Politik dan Hukum

Dari Laut Bercerita, Apa yang Bisa Dipelajari dari Sejarah?

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Pembicaraan tentang Laut Bercerita tidak berhenti pada bagaimana sebuah novel diangkat menjadi film. Di dalamnya ada pertanyaan lain yang lebih sulit dijawab, yakni bagaimana cerita tentang kekerasan politik dan orang-orang yang dihilangkan bisa sampai kepada generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa tersebut. Setelah membaca atau menonton kisah itu, apa yang bisa dilakukan untuk memahami keadaan hari ini?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema Kekerasan Rezim Orde Baru dalam Teropong Film Laut Bercerita yang menghadirkan Leila S. Chudori, sutradara Yosep Anggi Noen, Dr. Totok Dwi Diantoro, dan Prof. Zainal Arifin Mochtar oleh Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT) UGM pada Jumat (25/10) di Convention Hall Fisip UGM. Percakapan mereka bergerak dari proses penggarapan film menuju persoalan ingatan sejarah, gerakan sosial, dan harapan terhadap masa depan Indonesia.

Bagi Leila, memindahkan novel ke layar lebar bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan menyalin seluruh isi buku. Film memiliki cara bercerita sendiri. Ada tokoh yang harus diwujudkan melalui pilihan pemain, ada ruang yang mesti ditemukan, dan ada detail yang perlu dipertimbangkan kembali agar cerita dapat bekerja dalam bahasa sinema.

Pembaca yang sudah lebih dahulu mengenal novelnya tentu membawa bayangan masing-masing. Mereka memiliki gambaran tentang tokoh, suasana, dan peristiwa yang tertinggal setelah menutup buku. Ketika cerita itu hadir sebagai film, bayangan tersebut bertemu dengan tafsir baru dari sutradara dan seluruh tim produksi.

Leila memahami bahwa proses adaptasi menuntut sejumlah pilihan. Tidak semua bagian novel dapat dipertahankan dalam bentuk yang sama. Yang perlu dijaga adalah inti cerita dan nilai yang hendak disampaikan. Penonton tetap memiliki ruang untuk menilai hasilnya, termasuk ketika gambaran yang mereka temukan di layar berbeda dari bayangan ketika membaca buku.

Dalam Laut Bercerita, cerita mengenai anak-anak muda yang berhadapan dengan kekerasan politik membawa pembaca dan penonton ke pengalaman yang tidak selalu mereka kenal secara langsung. Kisah itu membuka jalan untuk membicarakan penculikan aktivis, kehidupan orang-orang yang ditinggalkan, dan sejarah yang terus menyisakan pertanyaan.

Ada pula detail keseharian yang membantu menghadirkan suasana zamannya. Pengalaman menggandakan buku-buku Pramoedya Ananta Toer yang dilarang beredar pada 1990-an, misalnya, mengingatkan bahwa akses terhadap bacaan dan pengetahuan pernah menjadi bagian dari pergulatan politik. Membaca bukan semata urusan pribadi. Dalam keadaan tertentu, mencari dan menyebarkan buku juga berhubungan dengan keberanian menghadapi pembatasan.

Melalui film, pengalaman semacam itu bisa diperkenalkan kepada penonton yang tidak tumbuh pada masa tersebut. Mereka tidak harus memiliki pengalaman yang sama untuk mulai bertanya. Apa yang terjadi? Mengapa kekerasan itu berlangsung? Bagaimana keluarga dan kawan-kawan korban menjalaninya? Mengapa sebagian persoalan sejarah masih menuntut jawaban?

Yosep Anggi Noen melihat film sebagai medium yang memungkinkan percakapan menjangkau orang di luar lingkungan yang selama ini akrab dengan diskusi sejarah atau persoalan politik. Sebuah karya tidak hanya bertemu dengan penonton yang sudah memiliki bekal pengetahuan, tetapi juga dengan orang-orang yang mungkin datang tanpa banyak mengetahui latar belakang ceritanya.

Ia menceritakan pengalamannya bertemu seorang petugas keamanan di sebuah restoran di Semarang. Petugas tersebut mengenalinya dan ingin berfoto dengannya atau dengan aktor yang terlibat dalam film. Pengalaman itu menjadi gambaran bahwa karya film dapat melintasi batas ruang-ruang yang biasanya dianggap sebagai tempat pembicaraan kebudayaan dan politik.

