Di ruang-ruang diskusi anak muda hari ini, satu frasa sering memantik perdebatan sengit, “not all men, but always a man.” Banyak laki-laki merasa diserang oleh kalimat ini. Mereka bertanya: mengapa harus laki-laki yang disorot? Bukankah tidak semua laki-laki adalah pelaku kekerasan? Ruang tersebut dihelat dengan wahana diskusi via zoom meeting, NGOPI "Ngobrol Perihal Laki", sebuah acara diskusi kolaborasi Magdalene dengan Aliansi Laki-laki Baru dan HopeHelps Network Universitas Indonesia, Rabu (6/5) dan dipandu oleh Ghevin dan Ami dan diikuti oleh 79 orang.
Pertanyaan-pertanyaan di atas terdengar masuk akal, tetapi juga sering melewatkan satu hal penting: persoalannya bukan pada individu semata, melainkan pada pola sosial yang berulang, yang membentuk pengalaman kolektif perempuan sekaligus membentuk cara laki-laki memahami dirinya sendiri.
Diskusi juga mencoba mengupas lapisan-lapisan persoalan tersebut: dari rasa takut yang dialami perempuan sehari-hari, data kekerasan berbasis gender, hingga bagaimana konstruksi maskulinitas justru juga melukai laki-laki.
Bayangkan sebuah situasi sederhana, seorang perempuan berjalan sendirian menuju rumahnya di sore hari. Tidak terjadi apa-apa, tidak ada sentuhan, tidak ada kata-kata. Hanya seorang laki-laki yang menatapnya selama beberapa detik.
Bagi orang ketiga, itu mungkin bukan apa-apa. Tapi bagi perempuan tersebut, situasinya berbeda. Ia mempercepat langkah. Ia menggenggam kunci di antara jari sebagai bentuk pertahanan. Ia bersiap terhadap kemungkinan terburuk.
Mengapa? Karena perempuan hidup dalam kalkulasi risiko yang konstan. Mereka terbiasa menghitung: siapa yang aman, siapa yang tidak, jalan mana yang harus dihindari, jam berapa sebaiknya pulang, bahkan cara berpakaian yang “tidak mengundang”.
Sebagian besar waktu, mungkin 90%, tidak terjadi apa-apa. Tetapi ketakutan terhadap 10% kemungkinan itu cukup untuk membentuk perilaku sehari-hari.
Di sisi lain, laki-laki jarang hidup dalam kalkulasi semacam itu. Mereka bisa berjalan tanpa berpikir apakah seseorang akan mengikuti mereka di parkiran. Mereka tidak perlu menggenggam kunci sebagai senjata darurat.
Perbedaan pengalaman inilah yang sering gagal dipahami ketika muncul reaksi defensif seperti: “tidak semua laki-laki seperti itu.”
Diskusi ini tidak berhenti pada pengalaman subjektif. Data global menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual dalam hidupnya. Di Indonesia, angkanya juga signifikan, sekitar 1 dari 4 perempuan mengalami kekerasan serupa.
Di sisi lain, laki-laki juga bisa menjadi korban. Survei menunjukkan sekitar 1 dari 10 laki-laki pernah mengalami pelecehan seksual di ruang publik. Namun, ada satu pola yang konsisten: pelaku kekerasan berbasis gender mayoritas adalah laki-laki.
Di sinilah makna “always a man” perlu dipahami dengan tepat. Frasa ini bukan tuduhan bahwa semua laki-laki adalah pelaku, melainkan penunjukan terhadap struktur sosial yang membuat laki-laki lebih sering berada pada posisi pelaku.
Dengan kata lain, ini bukan soal menyalahkan individu, tetapi mengkritisi sistem yang membentuk perilaku.
Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami kekerasan adalah menganggapnya hanya terjadi pada level ekstrem: pemerkosaan, kekerasan fisik, atau pelecehan berat. Padahal, kekerasan memiliki spektrum. Ia sering dimulai dari hal-hal yang dianggap “sepele”: candaan seksis, komentar tubuh, objektifikasi perempuan, atau obrolan locker room talk, seperti yang terlihat dalam piramida kekerasan.
