Pistol Menempel di Pelipis

0

Domba mati bukanlah berita, kecuali jika hal itu terjadi di Irian Jaya. Domba di Papua memang berbeda. Pihak militer sewot  benar ketika harian Kompas, Jakarta, menulis bahwa di Wamena banyak domba yang  mati karena tidak ada rumput. Koresponden Kompas di Jayapura lalu dipanggil ke kantor Kodam dan dimaki habis-habisan. Si wartawan menjadi terheran-heran. “Apa salah saya?” keluhnya.

Billy, 62, koresponden Kompas itu, menceritakan bahwa bukan sekali itu saja ia dipanggil ke Komando Daerah Militer (Kodam) Cendrawasih  di Jayapura. Apalagi ketika ia menjadi Pemimpin Redaksi Tifa Irian. Mingguan tersebut sekitar tahun 1978, misalnya, menurunkan berita tentang Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Menurutnya, media massa tidak boleh menyembunyikan informasi.  Suka atau tidak suka masyarakat berhak mengetahui eksistensi organisasi tersebut. Akan tetapi, pihak militer menganggap gerakan yang dinilai separatis itu termasuk dalam wilayah masalah sensitif. Oleh karena itu, Billy dipanggil ke Kodam. Langsung berhadapan dengan Pangdam Cendrawasih, Letkol TNI Hernowo.

Pangdam sangat gusar karena Tifa berkali-kali menurunkan berita tentang OPM. Agaknya ia khawatir keadaan yang sebenarnya terjadi di Irian Jaya itu terdengar sampai ke Jakarta. Itulah sebabnya ia marah. Lalu, Pangdam meminta kepada Billy, “Setiap bahan berita menyangkut OPM harus dikonfirmasikan dulu kepada kami.”

Billy menganggap bahwa hal itu  berarti  militer melakukan intervensi terhadap kebebasan pers. Billy tidak dapat menerimanya. Ia menjawab, “Jadi, setiap berita yang hendak kami turunkan harus melalui Bapak. terlebih dulu? Saya kira tidak ada aturan seperti itu.”

Pangdam tersinggung mendengar itu. Emosinya meledak. Sambil menggebrak meja, Hernowo membentak dan, ya ampun, dia mencabut pistol. Cepat sekali moncong pistol itu menempel di pelipis Billy, “Mau ikut aturan atau mau dibungkam dengan ini,” gertak Hernowo.

Serrr…. Rasa takut mengalir di sekujur tubuh Billy. Lututnya gemeletar.  Mendadak ia merasa lemah tak bertenaga. Sampai kini, katanya, tetap terasakan ujung pistol melekat di pelipisnya.

Billy tak habis mengerti, mengapa Pangdam tidak bicara baik-baik. Mengapa wartawan dianggap musuh? Mengapa harus mengancam pakai pistol segala?

Kecuali Babi

Jauh sebelum itu ia juga pernah dipanggil ke kantor Kodam gara-gara  menulis, ya itu tadi,  tentang domba. Ia mendengar informasi bahwa domba australia di Wamena banyak yang mati. Menurut keterangan penduduk, hal itu disebabkan keadaan di Wamena berbeda dengan di Australia.

Antara lain di Wamena tidak ada rumput, sehingga domba bantuan Australia itu banyak yang mati. Kejadian sekitar tahun 1970-an itu ia tulis di harian Kompas. Kutipannya, “Penduduk Wamena  tidak biasa beternak domba….  Lain halnya jika penduduk diberi bantuan babi.” Setelah berita itu dimuat, keesokan harinya ia dipanggil ke Kodam.

Saat diinterograsi seorang perwira penyidik menegaskan, “Ini proyek nasional dan harus diamankan.”

Proyek nasional? Harus diamankan? Billy merasa penasaran, apa yang dimaksud dengan hal itu, mengapa aparat Kodam teramat garang. Kemudian, dia mencari informasi ke sana kemari. Aha! Ini dia rupanya. Menurut keterangan yang diperoleh, domba australia itu merupakan proyek Kodam dan keluarga Cendana. Dikatakan proyek nasional karena hal ini menyangkut keluarga Presiden Soeharto. Pantaslah pihak Kodam marah besar.

