Pendidikan Kaum Tertindas

0

Sejak dekade 1970-an hampir seluruh dunia, dikejutkan oleh model pendekatan pendidikan bagi kaum tertindas yang mengusung credo teologi pembebasan. Sebuah terobosan baru yang mencampur-adukkan nalar dengan pijakan ilmu pengetahuan dan teologi. Model pendekatan tersebut jelas menguncang tatanan kemapanan ranah pedagogik yang telah berurat-berakar dengan tujuan utama memintarkan kaum borjuasi.

Tak mengherankan bila model pendekatan teologi pembebasan yang diusung Paulo Freire dicurigai kaum borjuasi lantaran lebih banyak mengembangkan nilai marxian. Tentu saja kaum borjuasi dan para penguasa yang didominir kelas menengah jelas menolak model yang disodorkan Freire. Meski demikian, Freire tak ambil pusing. Ia justru tertantang mengajar sekaligus mempraktikkan nilai Marxian yang menyempal tradisi model pendidikan ortodok di negerinya, Brazil.

Meski Freire dilahirkan dalam keluarga kelas menengah di Brasil, ia tak serta-merta mengikuti gaya hedon yang sering dilakukan para petinggi negerinya. Justru Freire lebih tertarik mendalami filsafat dan psikologi bahasa, terutama model pendekatan pendidikan gaya sosialis-marxian sekaligus menerapkan dan mengembangkannya ke dalam proyek ambisius yang didanainya sendiri.

Pendidikan yang dikembangkan Paulo Freire tentu saja tak lepas dari kehidupan kehidupan di Brasil ketika dilanda depresi pada 1929 dan melantakkan tatanan kehidupan rakyat. Keprihatinannya sangat mendalam, melihat secara langsung kaum miskin, papa dan tak berdaya ketika negerinya didera kelaparan massal di seluruh penjuru Brazil.  Keprihatinan itulah yang melandasi langkah fenomenal memulai memikirkan pendidikan bagi kaum papa tak berdaya di negerinya.

Tak tanggung-tanggung Freire mulai melakukan gebrakan radikal mengajar ilmu pengetahuan dan teologi melalui pendidikan zonder bayar bagi kaum papa yang tertindas. Paulo Freire memulainya dengan membalik teori muluk-muluk yang selama ini diyakini dapat secara instan mencerdaskan otak rakyat miskin. Pada 1970, Freire mengelontorkan buku Pedagogy of the Oppressed yang sangat fundamental bagi pengembangan pendidikan bagi kaum tertindas. Meski mengusung pendekatan menyimpang dari gaya berpikir model Platonian, karya Freire memberikan kontribusi yang tak dapat diabaikan. Freire tetap konsisten dengan model pendekatan gado-gado Marxist, dan tentu anti-kolonialistik, buku Pedagogy of the Oppressed pantas menjadi acuan bagi pengembangan model pendidikan bagi kaum tertindas selayaknya diadopsi di Indonesia.

Anehnya Pedagogy of the Oppressed dan diterjemahkan menjadi “Pendidikan Kaum Tertindas” justru dicurigai sebagai buku yang mengajarkan paham komunisme. Bahkan pendidikan yang dilakukan Romo Mangunwijaya di bantaran Kali Code pun, pada era Orde Baru distigma sebagai salah satu penyebar paham marxis. Bila kita perhatikan secara lebih seksama, model pendekatan yang digulirkan Paulo Freire di Brazil, Romo Mangun di Jogya, “Sewono Blong” mendidik kaum pelacur-dan pemulung di Mojokerto, dan Romo Sandiawan Sumardi di Jakarta, jelas bukan penyebar paham Marxisme-Leninisme.

