Romo Jowo Asal Jerman

0

Siapa sangka pastur Jesuit asal Jerman itu piawai berbahasa Jowo mlipir. Tidak hanya pandai kromo inggil, berbahasa Jowo alusan, tetapi ia juga lanyah bercerita soal dunia pewayangan.  Bahkan menulis buku tentang etika jagad Jawa dalam dunia pakeliran lebih dari 25 tahun lalu. Kegemarannya ‘nongkrong’ semalam-suntuk nonton pagelaran wayang kulit, menjadi salah satu hobinya ketika ia ditugaskan oleh konggregasi Jesuit menyebar-luaskan pemahaman kebenaran mutlak Tuhan di gereja-gereja di Indonesia.

Kegemarannya mirsani wayang kulit dengan membawa teremos berisi kopi panas, membuatnya kepincut mendalami etika Jawa dalam dunia pewayangan. Dari situlah dua buku yang mempersinggukan etika dan dunia pakeliran wayang, diburu pengemar filsafat dan pemaham aliran kejawen. Buku pertama “Kita dan Wayang” yang diterbitkan Lappenas digulirkan pada 1982. Sembilan tahun kemudian, buku “Wayang dan Panggilan Manusia” diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.  Bisa jadi cerita-cerita pakeliran sering sering ditontonnya membuat Romo Magnis menjadi salah satu filsuf digdaya yang mendalami etika Jawa di Indonesia.

Selain gemar menonton wayang, pria sepuh kelahiran Stuttgart 80 tahun lalu itu, juga senang ‘penekan’ gunung. “Hampir semua gunung di Jawa, pernah saya daki,” katanya beberapa tahun lalu, “Banyak hal yang bisa diperoleh ketika kita mendaki gunung, selain sehat juga mengagumi alam ciptaan sang khalik.” Di usia 80 tahun itulah, tak kurang 25 cendekiawan sohibnya menorehkan catatan-catatan tentang Franz Magnis Suseno, ke dalam buku bertajuk, “Franz Magnis Seseno, Sosok dan Pemikirannya”

Tentu hampir seluruh penulis buku yang diterbitkan oleh Penerbit Kompas Gramedia, merupakan 13 cendekiawan masyur di negeri ini. Tak hanya kaum cerdik-pandai pengikut ajaran Kristiani, tetapi juga sobat Romo Magnis—begitu mereka acap memanggil— cendekiawan muslim. Sebut salah satu penulis, dalam buku itu, mantan Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, sekaligus rekan bertegur-sapa, Komaruddin Hidayat dan pernah mengajar di campus calon pastur di STF Driyarkara.

Dalam komentarnya, Komaruddin menulis, “…saya berulangkali tampil bersama Romo Magnis di forum maupun seminar, juga talk show di TV, mengenai peran sosial agama dalam menegakkan etika berbangsa dan bernegara. Sekalipun datang dari keyakinan dan tradisi agama yang berbeda, kami mudah bertemu dan sepakat ketika berbicara tentang prinsip-prinsip moral. Jadi, pada aspek moral dan agenda membangun etika publik, semua agama mudah bertemu dan saling memperkaya. Bagi masyarakat Indonesia, yang sedemikian majemuk, kerja sama antarumat beragama dalam hal character building ini sangat strategis untuk diperkuat agar agama bukannya jadi sumber perbedaan yang mengarah pada konflik dan perpecahan, melainkan memperkaya dan memperkokoh agenda kebangsaan dalam membangun peradaban agung dan luhur.”

Romo Magnis yang awalnya saya kenal sebagai dosen dan rohaniawan, belakangan yang menonjol adalah sebagai pejuang moral dan pembela hak asasi manusia. Figur-figur rohaniawan-intelektual semacam Romo Magnis diharapkan semakin banyak jumlahnya di Indonesia agar pendapatnya menjadi rujukan ketika masyarakat bawah sering kali dan mudah terkena provokasi konflik bernuansa agama. Meskipun asli Jerman, kecintaannya pada Indonesia tak lagi diragukan. Bahkan Romo Magnis melakukan riset tentang filsafat dan tradisi Jawa untuk penulisan disertasi doktornya.

“Diusianya yang sudah senior, dia sangat ringan kaki untuk menghardiri berbagai macam undangan ceramah dan seminar, sekalipun hanya duduk sebagai pendengar. Romo Magnis termasuk intelektual aktivis yang selalu menjaga persahatan lintas agama. Hubungan kemanusiaan dan persahabatan intelektualnya menggeser identitas keagamaannya. Agama tak lagi menempel sebagai label, tetapi terekspresikan dalam kecintaannya untuk berbagai pengetahuan dan keprihatinan demi memajukan masyarakat dan bangsa Indonesia agar lebih sejahtera dan beradab.”

