Lintas Berita

Dialog Mengurai Penyakit Kambuhan Islamophobia dan Christianophobia

Penilaian: 0 / 5

Nonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan BintangNonaktifkan Bintang
 

Beberapa  tokoh agama duduk bersama dan berdiskusi untuk mengurai penyakit islamophobia dan christianophobia dalam ruang Zoom Meeting yang dihelat oleh Sejuk, HRWG, MDPI dan KN-LWF Indonesia, pada 9 Januari 2021. Webinar ini bertajuk refleksi awal tahun dan dimoderatori oleh Maraike Bangun dan Fernando Sihotang dan dibuka  oleh Pendeta Mortonggo Sitinjak.

Narasumber Ida Surjanti Ridwan, warga Indonesia yang lama tinggal di Hamburg, Jerman, tidak melihat islamophobia maupun christianophobia di Hamburg. Hal itu disebabkan karena di negara bagian Hamburg, Islam diterima sebagai agama yang diakui negara pada tahun 2012. Ada semacam MoU antara Pemerintah Hamburg dengan organisasi yayasan Islam di Hamburg yang dijamin oleh pemerintah dan undang-undang. Masyarakat muslim memiliki hak yang sah, dan boleh menyelenggarakan kegiatan keagamaan dan mengajak orang muslim lainnya.

Ida menambahkan bahwa di Hamburg telah berdiri 100 masjid, dan ada sepanjang komunitas mematuhi aturan pemerintah. Islamophobia terjadi  waktu pasca bom WTC. Setelah kejadian tersebut, di mana pun ia berada, orang menjauhinya. “Saya mencoba mengerti. Saya tidak perlu marah kepada mereka,” jelas Ida.

Di Hamburg, umat islamnya menganut Islam rahmatan lil alamin dengan berprasangka baik sehingga terbuka dan bagaimana peran seni ada untuk menekan itu. Ida bergiat di kesenian dengan seni vokal dan hadrah untuk mengkampanyekan islam yang damai di Hamburg. Negara harus hadir untuk memfasilitasi. “Anak saya di kelas 13 bertemu tokoh-tokoh muslim, Yahudi, Kristen berkunjung ke rumah-rumah ibadah. Hidup berdampingan antar umat beragama itu kebutuhan. Itu project dari pemerintah. Contoh seperti ini di Indonesia perlu di hidupkan,”pungkas Ida.

 

Pendeta Retno Ratih Handayani narasumber lainnya menyatakan bahwa ketakutan kepada islamophobia dan christianophobia adalah sebuah ketakutan yang  tidak proporsional. Munculnya dua hal tersebut menurut Pendeta Ratih dikarenakan beberapa hal antara lain sejarah masa lalu kompleks, situasi momentum misalnya pilkada pemilu,pengaruh media massa, pandangan monolitis terhadap Islam/Kristen dan anggapan bahwa Islam/Kristen sebagai ancaman.

Pendeta Ratih mengungkapkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh UIN Syarif Hidayattullah yakni survey nasional tentang keberagaman menyangkut guru beragama Islam, menurutnya ini bagai  'lilin yang redup". Memprihatinkan karena banyak masyarakat kita yg tidak welcome untuk hidup berdampingan. Hal itu diungkapkan dalam berbagai bentuk misalnya di medsos ujar kebencian dan bullying bertebaran setiap hari. Terkadang ada yg sengaja membikin itu untuk berbagai kepentingan dan dalam sehari hari, dengan menghindar, penolakan dalam berbagai bentuk atau aktivitas atau penyerangan.

Praktik-praktik itu juga banyak terjadi di masyarakat misalnya dengan membuka kos-kosan khusus yang beragama tertentu. Pemilik kos juga merasa nyaman jika anak kos yang sama seagama.

Pendeta Ratih mencoba memberikan pemikiran bagaimana upaya mengatasi  antara lain dengan membuka ruang perjumpaan dan dialog dalam berbagai bentuk dan level, memperkuat pendekatan budaya, literasi media sosial, memperkuat narasi perdamaian di berbagai media sosial.

Di akar rumput ada ketakutan ditolak bagi kelompok lain dan kelompoknya sendiri. Kecurigaan karena kurangnya perjumpaan yang otentik. Dengan perjumpaan maka akan belajar menghargai dan mengembangkan sikap toleran. Dialog selalu memberi harapan.

Pendeta Ratih juga menambahkan bahwa ketika kesepakatan-kesepakatan dibangun, ketika  saling menghormati terus dilakukan dam dialog seringkali diikuti oleh tokoh maka memperkuat perdamaian. Komponen perempuan yang ada dalam masyarakat patriarki dan menjadi pendidik, kalau punya pemahaman pluralis dan inklusif maka akan menjadi luar biasa apalagi di situ pula ada para  pemuda, keluarga dan anak-anak. “GKJ Manahan sebagai komunitas basis, semangat itu ada dalam berbagai bentuk baik edukasi maupun advokasi,”pungkas Pendeta Ratih.

 

Islamophobia dan Christianophobia adalah Virus

Pendeta Andreas Yewangoe narasumber webinar lainnya, terkait islamophobia dan christianophobia, ia menyatakan bahwa itu virus. Menurutnya, Indonesia adalah negara kesepakatan. Bukan negara satu golongan. Itu artinya kita sangat pluratis. Maka sikap plural-lah yang kita terima. Sedang pluralisme adalah pilihan. Kemudian Pancasila didengungkan dan ditemukan sebagai sebuah kompromi lalu bagaimana menafsirkannya? Maka  Orde Baru mengejawantahkan dengan P4. Tahun 1998 kemudian jadi Trans Nasional, artinya memahami Pancasila gagal. Menurutnya, Pancasila sangat tergantung dari interpretasi. Contohnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa bisa ditafsir yang agama tertentu menurut agama, bisa membuat memaksa yang lain bahwa itu satu-satunya. Itu adalah makna Pasrah. Artinya sila satu itu abstrak.

“Saya kira ini adalah tugas dan kewajiban setiap bangsa Indonesia bahwa Pancasila adalah kesepakatan. Ini bukan sebuah hipotesis. Ini sebuah realitas. Isu kristenisasi. Seolah-olah ada grand desain bahwa sekian tahun mendatang akan Indonesia Kristen. Ini ada kekhawatiran. Islamisasi. Negara Islam cukup keras kekhawatiran. Dulu Gus Dur dan Hazim Muzadi bicara tentang trans nasional seperti itu. Ini bukan kekhawatiran orang Kristen tapi orang Islam. Pancasila itu final, ” jelas Pendeta Andreas Yewangoe.

Sudibyo Markus, narasumber terakhir, Pengurus Pusat Muhammadiyah yang juga seorang penulis buku salah satunya berjudul“Dunia Barat dan Islam”, mengutip  Franz Magnis bahwa dalam paradigma masyarakat modern paradigma ' orang kita vs orang asing' semakin diganti dengan paradigma manusia universal.  (p 325). Kedua munculnya kelompok radikal dan ekstrem dalam 20 tahun terakhir tidak berhasil mencegah semakin baiknya hubungan Indonesia dengan dunia internasional.

Menurut Markus bobot islamophobia dan christianophobia berbeda. Tingkat islamophobia hanya sampai masa penjajahan dan sekarang sudah selesai. (Astuti)


© 2022 All Rights Reserved.