Kisah tersebut memang tidak dengan sendirinya menunjukkan seberapa jauh penonton memahami sejarah setelah menyaksikan film. Akan tetapi, pertemuan itu memperlihatkan bahwa film dapat membuka hubungan antara pembuat karya dan orang-orang yang berada di luar lingkaran mereka.

Bagi Anggi, penting untuk memikirkan bagaimana sebuah film dibuat dan bagaimana ia menjangkau penontonnya. Pembicaraan tentang karya tidak cukup berhenti pada gagasan yang dibawa dalam cerita. Cara karya itu hadir di tengah masyarakat ikut menentukan kemungkinan percakapan yang muncul setelahnya.

Film bisa menjadi awal. Seseorang mungkin datang karena tertarik pada cerita atau pemainnya, kemudian menemukan pertanyaan tentang sejarah yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Orang lain mungkin sudah mengetahui peristiwa yang diangkat, tetapi mendapatkan kesempatan untuk membicarakannya kembali bersama orang dengan pengalaman berbeda.

Percakapan semacam ini penting ketika sejarah tidak hanya diperlakukan sebagai rangkaian tanggal dan nama tokoh. Sejarah juga berisi pengalaman manusia, keputusan politik, kehilangan, dan akibat yang menjalar jauh setelah suatu peristiwa dinyatakan selesai.

Meski begitu, film tidak bisa menggantikan kerja membaca dan memeriksa fakta. Ia menawarkan pengalaman melalui gambar, suara, tokoh, dan alur cerita. Pengetahuan tentang peristiwa sejarah tetap perlu dibangun dengan menelusuri sumber, membandingkan informasi, serta mendengarkan kesaksian orang-orang yang mengalaminya.


Sejarah bukan Petunjuk untuk Mengulang Masa Lalu

Persoalan mengenai apa yang dilakukan setelah mengetahui sejarah menjadi perhatian Dr. Totok Dwi Diantoro, narasumber dari PUKAT. Baginya, mengumpulkan informasi saja belum cukup. Informasi perlu diolah agar menjadi pengetahuan yang membantu orang memahami persoalan dan menentukan langkah.

Dalam kerja penelitian, bahan-bahan seperti kliping surat kabar, laporan, dan dokumen menjadi sumber untuk memeriksa kejadian. Jumlah dokumen yang banyak tidak otomatis membuat seseorang memahami persoalan dengan lebih baik. Bahan tersebut perlu dibaca dalam konteksnya, diperiksa hubungannya, dan ditempatkan dalam gambaran yang lebih luas.

Pembedaan antara informasi dan pengetahuan itu penting ketika masyarakat menghadapi arus kabar yang terus bergerak. Potongan peristiwa bisa tersebar dengan cepat, tetapi pemahaman membutuhkan kerja lebih panjang. Orang perlu mengetahui bukan hanya apa yang terjadi, melainkan juga mengapa peristiwa itu berlangsung, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan struktur apa yang membuatnya terus berulang.

Totok mengingatkan bahwa sejarah gerakan tidak seharusnya dipelajari untuk mengagungkan masa lalu atau menyalin cara perjuangan generasi sebelumnya begitu saja. Keadaan politik dan sosial berubah. Persoalan yang dihadapi sekarang membutuhkan pembacaan dan strategi yang sesuai dengan situasi saat ini.

Pengalaman gerakan pada masa lalu tetap berguna, tetapi bukan sebagai cetak biru. Pelajaran dapat diambil dari cara orang membangun jaringan, menyelenggarakan pendidikan politik, menyusun kekuatan bersama, dan mempertahankan kerja kolektif ketika berhadapan dengan tekanan.

Pertanyaan itu menjadi relevan ketika ketimpangan ekonomi dan penguasaan sumber daya masih menjadi persoalan. Kekayaan dapat terkonsentrasi pada kelompok tertentu, sementara banyak warga harus berhadapan dengan keterbatasan akses terhadap tanah, pekerjaan, dan sumber penghidupan. Persoalan pengelolaan sumber daya, keadilan pajak, serta konflik lahan seperti yang terjadi di Rempang menunjukkan bahwa perubahan politik tidak serta-merta menyelesaikan persoalan distribusi keadilan.

Dalam keadaan seperti itu, mengenang perjuangan masa lalu tidak cukup dilakukan melalui peringatan atau pembicaraan di ruang diskusi. Pengalaman sejarah perlu membantu masyarakat membaca persoalan yang sedang berlangsung. Dari sana, orang dapat mempertimbangkan bentuk organisasi, jaringan solidaritas, dan pendidikan politik yang dibutuhkan untuk menghadapi masalah sekarang.