Menurut Komaruddin, kelebihan Romo Magnis dalam melakukan kritiksosial, sekalipun tajam namun selalu disampaikan dalam narasi ilmiah, emiris dan argumentatif sehingga mereka yang pro maupun kontra mesti juga memiliki argumen untuk menerima atau menolaknya.

Buku setebal 342 halaman dengan cover bergambar foto-diri Romo Magnis, memang bukan buku kelas ecek-ecek, tetapi untaian pemikiran para cendekiawan rekan, sohib dan murid Romo Magnis yang mblejeti sepak terjang mengagumkan padri jangkung berambut perak pengagum Brotoseno alias Werkudoro dalam jagad pewayangan itu. Tak mengherankan bila dalam tulisan para cendekiawan papan itu atas tumpah-ruah ketika membongkar seluruh landasan ideologi pemikiran Romo Magnis.

Ekslusifisme total menjadi dasar tindakan kekerasan atas nama agama, seperti dilakuan, misalnya, oleh kelompok teroris global Al Waeda dan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Dalam sejarah sampai hari ini orang dianiaya, disiksa, dibakar, dibunuh atas nama agama, karena orang dianggap kafir, sesat atau tidak ortodoks. Magnis Suseno menyebut eksklusivisme total, dosa para agamawan:

“Di sini orang beragama berada dalam bahanya kemunafikan lebih besar daripada orang tidak beragama. Terlalu mudah ia mengatasnamakan Tuhan, lalu mengangkat diri menjadi hakim… Mereka begitu gampang mengirim orang lain ke dalam neraka,” tulis dia dalam Berebut Jiwa Bangsa, Penerbit Buku Kompas, 2015, hal.326.

Mengapa agama membutuhkan etika? Jawaban Romo Magnis, agama membutuhkan etika untuk mengevaluasi klaim-klaim moralnya. Ada dua alasan untuk itu. Pertama karena manusia, makhluk yang terbatas pengethuannya, “tidak pernah mendapat kepastian seratus persen apakah ia memahami maksud Allah yang termuat dalam wahyu [dan]..dapat keliru dalam membaca wahyu”. Kedua “sesuatu yang kita anggap sebagai ajaran agama kita, ternyata hanyalah pendapat satu aliran teologis atau mazhab hukum tertentu (“Mengapa Dialog Antar-Agama” dalam Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme, Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2015, Hal 210).

Pada tahun 2014 ia dianugerahi sebagai cendekiawan berdedikasi oleh Kompas. Setahun kemudian Romo Magnis memperoleh penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI. Sebenarnya, pada tahun 2007 ia juga mendpatkan penghargaan Achmad Bakri Award sebagai seorang intelektual, tetapi ia menolak lantaran rekam jejak keluarga Bakri yang tidak bisa dilepaskan dari kasus Lapindo. Bukan hanya penghargaan prestisius di Indonesia yang diperolehnya, Romo Magnis juga menerima penghargaan doctor honoris causa bidang teologi dari Universitas Luzern, Swiss pada tahun 2002.

Dalam usianya yang kedelapan puluh, Magnis masih terus berkarya. Selain mengajar, ia masih sempat memberi ceramah ke mana-mana, bahkan berceramah di hadapan ibu-ibu PKK di RT apabila waktunya cocok ia dipastikan akan datang, meski gelar profesor telah disandangnya pada tahun 1996. Tak ada pengalaman sedih dan kecewa yang membekas dalam dirinya. Ia menyukuri semua. Bisa dikatakan, Magnis dalam usia delapan puluh telah tumbuh menjadi romo begawan. Dalam tulisannya tahun 1992, Magnis bahkan memotret adanya lima model imam, yaitu pastor bonus, nabi, pemimpin, begawan, dan kultis.

Nama lain untuk model begawan ini adalah kyai atau guru Timur. Kearifan, kebijaksanaan, dan mistik Timur menandai imam-imam dari model ini. Mereka ini berasal dari latar-belakang yang menganut kebatinan. Sirituualitas mereka membentuk mereka menjadi perenung, reflektif, menekankan matra psiko-spiritual, menganut pandangan prioritas Roh atas materi, menjunjung nilai adikodrati, menghargai kebijaksanaan Timur, dan bersikap asketis.

Peran mereka dalam masyarkat adalah pemberi arah, sebagai pemipin spiritual, tokoh panutan, teladan kesalehan, dan pecinta umat mansia. Tindakan ini sedikit banyak dilatarbelakangi visi hidupnya bahwa manusia itu tumbuh perlahan-lahan lewat proses. Mereka merindukan keselamatan universial, menekankan keutamaan, dan menghargai jati diri manusia (AI Andang L Binawan, “Magnis, Manusia Magis, Berbuah Manis” dalam Franz Magnis Suseno, hal 17)

Penulis : Eddy J Soetopo
Editor   : Eddy J Soe

Share.

About Author

Leave A Reply