Foto Paulo Friere

Foto Paulo Friere (dok. google image)

Sudah waktunya pandangan yang terus-menerus mencurigai upaya masyarakat sipil untuk turutserta mengulurkan tangan mendidik warga masyarakat perlu dikikis habis. Bukan terus menumbuh-kembangkan kecurigaan dan melempar stigma pada lembaga nirlaba sebagai penyebar aliran sesat. Pendidikan bagi kaum tertindas, bagaimanapun bentuk dan model pilihan yang dikembangkan, pantas diapresiasi. Saat negeri ini dilanda kisruh identitas akut dan gagal membawa arah pendidikan yang lebih baik, sepantasnyalah pendidikan aplikatif bertumpu pengembangan nalar dan akal sehat, pantas disokong dan didorong.

Model pendidikan yang hanya memandang anak didik sebagai obyek dan bukan subyek, lebih baik ditinggalkan. Sebab, hanya menghasilkan generasi yang dapat menghafal pelajaran, bukan memicu peserta didik mengembangkan nalar penghasil karya inovatif. Media massa sebagai salah satu pilar demokrasi, perlu menopang pendidikan nonformal cara menulis ilmiah popular inovatif bagi guru dan dosen-dosen di perguruan tinggi. Kita sadar betul, karya ilmiah para pendidik, entah guru atau dosen, sangat jarang menyesaki jurnal-jurnal bertaraf internasional.

Jangankan menulis karya ilmiah popular, di jurnal ilmiah bertaraf interternasional, menulis kolom opini pun jarang sekali terlihat di kolom opini surat kabar lokal. Yang terjadi adalah karya cophy-paste diakui sebagai seolah-olah hasil pemikirannya. Sungguh sangat ironis dan memuakkan. Berbeda dengan yang dilakukan oleh Paulo Freire, di Brazil. Freire memulai melakukan terobosan bukan semata-mata ingin mengembangkan “mahzab” marxian yang diselundupkan ke dalam pemilahan kelas dalam pendidikan bagi kaum tertindas, tetapi semata-mata ingin memajukan dunia baca-tulis dan bernalar buat rakyatnya di Brazil.

Dan tampaknya model yang dikembangkan Freire ternyata mendapat sambutan dan dukungan dari pemerintah setempat. Apalagi Freire menerapkan secara luas teori-teorinya mendidik buruh perkebunan tebu agar dapat membaca-menulis dan berani bicara secara terbuka. Tampaknya pemerintah Brazil, waktu itu, menyetujui model yang dikembangkan Freire dan kemudian dibentuk ribuan lingkar budaya gemar baca, tulis dan bicara kritis. Meski demikian, garis tangan tampaknya tak beralur sepaham dengan upaya Freire mencerdaskan rakyat Brazil. Pada 1964 kudata militer mengakhiri jerih payah Paulo Freire, kemudian justru memenjarakannya selama 70 hari atas tuduhan melakukan makar dan dicap sebagai penghianat bangsa.

Setelah memperoleh stigma sebagai pengkhianat bangsa, Freire mengasingkan diri ke Bolivia, dan bekerja di Chili selama lima tahun dan menggerakkan pembaharuan agraia demokratis kaum kristiani. Dari hasil kerja tersebut pada 1967, Freire justru memperoleh kesempatan menerbitkan bukunya yang pertama, “Pendidikan Sebagai Praktik Pembebasan.” Karya Freire itulah yang membawanya sebagai profesor tamu di Harvard pada 1969. Tahun berikutnya Freire menerbitkan bukunya yang paling fenomenal yaki Pendidikan Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed) dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970. Dan di Brazil sendiri baru terbit pada 1974.

Gambar Paulo Friere

Gambar Paulo Friere ( dok. google image )

Setelah berdiam di Cambridge, Freire hijrah ke Jenewa, Swiss dan bekerja sebagai penasehat pendidikan khusus di Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Freire diangkat sebagai penasihat untuk pembaruan pendidikan di bekas jajahan Portugis di Afrika khususnya Guinea Bissau dan Mozambik. Pada 1979, Freire kembali ke Brazil dan bergabung dengan Partai Buruh Brazil di kota Sao Paulo dan dipasrahi sebagai penyelia untuk proyek melek huruf dewasa dari 1980-1986.

