang disabilitas rungu wicara/Tuli untuk berbicara. Ada pertanyaan, mengapa Tuli tidak boleh memakai bahasa isyarat? Menurut Fajri Nursyamsi dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) dalam konferensi persnya, Tuli ini ada berbagai macam ragam : ada yang memang Tuli sejak lahir, ada yang Hard of Hearing (HOH) seperti Angkie Yudistia, maka berilah kenyamanan sesuai dengan apa yang ada pada Tuli tersebut dalam berkomunikasi. Ada Tuli yang nyaman dengan bahasa isyarat Indonesia, ada yang nyaman dengan SIBI, ada yang nyaman dengan tulisan, dan gambar, serta dengan gestur. 

Pertanyaan yang sama diajukan oleh Udana, seorang Tuli, bagaimana disabilitas Netra dengan tongkat putihnya dan braille? Banyak orang berpikir bahwa bahasa verbal lebih penting dari bahasa isyarat. Dan ada yang perlu ditegaskan bahwa Tuli itu ada bermacam ragamnya. Ini yang kemudian kita sebut dengan ‘Audism’. Mengutip dari Tom Humpries, 1975, yang menerangkan bahwa audism adalah bentuk pemikiran seseorang yang menganggap bahwa orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding orang Tuli.

Surya Sahetapy, aktivis Tuli memberikan contoh-contoh sikap audism yakni : Tuli tidak mampu mencapai orang dengar dalam berintelektual, berbahasa, memiliki karier, berkemampuan finansial, berkomunikasi dan lainnya, Tuli tidka bisa menjadi guru, pilot, pengacara, dokter dan lainnya, Tuli tidak bisa menyetir mobil, Tuli tidak bisa berkuliah, Tuli tidak bisa berbicara maka tidak memiliki masa depan, Tuli tidka bisa berbaur, bahasa isyarat membuat orang malas berbicara, semua orang Tuli harus dilatih berbicara supaya pintar dan sukses.

Orang-orang yang memiliki sikap diskrminatif seperti di atas disebut Audist. Dalam unggahan di akun instagram miliknya, Surya menyatakan alasan kenapa orang audism bisa seperti itu? Sebab sistem pendidikan dan sosial memisahkan Tuli-HoH dan non disabilitas dalam kehidupan. Kebanyakan orang non Tuli baru memahami Tuli-HoH pada usia dewasa, apalagi untuk belajar bahasa isyarat. Ia juga menyampaikan penyebab dari kondisi audism pada seseorang adalah ketiadaan guru Tuli-HoH yang mengajarkan bahasa isyarat di sekolah umum,  serta tidak ada pertukaran pelajar di antara sekolah Tuli-HoH dan umum/reguler.

Surya juga mengimbau kepada orang-orang untuk menghindari sikap Linguicism, yakni pandangan yang menganggap pengguna bahasa Indonesia secara lisan lebih pintar daripada orang yang menggunakan bahasa isyarat. Ia menyatakan bagi Tuli-HoH, bahasa isyarat adalah bahasa Ibu, dan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua. “Bukan berarti saya tidak berkompeten sebagai warga negara Indonesia, tetapi mari rombak sistem sosial dan pendidikan yang kejam di Indonesia, sebelum 2045,” ujarnya dalam unggahan. (astuti)

 


© 2022 All Rights Reserved.