Yap Thiam Hien: “Idologi Meritokrasi Kalahkan SARA”

0

Namanya melambung setelah berulangkali bertentangan dengan penguasa Orde Baru (Orba) di bawah diktator Soeharto pada masanya. Tak hanya diciduk dan kemudian dipenjarakan, sang pejuang hak asasi manusia ini bisa dibilang tanpa lelah terus berada di jalur yang ditekuninya menjadi advokad. Ditengah keterpurukan dan krisis moralitas dalam penegakan hukum di Indonesia, sosok advokad gaek, Yap Thiam Hien, tetap konsisten melabrak batas ketidakberdayaan dalam melakukan pembelaan hukum tanpa kenal lelah.

Gagasan dan semangat hidup ketika menjalani profesi sebgai Advokad, tak pelak membuat iri generasi pengacara masa kini.  Sosok Yap Thiam Hien, dikenal sangat agresif ketika melakukan pembelaan hak hidup warga masyarakat yang terlanggar kebijakan pemerintahan otoriter di bawah kendali sang diktator. Perlakuan semena-mena pemerintah saat melakukan penggusuran, penangkapan dan pemenjaraan individu disikapinya dengan dingin di hadapan meja pengdilan.

Bahkan, Yap Thiam Hien, meski terlahir sebagai warga keturunan tiongwa, ia berani pasang badan saat pengacara lain mblirit endo tak sudi membela rakyat kecil. Ia tak mampu membendung suara hati kecilnya saat melihat ketidakadilan melindas warga masyarakat kelas bawah: wong cilik. Yap Thiam Hien menginginkan lentera, tetap terus menyala dalam diri semua advokad muda usia. Itulah sebabnya, Christianto Wibisono ekonom sekaligus pengamat politik terkemuka, menyebut Yap Thiam Hien pantas dijadikan simbol penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

“Nama Pak Yap yang dijadikan simbl penegakan hak asasi manusia di Indonesia merupakan bukti bahwa ideologi meritokrasi mengalahkan ideologi yang berbasis SARA dalam menilai seseorang. Kita memerlukan 1000 atau sejuta Yap Thiam Hien lagi.”

Buku Yap Thiam Hien

Buku Yap Thiam Hien

Christianto Wibisono bukan sembarangan berucap demikian. Yap Thiam Hien bersama Auwyong Peng Koen (PK Ojong) dua tokoh Kristen dan Katolik yang ikut mendirikan Baperki (Badan Permusywaratan Kewarganegaraan Indonesia) bersama politisi Tionghoa sekouler Siaw Giok Tjhan dan Oei Tjoe Tat. Meski Baperki dituduh sebagai underbow Partai Komunis Indonesia (PKI), toh dalam darah Yap Thiam Hien tetap seorang nasionalis tulen.

Seiring arus pasang ideologi kiri dan komunis maju pesat pada era pascapemilu 1955, Baperki pun ikut bergeser ke kiri. Yap Thiam Hien dan Auwyong Peng Koen keluar dari Baperki serta berjuang sendiri di luar jalur politik (hal 34). Yap Thiem Hien menekuni profesi advokat, sedangkan Auwyong Peng Koen menjadi wartawan. Auwyong Peng Koen kemudian memimpin surat kabar Star Weekly, malah mingguan berita yang populer pada tahun 1950-dan, dan sempat dibredel Bung Karno.

Nama Yap Thiem Hien mengorbit luar biasa sebagai wakil Perdana Menteri I / Menteri Luar Negeri dr Subandrio di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) tahun 1966. Ironisnya, salah satu oknum elite rasialis masih tetap saja menggunakan kartu SARA dengan mengungkit peran Yap pada masa awal Baperki sebagai salah satu pendiri dan pimpinan terasnya.

Pada tahun 1968, Yap Thiam Hien sempat dipenjara seminggu, karena berani membongkar kasus suap dan pemerasan oleh oknum pejabt polisi. Sengketa kepemilikan bengkel mobl PT Quick di Jalan Alaydrus, Jakarta, melibatkan Yap sebagai pembela melawan janda kaya raya dengan postur setara Hartati era 2012. Janda ini dikenal sebagai Nyonya atau Tante Lies. Sebutan “tante” pada waktu itu sedang hot, yang digunakan untuk wanita yang aktif sebagai sosialita di era reformasi. Tante Lies ini kenal dekat dengan seorang irjen pol dan juga dengan orang nomor satu di Merdeka Barat waktu itu.

Karena itu, terjadilah paradoks. Soerang Yap Thiam Hien pada tahun 1966 ditunjuk dan dpercaya oleh pemerintah sebagai pembela dr Subandrio untuk menunjukkan kepda dunia internasional bhwa peradilan Orde Baru itu objektif, imparsial dan independen, alias bukan sandiwara. Dua tahun kemudian dengan alasan yang dicari-cari  —seperti pernah menjadi dan piminan Baperki— Yap Thiam Hien pun ditahan.

Buku “Yap Thiem Hien Pejuang Lintas Batas” yang disunting Josef P Widyartmadja, diterbitkan oleh Centre for Development and Culture (CDC) dan Yayasan Yap Thiam Hien, menarik dibaca sebagai refrensi komplit soal penegakan hukum dan hak asasi manusia di Indonesia. Buku setebal 316 halaman dengan cover depan vignet gambar Yap Thiam Hien, berisi 4 tahap pembabakan terstruktur dan runtut.

Pada  pembabakan di bagian I, Christianto Wibowo, menulis soal Catatan Historis Semangat Yap Thiam Hien, mengenai prototipe super empowered individual. Ulasan Christianto mengiring pembaca untuk memahami sejarah sepak terjang Yap Thiam Hien dan moralitas nurani tokoh Yap.

Bagian II penulis Sumanto Al Qurtuby memaparkan tentang kemajukan dan kebangsaan  Yap Thiam Hien (hal 61-74), dilengkapi uraian pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Selain Sumanto, di bagian II penulis lain seperti, Maria Ulfah Anshor, Judith Na Bik Gwat, Josef P Widyatmadja, Benny D Seianto dan Ester Indahyani Jusuf, sungguh sangat menarik disimak.

Dan yang tak kalah penting dalam buku ini yakni, testimoni Romo Franz Magnis-Suseno, SJ  maupun dua penulis lain seperti Fran Tumiwa dan Stanley Adi Prasetyo, tak berkeberatan bersaksi tentang sepakterjang sang pendekar penegak hak asasi manusia, opa Yap Thiam Hien semasa hidupnya. Tidak berlebhan bila buku ini pantas dicari dan dibeli.

Penulis : Budi Rahayu
Editor   : Eddy J Soe

Share.

About Author

Leave A Reply