Masalahnya bukan hanya pada kata-kata itu sendiri, tetapi pada efek normalisasi. Ketika candaan merendahkan dianggap wajar, maka batas antara yang “boleh” dan “tidak boleh” menjadi kabur.
Dari situlah piramida kekerasan terbentuk: normalisasi → pelecehan verbal → kontrol → eksploitasi → kekerasan serius. Artinya, menghentikan kekerasan tidak bisa hanya di level puncak. Ia harus dimulai dari bawah, dari hal-hal yang sering dianggap tidak penting.
Menariknya, sistem yang sama juga melukai laki-laki. Laki-laki diajarkan untuk kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh lemah, harus menjadi pencari nafkah utama, dan harus selalu dominan. Standar ini dikenal sebagai maskulinitas tradisional.
Akibatnya? Laki-laki lebih jarang mencari bantuan kesehatan mental, laki-laki lebih sering menekan emosi, laki-laki memiliki angka bunuh diri lebih tinggi, laki-laki lebih rentan mengekspresikan tekanan melalui kekerasan, mereka diajarkan untuk kuat, tetapi tidak diajarkan bagaimana mengelola emosi, mereka diminta menjadi “laki-laki sejati”, tetapi tidak diberi ruang untuk menjadi manusia.
Di sinilah muncul paradoks: sistem yang menempatkan laki-laki sebagai “yang kuat” justru membuat mereka rapuh dalam diam. Pertanyaannya adalah, lantas bagaimana solusinya? Alternatifnya adalah membangun apa yang bisa disebut sebagai maskulinitas baru. Maskulinitas ini tidak berbasis dominasi, tetapi kolaborasi. Tidak berbasis kontrol, tetapi kesetaraan.
Dalam praktiknya, ini berarti: laki-laki boleh menangis dan mencari bantuan, peran dalam rumah tangga bisa dibagi secara fleksibel, nilai diri tidak ditentukan oleh kemampuan finansial semata.
Kemudian relasi dibangun atas dasar komunikasi, bukan kekuasaan misalnya, tidak ada yang salah ketika seorang laki-laki menjadi bapak rumah tangga sementara pasangannya bekerja di luar. Itu bukan “kehilangan kejantanan”, melainkan strategi keluarga. Masalahnya bukan pada perannya, tetapi pada stigma sosial yang melekat padanya.
Banyak laki-laki hari ini mulai berbicara tentang kesetaraan gender. Namun, tidak sedikit yang berhenti pada level wacana. Mereka mengatakan setara, tetapi masih menganggap pekerjaan domestik sebagai “bantuan”, bukan tanggung jawab. Mereka mengaku mendukung perempuan, tetapi masih tertawa pada candaan seksis. Inilah yang disebut sebagai performatif, terlihat progresif, tetapi tidak konsisten dalam praktik.
Perubahan yang nyata menuntut konsistensi: apa yang diyakini harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menghentikan siklus dan apa yang bisa dilakukan?
Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Justru, ia sering dimulai dari hal kecil : Tidak menormalisasi candaan seksis, berani menegur teman yang melecehkan orang lain, menghormati pilihan perempuan, termasuk cara berpakaian, tidak melihat perempuan sebagai objek, mencari bantuan ketika mengalami tekanan mental, membagi peran dalam relasi secara adil. Selain itu, penting juga memahami bahwa menjadi laki-laki yang baik bukan berarti sempurna. Ini adalah proses belajar, refleksi, dan keberanian untuk berubah.
Sebagai penutup diskusi, pada akhirnya pertanyaan besar dalam diskusi bukanlah, siapa yang salah, laki-laki atau perempuan? Melainkan bagaimana kita mengubah aturan main yang membuat keduanya sama-sama terjebak,bahwa perempuan hidup dalam ketakutan yang konstan, laki-laki hidup dalam tekanan untuk selalu kuat. Keduanya adalah produk dari sistem yang sama.
Karena itu, solusi bukanlah menaikkan satu pihak atau menurunkan pihak lain, tetapi membangun ruang sosial yang lebih aman, setara, dan manusiawi bagi semua.
Dan mungkin, di titik itu, frasa “not all men, but always a man” tidak lagi menjadi perdebatan, melainkan pengingat bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk melihat realitas apa adanya, lalu memilih untuk tidak lagi mereproduksinya. (ast)