Namun, Billy tetap tak mengerti, apa yang dimaksud dengan “harus diamankan”. Akan amankah bila kematian domba tersebut tanpa diberitakan? Bukankah lebih aman dan lebih sukses jika proyek tersebut ditinjau ulang dan disesuaikan dengan keadaan alam dan kebiasaan penduduk? Dalam pikiran Billy, mestinya pihak Kodam berterima kasih atas informasi yang disiarkan melalui Kompas, tetapi yang diterimanya justru interogasi.

Digedor Lewat Tengah Malam

Jalan pikiran antara pers dan penguasa memang kadang-kadang  bersimpangan. Yang satu ke sini yang lain ke sana. Akan tetapi, adakalanya pula kedua pihak berjalan beriringan. Hal ini amat bergantung pada kebijakan  yang dianut oleh penguasa tersebut. Itulah sebabnya, setiap pergantian  Pangdam di Irian Jaya sangat berpengaruh pada kelancaran kerja pers.

Anda tentu ingat benar ketika Acub Zaenal diangkat menjadi pangdam dan kemudian terpilih sebagai gubernur. Nama Irian Jaya berkibar di tanah air. Acub Zaenal pandai melakukan pendekatan kepada masyarakat. Setidaknya pada tahun 1970-an itu OPM tidak berkutik dan persepakbolaan terangkat.

Kemunculan kesebelasan Persipura dari Jayapura dan Perseman dari Manokwari sungguh mengejutkan di gelanggang persepakbolaan nasional. Keduanya sangat tangguh. Akan tetapi, kemudian memudar setelah Acub Zaenal diganti. Kebijakan Acub Zaenal yang lentur dan hangat itu sampai dijuluki sebagai smiling policy oleh masyarakat  Irja.

Ketika terdengar kabar bahwa Acub Zaenal akan diganti, masyarakat  di sana  bertanya-tanya: siapa penggantinya dan bagaimana orangnya.

Seorang pengamat menyoroti masalah ini. Analisisnya dimuat di mingguan Tifa. Billy sama sekali tidak menyangka bahwa tulisan itu akan membawa akibat. Ia tenang-tenang saja sampai suatu malam rumahnya digedor orang.

Malam sudah sangat larut. Billy dan keluarganya telah tertidur nyenyak. Deru mobil militer terdengar sangat nyaring dalam keheningan  malam. Raungannya mengagetkan semua orang. Mereka saling berbisik: Ada apa?

Mobil berhenti di depan rumah Billy. Beberapa orang tentara turun dan memukul-mukul pintu rumah. Pukul 01.00 lewat tengah malam itu Billy diangkut ke kantor Kodam. “Anak dan istri saya sangat ketakutan. Saya mencoba menenteramkan mereka, ‘Tenang! Tidak akan terjadi apa-apa,’ kata saya. Akan tetapi, kata-kata itu sama sekali tidak dapat menenangkan mereka,” cerita Billy.

Ia baru mengetahui permasalahan pemanggilan itu setelah Pangdam Sembiring Meliala membentaknya, “Memangnya setelah pangdam yang lama saya ganti, lantas saya main bunuh-bunuhan, begitu?”

Billy kemudian menceritakan bahwa ia sudah tidak ingat lagi isi tulisan pengamat tersebut. Namun, katanya, mustahil Tifa menurunkan tulisan yang menuduh pangdam baru akan melakukan pembunuhan. “Bukankah ia baru diangkat, bukankah kami belum tahu apa yang hendak diperbuat oleh pangdam baru. Entah apakah ia akan melanjutkan smiling policy atau akan berbuat lain. Andai ada pendapat pengamat itu yang tidak sesuai dengan pikiran pangdam, mengapa tidak dibantah. Apa pikiran orang harus diberangus? Mengapa mesti mengagetkan orang tengah malam buta, seakan tidak ada hari esok.,” kata Billy.  Bagaimanapun, itulah Irian Jaya.

Sumber : Rezim Berganti Keganasan Tak Terselesaikan, Kontras, Jakarta 2014
Editor : Eddy J Soetopo

Share.

About Author

Leave A Reply