Pelajaran sejarah juga tidak selalu menghasilkan jawaban yang langsung tersedia. Kadang-kadang, sejarah justru memperlihatkan betapa rumitnya perubahan sosial. Ada gerakan yang berhasil membuka ruang baru, ada tuntutan yang tidak terpenuhi, dan ada persoalan yang kembali muncul dengan bentuk berbeda.

Menerima kerumitan itu bukan alasan untuk berhenti. Justru dari sana masyarakat perlu menyusun cara kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan keadaan.


Optimisme yang Membutuhkan Kerja Panjang

Prof. Zainal Arifin Mochtar, narasumber lainnya membawa pembicaraan tersebut pada soal optimisme. Kekecewaan terhadap hasil Reformasi dan tuntutan yang belum terpenuhi dapat membuat orang bertanya apakah perjuangan selama ini benar-benar membawa perubahan. Harapan tentang penuntasan persoalan masa lalu, termasuk pertanggungjawaban atas kekuasaan Soeharto, masih menyisakan pekerjaan yang belum selesai.

Bagi Prof. Zainal Arifin Mochtar, kekecewaan semacam itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyerah. Optimisme bukan sikap menunggu keadaan berubah dengan sendirinya atau berharap akan muncul seseorang yang menyelesaikan seluruh persoalan. Optimisme perlu diterjemahkan menjadi tindakan untuk mengubah keadaan yang dihadapi sekarang.

Pandangan ini juga mengandung kritik terhadap aktivisme yang hanya menjadikan perjuangan sebagai jalan menuju kepentingan pribadi. Gerakan sosial semestinya diarahkan pada perbaikan kehidupan bersama, bukan sekadar membuka kesempatan bagi seseorang untuk memperoleh jabatan atau keuntungan bagi dirinya sendiri.

Perubahan membutuhkan rentang waktu yang panjang. Prof. Zainal Arifin Mochtar mengajak peserta melihat perjuangan dalam cakrawala dua puluh hingga tiga puluh tahun. Ukuran keberhasilan tidak selalu dapat dilihat pada masa ketika seseorang mulai bergerak. Ada kerja yang manfaatnya baru dirasakan oleh generasi berikutnya, bahkan ketika orang-orang yang merintisnya sudah tidak lagi menyaksikan hasilnya.

Pandangan tersebut tidak menghapus kebutuhan untuk mengevaluasi gerakan. Perjuangan tetap perlu ditanya tentang cara kerja, tujuan, dan dampaknya. Akan tetapi, evaluasi berbeda dari menyerah hanya karena hasil yang diharapkan belum terwujud.

Generasi muda yang mempelajari sejarah kekerasan politik dan gerakan mahasiswa juga menghadapi pertanyaan serupa. Mengapa demonstrasi dan kritik tidak selalu menghasilkan perubahan kebijakan? Mengapa sebagian masyarakat tetap mendukung pemerintah meskipun kelompok mahasiswa menyampaikan kritik? Bagaimana gerakan dapat menjangkau warga yang tidak berada dalam lingkaran aktivisme?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam sesi diskusi. Seorang peserta dari Makassar mempertanyakan keadaan gerakan anak muda hari ini, termasuk pengaruh algoritma dan ruang digital terhadap cara orang berorganisasi dan memahami persoalan. Ia juga menyinggung kelelahan ketika perjuangan yang dilakukan berulang kali belum memberikan hasil sesuai harapan.

Seorang mahasiswa baru S3 Ilmu Politik dari Universitas Tanjungpura, Pontianak, yang menceritakan penelitian mahasiswanya, tentang pengaruh Laut Bercerita terhadap literasi politik mahasiswa, mengajukan pertanyaan tentang hal serupa. Ia ingin memahami mengapa aktivitas dan demonstrasi di kampus belum menjamin terjadinya perubahan, sementara pandangan politik masyarakat sendiri tidak selalu sejalan dengan sikap kritis mahasiswa.

Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara pengetahuan sejarah, karya budaya, dan tindakan politik bukan perkara sederhana. Menonton film atau membaca novel dapat membuka kesadaran, tetapi kesadaran tidak otomatis berubah menjadi tindakan bersama. Ada proses lain yang dibutuhkan, mulai dari percakapan, pendidikan politik, pembentukan jaringan, sampai kerja yang bertahan dalam jangka panjang. (Ast)