Terobosan lain, Freire pada 1991 mendirikan Institute Paulo Freire di Sao Paulo untuk memperluas dan menguraikan teori tentang pendidikan rakyat. Pada 2 Mei 1997 Freire meninggal dunia lantaran serangan jantung.

Relevansi Ajaran Freire?

Tampaknya para penggerak dunia pendidikan di Solo, pantas mulai menyamakan visi-misi bila ingin mengubah model yang berbasis pendidikan “banking” menjadi pendidikan yang berpijak pada pengembangkan prakxis nalar-berkeadilan. Tanpa melakukan terobosan tersebut, niscaya model dan sistem pendidikan yang kita terapkan tak akan berpihak pada rakyat.

Hal yang paling relevan untuk segera dilakukan yakni mendidik kaum berpendidikan agar mau mengubah gaya mengajar ortodok-kuno, tapi juga mengajak peserta didik berpikir jernih agar tidak sesat nalar. Salah satu hal yang perlu ditekankan yakni memberikan materi logika sejak sekolah menengah pertama (SLTP), dan kemudian dilanjutkan di jenjang pendidikan sekolah menengah atas (SLTA) dengan landasan budi pekerti.

Pers dalam hal ini dapat mengambil peran menularkan budaya tulis, dan bukan budaya “bacotan” seperti yang selama ini banyak disuarakan para pejabat. Pelatihan praktik menulis juga perlu ditularkan pada para pejabat eselon dilingkungan pemerintahan kota dan/atau kabupaten. Termasuk guru dan dosen yang selama ini tak banyak terdengar gaungnya melakukan penelitian dan mempublikasikan ke jurnal ilmiah bergengsi di luar negari dan menulis di surat kabar atau majalah.

[1] Pernah bekerja sebagai jurnalis di Persda (Pers Daerah)-Kompas Gramedia, Tabloid Bangkit, Voice of Human Right (VHR di Jakarta), Indonesia Hospital (pemimpin redaksi), Tabloid Suara Perempuan Papua (pemimpin redaksi), Tabloid Kampus (pemimpin redaksi), dan mantan pemimpin redaksi Timlo.net/TimloMagz (2014). Pada kurun 1980-an menjadi peneliti di Pusat Kebijakan Biomedis dan Reproduksi Manusia BKKBN Pusat, dan Pusat Studi Immunokontrasepsi Biologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Menyelesaikan pendidikan S1 di Biologi Kedokteran di Universitas Nasional, Jakarta. Pernah menjadi mahasiswa pascasarjana (S2) program studi Biologi Kedokteran di UI sampai semester 4 tidak menyelesaikan tesis “Imunitas Cellular pada Akseptor Vasektomi, Studi Kasus di DKI Jakarta.” Pada waktu bersamaa juga mengikuti program studi Pascasarjana di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, sampai semester 3, juga tidak diselesaikan. Memperoleh fellowship dari Asia-Link mengikuti Indepth Reporting di Manila; short cource Investigative Reporting di Vietnam dan Bangkok,Thailand. Pengajar tidak tetap di Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta.  Penulis buku Indepth Reporting Hand Book, sedang menyelesaikan 3 buku: 1) “Persis Riwayatmu Dulu” ; 2) “Wartawan Korban Kekerasan Selama 32 Rezim Orde Baru Berkuasa”, 3) “Melacak Jejak Suardi Tasrif, Jurnalis Pembangkang”, dan menterjemahkan 2 buku: 1) “Pol Pot Regime, Rice, Power and Genocide” karya Ben Kiernan, 2) “Introduction Reporting” by Mary Lane.

Penulis : Eddy J Soetopo
Editor   : Eddy J Soe

Share.

About Author

Leave A Reply